Europeesche Lagere School
ELS (singkatan dari bahasa Belanda: Europeesche Lagere School) adalah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. ELS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajarnya.
ELS atau Sekolah Rendah Eropa tersebut diperuntukkan bagi keturunan peranakan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. ELS yang pertama didirikan pada tahun 1817 dengan masa sekolah 7 tahun.
Awalnya hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda, sejak tahun 1903 kesempatan belajar juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu (dari golongan tertentu) dan warga Tionghoa. Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan HCS, sehingga ELS kembali dikhususkan bagi warga Belanda dan Eropa saja.
Sekolah khusus bagi warga pribumi kemudian dibuka pada tahun 1907 (yang pada tahun 1914 berganti nama menjadi (Hollandsch-Inlandsche School (HIS)) dengan lama belajar 7 tahun, diperuntukan bagi keturunan Indonesia asli yang umumnya anak bangsawan, tokoh terkemuka, atau pegawai negeri.
Sementara sekolah bagi warga Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS) dibuka pada tahun 1908 dengan lama belajar 7 tahun. HCS dan HIS tersebut digolongkan dalam Eerste Klasse School atau Sekolah kelas Satu yang diperuntukan bagi penduduk non Eropa.
Lihat pula
Agus Salim
Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.
Algemeene Middelbare School
Algemeene Middelbare School dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Algemene Middelbare School disingkat AMS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda dengan masa studi tiga tahun yang menerima lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs - pendidikan dasar yang diperluas - sekolah setingkat SMP waktu itu).
Andi Sultan Daeng Radja
Haji Andi Sultan Daeng Radja (lahir di Matekko, Gantarang, Bulukumba, 20 Mei 1894 – meninggal di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, Sulawesi Selatan, 17 Mei 1963 pada umur 68 tahun) adalah seorang tokoh kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan. Ia adalah putra pertama pasangan Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong. Semasa muda, Sultan Daeng Radja dikenal taat beribadah dan aktif dalam kegiatan Muhamamadiyah. Ia merupakan pendiri Masjid Tua di Ponre yang pada jamannya terbesar di Sulawesi Selatan.
Tahun 1902, Sultan Daeng Radja masuk sekolah Volksschool (Sekolah Rakyat) tiga tahun di Bulukumba. Tamat dari Volksschool, dia melanjutkan pendidikannya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bantaeng. Selesai mengenyam pendidikan di ELS, Sultan Daeng Radja melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Makassar.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di OSVIA pada tahun 1913, Sultan Daeng Radja yang saat itu, masih berusia 20 tahun diangkat menjadi juru tulis kantor pemerintahan Onder Afdeeling Makassar. Bebeberapa bulan kemudian, dia diangkat menjadi calon jaksa dan diperbantukan di Inl of Justitie Makassar. Tanggal 7 Januari 1915 diangkat menjadi Eurp Klerk pada Kantor Asisten Residen Bone di Pompanua.
Selanjutnya, dia dipindahkan lagi ke Kantor Controleur Sinjai sebagai Klerk. Dari Sinjai ditugaskan ke Takalar dan mendapat jabatan wakil kepala pajak. Selanjutnya ditugaskan ke Enrekang dengan jabatan kepala pajak. Tahun 1918, dia ditugaskan sebagai Inlandsche Besteur Asistant di Campalagian, Mandar.
Tanggal 2 April 1921, pemerintah mengeluarkan surat keputusan mengangkat Sultan Daeng Radja menjadi pejabat sementara Distrik Hadat Gantarang menggantikan Andi Mappamadeng Daeng Malette yang mengundurkan diri karena tidak bisa bekerjasama lagi dengan pemerintah kolonial Belanda. Pengunduran diri Andi Mappamadeng tersebut hingga kini masih menjadi kontroversi, sebab Andi Mappamadeng Daeng Malette merupakan sepupu satu kali dari Sultan Daeng Radja. Pada waktu itu pula, Sultan Daeng Radja mendapat kepercayaan menjadi pegawai pada kantor Pengadilan Negeri (Landraad) Bulukumba.
