Tampilkan postingan dengan label Persalinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persalinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2019

4 Tips Agar Ibu Kuat Puasa Saat Menyusui dan Tak Mengganggu Produksi ASI

Puasa sebenarnya bukan menjadi alasan bagi ibu menyusui untuk tetap memberikan ASI yang cukup kepada bayinya. Dengan perencanaan yang baik, ibu menyusui tetap bisa berpuasa dan memberikan ASI dengan lancar untuk bayi. Untuk itu, simak dulu tips berikut ini agar puasa saat menyusui berjalan lancar.

Tips menjalankan puasa saat menyusui

Puasa sebenarnya tidak membuat Anda kekurangan asupan makanan, hanya saja waktu makan Anda yang berubah. Jika Anda memanfaatkan waktu berbuka dan sahur dengan mengonsumsi makanan yang cukup kalori dan nutrisi, maka Anda tidak akan kekurangan nutrisi dan produksi ASI tidak akan terganggu.
Untuk itu, Anda harus pintar-pintar memilih makanan saat berbuka dan sahur. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan agar tetap bisa puasa saat menyusui:

1. Pastikan konsumsi makanan cukup saat buka dan sahur


Karena Anda hanya bisa makan saat berbuka puasa dan sahur, untuk itu manfaatkan kesempatan ini dengan baik. Pastikan ada makanan sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayuran, dan buah-buahan dalam piring Anda saat berbuka dan sahur.
Pastikan makanan yang Anda makan benar-benar mengandung nutrisi yang Anda perlukan, bukan hanya mengandung kalori dan nol gizi. Anda tentu harus memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin dan mineral yang tubuh perlukan.
Sebuah penelitian melaporkan bahwa beberapa kandungan nutrisi dalam ASI menurun saat ibu berpuasa. Kandungan nutrisi tersebut, yaitu zink, magnesium, dan kalium. Untuk mencegah hal ini, Anda perlu mengonsumsi lebih banyak makanan kaya zink (seperti daging, kerang, dan gandum), kaya magnesium (seperti alpukat, kacang-kacangan, tahu, tempe, ikan, dan sayuran), serta kaya kalium (pisang, alpukat, ubi, kentang, tomat, dan ikan).
Jumlah kalori yang harus Anda penuhi saat puasa adalah minimal 1800 kalori per hari. Hal ini penting untuk menjaga tubuh tetap mendapatkan energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ASI. Jangan sampai saat puasa Anda malah mengalami penurunan berat badan lebih dari 2 kg per bulan.

2. Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi


Selain memperhatikan asupan makanan, asupan cairan juga harus diperhatikan saat ibu menyusui berpuasa. Hal ini penting dilakukan agar Anda terhindar dari dehidrasi saat puasa. Dehidrasi pada ibu menyusui tentu dapat mengganggu produksi ASI.
Untuk itu, Anda perlu minum air putih minimal 8 gelas sehari. Ini bisa dibagi, misalnya 3 gelas saat buka puasa, 2 gelas sebelum tidur, dan 3 gelas saat sahur. Ingat, delapan merupakan angka minimal.
Anda mungkin membutuhkan lebih dari 8 gelas untuk mencukupi kebutuhan cairan Anda. Masing-masing orang bisa berbeda-beda kebutuhan cairannya. Anda sendiri yang mengetahui seberapa besar kebutuhan cairan tubuh Anda.
Jika Anda mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti merasa kehausan, urine berwarna kuning cenderung gelap, jarang buang air kecil, merasa lemah, dan sakit kepala, sebaiknya batalkan puasa Anda dengan minum air putih dan beristirahat.

3. Tetap berikan bayi ASI saat ia ingin


Jika Anda berpikir bahwa terlalu sering memberikan ASI pada bayi saat puasa akan membuat produksi ASI berkurang, maka Anda salah. Justru, semakin sering Anda memberikan ASI pada bayi, semakin banyak juga ASI yang dihasilkan oleh tubuh Anda.
Hal ini karena isapan bayi di payudara ibu menjadi salah satu kunci agar ASI lancar diproduksi oleh tubuh. Jadi, jangan khawatir produksi ASI akan lebih sedikit selama Anda menjalankan ibadah puasa.

