Sabtu, 09 Maret 2019

SMU Zaman Belanda bag 2

Algemeene Middelbare School

Algemeene Middelbare School dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Algemene Middelbare School disingkat AMS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda dengan masa studi tiga tahun yang menerima lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs - pendidikan dasar yang diperluas - sekolah setingkat SMP waktu itu).

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting yaitu irigrasitransmigrasi, dan pendidikan.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 tahun dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Frobels), sehingga langsung masuk HIS dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, AMS, atau Kweekschool.
Jalur pendidikan bagi orang Belanda dan Eropa di Hindia Belanda adalah:
Jalur sekolah bagi anak Belanda juga dapat dimasuki oleh anak Bumiputera dan Tionghoa yang terpilih, sedangkan bagi orang pribumi kebanyakan (bukan ningrat) jalur pendidikannya adalah HIS - MULO - AMS.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollandsche Chineesche School atau "sekolah Belanda untuk orang Tionghoa") karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren, dan lainnya.

Jalur Pendidikan AMS

Sampai awal abad ke-20, jalur pendidikan menengah di Hindia Belanda sangat terbatas. Untuk dapat meneruskan ke universitas, siswa harus melanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) - suatu sekolah lanjutan selama 5 tahun yang hanya bisa dimasuki oleh kaum Belanda, Eropa, serta pribumi terpilih. Jumlah HBS pun tidak banyak, hanya ada empat HBS di Hindia Belanda pada tahun 1915, yaitu Koning Willem III School te Batavia (didirikan pada tahun 1860), HBS Surabaya (1875), HBS Semarang (1877), serta HBS Bandung (1915).[1]
Untuk memberikan akses yang lebih baik kepada kaum pribumi, akhirnya dibuatlah sebuah jalur pendidikan menengah yang baru di Hindia Belanda. Pada tahun 1916 Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerima usul dari sebuah komisi tentang pendidikan Algemeene Middelbareschool (AMS). Pada jalur pendidikan menengah ini ditempuh selama enam tahun dalam dua bagian. Bagian bawahnya disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs MULO afdeeling der AMS – pendidikan menengah umum bagian pendidikan dasar yang diperluas, kemudian bagian kedua/atas disebut Voorbereidend Hooger Onderwijs afdeeling der Algemeene Middelbare School (VHO AMS) – pendidikan menengah umum bagian persiapan pendidikan tinggi.[1] Tamatan afdeeling VHO ini dapat diterima berdasarkan peraturan di perguruan tinggi di Negeri Belanda.[2]:2
Pada hari Sabtu, 5 Juli 1919 dibukalah AMS afdeeling B (jurusan wis -en natuurkunde atau 'matematika dan ilmu pengetahuan alam') yang pertama di Yogyakarta;[1] dan kemudian AMS-I (jurusan westersch-klassieke letteren atau 'sastra klasik Barat') di Bandung pada tahun 1920.[2]:3
AMS setara dengan SMA (Sekolah Menengah Atas) pada saat ini yakni pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. AMS menggunakan pengantar bahasa Belanda dan pada tahun 1930-an, sekolah-sekolah AMS hanya ada di beberapa ibu kota provinsi Hindia Belanda yaitu Medan (Sumatera), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Indonesia Timur). Selain itu AMS ada di Yogyakarta (Kasultanan Yogyakarta), Surakarta (Kasunanan Surakarta) dan beberapa kota Karesidenan seperti di Malang. Selain itu ada beberapa AMS Swasta yang dipersamakan dengan Negeri, di provinsi Borneo (Kalimantan) belum ada AMS.
Banyak orang tua murid menyekolahkan anaknya ke AMS, karena dengan harapan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu misalnya ke THS di Bandung (Technische Hoogeschool te Bandoeng - didirikan tahun 1920 - sekarang Institut Teknologi Bandung - ITB), RHS di Jakarta (Rechtshoogeschool te Batavia - didirikan tahun 1924 - sekarang Fakultas Hukum UI Jakarta), GHS di Jakarta (Geneeskundige Hoogeschool te Batavia - didirikan tahun 1927 - sekarang Fakultas Kedokteran UI Jakarta), Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (fakultas sastra dan filsafat - didirikan tahun 1940 di Jakarta), atau ke Bogor di Faculteit der Landbouwwetenschap (fakultas pertanian - didirikan tahun 1940 - sekarang Institut Pertanian Bogor - IPB). Melalui AMS berarti harus menyelesaikan MULO lebih dahulu yang tersebar di hampir semua provinsi yang hanya berjumlah delapan, sedangkan kalau melalui HBS hanya ada di Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, atau Medan.
Jalur A afdeling atau SMA Bagian-A pada tahun 1951 atau sekarang Sastra-Budaya, di mana akan ditekankan pada ilmu sastra dan budaya, tentu saja jalur ini hanya untuk meneruskan ke RHS dan fakultas sastra dan filsafat saja.
Jalur B afdeling atau SMA Bagian-B pada tahun 1951 atau sekarang Paspal, di mana akan ditekankan pada ilmu alam dan ilmu pasti, jalur ini dapat ke semua jurusan THSRHSGHS, fakultas sastra dan filsafat, ataupun fakultas pertanian.

