Tampilkan postingan dengan label Hindia Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hindia Belanda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Maret 2019

Sekolah Jawa Di Zaman Belanda

Hollandsch Javaansche School

Hollandsche Javansche School atau Sekolah Jawa sebangsa dengan Tweede Inlandsche School yang ada di Pulau Jawa (Tengah dan Timur, termasuk DIY) dan dengan pengantar Bahasa Jawa.

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasitransmigrasi [2]pendidikan.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.

Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren, dlsb.

Hollandsch-Inlandsche School

Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (sekolah Belanda untuk bumiputera) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.

Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.

Hollandsche Chineesche School

HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.

Kweekschool

Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

Sekolah Guru Bantu Di Zaman Belanda

Hollandsche Indische Kweekschool

Pada tahun 1848 dikeluarkan peraturan pendidikan dasar untuk Bumiputra, di mana akan didirikan Sekolah Dasar di seluruh pelosok Hindia Belanda. Untuk memenuhi keperluan guru, maka didirikan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) atau Sekolah Guru Bantu (SGB).

Sejarah Kweekschool di Hindia Belanda

Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun (1864) dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah serupa diselenggarakan oleh zending di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu. Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertamama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang. Setelah pendirian Sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukitinngi (Fort de Kock) pada 1856, Tanah Baru, tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874, Tondano pada 1873, Ambon pada 1874, Probolinggo pada 1875, Banjarmasin pada 1875, Makassar pada 1876, dan Padang Sidempuan pada 1879. jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895). Penutupan sekolah ini akibat dari malaise. Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 1885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar. Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik didirikan kursus-kursus di Batavia, Semarang, dan Surabaya (1890).

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasitransmigrasi [2]pendidikan.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollandsch Chineesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah: Pondok Pesantren tersebar di seluruh Indonesia, Muallimin di Yogyakarta, dlsb

Jenis jenjang pendidikan guru

Kweekschool adalah salah satu sistem pendidikan pada zaman Hindia Belanda, terdiri atas HIK (Holandsche Indische Kweekschool), atau sekolah guru bantu yang ada di semua Kabupaten dan HKS (Hoogere Kweek School), atau sekolah guru atasyang ada di JakartaMedanBandung, dan Semarang, salah satu lulusan HKS Bandung adalah Ibu Sud [1]Europeesche Kweek School (EKS, sebangsa sekolah guru atas dengan bahasa pengantar Belanda, yang berbeda dengan HIK) yang hanya diperuntukan bagi orang Belanda atau pribumi ataupun orang Arab/Tionghoa yang mahir sekali berbahasa Belanda, dan hanya ada di Surabaya. Pada waktu itu misalnya satu kelas ada 28 orang, maka terdiri 20 orang Belanda, 6 orang Arab/Tionghoa, dan 2 orang pribumi. Selain itu juga dikenal Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK) khusus untuk yang keturunan Tionghoa, salah satu lulusan HCK adalah P.K. Oyong [2]. Di Muntilan ada Katholieke Kweek School [3] atau sebangsa seminari khusus untuk guru beragama Katholiek yang didirikan pada tahun 1911 dengan nama Kolese Xaverius Muntilan, lulusannya (yang pandai main musik) adalah antara lain Cornel Simanjuntak (meninggal pada waktu revolusi sekitar 1946 akibat penyakit kronis TBC), R.A.J. Sudjasmin (di mana pada tahun 1946-1948 Gedung Kolese ini dipakai sebagai pendidikan Kepolisian RI sehingga dia berminat masuk jajaran Kepolisian RI), Binsar Sitompul, Liberty Manik, Suwandi, dlsb. Setelah K.H.A. Dahlan mengujungi Muntilan, maka dia juga terinspirasi mendirikan bagi orang Islam, yaitu Muallimin di Yogyakarta pada tahun 1918 [4].