4. Pastikan Anda cukup istirahat


Selain asupan makanan dan cairan, istirahat yang cukup juga sangat diperlukan saat berpuasa. Hal ini agar stamina tubuh Anda tetap bugar dan tidak lemas selama menjalankan puasa.
Tidur di siang hari mungkin diperlukan untuk menghemat energi Anda agar tetap kuat menjalankan puasa. Selain itu, kurangilah aktivitas berat dan olahraga saat puasa, serta tetaplah di rumah saat cuaca sedang panas dan lembap.

Kamis, 02 Mei 2019

TIPS AGAR PUTING SUSU TIDAK LECET SAAT MENYUSUI

6 Tips Ampuh Mencegah Puting Susu Lecet Saat Menyusui
Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Puting lecet menjadi kondisi yang paling sering dikeluhkan oleh para ibu menyusui. Jika puting sudah lecet, proses menyusui akan semakin sulit dan membuat tidak nyaman. Sebelum Anda mengalami luka lecet di puting akibat menyusui, lebih baik mencegahnya dengan berbagai cara berikut ini.

Cara mencegah puting susu lecet saat menyusui

Untuk mencegah puting lecet, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:

1. Temukan posisi menyusui yang tepat

pelembap untuk kulit kering
Dengan posisi menyusui yang tepat, bayi akan mudah mengisap puting payudara Anda. Pastikan posisi perlekatan bayi Anda sudah benar. Gunakan bantal tambahan jika diperlukan untuk membantu menumpu dan mengangkat bayi Anda ke posisi yang tepat.
Arahkan puting ke hidung bayi. Dengan begitu ketika ia membuka mulutnya dan kepalanya terdorong ke belakang, puting Anda akan dengan mudah masuk ke dalam mulutnya.
Selain itu, Anda juga perlu berganti-ganti posisi saat menyusui. Pasalnya, ketika Anda menyusui dalam posisi yang sama setiap saat, mulut bayi akan menekan titik yang sama pada puting. Dengan berganti-ganti posisi, puting terhindar dari tekanan berlebih di satu titik saja yang bisa membuatnya lecet.

2. Jangan menarik puting secara paksa


Ketika bayi sedang menyusui, mulutnya otomatis akan dikaitkan dengan kuat pada payudara Anda. Bahkan ketika proses menyusui selesai pun biasanya ia akan tetap melekatkan mulutnya. Jika buah hati Anda tidak melepasnya, jangan menariknya secara paksa. Pasalnya, menarik puting keluar bisa membuatnya lecet dan terluka. Apalagi jika Anda terus melakukan hal ini berulang kali.
Untuk mencegah lecet dan luka pada puting, coba gunakan teknik khusus untuk melepaskannya. Caranya dengan memasukkan jari telunjuk Anda dengan lembut pada sisi mulutnya. Kemudian, lepaskan isapannya secara perlahan dengan meletakkan jari Anda di sekitar puting.

3. Kurangi pembengkakan pada payudara sebelum menyusui


Biasanya pembengkakan akan terjadi ketika payudara memiliki terlalu banyak susu di dalamnya. Kondisi ini umumnya terjadi ketika jeda menyusui terlalu lama. Payudara yang bengkak akan terasa sakit dan sulit diisap. Akibatnya, risiko lecet pada puting pun cukup besar.
Untuk itu, hal yang perlu Anda lakukan ialah memompa susu terlebih dahulu agar jaringan payudara melunak dan bengaknya berkurang. Namun sebelum itu, kompres payudara Anda dengan handuk hangat. Kemudian, pompa payudara Anda dan simpan hasilnya di lemari pendingin untuk persediaan. Setelah itu, pijat payudara dengan lembut untuk merilekskan jaringan di sekitarnya.

4. Pilihlah corong pompa ASI dengan ukuran yang tepat

pompa-ASI-manual-atau-elektrik
Puting susu yang lecet tak hanya disebabkan saat proses menyusui saja. Akan tetapi hal ini terkadang muncul karena Anda tidak menggunakan corong pompa ASI dengan ukuran yang tepat. Jika ukurannya salah, puting bisa mengalami iritasi dan terasa sakit. Selain itu, hal ini juga bisa berpengaruh pada jumlah susu yang didapat saat memompa.
Jika Anda melihat banyak ruang kosong di sekitar areola saat memompa tandanya Anda butuh pelindung yang lebih kecil. Sebaliknya, jika puting justru bergesekan dengan bagian dalam corong, tandanya Anda butuh ukuran yang lebih besar.