Perkembangan

Tingkat pendidikan di AMS memiliki standar yang sama dengan sekolah-sekolah di Belanda, sehingga bukan merupakan sesuatu hal yang aneh ketika ada murid yang drop out karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Meskipun demikian, pada tahun 1922 AMS B berhasil mewisuda lulusan pertamanya sebanyak 32 orang.
Ketigapuluh dua lulusan pertama ini terdiri dari 13 orang berkebangsaan Eropa, 14 orang pribumi dan 5 orang etnis Tionghoa. Hanya ada tiga orang wanita di antara 32 orang yang lulus pada tahun tersebut. Dari 32 lulusan itu, 12 diantaranya melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng. Sebagian lagi melanjutkan pendidikan di negeri Belanda.[1]
AMS dianggap berhasil memberikan perbaikan dalam pendidikan menengah di Hindia Belanda, utamanya untuk kaum pribumi. Setelah AMS pertama dibuka di Jogja pada tahun 1919, menyusul kemudian AMS A.II dibuka di Bandung pada tahun 1920, AMS A.I di Surakarta pada tahun 1926 dan AMS B di Malang pada tahun 1927.
Dalam 10 tahun perjalanannya, AMS B telah berhasil meluluskan 292 siswa. Ada 38 orang yang melanjutkan pendidikan di TH Bandung, ditambah 12 orang lagi yang sudah lulus dan menerima gelar Insinyur di bidang teknik sipil. Sedangkan dari para alumni yang melanjutkan pendidikan di Belanda, tujuh diantaranya melanjutkan di Delft. Selain itu, tidak sedikit yang melanjutkan pendidikan kedokteran dan hukum di Weltevreden.[1]
Patut menjadi catatan tersendiri, adalah jumlah murid pribumi yang lulus dari AMS B Yogyakarta. Dalam 10 tahun, AMS B telah meluluskan 168 murid yang berasal dari kaum pribumi. Jumlah ini adalah sekitar 57.5% dari jumlah seluruh lulusan AMS B. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding jumlah seluruh lulusan pribumi keempat HBS di Hindia Belanda. Sepanjang eksistensi HBS yang sudah lebih dari 60 tahun ada di Hindia Belanda, tercatat hanya ada 147 lulusan HBS yang berasal dari kaum pribumi. Bandingkan dengan 168 alumni pribumi AMS B dalam 10 tahun. Hal ini merupakan suatu cerminan kesuksesan AMS B dalam memperbaiki pendidikan menengah di Hindia Belanda, namun di sisi lain juga memperlihatkan betapa akses pendidikan bagi kaum pribumi masih sangat terbatas pada masa itu.[1]

