Sabtu, 16 Maret 2019

HALALKAH MEMAKAN MAKANAN DARI ACARA BID’AH ?

Gambar mungkin berisi: makanan

HUKUM MEMAKAN MAKANAN DARI ACARA BID’AH

Oleh
Ustadz Anas Burhanuddin, MA.. حفظه الله تعالى

Pertanyaan.

Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh. Ustadz, apa hukumnya memakan makanan dari acara yang tidak diridhai Allâh? Acara ulang tahun misalnya. Jazakallah khair.

Jawaban.

Wa’alaikumussalâm warahmatullâhi wabarakâtuh. Semoga Allâh Azza wa Jalla menghindarkan anda dari perkara haram dan dosa.

Pada masa lalu, perayaan ulang tahun tidak dikenal di kalangan umat Islam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat Islam tidak pernah mencontohkannya. Jika perbuatan itu baik, mereka tentu sudah mendahului kita, karena mereka sangat bersemangat dalam melakukan semua kebaikan. Tradisi ini diimpor dari orang-orang barat yang kafir, sehingga jelas bahwa melakukan perayaan seperti ini merupakan bentuk tasyabbuh bil kuffâr (menyerupai orang-orang kafir) yang dilarang dalam agama Islam.[1]

Jika demikian, maka kita tidak boleh mendukung acara seperti ini, baik dengan menghadirinya, mendanainya atau lain sebagainya, karena itu termasuk kerjasama dalam hal maksiat. Terkait dengan memakan makanan yang dibuat untuk acara itu, jika yang dimaksud dengan memakan makanan saat menghadiri acara ulang tahun atau sejenisnya, maka itu tak lepas dari unsur mendukung maksiat.

Menghadiri acara dan ikut makan berarti ikut mendukung dan meramaikannya, padahal Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan bekerjasamalah dalam kebaikan dan takwa, jangan bahu membahu dalam dosa dan maksiat. Bertakwalah kalian kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh sangat keras siksa-Nya [Al-Mâ`idah/5:2]

Adapun jika makanan itu di antar ke rumah tanpa kita datang ke tempat acara, sebagaimana dilakukan sebagian orang yang menyelenggarakan pesta atau upacara bid’ah, juga orang-orang kafir saat berhari raya, maka kita boleh menerimanya dan memakannya. Demikian dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.[2] Hal itu karena pada hakekatnya, makanan itu halal dan menerima hadiah dari mereka tidak berarti mendukung acara mereka.

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu menerima hadiah dari orang yang merayakan hari raya Nayruz.[3] Aisyah Radhiyallahu anhuma juga ditanya tentang hukum menerima hadiah dari orang Mâjusi saat mereka berhari raya, maka beliau Radhiyallahu anhuma menjawab:

أَمَّا مَا ذُبِحَ لِذَلِكَ الْيَوْمِ فَلَا تَأْكُلُوا، وَلَكِنْ كُلُوا مِنْ أَشْجَارِهِمْ

Adapun yang disembelih untuk acara itu, jangan kalian makan. Makanlah makanan selain sembelihan (sayur, buah dan semacamnya) [HR. Ibnu Abi Syaibah no. 24.371][4]

Setelah menukil atsar ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Semua atsar ini menunjukkan bahwa ‘ied (hari raya) tidak berpengaruh pada bolehnya menerima hadiah dari mereka. Jadi tidak ada bedanya antara menerima hadiah dari mereka, saat ‘ied maupun di luar ‘ied, karena hal itu tidak mengandung unsur mendukung syi’ar kekafiran mereka.”

Sebagian Ulama lagi berpendapat tidak boleh menerima hadiah atau makan hadiah ulang tahun sama sekali. Bagi mereka, hal tersebut tidak lepas dari unsur mendukung acara mereka.

Wallahu A’lam.