5. Mengecek kondisi lidah bayi


Bayi yang memiliki kelainan lidah atau yang disebut dengan tongue tie biasanya memiliki kesulitan untuk menyusu. Tongue tie adalah kondisi saat jaringan ikat pada lidah terlalu pendek sehingga pergerakannya menjadi lebih terbatas.
Hal ini membuat bayi biasanya mendorong puting ke atas dengan lidahnya dan menekannya ke langit-langit yang keras saat ia mengisap payudara Anda. Jika dilakukan terus menerus kondisi ini biasanya membuat puting Anda sakit dan mengalami luka.
Untuk mencegah puting lecet akibat tongue tie, periksakan kondisi lidah bayi Anda pada dokter. Jika ternyata buah hari Anda mengalaminya, mintalah rekomendasi pengobatan yang paling tepat.

6. Menggunakan ASI sebagai pelembap alami


Puting merupakan bagian yang sensitif dan rentan mengalami luka saat menyusui ketika permukaannya terlalu kering. Oleh karena itu, Anda perlu menjaga kelembapannya. Tak perlu repot mencari produk yang cocok, ASI bisa dijadikan pelembap alami yang bisa Anda gunakan pada puting.
Ini karena ASI mengandung pelembap kulit alami dan antibodi untuk membantu melawan infeksi. Oleh sebab itu, untuk mencegah puting lecet dan menjaganya agar tetap sehat, biarkan sisa ASI yang menempel di puting mengering dengan sendirinya.
Selain ASI, Anda juga bisa mengoleskan krim puting khusus. Hindari salep atau krim yang mengandung lanolin murni karena bisa menyebabkan reaksi alergi pada kulit. Dikutip dari American Pregnancy, pilihlah krim yang mengandung lanolin yang telah dimodifikasi dan calendula serta bahan hypoallergenic lainnya untuk membantu menenangkan puting yang terasa nyeri.
Pakailah krim pelembap ini tepat setelah Anda selesai menyusui. Dengan begitu, kulit memiliki cukup waktu untuk menyerapnya sebelum proses menyusui selanjutnya. Bersihkan terlebih dahulu dengan air kemudian oleskan krim secukupnya. Ingat jika ingin menyusui kembali, Anda harus membersihkan terlebih dahulu puting Anda dari krim pelembap sebelum diisap kembali oleh bayi Anda.

Minggu, 28 April 2019

kurate karena keguguran

Mengenal Proses Kuretase ( Kerokan ) pada Wanita

Mengenal proses kuretase atau kerokan pada wanita yang mengalami terjadinya keguguran. Dalam istilah kuretase atau kerokan mungkin sudah anda sering dengar kata tersebut. Taukah anda apa pengertian dari kuretase atau kerokan yang sering didengar dalam bahasa medis. Mungkin anda sekalian yang membaca artikel ini pernah mengalami keguguran sehingga melakukan kuretase atau kerokan. Dan mungkin istri anda pernah melakukan kuretase atau kerokan. Berikut ini akan dibahas mengenai kuretase atau kerokan yang sering dipraktekkan dalam dunia medis. Artikel ini dibuat supaya anda lebih mengerti tentang pemahan mengenai kuretase atau kerokan yang pernah anda alami atau istri anda yang mengalaminya.

Pengeluaran Secara Digital

Tindakan ini dilakukan untuk menolong penderita ditempat - tempat yang tidak ada fasilitasnya kuratase : sekurang - kurangnya untuk menghentikan perdarahan. Hal ini sering kita dilakukan pada keguguran yang sedang berlangsung ( abortus incipiens ) dan keguguran bersisa ( abortus incompletus ). 

Pembersihan secara digital hanya dapat dilakukan bila telah ada pembukaan serviks uteri yang dilalui oleh satu jari longgar dan kavum uteri cukup luas. Karena manipulasi ini akan menimbulkan rasa nyeri, maka sebaiknya dilakukan dalam narkosa umum intravena ( ketalar ) atau anastesi blok para - servikal.