Kembalinya Andi Sultan Daeng Radja ke Bulukumba, mendorong Dewan Hadat Gantarang (Adat Duapulua) mengadakan rapat memilih calon kepala adat. Rapat tersebut kemudian memutuskan Andi Sultan Daeng Radja menjadi Regen (Kepala Adat) Gantarang. Jabatan ini diembannya hingga pemerintahan Belanda menyatakan pengakuannya atas kedaulatan Republik Indonesia.
Tahun 1930, Andi Sultan Daeng Radja mendapat kehormatan menjadi Jaksa pada Landraad Bulukumba. Setelah proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, pemerintah NICA menuduh Andi Sultan Daeng Radja terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI sehingga ia tidak lagi digunakan sebagai pemerintah.
NICA kemudian menahan dan mengasingkan Sultan Daeng Radja ke Menado, Sulawesi Utara. Tanggal 8 Januari 1950, setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pengakuan kedaulatan RI oleh Pemeritah Belanda, Sultan Daeng Radja kemudian dibebaskan oleh Belanda dan kembali ke Bulukumba. Pada 1 Juli 1950 Andi Sultan Daeng Radja mundur dari jabatannya sebagai Kepala Adat Gantarang dan digantikan oleh putranya Andi Sappewali Andi Sultan.
Setelah mundur dari jabatannya selaku Kepala Adat Gantarang, Menteri Dalam Negeri berdasarkan Surat Keputusan tertanggal 11 Juni 1951 mengangkatnya menjadi bupati pada kantor Gubernur Sulsel. Tanggal 4 April 1955, dia ditugaskan sebagai Bupati Daerah Bantaeng dan diangkat menjadi pegawai negeri tetap.
Tahun 1956, Sultan Daeng Radja diangkat menjadi residen diperbantukan pada Gubernur Sulsel sesuai keputusan presiden. Setahun kemudian dia diangkat menjadi Anggota Konstituante.
Andi Sultan Daeng Radja wafat pada 17 Mei 1963 di Rumah Sakit Pelamonia Makassar dalam usia 70 tahun. Semasa hidupnya, Andi Sultan Daeng Radja memiliki empat istri dan 13 anak.
Besar Mertokusumo
Besar Mertokusumo atau dikenal juga dengan Mas Besar Martokoesoemo adalah seorang pengacara atau advokat pertama Indonesia dan wali kota Tegal yang lahir di Brebes, 8 Juli 1894. Ia menikah dengan Raden Ajoe Marjatoen dan dikaruniai empat orang anak yaitu Mas Roro Marjatni, Mas Roro Indraningsih, Mas Soeksmono dan Mas Wisnoentoro merupakan wali kota bangsa Indonesia Pertama serta tercatat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Mantan Sekjen Departemen Kehakiman itu mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Rendah Belanda (Europeesche Lagere School-ELS) di Pekalongan dan lulus pada 1909. Enam tahun kemudian, lulus dari Rechtschool di Jakarta, kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden, Belanda dan lulus pada 1922.
Boes Boestami
Boes Boestami (Ejaan Yang Disempurnakan: Bus Bustami; 30 Desember 1922 – 11 September 1970) adalah seornag jurnalis dan pemeran film Indonesia. Ia sebagian besar dikenal karena peran-peran lawaknya.
Danurejo IX (VIII)
Kangjeng Pangeran Haryo Hadipati Danurejo yang kemudian dikenal dengan Danurejo VIII dilahirkan tanggal 3 September 1882 di Yogyakarta dengan nama RM Subari. Ayahnya adalah Pangeran Haryo Buminoto putera Sultan Hamengkubuwono VI. Pendidikan formal yang diperoleh adalah ELS (Europeesche Lagere School). Pada usia 12 tahun (1894) dia sudah diangkat menjadi abdidalem (Pegawai Kerajaan) dengan pangkat Jajar Panakawan Bedaya. Setelah 14 tahun (1904) pangkatnya dinaikkan menjadi Bekel Punakawan Bedaya dengan gelar Raden Bekel Mangkunadi.