Lihat pula

Referensi

  1. ^ http://www.tokohnasional.com/ensiklopedi/i/ibu-soed/index.php
  2. ^ http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/p/pk-ojong/index.shtml
  3. ^ http://web.archive.org/web/20021107180352/http://www.geocities.com/bayu_asmara/sejarah.htm
  4. ^ http://muallimin.org/
Albertus Christiaan Kruyt
Albertus Christiaan Kruyt atau A. C. Kruyt (lahir 10 Oktober 1869 – meninggal 19 Januari 1949 pada umur 79 tahun), adalah seorang misionaris, etnografer, dan teolog Calvinis Belanda. Ia adalah orang pertama yang merintis pekabaran Injil di Sulawesi Tengah, terutama di Poso.Dilahirkan di Mojowarno, Jawa Timur pada tahun 1869, ia dibesarkan di tengah keluarga penginjil. Pada tahun 1977, Kruyt dikirim ke Belanda untuk mendalami ilmu misionaris. Ia kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1890, dan ditempatkan di Gorontalo. Lembaga Misionaris Belanda (Nederlandsch Zendeling Genootschap) mengirim dan menugaskannya untuk membuka pos pekabaran Injil yang baru di Poso, yang terletak di pantai selatan Teluk Tomini. Kruyt memulai pekerjaannya pada tahun 1892. Meski tahun-tahun pertama pekerjaannya dinilai gagal, pembaptisan pertama terjadi pada tahun 1909 dan terus bertambah pada tahun-tahun setelahnya. Wilayah pekabaran Injil yang dirintisnya hingga tahun 1920-an, terus meluas menembus dataran tinggi dan pegunungan hingga ke Teluk Bone di selatan. Kruyt meninggalkan Hindia Belanda untuk selamanya dan kembali ke Belanda pada tahun 1932. Pada bulan Januari 1949, ia meninggal dunia di Den Haag.
Kruyt dikenal dengan metode pendekatan etnososiologi-nya. Dalam tugasnya sebagai seorang misionaris, ia memilih untuk berbaur dan mempelajari keadaan dan peradaban masyarakat terlebih dahulu. Ia mengembangkan konsep etno-misiologi serta memperkenalkan istilah zielestof pada teorinya tentang animisme dan dinamisme.
Kruyt dianggap sebagai salah satu teoretikus, misionaris dan etnografer terkemuka pada periode awal abad ke-20. Misi yang dirintisnya di Poso dan Sulawesi Tengah diakui sebagai salah satu kesuksesan terbesar pekabaran Injil di Hindia Belanda. Karya-karyanya tentang etnografi dan pekabaran Injil —khususnya di Sulawesi Tengah— dianggap sebagai sumber informasi yang "luar biasa". Buku yang ditulisnya bersama dengan Nicolaas Adriani, bertajuk De Bare'e-sprekende Toradja's van Midden-Celebes dianggap sebagai salah satu publikasi terbaik pada bidang etnologi, dan dijadikan sumber utama dalam penelitian oleh para ilmuwan dan peneliti.
Europeesche Kweekschool
Europeesche Kweekschool adalah Sekolah Guru Atas pada zaman Hindia Belanda, satu-satunya ada di Surabaya, dengan bahasa pengantar Belanda dan berhak mengajar di sekolah Belanda.
Hollandsch-Inlandsche School
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (sekolah Belanda untuk bumiputera) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.
Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
Ignatius Harsono
Mgr. Ignatius Harsono (lahir di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, 15 Desember 1922 – meninggal 1 Maret 2000 pada umur 77 tahun) adalah Uskup Gereja Katolik Roma untuk Keuskupan Bogor periode 30 Januari 1975 hingga 17 Juli 1993.
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
Saadoe'ddin Djambek
Saadoe'ddin Djambek gelar Datuak Sampono Radjo (lahir di Bukittinggi, Hindia Belanda, 24 Maret 1911 – meninggal di Jakarta, 22 November 1977 pada umur 66 tahun) adalah seorang ulama, pengajar, dan tokoh ilmu falak (astronomi) Indonesia. Ia dikenal sebagai ahli di bidang hisab dan rukyat. Saadoe'ddin banyak menghasilkan buku-buku buah pemikirannya yang sering dipakai sebagai rujukan bagi lembaga dan umat Muslim Indonesia.
Zainal Abidin Pagaralam
H. Zainal Abidin Pagaralam (lahir di Tanjung Karang, Lampung, 29 Februari 1916 – meninggal di Tanjung Karang, Lampung, 6 September 1989 pada umur 73 tahun) merupakan salah satu tokoh Provinsi Lampung yang telah menorehkan catatan perjalanan hidup dari masa kolonial hingga awal Orde Baru. Ia juga menjadi salah satu peletak dasar - dasar pemerintahan dan pembangunan bagi Provinsi Lampung, dan ia juga adalah salah seorang yang menggagas berdirinya Provinsi Lampung pada tahun 1964. Dan akhirnya ia diangkat menjadi Gubernur Lampung periode 1966-1973 menggantikan Kusno Danupoyo sebelum digantikan oleh R. Sutiyoso.
Sebelum menjabat sebagai gubernur Lampung, Zainal Abidin Pagaralam pernah memegang berbagai jabatan di pemerintahan antara lain sebagai Bupati Lampung Utara (1950), Bupati Lampung Selatan (1954), Bupati Belitung (1955--1957), Wali kota Tanjung Karang / Teluk Betung (sekarang Bandar Lampung) dan juga sebagai Residen Keresidenan daerah Lampung (Residentie der Lapongohe Districten) yang pada waktu itu masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.
Ia juga adalah salah seorang yang memprakarsai berdirinya Universitas Lampung, kemudian juga pada masa pemerintahannya pula lah dibangun Bandar Udara Radin Inten II dan ia juga merupakan orang yang menggagas terbangunnya pelabuhan Bakauheni.
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

Sekolah Guru Agama Di Zaman Belanda

Katholieke Kweekschool


Katholieke Kweekschool adalah Sekolah Guru yang didirikan oleh Gereja Katholiek, dengan maksud untuk memenuhi guru agama Katholiek. Pada tahun 1911 sebagai jawaban terhadap Politik Etis Hindia Belanda (1901), maka didirikan sekolah calon imam di Muntilan untuk memenuhi kebutuhan bagi kegiatan agama Katolik di Indonesia.