Caranya adalah dengan dua tangan ( bimanual ) : jari telunjuk tangan kanan dimasukkan kedalam jalan lahir untuk pengeluaran hasil konsepsi : sedangkan tangan kiri memegang korpus uteri untuk memfiksasi melalui dinding perut. Dengan menggunakan jari, kikislah hasil konsepsi sebanyak mungkin atau sebersih mungkin.

Kuretase ( Kerokan ) 

Kuratase atau kerokan adalah salah satu cara yang digunakan untuk membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuretase ( sendok keroken ). Sebelum melakukan kuretase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besarnya uterus. Gunanya untuk mencegah terjadinya bahaya kecelakaan misalnya perforasi.

Persiapan Sebelum Kuretase atau kerokan 

Persiapan Penderita
Dilakukan pemeriksaan umum : tekanan darah, nadi keadaan jantung, dan paru - paru dan sebagainya. Setelah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan semuanya dalam keadaan sehat atau baik. Maka akan dilanjutkan dalam peemasangan infus sebagai profilaksis.

Persiapan Peralatan Alat - alat Kuretase
Dalam persiapan peralatan alat - lat kuretase  hendaknya disediakan dalam bak alat dalam keadaan aseptik ( suci hama ) berisi :
  • Spekulum dua buah
  • Sonde atau penduga uterus
  • Cunan muzeux atau cunam porsio
  • Berbagai ukuran busi  atau dilatator hegar
  • Bermacam - macam ukuran sendok kerokan ( kuret ) 
  • Cunam abortus, kecil dan besar
  • Pinset dan klem 
  • Kain steril dan sarung tangan dua pasang.
  • Kain steril dan sarung tangan dua pasang
Setelah itu penderita dilanjutkan penderita atau pasien ditidurkan dalam posisi litotomi. Pada umumnya diperlukan anastesi infiltrasi lokal atau umum secara intravena dengan ketalar.

Teknik Kuretase

  1. Tentukan letak rahim. Yaitu dengan melakukan pemeriksaan dalam alat - alat yang dipakai umumnya terbuat dari metal dan biasanya melengkung karena itu memasukkan alat - alat ini harus disesuaikan dengan letak rahim. Gunanya supaya jangan terjadi salah arah ( fase route ) dan perforasi.
  2. Penduga rahim atau sondage. Masukkan penduga rahim sesuai dengan letak rahim dan tentukan panjang atau dalamnya penduga rahim. Caranya adalah setelah ujung sonde terasa membentur fundus uteri, telunjuk tangan kanan diletakkan atau dipindahkan pada portio dan tariklah sonde keluar, lalu baca berapa cm dalamnya rahim.
  3. Dilatasi. Bila pembukaan serviks belum cukup untuk memasukkan sendok kuret, lakukan terlebih dahulu didilatasi dengan dilatator atau bougie hegar. Peganglah busi seperti memgang pensil dan masukkanlah hati - hati sesuai letak rahim . Untuk sendok kuret terkecil biasanya diperlukan dilatasi samapai hegar nomor 7. Untuk mencegah kemungkinan perforasi usahakanlah memakai sendok kuret yang agak besar, dengan dilatasi yang lebih besar.
  4. Kuretase seperti dikatakan, pakailah sendok kuret yang agak besar. Memasukkanya bukan dengan kekuatan dan melakukan kerokan biasanya mulailah dibagian tengah. Pakai sendok kuret yang tajam atau ada tanda yang bergerigi karena lebih efektif dan lebih terasa sewaktu melakukan kerokan pada dinding rahim dalam atau seperti bunyi mengukur kelapa. Dengan demikian kita tahu bersih atau tidaknya hasil kerokan.
  5. Cunamabortus. Pada abortus inisipiens, dimana sudah kelihatan jaringan, pakailah cunam abortus untuk mengeluarkanya yang biasanya diikuti oleh jaringan lainnya. Dengan demikian sendok kuret hanya dipakai untuk membersihkan sisa - sisa yang ketinggalan saja.
  6. Perhatian. Memegang, memasukkan dan menarik alat - alat heruslah hati - hati : dilakukan dengan lembut ( with lady's hand ) sesuai dengan arahan dan letak rahim.