Guru AMS

Pada waktu itu, para guru AMS berpendidikan tinggi dari RHSTHSGHS, ataupun LHS. Sehingga misalnya guru aljabar pada umumnya menyandang gelar Ir., guru sejarah menyandang gelar Mr., atau guru botani menyandang gelar dokter (Arts), dan sebagainya.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d e f "5 Juli, Hari Jadi Algemeene Middelbare School Afdeeling B te Djokja" dalam http://padmanaba.or.id/
  2. ^ a b Goenarso (1995). Riwayat perguruan tinggi teknik di Indonesia, periode 1920-1942. Bandung: Penerbit ITB.
Bachtiar Effendi
Bachtiar Effendi (juga dieja Bachtiar Effendy; setelah 1903 – 1 April 1976) adalah seorang aktor dan sutradara film Indonesia yang juga aktif sebagai komentator budaya. Dia terjun ke dunia film pada tahun 1930 dan membuat beberapa film dengan Tan's Film sebelum bergabung dengan kelompok sandiwara Dardanella. Setelah menghabiskan sepuluh tahun di Malaya Britania, dia kembali ke Indonesia dan menyutradarai beberapa film sebelum di kirim ke Italia sebagai press attaché. Dia tinggal di negara itu untuk sisa hidupnya, karena tidak diterima di Indonesia setelah mendukung Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia.
Geneeskundige Hoogeschool te Batavia
Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran) biasa disingkat menjadi GH te Batavia atau GHS yang dibuka sejak 16 Agustus 1927 di Batavia (sekarang Jakarta), adalah perguruan tinggi kedokteran pertama dan lembaga pendidikan tinggi ketiga di Hindia Belanda setelah dibukanya THS Bandung tahun 1920 dan RHS Batavia tahun 1924.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
Ilyas Ya'kub
H. Ilyas Ya'kub (juga dieja Ilyas Yacoub; lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Hindia Belanda, 14 Juni 1903 – meninggal di Koto Barapak, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 2 Agustus 1958 pada umur 55 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Sumatera Barat. Ia ditetapkan sebagai pahlawan melalui Surat Keputusan Presiden No. 074/TK/1999 bertanggal 13 Agustus 1999.
Kedok Ketawa
Kedok Ketawa (juga dikenal dengan judul Belanda Het Lachende Masker) adalah film bandit tahun 1940 dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Ini adalah film pertama Union Film. Film ini disutradarai Jo An Djan dan dibintangi oleh Oedjang, Fatimah, Basoeki Resobowo, dan Eddy Kock. Film ini menceritakan pasangan muda yang menghadapi sekelompok preman dengan bantuan seorang bandit bertopeng.
Diiklankan sebagai "campuran aksi kekerasan Indonesia ... dan romantika yang manis", film ini banyak dipuji, terutama pada sinematografinya. Setelah kesuksesan film tersebut, Union membuat enam karya lainnya sebelum berhenti pada awal 1942 saat pendudukan Jepang. Film ini, yang diputar sampai setidaknya Agustus 1944, kemungkinan hilang dari peredaran.
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
L. N. Palar
Lambertus Nicodemus Palar (lahir di Rurukan, Tomohon, 5 Juni 1900 – meninggal di Jakarta, 13 Februari 1981 pada umur 80 tahun). juga dikenal sebagai Babe Palar menjabat sebagai wakil Republik Indonesia dalam beberapa posisi diplomat termasuk sebagai Perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia juga menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di India, Jerman Timur, Uni Soviet, Kanada, dan Amerika Serikat. Ayahnya bernama Gerrit Palar - seorang penilik sekolah dan ibunya bernama Jacoba Lumanauw. Dianugrahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 November 2013
Mohammad Natsir
Mohammad Natsir (lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 – meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun) adalah seorang ulama, politisi, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Di dalam negeri, ia pernah menjabat menteri dan perdana menteri Indonesia, sedangkan di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.
Natsir lahir dan dibesarkan di Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan kemudian mempelajari ilmu Islam secara luas di perguruan tinggi. Ia terjun ke dunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai politik berideologi Islam. Pada 5 September 1950, ia diangkat sebagai perdana menteri Indonesia kelima. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena berselisih paham dengan Presiden Soekarno, ia semakin vokal menyuarakan pentingnya peranan Islam di Indonesia hingga membuatnya dipenjarakan oleh Soekarno. Setelah dibebaskan pada tahun 1966, Natsir terus mengkritisi pemerintah yang saat itu telah dipimpin Soeharto hingga membuatnya dicekal.
Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam. Selama hidupnya, ia dianugerahi tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Natsir dikenal sebagai menteri yang "tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah."
Mohammad Yamin
Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903 – meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun) adalah sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang telah dihormati sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia dan pelopor Sumpah Pemuda sekaligus "pencipta imaji keindonesiaan" yang mempengaruhi sejarah persatuan Indonesia.