Selengkapnya di: https://almanhaj.or.id/4534-hukum-memakan-makanan-dari-acara-bidah.html

JIKA ANAK BERBEDA PENDAPAT DENGAN ORANG TUANYA

Image result for jika anak beda pendapat dengan ortu

JIKA ANAK BERBEDA PENDAPAT DENGAN ORANG TUANYA
Oleh : Fariq Gasim Anuz
🚪🚪🚪🚪🚪🚪🚪🚪
Di kota Riyadh, tepatnya di negara Saudi Arabia, ada seorang janda yang memiliki dua anak laki-laki yang bekerja sebagai sopir taksi. Dua pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Mereka menabung untuk membayar kontrak apartemen yang harga sewa pertahunnya mencapai 24 rIbu real atau sekitar 80 juta rupiah. Susah payah keduanya menabung, sampai terkumpul uang sepuluh ribu real (sekitar tiga puluh delapan juta rupiah). Uang tersebut mereka ikat dengan karet, lalu mereka masukkan kedalam plastik, setelah itu direkatkan dengan lakban hingga benar-benar rapat dan tertutup, kemudian bungkusan uang tersebut disimpan di bawah bantal kamar mereka berdua.
Ketika keduanya pergi bekerja, si Ibu merapikan kamar anaknya. Tanpa sengaja beliau menemukan bungkusan tadi di bawah bantal. Ia terkejut, mukanya langsung memerah dan alisnya mengerut.
“Baru beberapa hari lalu Ibu marah kepada kedua anaknya karena ketahuan main kartu di kamar! Ini dia benda yang sudah membuat mereka lalai!” ucapnya dengan kesal sambil menggenggam erat bungkusan yang ternyata beliau kira itu adalah kumpulan kartu domino.
Meskipun tanpa uang dan bukan judi, tapi bermain kartu itu melalaikan waktu. Masih banyak kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh anak-anak, seperti shalat lima waktu, belajar islam, berbakti kepada orang tua, dan kebajikan lainnya.
Ketika anak yang bungsu pulang ke rumah, langsung saja Ibunya menumpahkan amarahnya karena merasa perintahnya telah diacuhkan. Pemuda ini termenung, ia merasa tidak bersalah karena ia sudah meninggalkan kebiasaan main kartu. Ia menunduk diam tidak membantah saat dimarahi ibunya karena ia sangat memuliakan dan menghormati Ibunya.
Si anak rupanya menyadari bahwa hak orang tua adalah sesuatu yang agung setelah hak Allah untuk diibadahi semata dan tidak dipersekutukan dengan apapun.
Setelah Ibu selesai memarahinya, lalu si bungsu bertanya, "Ibu menemukan kartu dimana?"
"Dibawah bantal!" jawab Ibunya dengan mantap.
"Dimana sekarang kartu tersebut?" tanya anaknya.
"SUDAH IBU BAKAR!" Jawab Ibunya dengan rasa puas telah menghukum anaknya.
Menurut pembaca, kira-kira bagaimana respon anaknya? Apakah ia akan menyalahkan Ibunya? memprotes Ibunya dengan suara yang tinggi bahwa Ibunya telah memfitnah dirinya? Atau apakah anak tersebut akan menjelaskan bahwa yang dibakar oleh Ibunya itu bukan kartu melainkan UANG yang telah susah payah mereka tabung?!
TIDAK!
Si bungsu menundukkan kepalanya, dengan suara perlahan ia meminta maaf kepada Ibunya dan berjanji tidak akan bermain kartu lagi. Amarah Ibu pun mereda lalu beliau melanjutkan kesibukan lainnya di rumah.