Pada 1909 dia diangkat menjadi Panewu Palang Negari (Sekretaris) di Kabupaten Kalasan dan bergelar Raden Panewu Mangundimejo. Selang lima tahun kemudian, pada 1914, dia dinaikkan pangkatnya menjadi Panji (Kepala Distrik) di Semanu Kabupaten Gunung Kidul dan bergelar Raden Panji Harjodipuro yang kemudian diubah menjadi Harjokusumo. Tahun 1919 Sultan mengangkatnya menjadi Bupati Pangreh Praja Kalasan dan bergelar Raden Tumenggung Harjokusumo. Pada 1927 dia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Kota Yogyakarta yang merupakan gabungan Kabupaten Sleman, Kalasan, dan Kota Yogyakarta.
Pada 30 November 1933 dia dilantik menjadi Pepatih Dalem Danurejo VIII. Permaisuri dia adalah GKR Candrakirono, putri Sultan Hamengkubuwono VII. Pada 11 September 1942 oleh Jepang dia dilantik menjadi Yogyakarta Kooti Somu Tyookan. Setelah menjabat Pepatih Dalem selama lebih dari sebelas tahun, pada 14 Juli 1945 dia diberhentikan dengan hormat atas permohonannya sendiri dan diberikan pensiun. Seluruh tugas-tugasnya diambil alih oleh Sultan Hamengku Buwono IX mulai 1 Agustus 1945. Dengan demikian dia merupakan Pepatih Dalem terakhir yang dimiliki oleh Kesultanan Yogyakarta. Setelah pensiun dia bergelar KPHH Harjokusumo.
Hogereburgerschool
Hoogere Burgerschool dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Hogere Burgerschool disingkat HBS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam lima tahun atau setara dengan MULO + AMS (SMP + SMA).
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
Loa Sek Hie
Loa Sek Hie Sia (1898-1965) adalah seorang tokoh politik, anggota Volksraad dan tuan tanah di saat akhir era Hindia Belanda. Ia adalah salah-satu pendiri dan kepala barisan keamanan Pao An Tui menjelang Revolusi Nasional Indonesia(1945-1949).
Margono Djojohadikoesoemo
Raden Mas Margono Djojohadikusumo (lahir 16 Mei 1894 – meninggal 25 Juli 1978 pada umur 84 tahun) adalah pendiri Bank Negara Indonesia. Ia adalah orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, dan juga ayah dari dua pemuda yang gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong: Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo. Nama mereka diabadikan dalam nama cucunya, politikus dan mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad, Prabowo Subianto, serta pengusaha Hashim Sujono.
Margono Djojohadikusomo yang lahir pada tanggal 16 Mei 1894 di Purwokerto, adalah cucu buyut dari Raden Tumenggung Banyakwide atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Banyakwide, pengikut setia dari Pangeran Diponegoro, dan anak dari asisten Wedana Banyumas. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas, adalah sebuah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Belanda di Banyumas, dari tahun 1900-1907.
Mohammad Nazir
Laksamana Muda TNI (Purn.) Mohammad Nazir Isa gelar Datuk Basa Nan Balimo (lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 10 Juli 1910 – meninggal di Jakarta, 30 Agustus 1982 pada umur 72 tahun) adalah seorang tokoh militer, menteri, dan diplomat Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (1946-1948), Menteri Pelayaran Republik Indonesia (1957-1959), dan juga pernah dipercaya sebagai Duta Besar RI di Swiss dan VatikanKini Namanya diabadikan menjadi nama jalan di depan mako Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V
SMP Negeri 2 Bandung
SMP Negeri 2 Bandung adalah sekolah menengah pertama yang berada di kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, dan berlokasi di Jalan Sumatera no. 42, Kecamatan Sumurbandung, Kota Bandung.