Pendidikan di Indonesia
Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Secara terstruktur, pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), dahulu bernama Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Depdiknas). Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama. Saat ini, pendidikan di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.
Rechtshoogeschool te Batavia
Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) biasa disingkat menjadi RH te Batavia, RH te Weltevreden, atau RHS yang dibuka sejak 28 Oktober 1924 di Batavia (sekarang Jakarta), adalah perguruan tinggi hukum pertama dan lembaga pendidikan tinggi kedua di Hindia Belanda setelah empat tahun sebelumnya THS Bandung dibuka.
Rusli Amran
Rusli Amran (lahir di Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 14 September 1922) adalah wartawan, diplomat, dan sejarawan Indonesia. Ia juga merupakan pendiri sekaligus pemimpin Harian Berita Indonesia, surat kabar pertama setelah Indonesia merdeka.
Setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai diplomat pada tahun 1972, ia mulai banyak melakukan penelitian dan menulis buku-buku tentang sejarah Sumatera Barat. Sementara istrinya mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta sebagai tempat belajar dan pusat dokumentasi koleksi dan arsip Rusli Amran.
SMA Negeri 1 Malang
SMA Negeri 1 Malang, adalah Sekolah Menengah Atas Negeri, yang terletak di jalan Tugu Utara No. 1, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Sekolah ini terletak di dalam satu kompleks dengan Stasiun Malang yang dikenal dengan sebutan SMA Tugu bersama-sama dengan SMA Negeri 3 Malang dan SMA Negeri 4 Malang. mereka dikenal dengan julukan SMA Tugu, dikarenakan terletak di jalan Tugu yang terkenal di Malang.
SMA Negeri 1 Tanjungbalai
SMA Negeri (SMAN) 1 Tanjungbalai, merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia masa pendidikan sekolah di SMAN 1 Tanjungbalai ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII.
Pada tahun 2013, sekolah ini menggunakan Kurikulum 2013 sebelumnya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
SMA Negeri 1 Yogyakarta
SMA Negeri 1 Yogyakarta merupakan salah satu SMA di Yogyakarta. Oleh masyarakat Yogyakarta, sekolah ini sering disebut juga dengan nama SMA Teladan.
SMA Negeri 3 Yogyakarta
SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah salah satu sekolah menengah atas yang berada di Yogyakarta, oleh banyak kalangan lebih dikenal dengan nama PADMANABA atau SMA 3 B, merupakan sekolah menengah tertua di Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
Pada zaman pendudukan Belanda, sekolah ini merupakan AMS Afdeling B, kemudian pada zaman pendudukan Jepang, sekolah ini bernama Sekolah Menengah Tinggi Bagian B Yogyakarta. Baru pada masa setelah kemerdekaan, sekolah ini bernama Sekolah Menengah Atas Bagian B, dan seiring dengan perubahan kurikulum, pernah menggunakan nomenklatur SMU Negeri 3 Yogyakarta, dan sejak diterapkannya Kurikulum SMA Tahun 2006 hingga sekarang sekolah ini bernama SMA Negeri 3 Yogyakarta, dan berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 06 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 127 Tahun 2015 Tentang Penulisan Nama Organisasi Perangkat Daerah, sebuatan untuk SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah SMAN 3 Yogyakarta.[1]
Sekolah menengah atas
Sekolah Menengah Atas (disingkat SMA; bahasa Inggris: Senior High School atau High School), adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat). Sekolah menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.
Pada saat pendaftaran masuk SMA yang menggunakan sistem online, siswa dapat memilih sekolah yang diinginkan dan memilih jurusan yang diminati. Pada akhir tahun ketiga (yakni kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja.
Pelajar SMA umumnya berusia 16-18 tahun. SMA tidak termasuk program wajib belajar pemerintah - yakni SD (atau sederajat) 6 tahun dan SMP (atau sederajat) 3 tahun - meskipun sejak tahun 2005 telah mulai diberlakukan program wajib belajar 12 tahun yang mengikut sertakan SMA di beberapa daerah, contohnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.SMA diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan SMA negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, SMA negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan provinsi.
Soepeno
Soepeno (lahir di Kota Pekalongan, 12 Juni 1916 – meninggal di Ganter, Ngliman, Sawahan, Nganjuk, 24 Februari 1949 pada umur 32 tahun) adalah Menteri Pembangunan dan Pemuda pada Kabinet Hatta I, dan juga tokoh pemuda pada saat Pergerakan Nasional. Dia meninggal dunia sewaktu masih menjabat dalam jabatan tersebut akibat Agresi Militer Belanda II.
Tan Po Gwan
Mr. Tan Po Gwan adalah Menteri Negara Era Kabinet Sjahrir III
Sekolah di Indonesia
Masa kolonial Belanda
Masa kolonial Jepang
Masa kemerdekaan
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