Ketika anak pertama pulang ke rumah, si adik langsung menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya bersama ibunya.
Kakaknya bertanya, "Apakah kau ceritakan bahwa yang dibakar oleh Ibu adalah uang?!"
Si adik menjawab, "Tidak! Saya hanya meminta maaf dan berjanji untuk tidak main kartu lagi."
"Bagus! Jangan kau ceritakan hal itu agar Ibu tidak bersedih yang akan mengganggu pikirannya."
*Allah Akbar!* Betapa halusnya perasaan kedua anak itu. Meskipun terlihat jelas bahwa Ibu yang salah tapi kedua anaknya tidak ingin mengeruhkan perasaannya, tidak ingin membuat Ibunya kepikiran dan sedih serta menyesali ketergesaannya dalam memvonis.
Kedua pemuda ini hasil didikan orang tua yang shalih. Keduanya memiliki kepekaan hati dan perasaan yang halus. Kedua anak ini tahu betapa berat perjuangan seorang ibu. Keletihan demi keletihan saat mengandung, fisik yang melemah, mual yang berkepanjangan, muntah-muntah dan dahsyatnya pengorbanan ibu saat melahirkan. Keduanya menyadari bahwa pengorbanan dan kasih sayang orang tua sangat besar, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbanan mereka mengumpulkan uang itu.Mereka memahami bahwa jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan berbakti dan memuliakan kedua orang tua.
Allah berfirman,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada Ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Israa 23)
Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »
“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu berkata,
‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ ‘Ibumu.’ ‘Kemudian siapa lagi?’ ‘Ibumu’. ‘Kemudian siapa lagi?’ ‘Kemudian Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wahai anak-anakku segeralah minta maaf dan minta ridha orang tua. Jangan sampai anda menyesal jika orang tua wafat tapi masih belum ridha dan belum memaafkan kesalahan anaknya. Apapun perbedaan anda dengan orang tua, selama orang tua tidak memerintahkan anda untuk maksiat atau melarang dari kewajiban- maka silakan anda bernegoisasi dengan cara yang baik. Tapi jika tidak ada titik temu ikutilah pendapat orang tua. In sya Allah pendapat orang tua akan mendatangkan kebarakahan.
Kepada orang tua, jadilah orang tua yang bijaksana, tidak menekan jiwa anak. Berkatalah kepada anak-anak dengan santun dan lemah lembut. Sabarlah menghadapi kesalahan-kesalahan mereka. Bimbinglah anak-anak dengan penuh kasih sayang. Ajaklah mereka untuk bermusyawarah. Janganlah gengsi untuk menerima pendapat yang baik dari mereka.
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
"Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."
🚪🚪🚪🚪🚪🚪🚪🚪
Cirebon, 6 Rajab 1440 H /
13 Maret 2019 M
Copas Akhi Dafrizal Al Qahtani
https://web.facebook.com/wati.amin