1. Zaman Belanda (1911-1941)

a. Kursus pendidikan calon imam di Kolese Xaverius Muntilan (1911-1926)
(1) Seminari Menengah Mertoyudan telah menempuh perjalanan sejarah cukup panjang. Awal berdirinya tidak dapat dilepaskan dari dua pemuda pribumi lulusan Kweekschool di Muntilan yang berkeinginan menjadi imam. Nama pemuda itu adalah Petrus Darmaseputra dan Fransiskus Xaverius Satiman. Pada bulan November 1911 mereka menghadap Romo F. van Lith SJ dan Romo Y. Mertens SJ, dan mohon agar diperkenankan belajar untuk menyiapkan diri menjadi imam. Niat kedua pemuda itu dan kebutuhan imam di Indonesia mendorong munculnya gagasan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi para calon imam. Untuk itu, proses perizinan dari Roma segera diurus. Pada tanggal 30 Mei 1912, keluarlah izin resmi dari Roma untuk memulai lembaga pendidikan calon imam di Indonesia. Kemudian, kursus pendidikan calon imam diselenggarakan di Kolese Xaverius Muntilan.
(2) Antara tahun 1916-1920, sudah ada sepuluh siswa Muntilan yang dikirim ke sekolah Latin yang diselenggarakan oleh para pater Ordo Salib Suci di Uden, Eropa. Karena dua siswa meninggal di sana dan seorang lagi terganggu kesehatannya, diambil kebijaksanaan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut di Indonesia. Kursus di Muntilan disempurnakan.
(3) Pada tanggal 7 September 1922, dua seminaris menjadi novis pertama pada novisiat Serikat Yesus yang baru dibuka di Yogyakarta dengan Rektor dan sekaligus pimpinan novisiatnya yaitu Romo Strater SJ.
b. Seminari Kecil Santo Petrus Canisius Yogyakarta (1925-1941)
(1) Pada bulan Mei 1925, dimulailah Seminari Kecil (Klein Seminarie). Gedungnya dibangun di sebelah barat Kolese Santo Ignasius, Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1927, dan diberkati oleh Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen SJ. Kursus diadakan bagi mereka yang baru tamat dari Sekolah Dasar Hollands Inlandse School (HIS) dan Europese Lagere School (ELS).
(2) Sementara itu, kursus di Muntilan bagi mereka yang telah memperoleh ijazah guru tetap berlangsung, dan baru pada tahun 1927 digabungkan dengan Seminari Kecil di Yogyakarta.
(3) Pada tahun 1941, karena jumlah siswa Seminari Kecil di Yogyakarta meningkat sampai lebih dari seratus siswa, Seminari dipindahkan ke Mertoyudan. Pelajaran pertama dimulai pada tanggal 13 Januari 1941.
(4) Dua peristiwa lain yang kiranya pantas dicatat di sini adalah:
(a) Pada tanggal 15 Agustus 1936, Seminari Tinggi Santo Paulus didirikan di Muntilan oleh Vikaris Apostolik Batavia, Mgr. Petrus Johannes Willekens SJ, dengan lima mahasiswa pertama sebagai calon imam. Enam tahun kemudian, yaitu pada tanggal 28 Juli 1942, empat dari lima mahasiswa itu ditahbiskan menjadi imam praja pertama.
(b) Pada tanggal 1 Agustus 1940, didirikan Vikariat Apostolik Semarang dengan vikaris Apostolik Romo Albertus Soegijapranata SJ, uskup asli Indonesia pertama yang diangkat oleh Paus Pius XII.

2. Zaman Jepang - Seminari "in diaspora" (1942-1945)

a. Pada tanggal 8 Maret 1942 tentara Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Asia Raya berada di bawah kekuasaan Jepang. Semua sekolah yang menggunakan bahasa Belanda ditutup. Gedung Seminari Mertoyudan diduduki Jepang, dan digunakan untuk Sekolah Pertanian Nogako.
b. Pada tanggal 5 April 1942, para seminaris terpaksa pulang ke rumah masing-masing. Namun, pendidikan calon imam tetap dilangsungkan di berbagai pastoran: Boro, Yogyakarta, Ganjuran, Muntilan, Girisonta, Ungaran, Semarang, dan Solo. Di tempat-tempat ini, pelajaran diberikan secara sembunyi-sembunyi. Selama masa sulit ini, Seminari lazim disebut Seminari "in diaspora". Situasi ini berlangsung sampai tahun 1945.