SMP Zaman Belanda

Meer Uitgebreid Lager Onderwijs

MULO (singkatan dari bahasa BelandaMeer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti "Pendidikan Dasar yang Lebih Luas". MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO.

Jenjang studi di MULO terdiri atas tiga tingkatan dalam tiga tahun bagi lulusan ELS dan bagi lulusan selain ELS ditambah dengan kelas persiapan selama satu tahun (total empat tahun), yaitu:
  • Voorklasse (Kelas Persiapan/Pendahuluan - bagi lulusan selain ELS)
  • Kelas I
  • Kelas II
  • Kelas III
COLLECTIE TROPENMUSEUM Groepsportret met leerlingen van de openbare Muloschool TMnr 60016264
Sekolah MULO di Medan (sekitar tahun 1925)

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan (?), Kabupaten (?), Kawedanan (?), atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigasitransmigrasi, dan edukasi.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (speel groep) atau Taman Kanak-Kanak (di antaranya dengan dasar pendidikan Friedrich Fröbel), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, atau Kweekschool. Untuk memasuki HBS diperlukan syarat yang sangat ketat, tamatan HIS tidak dapat masuk HBS.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chineesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada sekolah partikelir seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhammadiyah, Pondok Pesantren, dan lain sebagainya.

Referensi

  1. ^ http://pakguruonline.pendidikan.net/sjh_pdd_sumbar_bab3a.html

Lihat pula

Aidan Sinaga
Aidan Sinaga (lahir di Tarutung, Sumatera Utara, 6 Maret 1906; umur 113 tahun).
Pendidikannya adalah H.K.S Hoofd-Actie Cursus.
Tokoh ini pada mulanya adalah guru HIS (Hollands Inlandse School) di Kandangan tahun 1935. Selain itu dia juga mengajar di HIS Banjarmasin dan sekolah Hutsu Cho-Gakko (pengganti MULO/Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) pada masa pendudukan Jepang.
Pada zaman setelah kemerdekaan, A.Sinaga aktif di organisasi kepartaian, yaitu bersama dr. D.S. Diapari, dr. Suranto, A.A. Rivai, R. Sya'ban, E.S. Handuran, dan Abdullah mendirikan partai politik Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI) pada tanggal 19 Januari 1946 di Banjarmasin. Sebagai dengan Ketua Umum D.S. Diapari, Wakil Ketua I A.A. Rivai, Wakil Ketua II A. Sinaga. Sekretaris Umum E.S. Handuran dan beberapa pengurus lainnya.
Tujuan pembentukan SKI adalah untuk sarana perjuangan di bidang diplomasi politik, untuk mendukung perjuangan rekan-rekan di bidang militer, pimpinan Hasan Basry. Menyikapi Persetujuan Linggarjati, yang isinya tidak memasukkan Kalimantan sebagai wilayah dari Republik Indonesia, maka Aidan Sinaga, E.S. Handuran dan A.A. Rivai menghadap Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta di Yogyakarta dan menyampaikan surat pernyataan bertanggal 20 November 1946 berisi dukungan dan kesetiaan SKI terhadap Republik Indonesia
Perjuangannya bersama tokoh-tokoh SKI lainnya berhasil mendominasi anggota Dewan Banjar, sebuah badan legislatif bentukan Belanda. Dari 7 kursi yang tersedia, 5 kursi diduduki orang-orang SKI. Sehingga Dewan banjar lebih berpihak pada perjuangan menuju Negara Kesatuan daripada menyalurkan keinginan Belanda untuk membentuk negara perserikatan.
Sebelum Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, A. Sinaga bersama A.A. Rivai sebagai utusan BFO dari Dewan Banjar mengikuti persidangan antara Delegasi Republik Indonesia di Scheveningen dan ‘s-Gravenhage, membicarakan persiapan pembuatan Konstitusi RIS. A.A. Rivai sebagai wakil dari Dewan Banjar ikut membubuhkan tanda tangan pada Piagam Persetujuan Naskah Undang-undang Dasar Peralihan bernama Konstitusi Republik Indonesia. Mereka berdua selanjutnya mengikuti Persidangan KMB di Den Haag. Sehabis dari KMB, keduanya pulang ke Indonesia dengan pesawat constellation KLM tanggal 9 November 1949. bersama utusan-utusan lainnya.
Sesudah pengakuan kedaulatan, ia dipercaya sebagai Wali kotapraja Banjarmasin (1950-1958).
Algemeene Middelbare School
Algemeene Middelbare School dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Algemene Middelbare School disingkat AMS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda dengan masa studi tiga tahun yang menerima lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs - pendidikan dasar yang diperluas - sekolah setingkat SMP waktu itu).
Anwar Musaddad
