Tampilkan postingan dengan label Dasar Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2019

SUMPAH POCONG


➖➖➖➖➖➖➖➖➖

▪Tanya❓
Assalamu'alaykum. Ada yang ingin ana tanyakan, apakah islam membolehkan umatnya untuk melakukan SUMPAH POCONG❓Karena ada sebagian orang Islam yang melakukannya. (08197890xxx)

▪Jawab ✔
Wa'alaykumussalam Warohmatulloh.

1⃣. Islam tidak mengenal adanya Sumpah Pocong, hal ini menunjukkan ๐Ÿ‘‰๐Ÿฟ❗❗❗SUMPAH POCONG BUKAN DARI ISLAM.

2⃣. Didapatinya sebagian orang islam yang melakukannya ini bukanlah Dalil/ukuran dalam menilai suatu kebenaran, Barometer kebenaran itu hanyalah Al Qur'an Dan Sunnah.

3⃣. Masalah Sumpah itu sendiri sebenarnya ada dalam Islam, dimana kita tidak boleh bersumpah kecuali atas nama Allah.

Rosululloh bersabda, barang siapa bersumpah dengan selain Allah maka ia kufur atau syirik (HR. Tirmidzi dari Umar Ibnu Khattob Rodhiyallohu'anhu).

✔Dalam Hadits lain disebutkan bahwa orang yahudi mendatangi Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam, lalu Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam berkata, Sesungguhnya kalian telah berbuat Syirik, kalian mengatakan Atas kehendak Allah Ta'ala dan kehendakku dan Kalian mengatakan, Demi Ka'bah...(HR.Nasa'i dari Qutailah).

๐Ÿ‘‰๐Ÿฟ❗Anda perhatikan Dari Hadits Hadits ini adanya larangan bersumpah dengan selain Allah Subhana wata 'ala, meskipun dengan Ka'bah yang padahal ia sebagai Baitulloh, apalagi kalau selain ka'bah. Wal 'ilmu 'indallah.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Sumber, Buletin Al Wala' wal Baro' Bandung Edisi ke 7 tahun Ke 2, 9 Januari 2004/ 17 Dzulqo'dah 1424H

Minggu, 24 Maret 2019

Bahaya Fanatik Golongan

Oleh Muhammad Al-Abadah

Tidak ada satupun yang lebih berbahaya bagi da’wah Islamiyah dewasa ini ketimbang Fanatisme Hizbiyyah (Fanatik Golongan). Ia merupakan penyakit berbahaya yang bakal mencerai beraikan ukhuwah Islamiyah. Ia pasti akan memutuskan ikatan-ikatan kuat tali ukhuwah, dan akhirnya akan mengotori kesuciannya.

Adakah dibenarkan seorang muslim menunjukan wajah ceria, senyum lebar dan salam hangatnya hanya kepada orang satu kelompok atau satu jama’ah saja ..? Sementara kepada orang dari kelompok lain ia bermuka masam, bersikap dingin dan hambar ..?

Adakah dibenarkan seorang muslim mengabaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan sahabat kelompoknya, sementara apabila orang lain melakukan kesalahan yang sama, ia rajin menggunjingkan dan menyebarluaskannya..?

Apabila seorang di antara anggota kelompok (hizbiyyah) ini anda beri peringatan karena fikrah atau tashawwur (orientasi berfikir)nya menyimpang (munharif), maka ia akan segera memberikan pembelaan-pembelaan dengan dalih : “Ini hanyalah kekeliruan, tetapi tidak merusak prinsip”.

Disebabkan fanatisme hizbiyyah inilah maka anda lihat, seseorang tidak akan mau melakukan tela’ah, belajar atau menimba ilmu, melainkan hanya dari satu arah saja, yaitu hanya dari buku-buku, tulisan orang sekelompoknya dan dari orang-orang tertentu yang telah diwasiatkan tidak boleh belajar melainkan hanya kepada mereka.

Dari situlah lahir cakrawala berpikir sempit, dan manusia-manusia yang berkepribadian keji. Ia tidak melihat melainkan hanya dari satu sudut pandang,dan tidak tahu menahu (persoalan) melainkan hanya pemikiran itu satu-satunya.

Namun, mengapa hizbiyyah semacam ini bisa menyusup ke dalam shaf (barisan) da’wah ..? Siapakah pula pendukungnya sehingga ia tetap berlangsung..?

Sesungguhnya telah jelas bahwa hizbiyyah adalah suatu pola dari sebuah tarbiyah buruk yang dilakukan guna menangani penggarapan diri seorang manusia, kemudian dikatakannyalah padanya (bahwa) :”Kamilah kelompok paling afdhal, sedangkan selain kami, masing-masing mempunyai kekurangan itu ….”. Semua itu karena setiap kelompok hizbiyyah ingin menghimpun dan memperbanyak jumlah anggota.

Sebagai konsekwensinya, maka mereka harus menjatuhkan nama kelompok lain supaya orang jangan sampai masuk menjadi kelompok lain tersebut. Seakan-akan kita ini menjadi kelompok-kelompok kontestan dari beberapa partai yang bersaing guna merebut kemenangan dalam suatu pemilihan umum. Sampai-sampai terkadang perlu membeli suara massa dengan klaim-klaim memikat dan dengan harta benda.

Dari tarbiyah seperti inilah, akhirnya seseorang harus sudah terpisah dari majlis-majlis para ulama atau orang-orang berilmu semenjak pertama ia menerjuni dunia da’wah atau ketika untuk pertama kalinya ia ingin mencari ilmu, sehingga ia tidak bisa mengenyam tarbiyah para ulama yang mentarbiyah dengan adab, akhlaq dan pengalaman mereka.

Kalau demikian keadaannya, maka niscaya dia bakal menyerap (ilmu) dari orang-orang yang aktif menjalankan amaliyah tarbiyah. Jika kebetulan orang itu memiliki ilmu dan tidak mempunyai ambisi kepemimpinan, bisa jadi tarbiyahnya mendekati benar. Tetapi seandainya orang-orang itu (ternyata) menyukai kedudukan atau dalam dirinya terdapat unsur penipuan ilmu, maka tentu, dari tarbiyah ini akan terlahir pemuda-pemuda buruk yang fanatik terhadap kelompok.

Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari penyakit ini, kecuali orang yang selalu mengambil perhatian sejak awal, dan mengerti bahwa ada beberapa bentuk tarbiyah yang secara pasti akan menunjukkan hizbiyyah. Untuk itu dia akan merasa takut dan berusaha membentengi diri. Dia akan selalu mawas diri, selalu melihat ke belakang, selalu memperbaharui langkah-langkahnya dan selalu melakukan pembaharuan setiap saat, sehingga dirinya tidak terjatuh ke dalam.

(Diterjemahkan secara bebas dari majalah Al-Bayan, No. 59 Rajab 1413H, Januari 1993M. hal. 46-47, oleh Team Redaksi)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun ke-1 (06/I/1414H). Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Selasa, 19 Maret 2019

PERNIKAHAN NABI ๏ทบ DENGAN SAYYIDAH KHADIJAH RADHIYALLAHU'ANHA

Setelah menikah dengan Khadijah, Rasūlullāh ﷺ menjalani kehidupan yang luar biasa dan penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan takkan bisa diraih kecuali dari istri yang shālihah.

Kalau hanya sekedar mengandalkan kecantikan, kekayaaan, dan keindahan tubuh dari seorang wanita, maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan, *tapi mungkin hanya mendatangkan kelezatan sesaat.*

*_Kebahagiaan adalah sesuatu yang tertanam di dalam hati seseorang dan ini tidak bisa didapatkan kecuali dari istri yang shālihah._*

Khadījah radhiyallāhu ‘anhā adalah wanita yang sangat mencintai Nabi ﷺ , beliau benar-benar membela suaminya dengan pembelaan yang luar biasa.

Seluruh hartanya diberikan kepada suaminya untuk berdakwah. Inilah pentingnya kerjasama antara seorang yang berilmu dan seorang yang berharta dalam berdakwah. Dua orang inilah yang patut kita cemburui, kata Rasūlullāh ﷺ dalam haditsnya:

Dari ‘Abdullāh bin Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasūlullāh ﷺ bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

_“Tidak boleh hasad (ghibtah) kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang Allāh anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allāh beri ilmu (Al-Qurān dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”_ *(HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)*

Dakwah sulit berjalan jika hanya mengandalkan ilmu tanpa disokong dari sisi dana. Sehingga inilah salah satu hikmah Allāh menikahkan Nabi ﷺ dengan Khadījah, saudagar yang kaya raya dan benar-benar mendukung dakwah Nabi secara totalitas.

Selain Khadijah, *Abū Bakr radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu* juga termasuk saudagar kaya raya yang ikut serta mendukung dakwah Nabi.

Oleh karena itu, tatkala Bilāl disiksa oleh tuannya ‘Umayyah bin Khalaf, Abū Bakr radhiyallāhu ‘anhu membebaskannya dan memerdekakannya dengan hartanya, karena saat itu Nabi ﷺ tidak memiliki harta sehingga tidak mampu memerdekakan Bilal.

Rasūlullāh ﷺ adalah seorang yang miskin, sampai-sampai beliau bekerja menggembalakan kambing orang lain untuk mendapat upah dan kemudian diberikan kepada pamannya Abū Thālib.

Namun Allāh takdirkan menikah dengan Khadījah, saudagar wanita kaya raya yang seluruh hartanya diberikan kepada beliau untuk berdakwah.

Rasūlullāh ﷺ memiliki 6 orang anak dan semuanya diurus oleh Khadījah radhiyallāhu ‘anhā karena Khadījah ingin suaminya bisa konsentrasi untuk berdakwah, sehingga seluruh urusan rumah tangga diurus oleh Khadījah.

Khadījah radhiyallāhu ‘anhā memiliki banyak sekali keutamaan, diantaranya :

⑴ Dalam hadits disebutkan, Rasūlullāh ﷺ bersabda:

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ

_“Sebaik-baik wanita dunia (di zamannya –pent) adalah Maryam binti ‘Imran dan sebaik-baik wanita dunia (di zamannya –pent) adalah Khodijah.”_ *(HR Al-Bukhari no 3432 dan Muslim no 2430)*

Ibnu Hajar berkata :

وَأَنَّ مَعْنَاهَا أَنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا خَيْرُ نِسَاءِ الْأَرْضِ فِي عَصْرِهَا

_“Maknanya adalah setiap dari mereka berdua adalah wanita dunia yang terbaik di zamannya.”_ *(Fathul Baari 9/125, lihat juga 6/471)*

Oleh karena itu, datang dalam riwayat yang lain :

خَيْرُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

*_“Sebaik-baik wanita di alam semesta ini ada empat orang, yaitu Maryam putri ‘Imrān, Khadījah binti Khuwailid, Fāthimah binti Muhammad, Āsiyah istri Fir’aun.”_* _(HR Al-Hakim no 4733, Ibnu Hibban 6951, At-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir no 1004 dan dishahihkan oleh Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Al-Albani)_

⑵ Rasūlullāh ﷺ sering mengingat Khadījah walaupun Khadījah sudah meninggal dunia menunjukkan betapa cintanya Rasūlullāh ﷺ kepada Khadījah yang selama 25 tahun hidup bersama Rasūlullāh ﷺ.

Selain itu Nabi tidak berpoligami selama bersama Khadījah diantara alasannya adalah karena beliau ﷺ sangat cinta kepada Khadījah dan tidak ingin menyinggung hati Khadījah radhiyallāhu ‘anhā.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Tidak ada perselisihan diantara para ulama bahwasanya Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ tidak berpoligami sejak menikah dengan Khadijah hingga wafatnya Khadijah.

Ini merupakan dalil akan tingginya kedudukan Khadijah di sisi Nabi dan bertambahnya kemuliaan Khadijah. Karena Nabi mencukupkan dirinya dengan Khadijah sehingga beliau tidak berpoligami, dengan itu Rasulullah telah menjaga hati Khadijah dari kecemburuan dan kepayahan yang ditimbulkan oleh para madu.” *(Fathul Baari 7/137)*

Setelah Khadījah meninggal, Rasūlullāh ﷺ *menikah lagi dan baru berpoligami* . Ini merupakan *bantahan* kepada orang-orang Orientalis Barat yang mengatakan bahwa Rasūlullāh ﷺ adalah seorang yang mengikuti syahwat (syahwaniy).