3. Zaman Indonesia Merdeka (1945 - sekarang...)

a. Masa perjuangan (1945 - 1949)
(1) Pada tahun 1945, Jepang mengalami kekalahan dalam melawan Sekutu. Bangsa Indonesia mengambil kesempatan itu untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Pada tahun itu, gedung Seminari Mertoyudan ditempati oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tahun 1946, 49 seminaris yang tersebar di pelbagai tempat dikumpulkan di kompleks Sekolah Guru Ambarawa. Mereka diasuh oleh Romo C. Soetapanitra SJ (imam yang masuk Seminari Kecil tahun 1927). Pada bulan September 1947, Ambarawa menjadi medan palagan (Clash I); karena itu sebagian seminaris dipindahkan ke Ganjuran. Di sana, mereka diasuh oleh Romo J. Darmojuwono Pr. Sebagian yang lain dipindahkan ke Muntilan pada bulan Oktober 1947, dan diasuh oleh Romo Th. van der Putten SJ. Sejak tgl. 21 Juli 1948, para seminaris yang ada di Ganjuran pun dipindahkan ke Muntilan, dan diasuh oleh Romo Th. van der Putten SJ dan Romo R. Sandjaja Pr. Hadirnya karya misi di Muntilan dan kembalinya Seminari ke Muntilan ini menimbulkan perasaan tidak suka pada tentara Hisbullah terhadap pihak Katolik.
(2) Dari tanggal 17 Juni 1946 sampai 18 Desember 1948, pada waktu revolusi fisik atau perang kemerdekaan, gedung Seminari Mertoyudan digunakan untuk tempat pendidikan Kepolisian RI.
(3) Pada tanggal 19 Desember 1948 Yogyakarta diduduki oleh Belanda (Clash II). Setelah orang-orang pemerintahan mengundurkan diri dari Muntilan, pada tanggal 20 Desember 1948, gedung-gedung Bruderan FIC dibumihanguskan agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Seminari Muntilan pun hendak dibakar oleh pasukan Hisbullah, namun berhasil diselamatkan oleh Romo Th. van der Putten SJ yang pada waktu itu menjadi Rektor. Bahkan, dia berhasil memperoleh surat resmi dari Pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa Seminari tidak boleh dibakar. Namun, di tengah usaha keras Romo van der Putten tersebut, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Romo R. Sandjaja Pr. dan Frater Bouwens SJ dibunuh oleh laskar Hisbullah pada tanggal 20 Desember 1948. Dalam situasi kacau ini, warga Seminari dipaksa mengungsi ke desa Dukun selama dua hari.
(4) Sekembali dari pengungsian di Dukun, warga Seminari mendapati gedung mereka di Muntilan dalam keadaan rusak berat. Perabot dan perlengkapan sudah terampas. Oleh karena itu, dalam waktu singkat, pada awal Januari 1949, Romo van der Putten SJ memindahkan Seminari ke Jalan Code Yogyakarta.
b. Masa pembangunan (1949-1952)
Dalam masa perjuangan, gedung Seminari Mertoyudan sempat dibumihanguskan, sedang sisa-sisa bangunan menjadi jarahan banyak orang. Setelah situasi tenang, Seminari dibangun kembali oleh Vikariat Semarang. Akhirnya, pada bulan Agustus 1952, pembangunan selesai dilaksanakan. Bangunan ini sekarang merupakan bagian dari Domus Patrum dan Medan Madya.
c. Masa perkembangan Seminari Mertoyudan (1952 - sekarang)
(1) Setelah pembangunan selesai, selama liburan, para seminaris pindah ke Mertoyudan. Pada tanggal 3 Desember 1952, gedung Seminari Mertoyudan diberkati oleh Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. Gedung tambahan dibangun lima tahun kemudian; dipergunakan seminaris Medan Utama dan Medan Pratama. Sejak itu, semakin banyak, murid tamatan SD diterima di Seminari Mertoyudan.
(2) Berdasarkan pelbagai pertimbangan, mulai tahun 1968, siswa tamatan SD tidak diterima lagi, dan yang diterima hanya para siswa tamatan SLTP dan SLTA.
(3) Pada tahun 1971, siswa Seminari lulusan SLTA bertempat tinggal di Yogyakarta, dan mengikuti kuliah di IKIP Sanata Dharma sampai menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda. Kemudian, pada tahun 1972, siswa tamatan SLTA ditampung di Seminari Mertoyudan. Karena pelbagai alasan, pada tahun 1974, didirikan cabang Seminari di Yogyakarta yang bertempat di Wisma Realino untuk menampung siswa tamatan SLTA. Sementara itu, di Mertoyudan, dilaksanakan penambahan gedung. Pada tahun 1976, gedung itu diresmikan, dan mulai dihuni oleh seminaris Medan Utama. Pada tahun itu juga, Seminari cabang Yogyakarta digabung lagi dengan Seminari Mertoyudan hingga sekarang.
(4) Mulai 27 April 1987, dibangun satu unit perpustakaan (dua lantai) untuk mendukung pembinaan dan pendidikan di Seminari Mertoyudan.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
Hollandsche Indische Kweekschool
Pada tahun 1848 dikeluarkan peraturan pendidikan dasar untuk Bumiputra, di mana akan didirikan Sekolah Dasar di seluruh pelosok Hindia Belanda. Untuk memenuhi keperluan guru, maka didirikan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) atau Sekolah Guru Bantu (SGB).
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta
Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta (Arab: Ł…ŲÆŲ±Ų³Ų© Ų§Ł„Ł…Ų¹Ł„Ł…ŁŠŁ† Ų§Ł„Ł…Ų­Ł…ŲÆŁŠŲ© بيوجياكرتا‎; transliterasi: madrasatul-Mu'allimiinal-Muhammadiyyati bi-Yugyakarta) adalah sekolah kader di bawah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang didirikan langsung oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918 terletak 1 km barat Taman Sari Yogyakarta dan hanya berjarak 2,5 km dari Malioboro menjadikan sekolah ini berada di jantung kota Yogyakarta, tepatnya di sebelah timur simpang perempatan Patangpuluhan. Sekolah ini juga sering disebut secara pendek m3in (baca: Emgain) dan oleh para alumninya, sebelum nama Mu'allimin, namanya masih menggunakan bahasa belanda yaitu Kweekschool Moehammadijah yang artinya "Sekolah Para Guru Muhammadiyah". Lalu namanya ditransliterasi kedalam bahasa Arab menjadi Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah. Mu'allimin merupakan salah satu sekolah yang memiliki sejarah yang cukup panjang khususnya berkaitan dengan pendirian dan perkembangan organisasi Muhammadiyah di Indonesia.
Mu'allimin bukanlah sekolah Muhammadiyah biasa. Ia memiliki predikat sebagai Sekolah Kader Muhammadiyah, di mana banyak alumninya mengabdikan dirinya dalam perjuangan organisasi ini, baik dari tingkat Ranting hingga tingkat Pimpinan Pusat. Dengan tokoh penting antara lain KH Ahmad Dahlan (Pendiri & Direktur Pertama), Mas Mansoer (Mantan Direktur Kehormatan). Dan alumnus seperti Abdul Rozak Fachruddin, Djarnawi Hadikusumo, As'ad Humam, Ahmad Syafii Maarif, serta Nasrullah (politisi)
Sekolah di Indonesia
Masa kolonial Belanda
Masa kolonial Jepang
Masa kemerdekaan
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