Salah satu cara belajar agama islam lewat internet


Hasil gambar untuk belajar bahasa arab
Salah satu cara belajar agama lewat internet
1. Kuasai bahasa arab
2. Buat program untuk diri sendiri, kitab-kitab apa aja yang mau dipelajari, sesuai kapasitas dan kemampuan. mulai dari yang mendasar dan mudah.
3. Beli kitabnya, atau download PDF-nya terus dicetak di Makindo Grafika
4. Pilih dars (pelajaran) dari ulama yang membahas kitab tersebut dari awal sampai tuntas, misal Syaikh Shalih Al Fauzan, cek dimari:
http://www.alfawzan.af.org.sa/boosdroos
Syaikh Khalid Al Mushlih, cek dimari:
http://almosleh.com/ar/index.php?go=video&sub=10
Syaikh Abdurrazaq Al Badr, cek dimari:
http://al-badr.net/category/9
5. Ikutin terus dars-dars-nya sambil pegang dan baca kitabnya. Kalo perlu sambil kasih catatan-catatan kecil di kitabnya.
6. Ikutin terus dars-dars-nya yang sabar, pelan-pelan dan bertahap
Semoga berhasil.
@fawaid_kangaswad
https://web.facebook.com/wati.amin

Dari kejadian di New Zealand kita mengambil pelajaran

Keluarga Korban Penembakan Minta Teroris di New Zealand Dihukum Berat

Suara Madinah berada di ‎المسجد النبوي الشريف Almasjid Annabawy‎.
Dari kejadian di New Zealand kita mengambil pelajaran :
.
1. Bahwa kita merasa bersedih dan mengutuk keras serta meminta hukum yang pantas sesuai Syara' bagi pelaku teror di salah satu Masjid di New Zealand.
.
2. Kita sangat bersedih, marah, dan melaknat setiap tindak teror yang dilakukan teroris itu. Namun kita juga bersabar, Bijaksana dan bahkan merasa Ghibtoh (iri yang terpuji) kepada Syuhada' insyaAllah karena mereka masuk dalam hadits shahih "Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).
.
3. Hendaknya media Nasional maupun Internasional memberitakan dan membela kaum muslimin minoritas di seluruh dunia. Dan tidak berat sebelah sebagaimana berita penembakan charlie hebdo.
4. Stop sebarkan Video sadisnya, jagalah perasaan keluarga Korban. Tidak ada yang rela jika sang anak melihat detik detik ayahnya atau ibu nya ditembak membabi buta. Dan sesungguhnya tujuan si teroris adalah untuk membuat sakit hati keluarga korban sesedih sedihnya dengan TERSEBARNYA video kematian saudara mereka. .
Semoga Allah membalas perbuatan kaum yang menyakiti kaum Muslimin atau berniat menyakiti kaum Muslimin.

Saya Seorang Nashrani Menemukan Penyebutan Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Dalam Kitab Saya





Pertanyaan

Saya seorang pemuda beragama Nashrani mempelajari agama Islam dan Nashrani. Saya dapatkan bahwa Nabi Muhamad disebutkan dalam kitab Injil. Tidak ada seorang pun dari kalangan Islam yang ingin mengetahui hakikatnya sedangkan kalangan Nashrani menolak ucapan saya. Apa yang harus saya lakukan?