  7. sumber :
  8. https://www.ocanflash.com/2019/02/mengenal-proses-kuretase-kerokan-pada.html

Sabtu, 27 April 2019

Cara Terbaik Untuk Mengobati Depresi Pascapersalinan

Cara Terbaik Untuk Mengobati Depresi Pascapersalinan

Hasil gambar untuk mesra ala islam
Cara Terbaik Untuk Mengobati Depresi Pascapersalinan - Delapan puluh persen wanita mengalami depresi ringan selama beberapa minggu pertama masa keibuan; Namun, banyak wanita akan mengalami bentuk depresi yang jauh lebih parah yang tidak akan hilang dengan sendirinya. Hal terbaik yang harus dilakukan wanita setelah dia mulai memiliki tanda-tanda depresi pascamelahirkan adalah mencari bantuan medis dan mengembangkan sistem pendukung. Beberapa gejala termasuk perubahan drastis dalam nafsu makan, menangis yang tidak terkendali, takut menjadi ibu yang buruk atau sendirian dengan anak, kurangnya minat dalam hal-hal yang biasa Anda nikmati, tidak tertarik pada bayi, tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit dan pikiran menyakitkan bayi atau dirimu sendiri. Terus belajar tentang bagaimana depresi pascamelahirkan diobati.

Psikoterapi

Banyak wanita berjuang dengan depresi pascamelahirkan karena mereka tidak sadar mereka memilikinya. Saat Anda mulai merasakan gejala apa pun, sekarang saatnya berbicara dengan psikoterapis. PPD adalah bentuk depresi klinis, dan berbicara kepada seorang profesional tentang perasaan Anda dan bidang-bidang yang menjadi perhatian dapat menjadi rasa lega yang luar biasa. Psikoterapi untuk depresi pascapersalinan agak berbeda dari perawatan umum karena jenis terapi ini akan dimulai dengan berfokus pada meredakan gejala. Terapis akan bekerja dengan pasien untuk memberi mereka kembali kendali atas hidup mereka, dan juga akan membantu menanamkan keyakinan pada pasien dengan menegaskan perasaan mereka yang cukup umum dan mereka tidak perlu merasa malu. Dalam kebanyakan kasus, wanita tidak akan mencari psikoterapi sebagai pengobatan jangka panjang, tetapi lebih sebagai tindakan sementara sampai depresi telah berlalu. Dalam kasus lain, wanita akan terus menemui terapis untuk membantu dalam aspek lain dalam hidupnya.

Antidepresan

Menurut laporan, sekitar satu dari enam orang Amerika mengonsumsi antidepresan. Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa wanita yang menderita depresi pascamelahirkan juga akan menggunakan jenis obat ini untuk melewati masa-masa sulit. Sama seperti terapi, ibu yang menderita PPD tidak akan selalu harus tinggal dengan resep selama sisa hidup mereka. Ini juga akan menjadi solusi sementara. Setiap jenis antidepresan akan menargetkan berbagai aspek kimia otak.
Dalam beberapa kasus, wanita harus mengubah jenis obat yang mereka gunakan untuk menemukan salah satu yang terbaik, dan hal yang sama mungkin berlaku untuk tingkat dosis. Dan, penting untuk dicatat bahwa perlu waktu beberapa minggu agar obat dapat berfungsi dengan baik, sehingga wanita harus bersabar sampai menjadi efektif. Obat yang lebih baru memiliki lebih sedikit efek samping; Namun, semua antidepresan memiliki beberapa efek samping seperti mual, pusing, kenaikan berat badan, penurunan berat badan, kesulitan tidur, mulut kering, diare, dan sakit kepala.

Jaringan Dukungan

Penting untuk menjadi peserta aktif dalam jaringan pendukung, seperti yang dibuat dari anggota keluarga. Mungkin Anda mungkin menemukan wanita lain di keluarga Anda juga menderita depresi pascamelahirkan. Perempuan, terutama ibu baru, cenderung menekan diri sendiri untuk menjadi sempurna dan menjaga perasaan mereka pada diri sendiri agar tidak tampak kurang begitu. Akibatnya, mereka mulai memiliki perasaan tidak mampu dan marah ketika, pada kenyataannya, banyak wanita mengalami perasaan yang sama. Jika Anda tidak nyaman berbicara dengan anggota keluarga atau teman dengan anak-anak, bergabunglah dengan kelompok dukungan untuk wanita dengan PPD. Anda harus dapat menemukan satu di dekatnya, bahkan jika Anda tinggal di kota kecil. Kelompok-kelompok ini dapat membantu mengajarkan keterampilan mengatasi dari ibu lain yang mungkin tidak Anda pelajari dari terapi. Ini juga bisa sangat membantu dan bermanfaat untuk bertemu ibu baru di daerah Anda untuk membantu dengan tantangan orangtua tambahan di masa depan.