SMP Negeri 2 Yogyakarta
SMPN 2 Yogyakarta adalah sekolah menengah pertama di Yogyakarta yang didirikan pada zaman Jepang tanggal 12 September 1942,dengan menempati gedung pada saat itu di Jalan Ungaran yang sekarang ditempati SD Ungaran. Sekolah ini terletak di Jalan Panembahan Senopati 28-30 Yogyakarta.
Pada bulan Juli 1981, gedung yang semula hanya 2.585,41 m2, diperluas menjadi 3500 m2 karena diserahkannya gedung di sebelah barat yaitu bekas kantor Metrologi untuk tambahan ruang kelas.
Setiap tanggal 12 September ditetapkan sebagai hari ulang tahun SMP Negeri 2 Yogyakarta dan dalam kurun waktu 74 tahun (1942-2016) telah terjadi dua puluh satu kali penggantian Kepala Sekolah.
Sekolah induk di Jalan Ungaran ini mempunyai filial di Jalan Pakem yang sekarang digunakan oleh SMA Negeri 6 Yogyakarta (SMU 6). Sekolah induk dan filial ini tetap terpisah karena sarana yang belum memungkinkan pada waktu itu. Pada tahun 1944 Sekolah induk dan filialnya dapat dipersatukan dan menempati gedung HBS (Hoogere Burgar School) di Jetis, yang sekarang gedung itu ditempati oleh STM Negeri 1 Yogyakarta (SMK 2 Yogyakarta).
Tahun 1945 datang perintah agar SMP Negeri 2 Yogyakarta segera pindah menempati gedung baru yaitu gedung Susteran yang terletak di Jalan Setjodiningratan sampai dengan tahun 1948. Tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerbu Yogyakarta, sehingga SMP Negeri 2 Yogyakarta tidak luput dari sasaran keganasan tentara Belanda, sekolah terhenti untuk sementara karena mereka justru bermarkas di sekolah ini, peralatan dan mebeler habis dirusak oleh Belanda untuk keperluan dapur umum.
Sesudah suasana aman kembali, maka mulailah dibenahi dan SMP Negeri 2 Yogyakarta pindah lagi menempati Gedung Eerste Europeesche Lagere School B yang terletak di Jalan Setjodiningratan (Jalan Panembahan Senopati 28) sampai sekarang sedang SMP Negeri 3 Yogyakarta dipindahkan ke Jalan Pajeksan hingga sekarang.
1942 sampai dengan 12 September 2003 telah terjadi dua puluh kali penggantian Kepala Sekolah.
Dalam perkembangan selanjutnya, suatu hal yang sangat menggembirakan ialah berhasilnya gedung bekas Kantor Metrologi yang terletak di Jalan P. Senopati 26 diserahkan penggunaannya untuk tambahan ruang kelas SMP Negeri 2 Yogyakarta, berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta nomor : 183/KPTS/1981 tertanggal 24 Juli 1981. Jadi luas tanah SMP 2 menjadi 3.200 m2 luas bangunan 2.585,41 m2
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1981, dan keberhasilan ini semua tidak lepas dari kegigihan serta perjuangan tokoh-tokoh /pimpinan baik dari unsur BP-3 yang saat itu diketuai oleh Bapak dr. R.Sutarjo Tjokromiharjo, Kepala Sekolah yang saat itu dipegang oleh Bapak Drs. Nyoman Radjeg, Kepala Kanwil Depdikbud Prop. DIY yang saat itu dipegang oleh Bapak Drs. GBPH. Poeger maupun Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan keberadaan SMP Negeri 2 Yogyakarta ini telah dikuatkan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor : 2106/B.II tanggal 23 Juli 1951. Demikian riwayat singkat SMP Negeri 2 Yogyakarta tercinta, semoga jaya sepanjang masa.