Anwar Musaddad atau terkenal dengan sebutan Prof. K.H. Anwar Musaddad (lahir 3 April 1909 di Desa Ciledug, Kabupaten Garut - meninggal 21 Juli 2000 di Garut pada umur 91 tahun) adalah seorang ulama terkemuka asal tanah Sunda, seorang guru besar Ilmu Perbandingan Agama dan kristologi serta seorang di antara lima ulama kharismatik (KH. Muhammad Ilyas Ruhiat, K.H. Totoh Abdul Fatah Ghazali, K.H. Irfan Hielmy, K.H. Abdulah Abbas) Jawa Barat yang hafidz al-Qur'an.
Basuki Resobowo
Basuki Resobowo adalah seorang seorang pelukis Indonesia yang lahir pada tahun 1916 di Palembang, Sumatra Selatan dan wafat pada tanggal 5 Januari 1999 di Amsterdam Belanda. Ia lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Prawiroatmojo, seorang asal Purworejo Jawa Tengah, hidup sebagai mantri ukur di kawasan transmigrasi dan perkebunan di Palembang dan Lampung. Sejak masa kanak-kanak Basuki Resobowo telah senang menggambar.
Ia kemudian hijrah ke Jakarta (Betawi) bersama pamannya, seorang polisi pada masa kolonial. Di sana, Ia menempuh pendidian di ELS (Europesche Largere School). Setelah menamatkan studinya di ELS, ia kemudian tinggal bersama pamannya yang lain, seorang nasionalis terdidik mantan anggota Budi Utomo dan anggota Serikat Theosofi. Pada tahun 1930 saat belajar di MULO(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), ia mengiikut Kepanduan Bangsa Indonesia dan menjadi anggota perkumpulan Indonesia Muda, di samping menjadi anggota pandu National Islamitisch Padvinerij.
Tercatat dari tahun 1987 sampai akhir tahun 1989, sudah berjilid-jilid buku ditulisnya dan diterbitkannya sendiri. Judul bukunya tersebut antara lain Becermin Di Muka Kaca, Riwayat Hidupku, Karmiatun (jilid 1 Januari 1988, jilid ke-6 Januari 1989) dan cerita bergambar Cut Nyak Din(jilid ke-1 dan ke-2). Selain itu ia juga menerbitkan tulisan-tulisan berbentuk jurnal dan serentetan karikatur. Ia juga ikut menyumbangkan esai tentang seni rupa kepada beberapa majalah dan kemudian dicetak dan dibukukan dalam buku berjudul Seniman, Seni, dan Masyarakat (1994).
Gereja Santa Theresia Jakarta
Gereja Santa Theresia atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Theresia adalah sebuah gereja Katolik di Jakarta. Letaknya di Jalan Gereja Theresia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.
Hollandsch-Inlandsche School
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (sekolah Belanda untuk bumiputera) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.
Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.
Jalan Hayam Wuruk (Jakarta)
Jalan Hayam Wuruk (Dahulu Molenvliet Oost) Adalah Nama Jalan Di Jakarta yang menghubungkan Kota lama dan Kota baru. Di bagian tengah jalan itu mengalir Kali Ciiiwung. Jalan ini dibuat tahun 1648 oleh pemuka masyarakat Phoa Beng Gan. Molenvliet Oost berarti jalan yang berada di sisi sebelah timur kali. Dari Noordwijk dulu tidak ada akses menuju jalan ini karena masih dipenuhi dengan pemukiman pribadi (1800). Di sepanjang jalan berdiri banyak bangunan seperti rumah Beynon, Hotel Ernst, dan tanah perkebunan milik van der Parra.
Jalan Prapatan (Jakarta)
Jalan Prapatan adalah nama salah satu jalan utama Jakarta.
Jalan Veteran (Jakarta)
Jalan Veteran adalah salah satu jalan di Jakarta Pusat.
Museum Wayang
Museum Wayang adalah sebuah museum yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat.
Palmerah, Jakarta Barat
Kecamatan Palmerah terletak di Jakarta Barat.
Pelabuhan Tanjung Priok
Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia yang terletak di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor maupun barang antar pulau.
SMP Negeri 1 Bogor
SMP Negeri 1 Bogor adalah sekolah menengah pertama yang berdiri di Kota Bogor. Sekolah ini dulunya bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau jika diartikan, berarti "Pendidikan Dasar Lebih Tinggi".
SMPN 1 Bogor telah diseleksi oleh Direktorat Pembinaan SMP Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas sebagai rintisan Sekolah Standar Nasional (SSN). Kemudian pada tanggal 14 Maret 2007 SMPN 1 Bogor ditetapkan sebagai Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dengan Surat Keputusan No. 543/C3/KEP/2007 oleh Direktur Pembinaan SMP Dirjen Manajemen Disdiknas Depdiknas..
SMP Negeri 2 Semarang
SMP Negeri 2 Semarang, merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri yang ada di Provinsi Semarang,Jawa Tengah, Indonesia. SMP Negeri 2 Semarang memiliki Program khusus Akselerasi yang pertama kali di Jawa Tengah dari tahun 2000,Tetapi Sekarang Sudah Ditiadakan
SMP Negeri 5 Jakarta