Rasūlullāh ﷺ tidak poligami selama 25 tahun dan meskipun pada akhirnya poligami, wanita yang dinikahi semuanya janda dan sebagiannya sudah tua kecuali hanya satu yang masih gadis yaitu ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, itupun karena perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Nabi ﷺ menikahi ‘Āisyah karena Rasūlullāh ﷺ mimpi didatangi oleh malaikat Jibrīl 2 kali atau 3 kali membawa gambar ‘Āisyah

أَنَّ جِبْرِيلَ جَاءَ بِصُورَتِهَا فِي خِرْقَةِ حَرِيرٍ خَضْرَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ زَوْجَتُكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

_“Bahwasannya Jibrīl datang kepada Nabi ﷺ bersama gambar ‘Āisyah dalam secarik kain sutera hijau, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ini adalah isterimu di dunia dan akhirat’.”_ *(Jami’ At-Tirmidziy no. 3880)*

Kita tahu bahwa mimpi para Nabi adalah wahyu Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Pada asalnya istri Nabi ﷺ semua adalah janda. Jikalau Rasūlullāh ﷺ mengikuti hawa nafsu belaka niscaya beliau ﷺ akan menikahi gadis perawan.

*Akan tetapi Rasūlullāh ﷺ berpoligami karena ada mashlahat di dalamnya.*

Diantara dalil Nabi ﷺ sering mengenang Khadijah adalah hadits  Aisyah, beliau berkata :

*_“Tidaklah aku lebih cemburu kepada istri-istri Nabi kecuali kepada Khadījah, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.” ‘Āisyah menceritakan ketika Nabi menyembelih seekor kambing, Nabi berkata, “Berikanlah sebagian sembelihan ini kepada teman-temannya Khadījah.” Maka aku pun kesal dan berkata, “Khadījah lagi!?” Nabi lalu menjawab, “Sesungguhnya aku diberikan anugerah untuk mencintai Khadījah.”_* _(HR. Muslim no 2435)_

Ini diantara bentuk inshafnya (adilnya) ‘Āisyah, *walaupun beliau melakukan beberapa kesalahan namun beliau tetap meriwayatkannya, tidak beliau sembunyikan karena di dalamnya terdapat ilmu* . Tidak seperti orang-orang Syi’ah yang mencaci maki ‘Āisyah, kata mereka ‘Āisyah itu lisannya kotor. *Padahal lisan orang-orang Syiah itu sendirilah yang kotor.*

Dalam riwayat lain, ‘Āisyah pernah membicarakan salah seorang istri Nabi ﷺ yaitu Shafiyyah. Kata ‘Āisyah:

Shafiyyah adalah wanita yang pendek. Lalu Rasūlullāh ﷺ marah. Kalau seandainya kesalahan ‘Āisyah adalah masalah duniawi maka Rasūlullāh ﷺ tidak akan marah dan beliau akan mengalah. Akan tetapi kalau kesalahan ‘Āisyah sudah sampai derajat ghibah dan menyangkut masalah agama maka Rasūlullāh ﷺ menegur dengan berkata:

لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ

*_“Engkau telah mengucapkan suatu ucapan yang seandainya ucapan ini dicampur dengan air laut maka akan merubah air laut tersebut.”_* *(HR Abu Dawud no 4875 dan At-Tirmidzi no 2632)*

Jika kita perhatikan, hadits ini diriwayatkan oleh ‘Āisyah tentang kesalahan beliau sendiri, namun beliau tetap sampaikan apa adanya. Ini menunjukkan bagaimana inshafnya beliau.

Sungguh mencela dan mencaci ibunda Aisyah sebagaimana tuduhan kaum Syiah bahwa Aisyah bermulut kotor adalah ucapan yang sangat keji. Bagaimana bisa mencaci ‘Āisyah sementara ‘Āisyah adalah *kekasih yang sangat dicintai Nabi ﷺ, yang Nabi ﷺ wafat di pangkuannya, yang Nabi ﷺ dikuburkan di rumahnya.*

Aisyah -istri yang paling dicintai oleh Nabi- tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain sebagaimana kecemburannya kepada Khadijah, padahal Khadijah telah meninggal dunia.

Seorang wanita cemburu kepada wanita yang telah meninggal dunia? Tidak lain melainkan karena begitu cintanya Nabi _shallallau ‘alaihi wa sallam_ kepada cinta pertamanya yaitu Khadijah meskipun telah tiada.

Aisyah radhiallahu ‘anhaa bertutur:

_“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyebut tentang Khadijah maka ia memujinya dengan pujian yang sangat indah. Pada suatu hari aku pun cemburu, kemudian aku berkata,_

*_“Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya”._*

_Maka Nabi berkata_, *_“Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanitapun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain”_* _(HR Ahmad no 24864 dan dishahihkan oleh para pentahqiq Musnad Ahmad)_

Hadits ini adalah sekedar isyarat yang menunjukkan bahwa ‘Āisyah itu sebagaimana wanita lainnya, bersifat pencemburu. *Suatu hal yang wajar apabila seorang istri cemburu dengan wanita lain* .

Khadījah bukanlah istri biasa, beliau memiliki peran dalam perkembangan Islam. Bagaimana beliau berkorban dengan segala hal, termasuk harta untuk mendukung dakwah Nabi ﷺ.

Karena itu tidak heran jika Nabi ﷺ membanggakan kecintaan beliau ﷺ kepada Khadījah dengan mengatakan:

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

_“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah”_ *(HR Muslim no 2435)*

Imam An-Nawawi berkata,

_“Ini adalah isyarat bahwasanya mencintai Khadijah adalah kemuliaan.”_ *(Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 15/201)*

Wanita jika cemburu maka dia akan melakukan hal yang tidak dia sadari dan di luar akal sehat. Dan lelaki yang baik adalah yang tidak marah kepada istrinya yang berbuat kesalahan karena cemburu.

Bagaimana suami marah terhadap perilaku istri yang menunjukkan cintanya kepadanya. Maka ‘Āisyah pun cemburu dengan mengatakan perkataan yang keliru dan Rasūlullāh ﷺ membela Khadījah.