Adapun sebagai tonggak sejarah pendiri SMP Negeri 2 Yogyakarta ialah
Bapak Khasan Basar ( 1942 - 1948 )
Bapak Mariyatmo ( 1948 - 1948 ) ± 6 bl.
Bapak Yudjamal ( 1949 - 1950 )
Bapak Sadiman Muliosumarto ( 1950 - 1954 )
Bapak Soeitoe ( 1954 - 1956 )
Bapak Saridi ( 1956 - 1958 )
Bapak Gondodiprojo ( 1958 - 1958 ) ±11 bl.
Bapak Brotoatmodjo ( 1958 - 1961 )
Bapak St. Soemadi ( 1961 - 1964 )
Bapak R. Soewarso ( 1964 - 1967 )
Bapak Bariyoen Hadimartono ( 1967 - 1969 )
Bapak Gunadi Martosusiswo ( 1969 - 1972 )
Bapak Masdhuki, BA ( 1972 - 1974 )
Bapak Rd. E. Suprapto ( 1974 - 1977 )
Bapak Drs. Nyoman Radjeg ( 1977 - 1984 )
Bapak Drs. Sriyono ( 1984 - 1992 )
Bapak Y. Tarmono ( 1992 - 1996 )
Bapak Army Kasiran, BA ( 1996 - 2002 )
Bapak Drs. Paijan ( 2002 - 2008 )
Bapak Drs. Emed Heryana ( 2008 - 2015)
Bapak Widayat Umar,S.Pd.,M.Pd.Si ( 2016 – sekarang)
Sekolah dasar
Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School atau Primary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTP.
Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 6-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 6-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.
Slamet Iman Santoso
Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso (lahir di Wonosobo, 7 September 1907 – meninggal di Jakarta, 9 November 2004 pada umur 97 tahun) adalah seorang pakar psikologi Indonesia. Ia memelopori berdirinya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan menjabat sebagai dekan pertama fakultas tersebut.
Ia menempuh pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) dan Hollandsch Inlandsche School antara tahun 1912 dan 1920; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Magelang pada tahun 1920 hingga 1923; MAS-B di Yogyakarta pada 1923 hingga 1926; Indische Arts STOVIA pada tahun 1926 hingga 1932; dan Geneeskunde School of Arts Batavia Sentrum pada 1932 hingga 1934.Slamet Iman Santoso menduduki posisi Pembantu Rektor I ketika Sjarif Thajeb (1962–1964) dan Sumantri Brodjonegoro (1964–1973) menjabat sebagai Rektor UI. Menyusul kematian Sumantri Brodjonegoro pada tahun 1973 ketika tengah menjabat sebagai rektor, Slamet Iman Santoso ditunjuk menjadi Pejabat Rektor UI. Ia mengakhiri jabatannya pada tahun 1974, ketika jabatan itu beralih ke Mahar Mardjono.
Atas jasa-jasanya di bidang psikologi, Slamet Iman Santoso dikenal sebagai Bapak Psikologi Indonesia.
Soeprijadi
Soeprijadi atau dikenal dengan nama Sodancoh Soeprijadi (lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 adalah pahlawan nasional Indonesia dan pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Presidensial, tetapi digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo pada 20 Oktober 1945 karena Supriyadi tidak pernah muncul. Bagaimana dan di mana Supriyadi wafat, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Tan Sin Hok
Dr.Ir.Tan Sin Hok adalah Ahli Paleontologi asal Indonesia.Pantanellium squinaboli, Eucyrtis hanni, Hemicryptocapsa capita dan Cyrtocapsa grutterinki adalah beberapa nama species radiolaria yang dikenal di daratan Eropa dan Jepang. Aslinya, spesies itu dinamai pertama kali oleh Tan Sin Hok atas fosil renik radiolaria dari sampel batuan yang berasal dari Pulau Rote (Rotti), Nusa Tenggara Timur. Pada 1927 Tan Sin Hok mempublikasikan desertasinya yang berisi deskripsi disertai sketsa terhadap 143 species radiolaria dari Pulau Rote. Hasil karya Tan Sin Hok ini ikut memperkaya pengetahuan di bidang mikropaleontologi radiolaria. Walaupun namanya sudah dikenal dunia, namun siapa jatidirinya, tak banyak yang mengetahuinya. Cuplikan kisah hidupnya di bawah ini sebagian disarikan dari situs http://brieven-tan-schepers.nl.
