Tampilkan postingan dengan label CIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Maret 2019

Kisah Mantan Agen Intelijen CIA yang Mencuri Data Pembelian Senjata Strategis Indonesia dari Rusia

CIA
pinterest
CIA
Grid.ID - Central Intelligence Agency (CIA) merupakan badan Intelijen paling masif di dunia milik Amerika Serikat.
Operasi 'main belakang' CIA amat terkenal dan seringkali terlibat dalam pergolakan negara lain.
CIA tercatat beberapa kali menggelar operasi intelijen di Indonesia.
Salah satunya ialah mendanai dan mendukung pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1957 untuk menggulingkan kekuasaan Soekarno.

Masih ada juga Black Operation lain CIA di Indonesia termasuk dalam pergolakan peristiwa G30S PKI tahun 1965.
Salah satu operasi intelijen CIA di Indonesia adalah Operasi Habrink.
Operasi Habrink dilakukan CIA di Indonesia pada tahun 1960an.
Aktor utama dalam operasi ini adalah seorang agen CIA bernama David Henry Barnett.

Misi Henri Barnett dalam operasi Harbink cukup sederhana namun sulit dilakukan, yakni mengetahui senjata apa saja yang dibeli Indonesia dari Uni Soviet (Rusia) kala itu.
Asal tahu saja untuk merebut Irian Barat dalam operasi Trikora, pembelian senjata dari Uni Soviet ini merupakan pembelian skala besar berharga miliaran dolar Amerika.
Tentunya dengan pembelian besar-besaran itu membuat pihak barat khawatir bukan kepalang karena Soviet memasok persenjataan kelas satu ke Indonesia demi menjungkalkan Belanda di Irian Barat.
Menurut media Rusia Vzglyad, Barnett dan CIA berhasil menyuap beberapa pejabat Indonesia untuk bekerjasama dengannya agar membocorkan jenis senjata apa saja yang dipasok Soviet ke Indonesia.
Data pembelian senjata yang bocor ini kemudian dikirim ke kantor pusat CIA di Langley, Virginia.

Isian data pembelian senjata Indonesia itu amat penting bagi Amerika Serikat.
Bagaimana tidak, didalamnya termuat jenis data dan teknis senjata macam misil anti serangan udara SA-2 Guideline milik Indonesia, Pembom Tupolev TU-16, MiG 21, rudal Styx, rudal AS Kennel 1, KRI Irian hingga kemampuan kapal selam Whiskey class TNI AL pun tak luput dari pantauan Barnett.
Semua data intelijen kompilt mulai dari kemampuan senjata, buku manual pengoperasian, bentuk dan harganya.
Data ini menjadi amat vital bagi Amerika Serikat yang kala itu terlibat dalam perang Vietnam lantaran senjata lawan mereka, Vietnam Utara juga dipasok oleh Soviet sehingga senjata yang dimiliki Indonesia dan Vietnam Utara identik.
"Informasi mengenai persenjataan ini, tidak pernah tersedia dari sumber lain" kata jaksa Departemen Kehakiman AS, George G.Matava yang menuntut Barnett karena menjadi agen intelijen ganda.
"Lebih dari yang diperkirakan AS sebelumnya dan informasi itu sangat berharga karena dapat menyelamatkan ribuan nyawa tentara kami di Vietnam" tambah Matava.
Data-data tersebut kemudian diolah oleh CIA dan menyarankan Belanda agar jangan berperang melawan Indonesia demi mempertahankan Irian Barat karena bisa berakibat buruk.
Walaupun sepak terjang Barnett melakukan aksi mata-matanya terbilang mulus tapi berujung sial.
Barnett setelah melakukan operasi Harbink selama 10 tahun di Indonesia kemudian berhenti dari dunia spionase dan memilih berwirausaha sebagai pebisnis udang di Indonesia.
Namun usahanya bangkrut dan ia terlilit utang besar.
Tak ayak, Barnett kemudian menjual data-data dan seluk beluk operasi Habrink kepada musuh utama CIA yakni KGB Soviet.
Bukan hanya itu, ia juga memberikan daftar 30 nama orang Indonesia yang bekerjasama dengan CIA kepada KGB.
Ia menjual data-data operasi itu ke agen KGB di Jakarta seharga 100 ribu US Dolar.
Aksi menjual data intelijen ini kemudian tercium CIA dan mereka juga menyuap agen KGB bernama Vladimir V. Popov untuk menyampaikan pesan kepada Barnett untuk kembali ke Amerika karena akan dipekerjakan kembali oleh CIA.
Mendengar hal itu Barnett kemudian kembali ke Amerika tahun 1979, tapi apa lacur dirinya langsung ditangkap dan diadili sebagai pengkhianat negara, agen ganda.
Barnett kemudian dijebloskan ke penjara yang kemudian dibebaskan pada tahun 1990.(Seto Aji/Grid)