Terapi Elektrokonvulsif

Terapi Electroconvulsive (ECT) mungkin kurang dikenal daripada psikoterapi. Namun, banyak wanita mengalami hasil positif dengan bentuk perawatan ini. ECT adalah salah satu di mana arus listrik kecil melewati otak untuk secara sengaja membuat kejang yang tidak berbahaya dan sesaat. Terapi electroconvulsive diyakini akan membuat perubahan dalam kimia otak wanita, sehingga mengurangi gejala depresi pascamelahirkan. ECT biasanya digunakan untuk wanita yang tidak menanggapi perawatan lain, atau jika wanita mengalami psikosis postpartum daripada PPD. Penting untuk dicatat bahwa jenis perawatan ini dapat menyulitkan wanita untuk menyusui. Juga mungkin rawat inap mungkin diperlukan untuk menerima terapi elektrokonvulsif.

Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (CBT) sering berhasil mengubah tindakan, perasaan, dan pikiran individu dalam sejumlah skenario, termasuk depresi pascamelahirkan. CBT akan fokus pada masalah yang ada di tangan dan solusi yang sesuai, daripada aspek kehidupan yang telah terjadi di masa lalu. Ini juga akan fokus pada pandangan dan keyakinan Anda tentang menjadi ibu baru daripada ciri-ciri kepribadian. Jenis terapi ini akan berfungsi untuk menciptakan perilaku gaya hidup yang berhasil untuk Anda. Ini adalah cara luar biasa untuk membantu seorang ibu mengendalikan pikirannya secara positif. Terapi perilaku kognitif juga akan membantu menciptakan metodologi koping pribadi untuk membuat hidup lebih mudah dikelola.

Kamis, 25 April 2019

Cara Latihan Senam Pasca Persalinan

Cara Latihan Senam Pasca Persalinan

Image result for senam islam
Setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ tubuh wanita. Involusi ini sangat jelas terlihat pada alat - alat kandungan. Sebagai akibat kehamilan, dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai adanya garis - garis putih dan hitam ( striae gravidarum ) yang dari sudut keindahan tubuh akan terasa sangat menganggu. Karena ini mereka akan berusaha untuk mengencangkan dan memulihkan keadaan dinding perut yang tidak indah tersebutMengembalikan keadaan tubuh menjadi lebih indah dan langsing seperti semula diusahakan ( 1 ) Perawatan pasca persalinan , dan ( 2 ) latihan senam pasca persalinan.

Perawatan Pasca Persalinan

Perawatan tubuh pasca persalinan sesunguhnya harus telah dimulai sebelum persalinan, yaitu dengan senam hamil yang teratur sejak kehamilan berumur kira - kira enam ( 6 ) bulan. Sedangkan perawatan dinding perut supaya cepat pulih dari ganguan striae gravidarum dimulai semenjak kehamilan 8 - 9 bulan, yaitu dengan memberikan olesan krem ( diadal prenatal cream ) pada dinding perut setiap hari. Telah menjadi kebiasaan wanita indonesia memekai gurita dan korset yang ketat segera setelah bersalin sebagai perawatan dinidinding perut. Disamping itu untuk menghilangkan garis - garis pada perut dipakai ramuan - ramuan tradisional berupa bedak cair yang dioleskan pada dinding perut, muka dan badan. Sekarang telah dipasarkan pula sejenis krem ( diadal postnatal cream ) yang dioleskan pad tempat - tempat dimana dijumpai striae : dinding perut, paha, payudara, dan lain - lain. Krem ini dapat meningkatkan metabolisme, tonus dan elastisitas dari kulit.