Jawaban




Alhamdulillah
Wahai pemuda yang budiman.
Apa manfaat bagi anda jika semua orang selamat sedangkan anda binasa? Seandainya semua orang di muka bumi masuk Islam setelah mengetahui apa yang anda kaji dalam kitab Injil lalu mereka masuk surga dan selamat dari Neraka sementara anda tidak dapat mengambil manfaat dari hal itu karena anda tetap dalam agama Nashrani yang telah menyimpang dan anda mati dalam keadaan demikian, semoga tidak. Demi Tuhan, ketika itu, apa manfaat yang anda harapkan?!
Wahai sang pemuda, sesungguhnya yang diharapkan dari anda adalah perkara lain. Mereka tengah mempersiapkan untuk anda yang jika anda cerdas menangkap, sayangi dirimu jika merawat sesuatu yang tak berguna.
Tinggalkan masalah kaum muslimin dan Nashrani. Renungkanlah, apa yang kau tunggu, engkau telah diperlihatkan yang haq dan mengetahui kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dari kitabmu?
Tahukah engkau wahai hamba Allah, bahwa ajaran Allah kepada para hambaNya dan hidayahNya bagi penduduk bumi belum sempurnna dan nikmatNya belum lengkap hingga diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk menyempurnakan risalah para pendahulunnya dari para nabi untuk berdakwah di jalan Allah rabbul aalamiin.
Allah Taala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (سورة المائدة: 3)
“Hari ini aku sempurnakan untukmu agama kalian dan aku sempurnakan untuk kalian kenikmatan dariku dan aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)
Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَثَلِي وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ ، كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا وَأَكْمَلَهَا إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهَا ، وَيَقُولُونَ : لَوْلاَ مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ
“Perumpamaanku dengan para nabi adalah bagaikan perumpamaan seorang yang membangun rumah hingga sempurna kecuali ada satu tempat yang kosong untuk satu batu bata. Orang-orang memasuki rumah itu dan mengaguminya, namun mereka berkata, ‘Sayang sekali, tinggal tempat batu bata ini (yang kosong).”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ ، جِئْتُ فَخَتَمْتُ الأَنْبِيَاءَ (متفق عليه)
“Akulah tempat batu bata itu, aku datang untuk mengakhiri para nabi.” (Muttafaq alaih)
Tahukan anda bahwa Allah telah mengambil janji dari para nabi  dan kaum beriman dari kalangan para pengikutnya agar mereka membenarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam nabi terakhir, yaitu apabila mereka menemui risalahnya dan kenabiannya telah sampai kepada mereka dan mereka telah mengetahui agama dan kitabnya.
Allah Taala berfirman,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (سورة آل عمران: 81)
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, “Sungguh apa saja yang aku berikan kepadmu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pdamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (QS. Ali Imran: 81)
Wahai hamba Allah.
Banyak orang-orang yang mendapatkan hidayah dari penganut agama anda. Mereka segera menjemput alhaq (kebenaran) ketika mereka mendapatkannya dalam kitab mereka. Mereka tak gentar dengan ancaman, tidak tunduk oleh tawaran, baik laki maupun perempuan, bangsa arab atau non arab, para pemimpin atau masyarakat awam. Hendaklah itu semua menjadi teladan bagi jalan anda.
Juga hendaknya kaum Nashrani dari Habasyah menjadi teladan bagi anda, sebab mereka ketika mendengar petunjuk dan mengetahui bahwa hal itu haq serta membenarkan apa yang ada pada mereka dalam kitab Taurat dan Injjil, mereka segera masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhamad shallallahu alaih wa sallam.
Allah Taal berfirman,
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ * وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ * وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ * فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ (سورة المائدة: 82-85)
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nashrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nashrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. Al-Maidah: 82-85)
Megapa mereka tidak bersikap demikian, padahal sikap tersebut telah terlebih dahulu dilakukan raja mereka dalam mengikuti al haq ketika dia sudah mengetahuinya. Dia adalah Najasyi, raja Habasyah.
Simak kisah orang yang berada di sana ketika itu.
Dari Abu Musa radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami berangkat ke negeri Najasyi. Berita tersebut di dengar oleh kaum Quraisy. Maka mereka mengutus Amr bin Al-Ash dan Umarah bin Al-Walid. Mereka mengumpulkan hadiah untuk raja Najasyi. Maka kami datang, dan mereka datang membawa hadiah untuk raja Najasyi, beliau pun menerimanya, lalu mereka bersujud kepadanya.
