ANTARA KERJA DAN MENDIDIK ANAK
Pertanyaan.
Al-Hamdulillah, saya dan suami selalu mengikuti kajian. Sedikit yang mengganjal dalam hati tentang suami saya yang terlalu banyak tidur. Saya tahu, mungkin karena pekerjaan dalam shif 3. Akan tetapi, jika sedang kebagian shif 2 dan 3, seharian di rumah tidur terus. Dia bangun hanya untuk shalat saja.
Al-Hamdulillah, saya dan suami selalu mengikuti kajian. Sedikit yang mengganjal dalam hati tentang suami saya yang terlalu banyak tidur. Saya tahu, mungkin karena pekerjaan dalam shif 3. Akan tetapi, jika sedang kebagian shif 2 dan 3, seharian di rumah tidur terus. Dia bangun hanya untuk shalat saja.
Saya sebagai istri ingin, mumpung suami sedang di rumah, meminta waktu untuk ikut belajar anak-anak membaca Al-Qur'an atau mengatur pelajaran sekolah mereka. Atau berdiskusi dengan saya tentang masalah apa saja. Saya ingin mengungkapkan ini secara langsung kepada suami, tetapi takut. Suami saya setuju Majalah As-Sunnah.
Semoga jawaban dari Redaksi berhasil diterima. Jazakumullahu khairan katsiran.
Jawaban.
Dari pertanyaan di atas, ada dua pertanyaan mendasar. Pertama, tanggung jawab suami mencari nafkah. Kedua, tanggung jawab pendidikan anak dan keluarga.
Dari pertanyaan di atas, ada dua pertanyaan mendasar. Pertama, tanggung jawab suami mencari nafkah. Kedua, tanggung jawab pendidikan anak dan keluarga.
Pertama: Memang tidak dapat dipungkiri, mencari nafkah sudah menjadi kebutuhan keluarga, keluarga dan anak. Suami tidak boleh menyetujui harus makan dan minum. Semoga dalam hadits Mu'awiyah Radhiyallahu anhu tatkala meminta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia bertanya: “Ya, Rasulullah! Apa hak seorang istri yang berhak ia dapatkan? ”Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:“ Engkau beri makan dia apa yang ikut makan. . . ". [HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan an-Nasâ`i].
Kedua, alih orang yang terjerumus di atas, sementara itu ia tidak menyadarinya sebagai suatu kesalahan yang dapat memperbaiki hubungan antara suami dengan istri, demikian pula dengan anak-anak yang semestinya sangat memerlukan bantuan dari yang membantunya. Hanya saja, seorang istri janganlah serta merta langsung menegur, begitu saja tentang yang harus ditunaikannya.
Ada dua hal pokok yang perlu menjadi pertimbangan jika seorang istri ingin meminta pembicaraan kepada suami guna memecahkan masalah yang ia hadapi.
1. Waktu yang tepat. Seorang istri, janganlah mengajak bicara tentang suami yang baru pulang dari kerja atau pulang. Karena ia masih memenuhi syarat dan membutuhkan istirahat.
2. Kondisi atau waktu yang tepat. Yakni dengan memperhatikan masalah atau pembicaraan yang tepat kompilasi akan mengundang berdiskusi dengan suami. Perlu diingat, hati manusia memiliki dua hal yang saling berlawanan arah. Jika salah dalam memilih, maka bukan solusi yang didapat; bahkan bisa menimbulkan masalah baru, jadi masalah menjadi semakin pelik dan rumit. Suasana hati yang ceria dan tiada beban, akan dapat mendukung penyelesaian masalah. Sebaliknya, masalah hati yang sedang gundah dan pecah, ia tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Kondisi hati semacam ini pernah disampaikan oleh Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu, ia berkata:
إِنَّ لِلْقُلُوْبِ لَنَشَاطًا وَإِقْبَالاً ، وَإِنَّ لَهاَ لَهاَ لَهًًََََِِِْ وَإِدبَارًا… (رواه الدارمي)
Sesungguhnya, hati itu kadang timbul semangat dan mau menerima, dan ada kalanya pula ia berpaling dan menolak. [HR ad-Dârimi].
Jika istri melihat kondisi suami telah siap untuk mendengarkan dan menerima saran, masukan, kritik, serta mau diajak berdiskusi, maka mulailah pembicaraan ke arah yang diinginkan. Iringi dengan doa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar sang suami dimudahkan dan dibukakan, serta mau mengerti dan amanah yang harus dipikul bersama.