Latihan Senam Pasca Persalinan

Perawatan dan Pemeliharaan keindahan tubuh dapat  pula dilakukan dengan senam pasca persalinan. Umumnya yang menjadi perhatian wanita setelah persalinan adalah bagaimana memulihkan bentuk tubuh dan dinding perut seindah mungkin. Pada beberapa wanita ditemui adanya pelebaran pembuluh darah balik ( varises ) pada tungkai dan liang dubur ( anus ).
Mobilisasi dan gerakan - gerakan sederhana sudah dapat dimulai selagi ibu mondok di klinik atau rumah sakit, supaya inovolusi tubuh berjalan dengan baik, dan otot - otot mendapatkan bonus, elastisitas, dan fungsinya kembali. Kemudian lakukanlah latihan dan gerakan- gerakan yang dapat meningkatkan tonus dan kekuatan otot - otot yang terlibat dengan proses persalinan, yaitu :\
  • Gerakan Pernapasan diafragma
  • Gerakan pernapasan dada ( torak )
  • Latihan otot - otot dinding perut
  • Latihan otot - otot dasar panggul
  • Gerakan Otot - otot liang dubur ( anus ) 
  • Gerakan otot - otot liang sanggama atau vagina dan latihan serta gerakan lainnya.
Latihan ini dilakukan secara teratur, intensif makin lama makin diperberat dengan meningkatkan frekuensi latihan. Latihan sebaiknya dilakukan sebelum mandi pagi, sebelum tidur siang atau sore dan sebelum tidur malam.

Latihan Fisik Untuk Mengurangi Varises

Pelebaran pembuluh darah balik ( varises ) pada tungkai bawah dan liang dubur dapat mengurangi keindahan kaki dan dapat merepotkan wanita dengan keluhan - keluhan edema tungkai, kram dan kesemutan, rasa berat dan sakit. Pada anus terasa pedih dan berdarah sewaktu defeksi. Keadaan tersebut diatas dapat dikurangi atau dihilangkan dengan memberikan obat - obatan tertentu, menjarangkan kelahiran dengan cara memakai salah satu kontrasepsi dan mengerjakan latihan fisik.

Latihan Fisik

Latihan 1 
Sikap tidur atau telentang , kedua lengan dibawah kepala dan kedua kaki diluruskan.
Latihan : Angkat kedua kaki sehingga pinggul dan lutut mendekati badan semaksimal mungkin. Lalu diluruskan dan angkat kaki kiri dan kanan vertikal dan perlahan lahan turunkan kembali kelantai

Latihan 2 
Sikap : tidur telentang dengan kaki terangkat keatas dengan jalan meletakkan kursi di ujung kasur, badan agak melengkung dengan letak pada dan kaki bawah lebih atas.
Latihan : Lakukan gerakan pada jari - jari kaki secara seperti seperti mencakar dan meregangkan. lakukan ini selama setengah menit.

Latihan 3 
Sikap : Seperti pada latihan 2.
Latihan : gerakan ujung kaki secara teratur seperti lingkaran dari luar kedalam dan dari dalam keluar. Lakukan gerakan ini selama setengah menit.


Latihan 4
Sikap : seperti latihan 2.
Latihan : lakukan gerakan telapak kaki kiri dan kanan keatas dan kebawah seperti gerakan menggergaji. Lakukan selama setengah menit.

Latihan 5
Sikap: tidur terlentang kedua tangan bebas bergerak.
Latihan : Lakukan gerakan dimana lutut mendekati badan, bergantian kaki kiri dan kaki kanan, sedangkan tangan memegang ujung kaki dan urutlah mulai dari ujung kaki samapai batas betis lutut dan paha. Lakukan gerakan ini 8 sampai 10 kali setiap hari.

Latihan 6
Sikap : Berbaring telentang, kaki terangkat keatas, kedua tangan dibawah kepala.
Latihan : jepitlah bantal diantara kedua kaki dan tekan sekuat - kuatnya. Pada waktu bersamaan angkatlah pantat dari kasur dengan melengkungkan badan, lakukan sebanyak 4 sampai 6 kali selama setengah menit. gerakan  menegangkan dan melemaskan otot ini harus dilakuykan secara perlahan - lahan. 

Latihan 7
Sikap : Tidur telentang, kaki terangkat keatas, kedua lengan disamping badan. 
Latihan : kaki kanan disilangkan diatas kaki kiri dan tekan kuat. Pada saat yang sama tegangkan kaki dan kendorkan lagi perlahan - lahan dalam gerakan selama 4 detik. Dilakukan ini 4 sampai 6 kali selama setengah menit.