Source:washingtonpost.com,Vzglyad

Agen Ganda Indonesia-Amerika

Ilustrasi: Edi Wahyono
Kamis, 5 Oktober 2017
Namanya Suhaimi Munaf, politikus Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah, partai Islam pendukung Sukarno. Pria asal Sumatera Barat yang lahir pada 1925 ini memiliki kemampuan menulis yang baik. Kemampuan itu dimanfaatkannya untuk menjadi penulis lepas di media-media yang berafiliasi dengan kelompok komunis.
Karena kedekatan dengan kelompok kiri itu, Suhaimi acap kali ditunjuk mewakili delegasi Indonesia dalam sejumlah kunjungan resmi ke negara-negara komunis, seperti Uni Soviet, Kuba, dan China. Hubungan baik dengan kelompok komunis akhirnya menjadi bumerang bagi Suhaimi. Pascaperistiwa G30S pada 1965, ia ikut diciduk. Ikut melakukan kejahatan politik dituduhkan kepadanya.
Mulai Februari 1967, Suhaimi mendekam di penjara. Rupanya sepak terjang Suhaimi masuk dalam pantauan lembaga intelijen Amerika Serikat CIA. Penunjukannya sebagai delegasi Indonesia bersama Sirajuddin Abbas dan Bintang Suradi dalam pertemuan Afro-Asian Peoples Solidarity Organization di Bandung pada April 1961 masuk dalam laporan CIA.
Para diplomat Amerika Serikat pun terkesan pada keluwesan Suhaimi bergaul dengan diplomat dari negara-negara komunis. Profil Suhaimi itu membuat CIA bernafsu merekrutnya menjadi agen. Kepala Stasiun CIA di Jakarta Clarence ‘Ed’ Barbier mengontak koleganya di Polisi Militer Kolonel Nicklany Soedardjo, yang menjabat Asisten Intelijen, secara rahasia. Menjelang masa kebebasannya pada Agustus 1968, Suhaimi harus menghadapi kenyataan pahit. Keluarganya berantakan dan ia kehilangan pekerjaan.
Saat itulah misi perekrutan dijalankan. Serangkaian tes dilakukan terhadap Suhaimi. "Kesimpulannya, Suhaimi memiliki mental baja, keras kepala, dan sukar dipengaruhi," tulis Ken Conboy, dalam bukunya Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia. Hasil tes ini sesuai dengan harapan CIA.
Foto: dok. SullenBell
Kesimpulannya, Suhaimi memiliki mental baja, keras kepala, dan sukar dipengaruhi."
Ken Conboy, penulis buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia
Tawaran menjadi agen CIA pun dilayangkan kepadanya berikut ancaman pengasingan ke Pulau Buru kalau menolak. Tak punya pilihan, Suhaimi akhirnya menerima tawaran itu. Ia pun dijanjikan imbalan yang cukup dan perlindungan dari kelompok antikomunis. Nama sandi Friendly/1 dilekatkan kepadanya. Selain rutin memberi informasi kepada CIA, Suhaimi bisa dikontak pejabat tertentu di Bakin dan Polisi Militer.