🖊  Penulis: Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
🌐  Sumber: _www.firanda.com_

Disebarkan Oleh : *Mutiara Risalah Islam*
_______________
📚  Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari dari Ust Dr. Musyaffa' ad Dariny Lc, M.A. ?

Senin, 18 Maret 2019

ANAK-ANAK BERCANDA DIMASJID DIMARAHI ATAU DIBIARKAN?



Salah satu masalah yang sering menjadi polemik di masjid atau majlis taklim adalah keberadaan anak-anak kecil. Di satu sisi kita menginginkan anak-anak tersebut akrab dengan masjid dan majlis taklim. Sehingga kelak merekalah yang menjadi generasi penerus kebaikan. Namun di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa tingkah polah mereka lumayan ‘mengganggu’ kekhusyuan ibadah.

Menghadapi fenomena ini, ada dua kubu yang bertolak belakang dalam menyikapinya.

🔘 Kubu pertama hobi memarahi anak-anak kecil tersebut. Kerap membentak mereka. Atau minimal memelototi mereka. Seakan mereka adalah hama yang harus diberantas. Akibatnya anak-anak tersebut pun menjadi tidak betah di masjid. Bahkan sebagian mereka menjadi fobia dengan majlis taklim.

🔘 Adapun kubu kedua, sangat memaklumi tingkah polah anak-anak itu. Seheboh apapun kelakuan mereka, dibiarkan saja. “Toh memang itu masanya”, demikian komentar yang terlontar. Akibatnya tidak sedikit jamaah yang mengeluh sulit konsentrasi dalam mengaji dan shalat.

☑ Sikap yang tepat

Keberadaan anak kecil di masjid itu sudah lazim sejak zaman Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam._ Perilaku anak di zaman itu juga tidak berbeda jauh dengan zaman ini. Sama-sama masih suka bermain. Bagaimanakah baginda Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ menyikapi mereka di masjid?

🕌 Abu Qatadah _radhiyallahu ‘anhu_ menuturkan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا

_“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”._ 📖HR. Bukhari dan Muslim.

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun beliau *bertanggungjawab.* Tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong. Agar tidak mengganggu jama’ah yang lainnya.

Tetapi bagaimanapun kedisiplinan orang tua, tetap saja ada saatnya lepas kontrol. Anak berpolah. Di saat itulah *kesabaran* yang berperan. Mari kita simak kejadian berikut,

Syaddad _radhiyallahu ‘anhu_ mengisahkan, _“Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,_

كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

_“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”._ 📖HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.

☑ Kesimpulan

Orang tua yang membawa serta anaknya ke masjid harus bertanggung jawab. Bertugas untuk mengkondisikan dan *memberikan pengertian* kepada anak. Namun proses pendidikan itu harus dilakukan dengan penuh *kelembutan dan kesabaran*.

Sehingga anak tidak kapok untuk berangkat ke masjid atau majlis taklim. Di waktu yang sama, keberadaan mereka juga tidak membuat jamaah lain terganggu. Ingat, maslahat orang banyak harus diprioritaskan ketimbang maslahat pribadi. _Wallahu a’lam bish shawab._

_🏛Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 10 Rajab 1440 / 17 Maret 2019_

✒ Ustadz Abdullah Zaen, L.c, M.A, حفظه الله

http://tunasilmu.com/dimarahi-atau-dibiarkan/

Ancaman bagi penyebar gosip

🍄 Khazanah Al-Qur'an 🍄

Senin, 18-Maret-2019 M

🌹 Ancaman Allah bagi Para Penyebar Gosip !

Akhir-akhir ini, gosip menjadi santapan masyarakat sehari-hari. Sejak pagi kita telah disuguhi berbagai macam acara televisi yang mengumbar masalah dan aib orang. Padahal Al-Qur’an sangat tegas berbicara tentang para penyebar aib, Allah swt berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS.an-Nur:19)

Ayat ini adalah ancaman bagi orang-orang yang hobi dan senang menyebar aib kaum mukminin. Dan ancaman Allah dalam ayat ini sangatlah tegas, “mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Kehormatan dan harga diri kaum mukminin adalah barang mahal yang harus dijaga. Setiap orang memiliki aib dan setiap dari kita pernah berbuat salah. Maka tugas kita adalah menutupi aib dan kesalahan saudara kita, bukan malah menyebarkannya.
Ancaman dalam ayat ini adalah siksaan di dunia dan akhirat. Jangan-jangan semua kesengsaraan yang menimpa kita di dunia ini diakibatkan karena kita senang menyebarkan aib dan kesalahan orang lain. Sementara kita tidak sadar bahwa perbuatan itu adalah sesuatu yang besar. Allah berfirman,

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.” (QS.an-Nur:15)

Kita menganggapnya hal remeh padahal disisi Allah sangatlah besar. Karena itulah Allah mengakhiri ayat ini dengan firman-Nya, “Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Yakni mungkin kita tidak tau bahwa berbagai siksaan dan kesengsaraan hidup ini bermula dari kebiasaan kita yang sering mengumbar aib dan keburukan orang lain.

Rasulullah saw bersabda :
“Siapa yang menyebarkan aib seorang mukmin maka ia tidak akan mati sebelum melakukan aib tersebut.”

Semoga lisan kita terjaga dari kebiasaan bergosip dan menyebarluaskan aib orang lain, karena sungguh siksaan Allah menanti orang-orang yang hobi menggosip. Siksaan yang amat pedih di dunia maupun di akhirat kelak.

🍁 Semoga Bermanfaat 🍁

HUKUM SHOLAT TAUBAT


✒ Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah

📃 Pertanyaan:❓
Apa hukum sholat taubat dan  bagaimana keshahihan dalil yang datang tentangnya?

📞 Jawaban:
Sholat taubat, pada haditsnya terdapat kelemahan. Akan tetapi memiliki hadits-hadits pendukung yang menunjukkan ada dasarnya, misal hadits Ustman Bin Affan _radhiyallahu anhu_ ketika berwudhu seperti wudhunya nabi ﷺ, dan beliau berkata:

☝"Sesungguhnya Nabi ﷺ berwudhu seperti wudhuku ini", kemudian berkata:

👉🏻🚰"Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian sholat 2 rakaat, jiwanya tidak lalai di kedua rakaat itu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu".