Latihan 8
Sikap : Berdiri lurus diatas lantai.
Latihan : berjalan dengan ujung kaki, dan kemudian dengan tumit . setiap gerakan lamanya setengah menit.

Latihan 9
Setelah langka - langkah latihan diatas dikerjakan dengan teratur dan intensif, Pada saat terakhir lakukanlah latihan bernapas ruangan atau dibuka depan jendela dimana ventilasi udara cukup nyaman dan segar.
Latiahn : Angkatlah kepala dan lingkarkan kedua tangan pada belakang leher, tarik napas perlahan - lahan yang dalam hingga paru - paru penuh, lalu dihembuskan napas perlahan - lahan. latihan ini diulangi beberapa kali dalam setengah sampai satu menit.

Minggu, 31 Maret 2019

Bagaimana Hamil di Luar Kandungan Bisa Terjadi dan Apa Saja Tandanya?

Bagaimana Hamil di Luar Kandungan Bisa Terjadi dan Apa Saja Tandanya?

Image result for muntah hamil islami
Hamil di luar kandungan adalah salah satu komplikasi kehamilan yang bisa berakibat fatal. Namun, hanya sedikit wanita yang mengetahui bahwa kehamilan yang dialami bukan kehamilan pada umumnya, karena gejalanya hampir mirip. Lantas, sebenarnya apa itu hamil di luar kandungan?

Apa itu hamil di luar kandungan?

Hamil di luar kandungan atau disebut dengan kehamilan ektopik terjadi ketika telur yang dibuahi menempel di tempat lain selain di dalam rahim. Hampir semua kehamilan ektopik terjadi di tuba falopi.
Tuba falopi adalah saluran yang menghubungkan indung telur ke rahim. Jika telur terjebak di dalamnya, telur tidak akan berkembang menjadi bayi dan kesehatan Anda mungkin berisiko jika kehamilan berlanjut.
Hamil di luar kandungan termasuk kondisi yang membahayakan nyawa dan sering terjadi pada beberapa minggu pertama kehamilan. Umumnya, tidak mudah untuk mempertahankan bayi pada kondisi kehamilan ini.

Apa penyebab hamil di luar kandungan?

Dalam banyak kasus, tidak jelas mengapa seorang wanita mengalami kehamilan ektopik. Kadang-kadang ini terjadi ketika ada masalah dengan tuba falopi, seperti bentuk atau kondisi tuba falopi yang sempit atau tersumbat.
Selain itu, ada beberapa kondisi yang mungkin menjadi penyebab kehamilan ektopik. Di antaranya yaitu:
  • Peradangan dan jaringan parut pada tuba falopi dari kondisi medis sebelumnya, infeksi, atau akibat tindakan bedah.
  • Faktor hormon.
  • Kelainan genetik (bawaan).
  • Cacat lahir, mungkin disebabkan oleh gangguan pertumbuhan ketika masih menjadi janin dalam kandungan.

Siapa yang berisiko mengalami hamil di luar kandungan?

Faktor risiko untuk kehamilan ektopik antara lain:
  • Usia 35-44 tahun
  • Ada riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
  • Sebelumnya pernah operasi panggul atau perut
  • Penyakit radang pinggul
  • Menggunakan intrauterine device (IUD) atau KB spiral sebagai kontrasepsi
  • Merokok
  • Endometriosis
  • Sebelumnya pernah ligasi tuba yang gagal (operasi sterilisasi)
  • Menggunakan obat kesuburan
  • Riwayat memiliki penyakit menular seksual seperti gonore atau klamidia

Apa saja gejala hamil di luar kandungan?

Kehamilan ektopik tidak selalu menyebabkan gejala dan mungkin hanya terdeteksi selama pemeriksaan kehamilan rutin. Selain itu, di awal kehamilan, gejalanya hampir sama seperti kehamilan normal. Gejala biasanya muncul antara minggu keempat hingga ke-12 kehamilan.
Gejalanya meliputi:
  • perdarahan vagina ringan
  • tidak haid
  • mual dan muntah
  • nyeri pada perut bawah, pundak, leher, atau rektum
  • nyeri pada satu sisi tubuh
  • kram perut
  • pusing atau lemah
  • sakit saat buang air kecil atau buang air besar
Bila Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera periksa ke dokter.