Tugas pertamanya menjalin kembali kontak dengan sejawatnya di kedutaan negara komunis. Kontak pertamanya dengan Duta Besar Kuba, yang baru saja berkunjung ke Beijing, menghasilkan informasi soal dukungan penuh pemerintah China terhadap Vietnam Utara. Informasi ini segera dilaporkannya kepada CIA. Pada pertengahan April 1970, Suhaimi melaporkan ada bekas simpatisan Partai Komunis Indonesia yang bekerja untuk kantor penerangan National Liberation Front (NLF) Vietnam Utara di Jakarta sebagai penerjemah. Orang ini, kata Suhaimi, layak direkrut.
Tentu saja model perekrutannya setali tiga uang dengan cara CIA mendapatkan Suhaimi. Bakin memberi nama sandi Mawar kepada agen ini. Mawar diberi tugas mengumpulkan daftar riwayat hidup semua diplomat NLF di Jakarta. CIA dan Bakin pun melibatkannya dalam Operasi Kuning untuk memasang alat penyadap di kantor NLF di Kebayoran Baru.
CIA juga merekrut seorang wartawan koran berhaluan nasionalis El Bahar bernama Subandi pada 1968. Subandi, yang merupakan mantan perwira marinir, pernah terpilih mengikuti pendidikan di Quantico, Virginia, Amerika Serikat, pada 1964. Ini membuatnya memiliki koneksi di kantor Atase Pertahanan Kedutaan Amerika Serikat. Atase ini pulalah yang mengenalkannya kepada pejabat CIA di Jakarta.
Foto: dok. BlackVault
Pekerjaan sebagai wartawan membuat Subandi dengan mudah mendapat undangan untuk acara resmi kedutaan negara komunis. Kepada Ken Conboy, Subandi mengaku diberi nama sandi Friendly/2 dari CIA. Selama menjadi agen, Subandi berhasil merekrut seorang diplomat NLF sebagai informan yang diberi nama sandi Kasuari. Subandi juga berperan dalam operasi mata-mata terhadap para diplomat Korea Utara.
Melihat keluwesan dua intel ini di lingkaran diplomat Jakarta, bukan hanya CIA yang berniat memakai jasa Suhaimi dan Subandi. Intelijen Uni Soviet KGB pun mendekati dua agen ini. Sering muncul di resepsi diplomatik negara-negara komunis membuat keduanya menjadi incaran KGB. Subandi diberi tugas mengumpulkan sebanyak-banyaknya data pribadi warga Tionghoa yang sudah meninggal dunia. CIA, yang menerima laporan penugasan KGB itu, menduga data yang diminta Moskow tersebut akan dipakai merancang riwayat hidup palsu bagi para agen yang sudah direkrut KGB. Subandi akhirnya diminta memutus kontak dengan KGB.

Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Jejak-jejak CIA di Indonesia


Ilustrasi [Foto/Shutterstock]
Ilustrasi [Foto/Shutterstock]
Oleh: Arbi Sumandoyo - 31 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Ketika perang dingin pecah, Indonesia menjadi sarang agen-agen KGB melakukan kegiatan spionase. Tak terkecuali keterlibatan CIA dalam aksinya melancarkan spionase menghadang komunis di Indonesia. Badan intelijen negeri Paman Sam itu terendus dalam keterlibatan penggulingan Presiden Soekarno dari tampuk kekuasaan.
tirto.id - Pada awal Januari 2010, Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri (Bareskrim Mabes Polri) menangkap seorang agen CIA, yang namanya aslinya Robert Marshall Reid. Lelaki itu memiliki perawakan tak layak seperti gambaran seorang agen intelijen dalam film-film produksi Hollywood. 

Bob Marshall, begitu Robert Marshall Reid disebut dalam pemberitaan media massa kala itu, digambarkan memiliki perawakan tinggi kurus. Usianya 56 tahun dan memiki rambut putih perak. Dia ditangkap ketika membuat paspor di daerah Bogor, Jawa Barat.

Penangkapan oleh petugas imigrasi telah mengungkap tabir sosok Bob Marshall sebenarnya. Sehari setelah dititipkan dalam tahanan Markas Besar Polri, diketahui identitas Bob yang bekerja untuk CIA. Motif keberadaan Bob tanpa identitas resmi dan berada di Indonesia membuat muncul spekulasi jika lelaki kurus itu sedang menjalankan misi spionase. Kepolisian pun mendalami motif tujuan Bob dan keterkaitannya dengan dinas rahasia Amerika tersebut.

Dari catatan imigrasi kala itu, Bob Marshall melakukan penyamaran identitas. Dia memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta. Kepada imigrasi saat wawancara pembuatan paspor, Bob mengaku keturunan Inggris. Karena kejanggalan dokumen pembuatan paspor ini, Imigrasi Indonesia melaporkan keberadaan Bob pada Kantor Kedubes Amerika di Jakarta. 

Belakangan diketahui, Bob Marshall merupakan buronan tiga negara, yaitu Amerika, Inggris dan Rusia. Dia diduga terlibat pemalsuan dokumen, penjualan senjata api dan kasus cek kosong. Bob menjadi buronan sejak tahun 1974. Selama dalam pelarian, Bob diakui memiliki 50 paspor palsu dari berbagai negara. 

"Karena, Robert 'Bob' Marshall adalah buronan CIA atau badan intelijen Amerika Serikat dan interpol sejak 1974. Kejari Kota Bogor menganggap perkara ini adalah perkara tingkat penting, sehingga mengajukan beberapa persyaratan," kata Kepala Kantor Imigrasi Bogor, Ibrahim Saleh, seperti dikutip dari Antara. 

Namun, tudingan Bob menjadi agen CIA sampai saat ini tak pernah terjawab. Kedutaan Besar Amerika pun tak mengomentari keterlibatan Bob Marshall dalam CIA. Hingga Bob dideportasi oleh Pemerintah Indonesia, tudingan melakukan spionase dan memata-matai Indonesia tak pernah disangkalkan. Kala itu Bob hanya menyangkal atas tuduhan melanggar Undang-Undang Keimigrasian. Keterlibatan Bob menjadi agen CIA di Indonesia sampai saat ini masih menjadi misteri. Kasus spionase ini pun menguap dari pemberitaan. 

"Amerika terus memantau Indonesia dalam penyelesaian perkara ini," ujar Ibrahim Saleh.

Spionase CIA di Indonesia

Jejak spionase CIA di Indonesia memang bukan hal baru. Buku-buku yang membahas soal penggalangan dan spionase CIA telah banyak diterbitkan. “Legacy of Ashes, the History of CIA” karya Tim Weiner, jurnalis The New York Times salah satunya. Pemenang Pulitzer itu mengulas rinci kegiatan spionase CIA di Indonesia dan membuat geger tanah air, setelah buku itu diterbitkan ke dalam edisi bahasa Indonesia.

Buku tersebut menyebut Adam Malik, mantan Menteri Luar Negeri yang juga Wakil Presiden Indonesia ketiga sebagai agen CIA. Pemilik nama lengkap Adam Malik Batubara itu direkrut menjadi agen CIA oleh Clyde Mcavoy, seorang perwira tinggi CIA. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2005, Clyde mengakui jika CIA merekrut Adam Malik untuk dijadikan agen buat menjalankan operasi spionase di Indonesia. 

“Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut,” kata Clyde Mcavoy. 

Weiner bahkan menjabarkan ulasan lebih dalam tentang spionase CIA dengan merekrut pejabat tinggi di pemerintahan Indonesia. Pada pertengahan Oktober, sebelum peristiwa pemberontakan G-30-S berlangsung, CIA membuat pemerintah bayangan di Jawa Tengah. Para elitenya adalah Sultan, Adam Malik dan juga Soeharto. Bahkan dalam bulan itu, ada sebuah pertemuan rahasia antara orang suruhan Adam Malik dengan atase politik Kedubes Amerika di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Bob Martens menyodorkan sebuah daftar target tokoh-tokoh komunis di Indonesia yang dirangkumnya dari sebuah surat kabar berhaluan komunis. 