📃Maka hadits ini menjadi dalil pendukung yang menunjukkan bahwa seseorang apabila berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian sholat 2 rakaat niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

✅ Sholat ini tidak dinamakan sholat taubat, melainkan sholat sunnah wudhu, namun dengan itu diperoleh taubat.

📚 Liqo Al Bab Al Maftuh: 14

السؤال:
ما حكم صلاة التوبة، وما صحة الدليل الذي ورد في ذلك؟
الجواب:
صلاة التوبة حديثها فيه ضعف، لكن له شواهد تدل على أن له أصلاً مثل حديث عثمان بن عفان -رضي الله عنه- حينما توضأ كوضوء النبي -صلى الله عليه وسلم- وقال: إن النبي -صلى الله عليه وسلم- توضأ مثل وضوئي هذا، ثم قال: «من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر الله له ما تقدم من ذنبه» فهذا الحديث شاهد  يدل على أن الإنسان، إذا توضأ فأسبغ الوضوء، ثم صلى ركعتين؛ فإنه يغفر له ما تقدم من ذنبه، ولا تسمى صلاة التوبة، ولكنها سنة الوضوء، ولكن تحصل بها التوبة.

المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [14]
التوبة والرقائق
الصلاة > صلاة

┈┉┅••●❀✅🚰✅❀●••┅┉┈


 

Sabtu, 16 Maret 2019

RITUAL-RITUAL KESYIRIKAN BERKEDOK KEARIFAN LOKAL DI INDONESIA


 Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
 Berikut contoh kesyirikan di NUSANTARA yang berkedok kearifan lokal
    

*RITUAL-RITUAL KESYIRIKAN BERKEDOK KEARIFAN LOKAL DI INDONESIA*

*1. Kenduri Laot Aceh (Sesaji kepala sapi)*
*2. Rebo Pungkasan banyuwangi (Sesaji kepala sapi)*
*3. Sapar saparan banyuwangi (Sesaji kepala sapi)*
*4. Ziarah 1 Syuro Parangkusumo Yogyakarta (Sesaji kepala sapi)*
*5. Larung sesaji 1 Syuro Wonogiri (Sesaji kepala sapi)*
*6. Peramaian tawang Kendal (Sesaji kepala sapi)*
*7. Nyadran rowosari Kendal (Sesaji kepala sapi)*
*8. Sedekah laut tuban (Sesaji kepala sapi)*
*9. Petik laut Situbondo (Sesaji kepala sapi)*
*10. Korowelang Malang (Sesaji kepala sapi)*
*11. HUT Kota Kediri (Sesaji kepala sapi)*
 *12. *Grebeg* *Syuro Lumajang (Sesaji kepala sapi*)
*13. Larung sesaji Blitar (Sesaji kepala sapi)*
*14. Sedekah rawa ambarawa (Sesaji kepala sapi)*
*15. Larung sesaji bumi Probolinggo (Sesaji kepala sapi)*
*16. Hajat laut Pangandaran (Sesaji kepala sapi)*
*17. Ruwatan Tegal (Sesaji kepala sapi)*
*18. Lomban Jepara (Sesaji kepala sapi)*
*19. Sedekah laut juwana Pati (Sesaji kepala sapi)*
*20. Petik Laut Pasuruan (Sesaji kepala sapi)*
*21. Sedekah gunung merapi lencoh boyolali (Sesaji kepala sapi)*
*22. Balia Palu (Sesaji ayam dan kambing)*
*23. Maudu’ Lompoa, Takalar Sulawesi Selatan (Sesaji Ayam, Julung julung)*
*24. Sesaji Labuhan Yogyakarta*
*25. Sedekah Laut Cilacap, Demak, Bantul, Pekalongan, Semarang, Tegal, Tangerang*
*26. Nadran Subang, Indramayu, Cirebon, karawang*
*27. Larung Sesaji Tuban, Jember*
*28. Petik Laut Sumenep, Pamekasan*
*29. Ruwat laut Subang, Pandeglang*
*30. Larung Perahu Gresik*
*31. Larung sesaji Jember*
*32. Labuh Saji Sukabumi*
*33. Kenduri laut Tapanuli tengah Sumatera*
*34. Pesta Laut Kuala Samboja Kalimantan Timur*
*☠35. Simah Laut Sampit Kalimantan tengah*
*☠36. memberi makan laut tanah Bumbu Kalimantan Selatan*
*☠37. Maccera Tasi Kotabaru Kalimantan selatan*
*☠38. Malarung sikka Sulawesi*
*☠39. Methil Surakarta (Sesaji hasil bumi)*
*☠40. Sedekah Bumi dengan Sesaji hasil bumi (Jepara, Indramayu, Tegal, Kuningan, Indramayu, Solok Sumatra Barat, Losari, Sukabumi, bogor, Majalengka, Juwana Pati, Surabaya, Banyumas, Grobogan, Cilacap, Ciluwak, Blora, Lamongan, Gresik, Kediri, Sidoarjo, Probolinggo)*

Jelas sekali kalau umat muslim di Indonesia belum memahami betul mengenai esensi ajaran Islam yang paling pokok yaitu Tauhid, baik masyarakat ataupun pemerintahannya.

Dari segi masyarakat menganggap sesaji adalah bentuk syukur kepada tuhan selain juga sajian penolak bala untuk para lelembut, mbaurekso, penunggu, arwah leluhur, penguasa laut, gunung atau apapun itu.

Padahal hal semacam itu yang disebut dalam Islam sebagai syirik Akbar.
Dari segi Pemerintah daerah memandang tradisi-tradisi tersebut sebagai lahan pengembangan daerah dan sumber Cara pendapatan lain dari sektor pariwisata dengan mengesampingkan dampak negatif yaitu dapat menggerus prinsip prinsip agama.

Jika suatu daerah menjadikan acara tahunan dengan berhasil dan memancing banyak pengunjung, hal ini akan menarik daerah-daerah lain untuk melakukan hal yang sama.
Wal iyadzubillah... Nas alullaha assalamah wal afiah.