Sekolah Khusus Etnis Cina Di Zaman Belanda

Hollandsche Chineesche School

HCS (singkatan dari bahasa BelandaHollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.

Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
COLLECTIE TROPENMUSEUM Hollandsch-Chineesche School te Madiun Oost-Java TMnr 10002282
HCS Madiun, Jawa Timur
COLLECTIE TROPENMUSEUM Zesde klas van de Hollandsch-Chineesche School te Madiun Oost-Java TMnr 10002283
Siswa kelas 6 di HCS Madiun

Sejarah Kweekschool di Hindia Belanda

Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun (1864) dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah serupa diselenggarakan oleh zending di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu. Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertamama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang. Setelah pendirian Sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukitinngi (Fort de Kock) pada 1856, Tanah Baru, tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874, Tondano pada 1873, Ambon pada 1874, Probolinggo pada 1875, Banjarmasin pada 1875, Makassar pada 1876, dan Padang Sidempuan pada 1879. jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895). Penutupan sekolah ini akibat dari malaise. Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 18885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar. Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik didirikan kursus-kursus di Batavia, Semarang, dan Surabaya (1890).

Peraturan Pendidikan 1848, 1892 dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasitransmigrasi [2]pendidikan.

Lihat pula

Rujukan

  • Leo Suryadinata, "Chinese Minority in Indonesia" (1977)
Algemeene Middelbare School
Algemeene Middelbare School dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Algemene Middelbare School disingkat AMS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda dengan masa studi tiga tahun yang menerima lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs - pendidikan dasar yang diperluas - sekolah setingkat SMP waktu itu).
Hogereburgerschool
Hoogere Burgerschool dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Hogere Burgerschool disingkat HBS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam lima tahun atau setara dengan MULO + AMS (SMP + SMA).
Liem Tjae Ho
Drs.Liem Tjae Ho (atau Wim Kalona), adalah seorang Apoteker dan Pengusaha Indonesia. Ia adalah Pendiri dari Perusahaan Farmasi, PT Darya-Varia. dia juga merupakan salah seorang pendiri Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia
Sekolah di Indonesia
Masa kolonial Belanda
Masa kolonial Jepang
Masa kemerdekaan
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

SMU Zaman Belanda bag 2

Algemeene Middelbare School

Algemeene Middelbare School dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Algemene Middelbare School disingkat AMS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda dengan masa studi tiga tahun yang menerima lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs - pendidikan dasar yang diperluas - sekolah setingkat SMP waktu itu).

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting yaitu irigrasitransmigrasi, dan pendidikan.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 tahun dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Frobels), sehingga langsung masuk HIS dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, AMS, atau Kweekschool.
Jalur pendidikan bagi orang Belanda dan Eropa di Hindia Belanda adalah:
Jalur sekolah bagi anak Belanda juga dapat dimasuki oleh anak Bumiputera dan Tionghoa yang terpilih, sedangkan bagi orang pribumi kebanyakan (bukan ningrat) jalur pendidikannya adalah HIS - MULO - AMS.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollandsche Chineesche School atau "sekolah Belanda untuk orang Tionghoa") karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren, dan lainnya.