SMP Negeri 5 Jakarta merupakan sebuah sekolah Menengah Pertama Negeri yang terletak di Jalan Dr.Soetomo no. 5, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Indonesia, karenanya lebih dikenal dengan "DHOEZT"
Dibangun pada tahun 1917 untuk digunakan sebagai sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat SMP pada zaman Belanda. Bangunan depan terdiri dari dua lantai yang digunakan untuk ruang kepala sekolah, ruang-ruang guru dan staf administrasi. Bangunan sayap kiri dan kanan terletak memanjang ke belakang berlantai satu dan digunakan sebagai ruang-ruang kelas, kedua bangunan sayap tersebut dihubungkan dengan bangunan aula terbuka pada bagian belakang, sehingga membentuk ruang terbuka pada bagian tengah dan kiri difungsikan sebagai lapangan olahraga.
Setelah kemerdekaan sekolah ini terbentuk pada tahun 1951. Sekolah ini sempat digunakan bersama juga dengan SMP Negeri 10 Jakarta. Namun akhirnya mereka pindah ke gedung baru di Kemayoran.
Salemba
Salemba adalah nama sebuah kawasan di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Salemba merujuk pada nama lain dari Jeremias Latuihamalo, Raja Ullath, yang kemudian ditunjuk oleh Thomas Matulessy menjadi Raja negeri Porto dan mendampingi Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura sebagai penasehat dalam perang melawan Belanda.Dia akhirnya tertangkap pada akhir peperangan, diinterogasi pada tanggal 24 Desember 1817, pada tanggal 2 Februari 1818 dijatuhi hukuman gantung oleh Ambonsche Raad van Justitie (Pengadilan Belanda di Ambon)namun diberi keringanan oleh Buykes menjadi hukuman pembuangan ke Pulau Jawa selama 25 tahun. Yeremias Latuihamallo berangkat ke Batavia dengan kapal perang “Wilhelmina” untuk menjalani hukuman penjara .
Nama Salemba bisa pula merujuk kepada Rutan Lembaga Pemasyarakatan yang berada di sini. Nama ini juga terkenal karena adanya Universitas Indonesia yang terletak di daerah tersebut.
Gedung-gedung lain yang terkenal dan terletak di sini adalah:
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM)
Rumah Sakit Sint Carolus
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Lembaga Alkitab Indonesia
Universitas Kristen Indonesia
Universitas Gunadarma
Slamet Iman Santoso
Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso (lahir di Wonosobo, 7 September 1907 – meninggal di Jakarta, 9 November 2004 pada umur 97 tahun) adalah seorang pakar psikologi Indonesia. Ia memelopori berdirinya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan menjabat sebagai dekan pertama fakultas tersebut.
Ia menempuh pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) dan Hollandsch Inlandsche School antara tahun 1912 dan 1920; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Magelang pada tahun 1920 hingga 1923; MAS-B di Yogyakarta pada 1923 hingga 1926; Indische Arts STOVIA pada tahun 1926 hingga 1932; dan Geneeskunde School of Arts Batavia Sentrum pada 1932 hingga 1934.Slamet Iman Santoso menduduki posisi Pembantu Rektor I ketika Sjarif Thajeb (1962–1964) dan Sumantri Brodjonegoro (1964–1973) menjabat sebagai Rektor UI. Menyusul kematian Sumantri Brodjonegoro pada tahun 1973 ketika tengah menjabat sebagai rektor, Slamet Iman Santoso ditunjuk menjadi Pejabat Rektor UI. Ia mengakhiri jabatannya pada tahun 1974, ketika jabatan itu beralih ke Mahar Mardjono.
Atas jasa-jasanya di bidang psikologi, Slamet Iman Santoso dikenal sebagai Bapak Psikologi Indonesia.
Walujati
Walujati (Sukabumi, Jawa Barat, 5 Desember 1924) adalah penyair dan cepernis. Ia mempunyai nama lainnya Wiesye. Pernah belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs di Sukabumi dan di Hogere Burger School di Bogor. Karyanya terangkum dalam Gema Tanah Air (1948), Pujani (1951), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979), Tonggak 1 (1987), Ungu: Ontologi Puisi Wanita Penyair Indonesia.
Wikana
Wikana (lahir di Sumedang, Jawa Barat, 18 Oktober 1914 - meninggal di ?, 1966) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Bersama Chaerul Saleh, Sukarni dan pemuda-pemuda lainnya dari Menteng 31, mereka menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok dengan tujuan agar kedua tokoh ini segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan setelah kekalahan Jepang dari Sekutu pada tahun 1945. Wikana termasuk dalam daftar orang yang menghilang dan diduga meninggal dibunuh dalam lembaran hitam tragedi Pembantaian di Indonesia 1965–1966 pasca peristiwa G30S.
Sekolah di Indonesia
Masa kolonial Belanda
Masa kolonial Jepang
Masa kemerdekaan
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