Tan Sin Hok lahir di desa Cipadang, Cianjur, Jawa Barat pada 28 Maret 1902, sebagai anak bungsu dari pasangan Tan Kiat Tjay (1870-1910) dan Thio Hian Nio (1875-1948) yang menjalankan usaha penggilingan padi. Dua kakaknya adalah Tan Sin Ho (1898-1964) dan Tan Sin Houw (1900-1994). Sehari-hari di rumahnya, Tan Sin Hok berbicara bahasa Melayu yang sekarang menjadi Bahasa Indonesia dan bahasa Sunda seperti bahasa ibunya. Pada tahun 1907, pada usia 5 tahun, Tan Sin Hok masuk Sekolah Dasar (Europeesche Lagere School) di Cianjur. Sejak ayahnya meninggal dunia, ia beserta keluarganya diangkat oleh keluarga Tan Kiat Hon (1875-1924) kakak dari ayah Tan Sin Hok yang juga menjalankan usaha penggilingan padi di Cijoho, Cianjur. Selanjutnya, Tan Sin Hok mengikuti sekolah tata bahasa Koning Willem III di Batavia, sampai lulus pada 1919.
Pada akhir 1919, Tan Sin Hok dan Tan Sin Houw berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan, sedangkan Tan Sin Ho tetap di Cipadang untuk menjaga bisnis keluarga. Tan Sin Hok belajar pada Jurursan Teknik Pertambangan di Delft. Ia meraih gelar Doktor pada 5 Oktober 1927 berdasarkan disertasinya ”Over de samenstelling en het ontstaan van krijt-en mergelgesteenten van de Molukken” dengan promotor Profesor Dr. H. A. Brouwer (1886 – 1973). Setelah lulus dari Delft pada 1927, Tan Sin Hok sempat melakukan penelitian tentang foraminifera di Bonn. Sebelumnya pada tahun yang sama, yaitu pada 5 Juli 1927, R.W. Van Bemmelen, penulis buku “The Geology of Indonesia”, lulus dari Sekolah Delft juga dengan promotor yang sama. Bisa jadi Tan Sin Hok dan Van Bemmelen adalah teman kuliah di Delft.
Setelah 10 tahun belajar di Eropa, Tan Sin Hok kembali ke Pulau Jawa pada 8 Juni 1929 bersama isterinya, Eida Schepers (1908-1983), warganegara Belanda yang dinikahinya pada 16 April 1929. Pasangan ini dikaruniai tiga anak, yaitu Axel Tan Siang Tjoen (1932), Lisa Tan Hsi Chun (1935) dan Gijsbert Tan Bing Tjoen (1942). Tan Sin Hok tinggal di Bandung dan bekerja sebagai ahli geologi pada Jawatan Pertambangan milik Pemerintahan Kolonial Belanda (sekarang Badan Geologi) yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Bandung.
Hasil penelitian Tan Sin hok yang dapat dilihat dalam kartu katalog di Perpustakaan Badan Geologi sebanyak 63 entri (laporan, makalah dan disertasi) yang ditulisnya sampai dengan tahun 1942. Entri tersebut menyangkut substansi tentang paleontologi dan sebagian lagi tentang geologi ekonomi yang merupakan hasil penelitian lapangan selama ia bekerja pada Jawatan Pertambangan di Bandung. Satu karyanya yang menjadikan Tan Sin Hok dikenal dunia adalah buku disertasi tentang mikropaleontologi radiolaria dari Pulau Rote. Buku ini perlu dijaga kelestariannya, misalnya dibuat versi digital dengan memindainya (scan) karena kertasnya mulai rapuh.