Jalur Pendidikan AMS

Sampai awal abad ke-20, jalur pendidikan menengah di Hindia Belanda sangat terbatas. Untuk dapat meneruskan ke universitas, siswa harus melanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) - suatu sekolah lanjutan selama 5 tahun yang hanya bisa dimasuki oleh kaum Belanda, Eropa, serta pribumi terpilih. Jumlah HBS pun tidak banyak, hanya ada empat HBS di Hindia Belanda pada tahun 1915, yaitu Koning Willem III School te Batavia (didirikan pada tahun 1860), HBS Surabaya (1875), HBS Semarang (1877), serta HBS Bandung (1915).[1]
Untuk memberikan akses yang lebih baik kepada kaum pribumi, akhirnya dibuatlah sebuah jalur pendidikan menengah yang baru di Hindia Belanda. Pada tahun 1916 Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerima usul dari sebuah komisi tentang pendidikan Algemeene Middelbareschool (AMS). Pada jalur pendidikan menengah ini ditempuh selama enam tahun dalam dua bagian. Bagian bawahnya disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs MULO afdeeling der AMS – pendidikan menengah umum bagian pendidikan dasar yang diperluas, kemudian bagian kedua/atas disebut Voorbereidend Hooger Onderwijs afdeeling der Algemeene Middelbare School (VHO AMS) – pendidikan menengah umum bagian persiapan pendidikan tinggi.[1] Tamatan afdeeling VHO ini dapat diterima berdasarkan peraturan di perguruan tinggi di Negeri Belanda.[2]:2
Pada hari Sabtu, 5 Juli 1919 dibukalah AMS afdeeling B (jurusan wis -en natuurkunde atau 'matematika dan ilmu pengetahuan alam') yang pertama di Yogyakarta;[1] dan kemudian AMS-I (jurusan westersch-klassieke letteren atau 'sastra klasik Barat') di Bandung pada tahun 1920.[2]:3
AMS setara dengan SMA (Sekolah Menengah Atas) pada saat ini yakni pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. AMS menggunakan pengantar bahasa Belanda dan pada tahun 1930-an, sekolah-sekolah AMS hanya ada di beberapa ibu kota provinsi Hindia Belanda yaitu Medan (Sumatera), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Indonesia Timur). Selain itu AMS ada di Yogyakarta (Kasultanan Yogyakarta), Surakarta (Kasunanan Surakarta) dan beberapa kota Karesidenan seperti di Malang. Selain itu ada beberapa AMS Swasta yang dipersamakan dengan Negeri, di provinsi Borneo (Kalimantan) belum ada AMS.
Banyak orang tua murid menyekolahkan anaknya ke AMS, karena dengan harapan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu misalnya ke THS di Bandung (Technische Hoogeschool te Bandoeng - didirikan tahun 1920 - sekarang Institut Teknologi Bandung - ITB), RHS di Jakarta (Rechtshoogeschool te Batavia - didirikan tahun 1924 - sekarang Fakultas Hukum UI Jakarta), GHS di Jakarta (Geneeskundige Hoogeschool te Batavia - didirikan tahun 1927 - sekarang Fakultas Kedokteran UI Jakarta), Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (fakultas sastra dan filsafat - didirikan tahun 1940 di Jakarta), atau ke Bogor di Faculteit der Landbouwwetenschap (fakultas pertanian - didirikan tahun 1940 - sekarang Institut Pertanian Bogor - IPB). Melalui AMS berarti harus menyelesaikan MULO lebih dahulu yang tersebar di hampir semua provinsi yang hanya berjumlah delapan, sedangkan kalau melalui HBS hanya ada di Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, atau Medan.
Jalur A afdeling atau SMA Bagian-A pada tahun 1951 atau sekarang Sastra-Budaya, di mana akan ditekankan pada ilmu sastra dan budaya, tentu saja jalur ini hanya untuk meneruskan ke RHS dan fakultas sastra dan filsafat saja.
Jalur B afdeling atau SMA Bagian-B pada tahun 1951 atau sekarang Paspal, di mana akan ditekankan pada ilmu alam dan ilmu pasti, jalur ini dapat ke semua jurusan THSRHSGHS, fakultas sastra dan filsafat, ataupun fakultas pertanian.

Perkembangan

Tingkat pendidikan di AMS memiliki standar yang sama dengan sekolah-sekolah di Belanda, sehingga bukan merupakan sesuatu hal yang aneh ketika ada murid yang drop out karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Meskipun demikian, pada tahun 1922 AMS B berhasil mewisuda lulusan pertamanya sebanyak 32 orang.
Ketigapuluh dua lulusan pertama ini terdiri dari 13 orang berkebangsaan Eropa, 14 orang pribumi dan 5 orang etnis Tionghoa. Hanya ada tiga orang wanita di antara 32 orang yang lulus pada tahun tersebut. Dari 32 lulusan itu, 12 diantaranya melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng. Sebagian lagi melanjutkan pendidikan di negeri Belanda.[1]
AMS dianggap berhasil memberikan perbaikan dalam pendidikan menengah di Hindia Belanda, utamanya untuk kaum pribumi. Setelah AMS pertama dibuka di Jogja pada tahun 1919, menyusul kemudian AMS A.II dibuka di Bandung pada tahun 1920, AMS A.I di Surakarta pada tahun 1926 dan AMS B di Malang pada tahun 1927.
Dalam 10 tahun perjalanannya, AMS B telah berhasil meluluskan 292 siswa. Ada 38 orang yang melanjutkan pendidikan di TH Bandung, ditambah 12 orang lagi yang sudah lulus dan menerima gelar Insinyur di bidang teknik sipil. Sedangkan dari para alumni yang melanjutkan pendidikan di Belanda, tujuh diantaranya melanjutkan di Delft. Selain itu, tidak sedikit yang melanjutkan pendidikan kedokteran dan hukum di Weltevreden.[1]
Patut menjadi catatan tersendiri, adalah jumlah murid pribumi yang lulus dari AMS B Yogyakarta. Dalam 10 tahun, AMS B telah meluluskan 168 murid yang berasal dari kaum pribumi. Jumlah ini adalah sekitar 57.5% dari jumlah seluruh lulusan AMS B. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding jumlah seluruh lulusan pribumi keempat HBS di Hindia Belanda. Sepanjang eksistensi HBS yang sudah lebih dari 60 tahun ada di Hindia Belanda, tercatat hanya ada 147 lulusan HBS yang berasal dari kaum pribumi. Bandingkan dengan 168 alumni pribumi AMS B dalam 10 tahun. Hal ini merupakan suatu cerminan kesuksesan AMS B dalam memperbaiki pendidikan menengah di Hindia Belanda, namun di sisi lain juga memperlihatkan betapa akses pendidikan bagi kaum pribumi masih sangat terbatas pada masa itu.[1]