1. Ingatkan kembali sang suami tentang pertanggungjawaban dan amanah yang harus ia tunaikan. Kewajibannya bukan hanya sekedar mencari nafkah, namun juga memiliki tanggung jawab mengemban amanah dalam mentarbiyah (mendidik) si buah hati. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَضنْ رَعِيَّتِهِ فَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِهِ وَهُوٌَََََََََ متفق عليه
Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di Rumah, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. [Muttafaqun 'alaihi]. [1]
2. Bahwasanya anak yang memiliki hak yang harus dimiliki. Salah satunya pendidikan, diterbitkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
وَإِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ
.. dan sungguh anakmu memiliki hak atas kamu. [HR Muslim]
Selain hak nafkah, pendidikan dan perhatian juga menjadi hak anak yang harus di penuhi.
3. Ajak dan mintalah pendapat tentang cara mengembangkan pendidikan anak, sebelum dalam hal agama (diniyah), baik akidah, ibadah, akhlak juga Al-Qur`ân. Karena perlu pula diingat, tanggung jawab pindah perkembangan mental, pendidikan dan moral anak tidak hanya bertanggung jawab atas istri, tetapi juga menjadi tugas suami yang harus dipikul bersama. Ingatlah, pengaruh tarbiyah yang diberikan orang tua terhadap anak sangat besar. Orang tualah yang memegang kendali dan paling berhasil membentuk karakter dengan baik. Kedua orang tua memiliki andil yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَامِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرُاََنَه
Tidak setiap anak kecuali memilih di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. [Muttafaqun 'alaihi].
4. Menurut para pakar, psikis, perhatian yang diberikan orang tua kepada anak-anak, tetapi ia dapat mengatasi pada kecerdasan anak.
5. Berikan pula perhatian kepada anak. Ingatkan, bahwa pahala yang besar akan diperoleh orang tua yang telah mendidik anak dan melakukannya dengan baik. Sempatkan untuk duduk bersama anak walau hanya sesaat, namun sering. Ini bisa dilakukan untuk bercengkerama dan mendidik sambil meminta hasil dan pengembangan belajarnya. Jangan sampai timbul kesan sebagai anak tidak perlu ayah yang mau memperhatikannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda memberi kabar gembira bagi orang tua yang mau mendidik anak-anak dengan baik:
مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْئٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ متفق عليه
Barang siapa yang membantah dengan anak perempuan lalu dia melakukannya dengan baik, maka anak-anak tersebut akan menjadi penghalang dari api neraka. [Muttafqun 'alaihi].
6. Istri perlu pendamping yang bisa memotivasi, mendidik, sekaligus menjadi qudwah (teladan), sehingga bisa dibuat tepmpat berlindung kompilasi ada masalah. Kepemimpinan seorang suami yang dapat membuat istri aman, tetap ada pelindung, dan pemimpin yang dapat membimbingnya.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنََْ
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melampaui sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. [An-Nisâ `/ 4: 34].
7. Ingatlah, anak shâlih mendapatkan Manfaat dari keshalihan orang tua. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين
Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka memasukkan mereka keimanan, kami menghubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap manusia melakukan apa yang dikerjakannya. [ath-Thûr / 52: 21].
Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar. (Ustadz Muhammad Qasim).
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04 / Tahun XII / 1429H / 2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Faks 0271-858196]
_______
Catatan Kaki
[1]. Hadits tersebut lengkapnya adalah sbb:
_______
Catatan Kaki
[1]. Hadits tersebut lengkapnya adalah sbb:
حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن عبد الله بن دينار عن عبد الله بن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته فالأمير الذي على الناس راع عليهم وهو مسئول عنهم والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم والمرأة رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ َ َ َ َ َ َ َ َ نه فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته
Ibn umar Radhiyllahu anhuma berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Setiap orang adalah pemimpin dan akan diberi pertanggungjawaban atas kepemimpinan yang dipimpinannan. Seorang kepala negara akan bertanggung jawab atas perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan membicarakan perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang meminta bantuan rumah tangga akan diminta perihal tanggung jawab dan tugasnya. Seharusnya yang meminta bantuan adalah pekerja rumah tangga yang akan meminta barang milik majikannya juga. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan disetujui dari hal hal yang dipimpinnya.
Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/2473-antara-kerja-dan-mendidik-anak.html