Operasi menghanguskan ideologi komunis pun dilancarkan dari biaya diberikan oleh CIA. Untuk menyamarkan pengiriman dana, CIA membuat kerja sama samaran dengan tentara dengan cara menjual obat-obatan. 

Melalui mendiang Presiden Soeharto yang kala itu berpangkat Mayor Jenderal, operasi antiPKI dilakukan. Terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang yang dituding komunis. Penumbangan rezim Soekarno pun berlangsung dengan pertumpahan darah. Sampai saat ini, peristwa itu masih menjadi catatan hitam yang tak pernah terungkap siapa dalang pembunuhan masal dan penghilangan paksa itu. 

Atas jasanya menjadi agen intelijen, Adam Malik pun mendapat pujian dari Wakil Presiden Amerika Serikat Hubert H Humprey sebagai orang cerdas yang pernah dia temui. Berkat dukungan Amerika juga, Adam Malik disebut pernah duduk menjadi Ketua Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Infografik Intelijen asing di Indonesia 3


Dari Komunisme ke Terorisme 

Spionase CIA di Indonesia memang tak pernah berhenti dalam menerapkan pengaruh mereka dalam dunia intelijen. Setelah sukses dengan operasi pemusnahan ideologi komunis, kini dinas rahasia milik paman Sam itu gencar melakukan operasi intelijen pencegahan terorisme. Itu merupakan buntut dari tragedi 11 September 2001 yang merobohkan World Trade Center (WTC), yang membuat negara itu gencar mengajak intelijen lintas negara buat melakukan pertukaran informasi.

George Walker Bush adalah Presiden Amerika paling gencar menghamburkan uang soal ini. Dia pun tak pernah mendengar teriakan warganya atas invasi militer ke Afganistan yang banyak menelan korban sipil. Sebagai negara adikuasa, Amerika tentu bakal memberikan pengaruhnya ke negara-negara lain, tak terkecuali di Indonesia. 

Apalagi Indonesia juga pernah mengalami aksi serupa, yaitu munculnya wabah terorisme. Dimulai dari bom di malam Natal dan memiliki sejarah kelam soal ancaman teror, Lembaga Telik Sandi di bawah kepemimpinan AM Hendropriyono pun melakukan kerja sama dengan AS. Tahun 2002, operasi inteljen penangkapan Umar Al Faruq berhasil dilakukan setelah ada informasi dari CIA. Pada saat itu, Umar Al Faruq, salah satu tokoh terorisme Asia Tenggara dibekuk oleh BIN. 

Umar Al Faruq kemudian diterbangkan oleh CIA ke AS. Aroma operasi intelijen inipun terkuak. BIN diduga menaruh agen mereka dalam tubuh Mujahidin Indonesia. Penyerahan Faruq pun menjadi tanda tanya, apalagi orang yang disebut tangan kanan Osama Bin Laden itu diketahui juga melakukan serangkaian aksi terorisme di Indonesia. Belakangan baru diketahui, jika sejatinya ada operasi intelijen dibalik penangkapan Al Faruq di daerah Bogor, Jawa Barat.

Mantan Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali, membenarkan soal peranan lembaga telik sandi yang pernah dia pimpin dibalik penangkapan Al Faruq. Menurut As’ad, kerjasama dengan CIA tak lain gerakan antiterorisme yang digaungkan oleh Amerika.

“Penangkapan itu menjadi prestasi bagi BIN,” ujarnya saat berbincang dengan tirto.id, Selasa lalu. Dia pun menegaskan, hingga saat ini, kerjasama intelijen lintas negara pun masih dilakukan untuk mencegah aksi terorisme. Buat mencegah hal itu, Indonesia juga mengeluarkan produk turunan berupa Undang-Undang Anti Terorisme.

Baca juga artikel terkait INTELIJEN atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Politik