Lalu berkatalah Amr bin Al-Ash, “Ada kaum dari kalangan kami yang membenci agama kami dan mereka sekarang berada di negerimu.” Lalu raja Najasyi berkata, “Di negeri kami?” Dia berkata, “Ya” Lalu sang raja meminta kami untuk menghadap. Maka berkatalah Ja’far (bin Abu Thalib) kepada kami, ‘Jangan ada di antara kalian yang berbicara. Aku juru bicara kalian hari ini.’ Maka kami menghadap Najasyi dan dia duduk di tempat duduknya. Sedangkan Amr bin Ash berada di sisi kanannya dan Umarah di sisi kirinya, para pastur duduk dalam dua baris yang rapih. Lalu berkatalah Amr dan Umarah, ‘Mereka tidak bersujud kepadamu’. Maka ketika kami datang hingga berada di hadapannya, lalu para pastur tersebut membentak kami dengan berkata ‘Sujudlah kepada raja.’ Ja’far berkata, ‘Kami tidak sujud kecuali kepada Allah’ Berkatalah Najasyi, “Apa yang engkau yakini?’ Dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah mengutus RasulNya kepada kami, Dia adalah Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa akan datangnya seorang rasul yang bernama Ahmad. Dia memerintahkan kepada kami untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kami kepada yang ma’ruf dan melarang kami dari yang munkar.’ Hadirin kagum dengan ucapannya. Ketika hal itu dilihat oleh Amr, dia berkata kepadanya (Najasyi), ‘Semoga Allah berikan kebaikan kepada raja, sesungguhnya mereka menyelisihi anda dalam masalah Isa bin Maryam.’ Najasyi berkata kepada Ja’far, “Apa yang dikatakan sahabatmu tentang Ibnu Maryam?’ Dia berkata, ‘Dia menyampaikan dalam masalah ini, firman Allah, ‘Dia adalah ruh Allah dan kalimatNya, lahir dari gadis yang taat beribadah (Maryam) yang belum pernah disentuh manusia.” Lalu Najasyi mengambil sebatang kayu dari tanah dan diangkatnya, maka dia berkata, “Wahai para pastur dan pendeta, apa yang mereka tambah tentang Ibnu Maryam dari apa yang kalian yakini tidak seberat ini. Selamat datang bagi kalian dan ajaran yang kalian bawa dari sisinya. Aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah dan bahwa dialah yang dikabarkan Isa bin Maryam, seandainya tidak ada kerajaan yang aku jabat, niscaya aku akan mendatanginya untuk membawakan kedua sandalnya. Tinggallah kalian di negeri ini sesuka kalian.’ Lalu beliau perintahkan untuk menyediakan makanan dan pakaian untuk mereka. Lalu dia berkata lagi, ‘Kembalikan hadiah kepada kedua orang itu.” (HR. Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, no. 3208)
Tidakkah anda ketahui wahai hamba Allah, jika anda telah beriman dengan agama anda yang pertama, kemudian tampak jelas bagi anda kebenaran, lalu anda beriman dengan agama Islam dan anda mengikuti rasul penutup para nabi dan rasul, tahukah anda bahwa anda akan mendapatkan pahala dua kali?
Allah Taala berfirman,
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ * وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ * أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ (سورة القصص: 52-55)
“Orang-orang ang telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Quran, mereka beriman (pula) dengan Al-Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al-Quran) itu kepada mereka, mereka berkata, “Kami berikan kepadanya sesungguhnya Al-Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkannya. Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (QS. Al-Qashash: 52-55)
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ : رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ ، وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ ، فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَّاهَا، فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا، ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا، ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ  (رواه البخاري، رقم 3011، ومسلم، رقم 154 واللفظ له)
 “Ada tiga golongan yang akan diberikan para dua kali; Seorang dari Ahli Kitab, dia beriman kepada Nabinya, lalu dia mendapatkan Nabi Muhamad shallallahu alaihi wa sallam, kemudian dia beriman kepadanya dan mengikuti serta membenarkannya, maka baginya dua pahala. Seorang budak yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka baginya dua pahala. Seorang yang memiliki budak wanita, lalu dia beri kebutuhan pangannya dengan baik, kemudian dia didik dengan baik, kemudian dia merdekakan dan dia nikahi, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari, no. 3011 dan Muslim, no. 154, redaksi olehnya)
Akhirnya Allah Taala berfirman dalam perjanjian terakhir, maksudnya Al-Quran,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا * يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا * لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا * فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا * يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا * فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (سورة النساء: 170-175)
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu).  (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah).  Barang siapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.
Kami mohon kepada Allah, semoga Dia memberi taufik kepada anda berupa kebaikan dunia dan akhirat dan melapangkan dada anda dengan petunjuk serta agama yang benar.
Wallahu a’lam.