Sumber: https://aslibumiayu.net/8745-kenapa-sesajen-dan-tumbal-itu-dikatakan-sebagai-kesyirikan-itukan-sedekah-kata-sebagian-orang.html

Kamis, 14 Maret 2019

SIFAT SHOLAT NABI

Sifat Shalat Sunnah Nabi – Silsilah Dauroh Fiqih Shalat

Tautan: https://rodja.id/2by
Sifat Shalat Sunnah Nabi ini merupakan bagian dari pembahasan silsilah dauroh fiqih shalat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Ahad, 29 Jumadal Awwal 1440 H / 05 februari 2019 M di Masjid Al-Barkah, Kompleks Rodja, Cileungsi.

KAJIAN ILMIAH TENTANG SIFAT SHALAT SUNNAH NABI – DAUROH SIFAT SHALAT NABI

Apa keutamaan shalat sunnah?
1. Ibadah Yang Paling Utama
Shalat sunnah adalah ibadah sunnah yang paling utama. Mana yang lebih utama antara shalat sunnah dengan puasa sunnah? Maka jawabannya adalah shalat sunnah lebih utama daripada puasa sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
ุงุณْุชَู‚ِูŠู…ُูˆุง ูˆَู„َู†ْ ุชُุญْุตُูˆุง ูˆَุงุนْู„َู…ُูˆุง ุฃَู†َّ ุฎَูŠْุฑَ ุฃَุนْู…َุงู„ِูƒُู…ُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูˆَู„ุงَ ูŠُุญَุงูِุธُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْูˆُุถُูˆุกِ ุฅِู„ุงَّ ู…ُุคْู…ِู†ٌ
“Istiqamahlah kalian, dan kalian tidak akan mampu untuk istiqomah dengan sempurna. Ketahuilah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat. Tidak ada yang menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah)
Disini Nabi mengatakan amalan yang terbaik adalah shalat. Berarti shalat sunnah adalah amalan terbaik kalau dibandingkan dengan ibadah-ibadah lain yang sunnah.
2. Menambah Derajat di Surga
Keutamaan selanjutnya, bahwa shalat sunnah itu menambah derajat di dalam surga. Sebagaimana dalam hadits Rabiah bin Malik Al-Aslami ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Rabiah:
ุณَู„ْ ، ูَู‚ُู„ْุชُ : ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ู…ُุฑَุงูَู‚َุชَูƒَ ูِูŠ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ، ู‚َุงู„َ : ุฃَูˆْ ุบَูŠْุฑَ ุฐَู„ِูƒَ ، ู‚ُู„ْุชُ : ู‡ُูˆَ ุฐَุงูƒَ ، ู‚َุงู„َ : ูَุฃَุนِู†ِّูŠ ุนَู„َู‰ ู†َูْุณِูƒَ ุจِูƒَุซْุฑَุฉِ ุงู„ุณُّุฌُูˆุฏِ
“Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta hai Rasulullah agar bisa menjadi temanmu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Adakah selain itu?’. ‘Itu saja ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Kalau begitu, bantulah aku atas dirimu untuk memperbanyak sujud (shalat)” (HR. Muslim)

Lihatlah, Sahabat ini minta kepada Rasulullah supaya bisa menemani Rasulullah. Tapi Rasulullah juga minta kepada Sahabat ini amalan apa yang bisa menyebabkan ia bisa menjadi teman Rasulullah di surga. Kata Rasulullah, “Perbanyaklah shalat.”
Dalam hadits Tsauban, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang amalan apa yang bisa memasukkan ke surga? Maka Rasulullah bersabda:
ุนู„ูŠูƒَ ุจِูƒَุซْุฑุฉِ ุงู„ุณُّุฌُูˆุฏِ، ูุฅِู†َّูƒ ู„َู†ْ ุชَุณْุฌُุฏ ู„ู„َّู‡ِ ุณุฌْุฏุฉً ุฅู„ุงَّ ุฑูَุนูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡َุง ุฏَุฑุฌَุฉً، ูˆุญุทَّ ุนู†ْูƒَ ุจِู‡َุง ุฎَุทِูŠุฆَุฉً
“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu” (HR. Muslim)
3. Menambal Kekurangan Shalat Fardhu
Apa yang dimaksud dengan menambal kekurangan di sini? Yang dimaksud di sini adalah kekurangan ketika kita melakukan shalat fardhu. Misalnya shalatnya khusyu’ atau misalnya didalam shalatnya terjadi kekurangan. Bukan yang dimaksud di sini artinya terkadang kita shalat terkadang kita tidak. Karena shalat fardhu yang ditinggalkan secara sengaja tidak bisa ditambal oleh shalat sunnah. Karena itu dosa besar sekali. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas, murtad dari agama Islam. Itu pendapat Imam Ahmad bin Hambal.
Jadi yang dimaksud dengan menutupi kekurangan shalat fardu di sini bukan artinya seseorang meninggalkan shalat fardhu secara sengaja. Tapi maksudnya ketika kita shalat fardu terkadang ada kekurangan-kekurangan. Dalam kekhusyuannya, dalam keikhlasan, atau ternyata setelah kita shalat merasa bangga dengan kelebihan shalat kita akhirnya Allah batalkan amalnya.
Nah, dengan shalat-shalat sunnah itulah kekurangan tersebut akan ditutup. Berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yasir ia berkata bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ุฅِู†َّ ุงู„ุฑَّุฌُู„َ ู„َูŠَู†ْุตَุฑِูُ ูˆَู…َุง ูƒُุชِุจَ ู„َู‡ُ ุฅِู„َّุง ุนُุดْุฑُ ุตَู„َุงุชِู‡ِ ุชُุณْุนُู‡َุง ุซُู…ْู†ُู‡َุง ุณُุจْุนُู‡َุง ุณُุฏْุณُู‡َุง ุฎُู…ْุณُู‡َุง ุฑُุจْุนُู‡َุง ุซُู„ُุซُู‡َุง ู†ِุตْูُู‡َุง

“Sesungguhnya ada seseorang yang benar-benar mengerjakan shalat, namun pahala shalat yang tercatat baginya hanyalah sepersepuluh (dari) shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepetujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperduanya saja.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Kekurangan ini akan ditambal oleh shalat sunnah. Rasulullah bersabda:
ุฃَูˆَّู„َ ู…َุง ูŠُุญَุงุณَุจُ ุงู„ู†َّุงุณُ ุจِู‡ِ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ู…ِู†ْ ุฃَุนْู…َุงู„ِู‡ِู…ْ ุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ู‚َุงู„َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฑَุจُّู†َุง ุฌَู„َّ ูˆَุนَุฒَّ ู„ِู…َู„َุงุฆِูƒَุชِู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَุนْู„َู…ُ ุงู†ْุธُุฑُูˆุง ูِูŠ ุตَู„َุงุฉِ ุนَุจْุฏِูŠ ุฃَุชَู…َّู‡َุง ุฃَู…ْ ู†َู‚َุตَู‡َุง ูَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ุชَุงู…َّุฉً ูƒُุชِุจَุชْ ู„َู‡ُ ุชَุงู…َّุฉً ูˆَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ุงู†ْุชَู‚َุตَ ู…ِู†ْู‡َุง ุดَูŠْุฆًุง ู‚َุงู„َ ุงู†ْุธُุฑُูˆุง ู‡َู„ْ ู„ِุนَุจْุฏِูŠ ู…ِู†ْ ุชَุทَูˆُّุนٍ ูَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุชَุทَูˆُّุนٌ ู‚َุงู„َ ุฃَุชِู…ُّูˆุง ู„ِุนَุจْุฏِูŠ ูَุฑِูŠุถَุชَู‡ُ ู…ِู†ْ ุชَุทَูˆُّุนِู‡ِ ุซُู…َّ ุชُุคْุฎَุฐُ ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ُ ุนَู„َู‰ ุฐَุงูƒُู…ْ
“Sesungguhnya yang pertama kali akan di hisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya, Allah Jalla wa ‘Azza berfirman kepada Malaikat -Dan Dia lebih mengetahui (amalan seseorang) -; “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang? Sekiranya sempurna, maka catatlah baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan, Allah berfirman; “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman; “Cukupkanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia di hisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Dawud)
Maksudnya adalah kalau shalat kita benar, amalan lain juga akan benar. Tapi kalau shalat kita salah, itu akan berpengaruh kepada amalan yang lainnya. Mukanya Al-Hasan Al-Bashri berkata bahwa ada dua amal yang bisa menjaga amalan lain. Yang apabila kita jaga dua amal tersebut, Allah akan jaga amalan kita yang lainnya. Yaitu shalat dan menjaga lisan.

KAIDAH-KAIDAH UMUM YANG BERHUBUNGAN DENGAN SHALAT SUNNAH

Pertama, shalat sunnah ada dua macam; shalat sunnah muqayyadah. Yaitu shalat sunnah yang terikat dengan waktu dan tempat. Contohnya shalat tahajud, shalat dhuha. Ada juga yang terikat dengan tempat seperti shalat tahiyatul masjid. Jenis yang kedua adalah shalat sunnah mutlaqah. Yaitu shalat yang tidak terikat oleh waktu, tidak pula tempat, tidak pernah sebab. Dimana jumlah bilangannya pun juga tak terbatas. Terserah sebanyak-banyaknya tidak masalah.

Dalil shalat sunnah mutlak ini yaitu hadits Abu Dzar. Abu Dzar pernah shalat sebanyak-banyaknya. Ketika ia telah selesai salam, Al-Ahnaf bin Qais bertanya, “Kamu tahu tidak berapa raka’at kamu selesai tadi?” Abu Dzar menjawab:
ุฅِู†ْ ุฃَูƒُ ู„ََ ุฃَุฏْุฑِูŠ ูَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ูŠَุฏْุฑِูŠ
“Jika aku tidak tahu, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengetahuinya.”
Sesungguhnya aku mendengar kekasihku Ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ู…َุง ู…ِู†ْ ุนَุจْุฏٍ ูŠَุณْุฌُุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุณَุฌْุฏَุฉً ุฅِู„َّุง ุฑَูَุนَู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡َุง ุฏَุฑَุฌَุฉً ، ูˆَุญَุทَّ ุนَู†ْู‡ُ ุจِู‡َุง ุฎَุทِูŠุฆَุฉً
“Tidaklah seorang hamba sujud kepada Allah dengan sebuah sujud melainkan Allah akan mengangkat baginya dengan sujud itu satu derajat dan menggugurkan baginya satu dosa.” (HR. Ahmad)
Di sini Abu Dzar memahami boleh kita memperbanyak shalat sebanyak-banyaknya yang disebut dengan shalat sunnah mutlak.
Simak pembahasannya pada menit ke-13:31

DOWNLOAD MP3 TENTANG TATA CARA SHALAT SAFAR – DAUROH SIFAT SHALAT NABI

Jangan lupa untuk turut membagikan link download kajian ini ke akun media sosial yang Anda miliki, baik Facebook, Twitter, Google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahufiikum
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM 
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Rabu, 13 Maret 2019

Harta Tidak Akan Berkurang Dengan Sedekah

°°HAFALKANLAH°°



๐Ÿ•‹ Dari Abu Kabsyah Al Anmaari rodliyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, aku akan sampaikan, maka hafalkanlah !

⚉  Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.
⚉  Tidaklah seorang hamba di zalimi, lalu ia bersabar kecuali Allah akan tambahkan kemuliaan untuknya.
⚉  Tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta, kecuali Allah akan membukakan untuknya pintu kefaqiran.

Aku akan menyampaikan sebuah hadits, hafalkanlah ! Dunia itu untuk empat orang :

⚉  Seorang hamba yang diberikan oleh Allah rizki berupa harta dan ilmu, dengannya ia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturahim dan melaksanakan hak Allah. Ini adalah kedudukan yang paling utama.

⚉  dan hamba diberikan oleh Allah ilmu dan tidak diberikan harta, namun niatnya benar, ia berkata: jika aku mempunyai harta, aku akan berinfaq seperti si fulan, maka dengan niatnya ia mendapat pahala yang sama dengannya.

⚉  dan hamba yang diberikan harta dan tidak diberikan ilmu, ia habiskan hartanya dengan tanpa ilmu, tidak bertaqwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak melaksanakan hak Allah, maka ini kedudukan yang paling buruk.