Guru AMS

Pada waktu itu, para guru AMS berpendidikan tinggi dari RHSTHSGHS, ataupun LHS. Sehingga misalnya guru aljabar pada umumnya menyandang gelar Ir., guru sejarah menyandang gelar Mr., atau guru botani menyandang gelar dokter (Arts), dan sebagainya.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d e f "5 Juli, Hari Jadi Algemeene Middelbare School Afdeeling B te Djokja" dalam http://padmanaba.or.id/
  2. ^ a b Goenarso (1995). Riwayat perguruan tinggi teknik di Indonesia, periode 1920-1942. Bandung: Penerbit ITB.
Bachtiar Effendi
Bachtiar Effendi (juga dieja Bachtiar Effendy; setelah 1903 – 1 April 1976) adalah seorang aktor dan sutradara film Indonesia yang juga aktif sebagai komentator budaya. Dia terjun ke dunia film pada tahun 1930 dan membuat beberapa film dengan Tan's Film sebelum bergabung dengan kelompok sandiwara Dardanella. Setelah menghabiskan sepuluh tahun di Malaya Britania, dia kembali ke Indonesia dan menyutradarai beberapa film sebelum di kirim ke Italia sebagai press attachĆ©. Dia tinggal di negara itu untuk sisa hidupnya, karena tidak diterima di Indonesia setelah mendukung Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia.
Geneeskundige Hoogeschool te Batavia
Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran) biasa disingkat menjadi GH te Batavia atau GHS yang dibuka sejak 16 Agustus 1927 di Batavia (sekarang Jakarta), adalah perguruan tinggi kedokteran pertama dan lembaga pendidikan tinggi ketiga di Hindia Belanda setelah dibukanya THS Bandung tahun 1920 dan RHS Batavia tahun 1924.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
Ilyas Ya'kub
H. Ilyas Ya'kub (juga dieja Ilyas Yacoub; lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Hindia Belanda, 14 Juni 1903 – meninggal di Koto Barapak, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 2 Agustus 1958 pada umur 55 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Sumatera Barat. Ia ditetapkan sebagai pahlawan melalui Surat Keputusan Presiden No. 074/TK/1999 bertanggal 13 Agustus 1999.
Kedok Ketawa
Kedok Ketawa (juga dikenal dengan judul Belanda Het Lachende Masker) adalah film bandit tahun 1940 dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Ini adalah film pertama Union Film. Film ini disutradarai Jo An Djan dan dibintangi oleh Oedjang, Fatimah, Basoeki Resobowo, dan Eddy Kock. Film ini menceritakan pasangan muda yang menghadapi sekelompok preman dengan bantuan seorang bandit bertopeng.
Diiklankan sebagai "campuran aksi kekerasan Indonesia ... dan romantika yang manis", film ini banyak dipuji, terutama pada sinematografinya. Setelah kesuksesan film tersebut, Union membuat enam karya lainnya sebelum berhenti pada awal 1942 saat pendudukan Jepang. Film ini, yang diputar sampai setidaknya Agustus 1944, kemungkinan hilang dari peredaran.
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
L. N. Palar
Lambertus Nicodemus Palar (lahir di Rurukan, Tomohon, 5 Juni 1900 – meninggal di Jakarta, 13 Februari 1981 pada umur 80 tahun). juga dikenal sebagai Babe Palar menjabat sebagai wakil Republik Indonesia dalam beberapa posisi diplomat termasuk sebagai Perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia juga menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di India, Jerman Timur, Uni Soviet, Kanada, dan Amerika Serikat. Ayahnya bernama Gerrit Palar - seorang penilik sekolah dan ibunya bernama Jacoba Lumanauw. Dianugrahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 November 2013
Mohammad Natsir
Mohammad Natsir (lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 – meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun) adalah seorang ulama, politisi, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Di dalam negeri, ia pernah menjabat menteri dan perdana menteri Indonesia, sedangkan di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.
Natsir lahir dan dibesarkan di Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan kemudian mempelajari ilmu Islam secara luas di perguruan tinggi. Ia terjun ke dunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai politik berideologi Islam. Pada 5 September 1950, ia diangkat sebagai perdana menteri Indonesia kelima. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena berselisih paham dengan Presiden Soekarno, ia semakin vokal menyuarakan pentingnya peranan Islam di Indonesia hingga membuatnya dipenjarakan oleh Soekarno. Setelah dibebaskan pada tahun 1966, Natsir terus mengkritisi pemerintah yang saat itu telah dipimpin Soeharto hingga membuatnya dicekal.
Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam. Selama hidupnya, ia dianugerahi tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Natsir dikenal sebagai menteri yang "tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah."
Mohammad Yamin
Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903 – meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun) adalah sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang telah dihormati sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia dan pelopor Sumpah Pemuda sekaligus "pencipta imaji keindonesiaan" yang mempengaruhi sejarah persatuan Indonesia.