Saya Orang Nashrani Tetapi Menggunakan Situs Ini Untuk Penelitian

Pertanyaan

Meskipun saya bergama Nashrani, namun saya memakai situs Anda sebagai referensi untuk berbagai ilmu maklumat pada sebagian penelitian saya tentang Islam. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan Anda.

Jawaban
Al-Hamdulillah. Anda masih berumur dua puluh tahun. Waktu masih banyak bagi Anda untuk menelaah, memikirkan dan memandang ulang. Saya yakin bahwa masuknya Anda ke dalam agama Islam bukanlah merupakan saat jelek dalam umur Anda. Anda tahu bahwa banyak musuh-musuh Islam bahkan kalangan pendeta dan pastur seperti Adiy bin Hatim, raja Najasyi dan yang lainnya yang dahulunya berada dalam kekafiran akhirnya diberikan petunjuk masuk Islam oleh Allah. Bagaimanapun adanya, selamat bagi Anda bila Anda ingin memanfaatkan lembaran-lembaran situs kami. Bila Anda memiliki pertanyaan, tidak ada halangan Anda bertanya kepada kami.

Orang-Orang Non Muslim Bertanya Siapa Yang Menciptakan Allah


Pertanyaan

Ketika saya sampaikan kepada orang-orang kafir bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, saat itu mereka bertanya kepada saya siapa yang menciptakan Allah? Dan bagaimana awal mula keberadaannya? Bagaimana saya menjawabnya?
Jawaban
Alhamdulillah.
1.Pertanyaan orang-orang kafir yang diarahkan kepada anda adalah batil secara mendasar dan bertentangan dengan sendirinya! Karena seandainya kita terima bahwa adalah pencipta yang menciptakan Allah, maka sang penanya akan bertanya lagi, siapa yang menciptakan pencipta sang pencipta??!  Kemudian pertanyaan, siapakah yang menciptakan pencipta penciptanya sang pencipta? Demikianlah seterusnya pertanyaan tersebut berantai tak berujung. Ini tentu mustahil secara akal.
Adapun jika seluruh makhluk berhenti kepada sang Khaliq yang menciptakan segala sesuatu dan tidak ada yang menciptakanNya, tapi dialah Sang Pencipta selainNya, inilah yang sesuai dengan akal dan logika, Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2.Adapun dari sisi syariat dan agama kami, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami tentang pertanyaan seperti ini, darimana sumbernya, bagaimana mengatasinya dan menjawabnya.
Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لا يزال الناس يتساءلون حتى يقال هذا خلق اللهُ الخلقَ ، فمن خلق الله ؟ فمن وجد من ذلك شيئا فليقل آمنت بالله
“Orang-orang akan ada saja yang bertanya-tanya, hingga akhirnya akan ditanyakan, Allah yang menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal tersebut, maka ucapkanlah, aku beriman kepada Allah.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu alaihiw a sallam juga bersabda,
يأتي الشيطانُ أحدَكم فيقول من خلق كذا وكذا ؟ حتى يقول له من خلق ربَّك ؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته
“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu? Hingga akhirnya dia akan bertanya siapa yang menciptakan tuhanmu? Jika hal itu terjadi, hendaknya dia berlindung kepada Allah dan sudahilah (jangan turuti menjawab pertanyaannya).” (HR. Muslim)
Dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa sumber dari pertanyaan seperti itu adalah setan, serta dijelaskan pula terapi dan jawabannya, yaitu;
1-Menyudahinya, tidak terbawa bisikan-bisikan setan.
2-Mengatakan ‘Amantu billah wa rusulih’ (Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya)
3-Berlindung kepada Allah dari godaan setan.
Juga terdapat riwayat agar meludah ke kiri sebanyak tiga kali dan membaca surat Al-Ikhlas. (Lihat kitab ‘Syakawa wa Hulul’ di kolom ‘Al-Kutub’ (kitab-kitab) dalam situs ini) 
3.Adapun tentang siapa yang mendahului keberadaan Allah, maka kami mendapatkan berita dari nabi kami, di antaranya;
a.Beliau bersabda;
اللهم أنت الأول فليس قبلك شيء ، وأنت الآخر فليس بعدك شيء (رواه مسلم، رقم 2713)
“Ya Allah, Engkaulah yang awal tidak ada sesautupun sebelumMu, Engkaulah yang akhir, tidak sesudahMu sesuatupun.” (HR. Muslim)
b. Sabdanya,
كان الله ولم يكن شيء غيره " ، وفي رواية " ولم يكن شيء قبله ( رواهما البخاري ، الأولى، رقم 3020 ، والثانية، رقم 6982)
“Allah telah ada dan tidak ada sesuatupun selainNya.” Dalam suatu riwayat, “Tidak ada sesuatupun sebelumnya.” (Keduanya diriwayatkan oleh Bukhari, yang pertama, no. 3020, dan yang kedua, no. 6982)
Tambahan lagi ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran, maka seorang mukmin beriman tanpa ragu, sedangkan orang kafir menentangnya, adapun orang munafik ragu-ragu. Kita mohon kepada Allah semoga dikaruniai iman yang jujur dan keyakinan yang tidak ada keraguan padanya.