⚉  dan hamba yang tidak diberikan harta tidak juga ilmu, dan ia berkata: jika aku mempunyai harta aku akan beramal (buruk) seperti si fulan, maka dengan niatnya tersebut ia mendapat dosa yang sama dengannya.”

[๐Ÿ“–HR Ahmad dan at Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih, dan dishahihkan oleh Syaikh al Bani dalam shahih targhib no 16]

Selasa, 12 Maret 2019

WAFATNYA IMAM SYAFIร

(IMAM ASY-SYAFI’I Rahimahullah)
Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah sangat dikenal dengan kefaqihannya, dan kepeloporannya dalam bidang ushul fikih dan ushul al-hadits, sastra Arab, wara’ dan zuhudnya. Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata :
“Imam Syafi’i adalah orang yang paling fasih. Adalah Imam Malik takjub terhadap bacaannya karena kefasihannya”.
Ibnu Hisyam Rahimahullah penulis kitab siirah berkata: “Imam Asy-Syafi’i adalah salah satu diantara orang-orang yang diambil bahasanya.”
Suatu hari Rabi’ Rahimahullah berkata : “Pernah kami duduk di halaqah Imam Asy-Syafi’i setelah kematiannya beberapa saat, kemudian berdiri di hadapan kami seorang Arab Baduwi dan mengucapkan salam. Lantas ia berkata: “Di manakah rembulan dan matahari halaqah ini?” Maka kami katakan: “Beliau telah wafat!” Kemudian orang itu pun menangis dengan sangat, dan ia berkata: “Semoga Allah merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya. Sungguh ia telah membuka dengan penjelasannya hujjah-hujjah yang telah tertutup, telah membendung di wajah musuh-musuhnya dengan penjelasan yang terang, ia telah membasuh wajah-wajah yang hitam dari segala cacat, melapangkan dengan pendapatnya pintu-pintu yang terkunci.” Kemudian ia beranjak pergi.
Imam Asy-Syafi’i tinggal di Mesir selama 5 tahun 9 bulan, sejak 28 Syawwal 198 H hingga 29 Rajab 204 H. Beliau mengajari manusia dan menulis kitab, kemudian beliau mengalami pendarahan hebat karena wasir (Hemoroid) hingga tidak bisa keluar mengajar. Akhirnya muridnya yang bernama Imam Al-Muzani menjenguknya.
Al Muzani berkata: “Aku masuk menemui Imam Asy-Syafi’i di kamarnya yang ia wafat di dalamnya, kemudian aku berkata: bagaimana keadaan Anda pagi ini? Maka beliau berkata:
ุฃุตุจุญุชُ ู…ู† ุงู„ุฏู†ูŠุง ุฑุงุญู„ุงً ูˆู„ู„ุฅุฎูˆุงู† ู…ูุงุฑู‚ุงً ูˆ ู„ูƒุฃุณ ุงู„ู…ู†ูŠَّุฉ ุดุงุฑุจุงً ูˆุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุฌู„َّ ุฐูƒุฑู‡ ูˆุงุฑุฏุงً ูˆู„ุง ูˆุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุฃุฏุฑูŠ ุฑูˆุญูŠ ุชุตูŠุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู†ุฉ ูุฃู‡ู†ِّุฆู‡ุง ุฃูˆ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ูุฃุนุฒِّูŠู‡!
Aku akan pergi meninggalkan dunia ini
dan berpisah meninggalkan saudara-saudaraku
aku akan merasakan air kematian
dan kepada Allah aku akan datang
Demi Allah, aku tidak tahu kemanakah ruhku akan menuju
Kepada surgakah hingga kuucapkan selamat atasnya
ataukah kepada neraka hingga ku berbela sungkawa kepadanya!
Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke langit lalu menangis dan bersyair:
ูˆู„ู…ุง ู‚ุณู‰ ู‚ู„ุจูŠ ูˆ ุถุงู‚ุช ู…ุฐุงู‡ู€ุจู€ู€ูŠ ุฌุนู„ุชُ ุงู„ุฑَّุฌู€ู€ุง ู…ู†ูŠ ู„ุนููˆูƒ ุณู„َّู€ู…ู€ุง
ุชุนุงุธู€ู†ูŠ ุฐู†ู€ุจู€ูŠ ูู€ู„ู…ู€ุง ู‚ู€ุฑู†ู€ุชู€ู‡ ุจุนููˆูƒ ุฑุจูŠ ูƒู€ู€ุงู† ุนููˆูƒ ุฃุนุธู…ู€ู€ุง
ูˆู…ุง ุฒู„ุชَ ุฐุง ุนููˆٍ ุนู† ุงู„ุฐู†ุจ ู„ู… ุชู€ู€ุฒู„ ุชุฌูˆุฏ ูˆุชุนู€ูู€ูˆ ู…ِู€ู†َّู€ุฉً ูˆุชูƒุฑُّู…ู€ู€ู€ุง
Ketika hatiku keras dan sempit usahaku
Aku jadikan harapanku pada ampunan-Mu sebagai tangga
Dosaku terasa besar
Namun ketika kubandingkan dengan ampunan-Mu wahai Tuhanku
Maka ampunan-Mu lebih besar
Engkau senantiasa mengampuni
Engkau selalu memberi dan memaafkan
Sebagai karunia dan kemurahan.
Setelah itu Imam Asy-Syafi’i yang lahir bulan Rajab 150 H itu melihat kepada orang-orang di sekitarnya dari keluarganya lalu berwasiat: “Jika aku meninggal maka pergilah ke bapak Wali (Gubernur) dan mintalah kepadanya agar ia memandikanku.”
Pada malam Jum’at terakhir dari bulan Rajab 204 H, setelah Isya’ berpulanglah beliau ke hadirat Allah ๏ทป. Beliau dimakamkan di Kairo di awal Sya’ban pada hari Jum’at tahun 204 H/ 820 M dalam usia 54 tahun.
Semoga Allah merahmati Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah dan mengaruniakan kepadanya Surga Firdaus. Amin!

https://qiblati.com/wafatnya-sang-imam/