Pendidikan di Indonesia
Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Secara terstruktur, pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), dahulu bernama Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Depdiknas). Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama. Saat ini, pendidikan di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.
Rechtshoogeschool te Batavia
Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) biasa disingkat menjadi RH te Batavia, RH te Weltevreden, atau RHS yang dibuka sejak 28 Oktober 1924 di Batavia (sekarang Jakarta), adalah perguruan tinggi hukum pertama dan lembaga pendidikan tinggi kedua di Hindia Belanda setelah empat tahun sebelumnya THS Bandung dibuka.
Rusli Amran
Rusli Amran (lahir di Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 14 September 1922) adalah wartawan, diplomat, dan sejarawan Indonesia. Ia juga merupakan pendiri sekaligus pemimpin Harian Berita Indonesia, surat kabar pertama setelah Indonesia merdeka.
Setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai diplomat pada tahun 1972, ia mulai banyak melakukan penelitian dan menulis buku-buku tentang sejarah Sumatera Barat. Sementara istrinya mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta sebagai tempat belajar dan pusat dokumentasi koleksi dan arsip Rusli Amran.
SMA Negeri 1 Malang
SMA Negeri 1 Malang, adalah Sekolah Menengah Atas Negeri, yang terletak di jalan Tugu Utara No. 1, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Sekolah ini terletak di dalam satu kompleks dengan Stasiun Malang yang dikenal dengan sebutan SMA Tugu bersama-sama dengan SMA Negeri 3 Malang dan SMA Negeri 4 Malang. mereka dikenal dengan julukan SMA Tugu, dikarenakan terletak di jalan Tugu yang terkenal di Malang.
SMA Negeri 1 Tanjungbalai
SMA Negeri (SMAN) 1 Tanjungbalai, merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia masa pendidikan sekolah di SMAN 1 Tanjungbalai ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII.
Pada tahun 2013, sekolah ini menggunakan Kurikulum 2013 sebelumnya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
SMA Negeri 1 Yogyakarta
SMA Negeri 1 Yogyakarta merupakan salah satu SMA di Yogyakarta. Oleh masyarakat Yogyakarta, sekolah ini sering disebut juga dengan nama SMA Teladan.
SMA Negeri 3 Yogyakarta
SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah salah satu sekolah menengah atas yang berada di Yogyakarta, oleh banyak kalangan lebih dikenal dengan nama PADMANABA atau SMA 3 B, merupakan sekolah menengah tertua di Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
Pada zaman pendudukan Belanda, sekolah ini merupakan AMS Afdeling B, kemudian pada zaman pendudukan Jepang, sekolah ini bernama Sekolah Menengah Tinggi Bagian B Yogyakarta. Baru pada masa setelah kemerdekaan, sekolah ini bernama Sekolah Menengah Atas Bagian B, dan seiring dengan perubahan kurikulum, pernah menggunakan nomenklatur SMU Negeri 3 Yogyakarta, dan sejak diterapkannya Kurikulum SMA Tahun 2006 hingga sekarang sekolah ini bernama SMA Negeri 3 Yogyakarta, dan berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 06 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 127 Tahun 2015 Tentang Penulisan Nama Organisasi Perangkat Daerah, sebuatan untuk SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah SMAN 3 Yogyakarta.[1]
Sekolah menengah atas
Sekolah Menengah Atas (disingkat SMA; bahasa Inggris: Senior High School atau High School), adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat). Sekolah menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.
Pada saat pendaftaran masuk SMA yang menggunakan sistem online, siswa dapat memilih sekolah yang diinginkan dan memilih jurusan yang diminati. Pada akhir tahun ketiga (yakni kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja.
Pelajar SMA umumnya berusia 16-18 tahun. SMA tidak termasuk program wajib belajar pemerintah - yakni SD (atau sederajat) 6 tahun dan SMP (atau sederajat) 3 tahun - meskipun sejak tahun 2005 telah mulai diberlakukan program wajib belajar 12 tahun yang mengikut sertakan SMA di beberapa daerah, contohnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.SMA diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan SMA negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, SMA negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan provinsi.
Soepeno
Soepeno (lahir di Kota Pekalongan, 12 Juni 1916 – meninggal di Ganter, Ngliman, Sawahan, Nganjuk, 24 Februari 1949 pada umur 32 tahun) adalah Menteri Pembangunan dan Pemuda pada Kabinet Hatta I, dan juga tokoh pemuda pada saat Pergerakan Nasional. Dia meninggal dunia sewaktu masih menjabat dalam jabatan tersebut akibat Agresi Militer Belanda II.
Tan Po Gwan
Mr. Tan Po Gwan adalah Menteri Negara Era Kabinet Sjahrir III
Sekolah di Indonesia
Masa kolonial Belanda
Masa kolonial Jepang
Masa kemerdekaan
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.