Selama tinggal di Bandung, beberapa kali keluarga Tan Sin Hok berpindah rumah. Salah satu alamat tempat tinggal yang didiami pada periode 1938-1943 adalah di Van Hoytemaweg (Jalan Sumur Bandung di Kota Bandung sekarang). Alamat di Jalan Sumur Bandung ini menjadi rumahnya yang terakhir, karena setelah itu mereka tinggal di kamp-kamp selama pendudukan Jepang atas wilayah kolonial Belanda dulu. Tan Sin Hok bahkan sempat ditahan di penjara Sukamiskin dan berpisah dari keluarganya yang tinggal berpindah-pindah dari satu kamp ke kamp yang lain, seperti Kamp Cihapit, Bandung dan Kamp Kramat di Batavia (Jakarta).
Dalam suatu kesempatan di bulan November 1945, Tan Sin Hok tinggal di rumah salah satu koleganya di Carel Fabritiuslaan (Jalan Haji Wasid, dekat Taman Panatayuda, Bandung sekarang). Masa itu adalah masa pascakemerdekaan Republik Indonesia. Dalam catatan sejarah ada disebutkan bahwa sejak berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menyebar ke pelosok Indonesia, suasana revolusi menyapu seluruh negeri. Dalam euforia kemerdekaan saat itu, laskar-laskar pemuda dan laskarlaskar rakyat berdiri sendiri, berakibat pada koordinasi yang kacau. Keadaan ini dikenal sebagai masa “Bersiap” (pada periode Agustus 1945 – 1947). Dalam masa tak menentu inilah bangsa Eropa, India dan Tionghoa paling sering menjadi korban perampokan dan pembunuhan.
Di Bandung, pada 30 November 1945 terjadi gegap gempita dan pekik kemerdekaan oleh laskar-laskar rakyat. Segerombolan pemuda sambil meneriakkan yelyel
kemerdekaan memasuki rumah Tan Sin Hok. Puteri Tan Sin Hok, Lisa Tan yang ketika itu berumur 10 tahun menuliskan pengalamannya. Ayahnya terluka parah oleh serangan tembakan gerombolan itu. Ibunya pun terluka di bagian lengan kanan. Setelah dibawa ke Rumah Sakit Borromeus, Tan Sin Hok dinyatakan meninggal pada 1 Desember 1945. Dari cerita kenangan Lisa Tan, ada kesan bahwa Tan Sin Hok dimakamkan di taman di kompleks Rumah Sakit Borromeus.
Tan Sin Hok hanyalah anak desa yang lahir hingga masa remajanya di Cianjur, Jawa Barat. Tetapi hasil karya Tan Si Hok membuat mata dunia melihat Indonesia melalui fosil renik radiolaria yang digambar olehnya sendiri. Sepatutnya kita memberi penghormatan yang tinggi kepada Tan Sin Hok atas hasil karyanya itu.
Wahidin Soedirohoesodo
dr. Wahidin Soedirohoesodo (lahir di Mlati, Sleman, Yogyakarta, 7 Januari 1852 – meninggal di Yogyakarta, 26 Mei 1917 pada umur 65 tahun, EYD: Wahidin Sudirohusodo) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya selalu dikaitkan dengan Budi Utomo karena walaupun ia bukan pendiri organisasi kebangkitan nasional itu, dialah penggagas berdirinya organisasi yang didirikan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen Jakarta itu.
Wondoamiseno
Warkhadun Wondoamiseno (lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 18 Agustus 1891 – meninggal di Jakarta, 11 Desember 1952 pada umur 61 tahun) adalah seorang mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia pada Kabinet Amir Syarifudin I.
Sekolah di Indonesia
| |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Masa kolonial Belanda |
| ||||||
| Masa kolonial Jepang | |||||||
| Masa kemerdekaan | |||||||
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.