SD Zaman Belanda

Europeesche Lagere School

ELS (singkatan dari bahasa BelandaEuropeesche Lagere School) adalah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. ELS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajarnya.

ELS atau Sekolah Rendah Eropa tersebut diperuntukkan bagi keturunan peranakan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. ELS yang pertama didirikan pada tahun 1817 dengan masa sekolah 7 tahun.
Awalnya hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda, sejak tahun 1903 kesempatan belajar juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu (dari golongan tertentu) dan warga Tionghoa. Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan HCS, sehingga ELS kembali dikhususkan bagi warga Belanda dan Eropa saja.
Sekolah khusus bagi warga pribumi kemudian dibuka pada tahun 1907 (yang pada tahun 1914 berganti nama menjadi (Hollandsch-Inlandsche School (HIS)) dengan lama belajar 7 tahun, diperuntukan bagi keturunan Indonesia asli yang umumnya anak bangsawan, tokoh terkemuka, atau pegawai negeri.
Sementara sekolah bagi warga Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS) dibuka pada tahun 1908 dengan lama belajar 7 tahun. HCS dan HIS tersebut digolongkan dalam Eerste Klasse School atau Sekolah kelas Satu yang diperuntukan bagi penduduk non Eropa.
Kesetaraan jenjang pendidikan sekolah rendah (sekarang Sekolah Dasar): ELS - HIS - HCS

Lihat pula

Agus Salim
Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.
Algemeene Middelbare School
Algemeene Middelbare School dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Algemene Middelbare School disingkat AMS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda dengan masa studi tiga tahun yang menerima lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs - pendidikan dasar yang diperluas - sekolah setingkat SMP waktu itu).
Andi Sultan Daeng Radja
Haji Andi Sultan Daeng Radja (lahir di Matekko, Gantarang, Bulukumba, 20 Mei 1894 – meninggal di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, Sulawesi Selatan, 17 Mei 1963 pada umur 68 tahun) adalah seorang tokoh kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan. Ia adalah putra pertama pasangan Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong. Semasa muda, Sultan Daeng Radja dikenal taat beribadah dan aktif dalam kegiatan Muhamamadiyah. Ia merupakan pendiri Masjid Tua di Ponre yang pada jamannya terbesar di Sulawesi Selatan.
Tahun 1902, Sultan Daeng Radja masuk sekolah Volksschool (Sekolah Rakyat) tiga tahun di Bulukumba. Tamat dari Volksschool, dia melanjutkan pendidikannya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bantaeng. Selesai mengenyam pendidikan di ELS, Sultan Daeng Radja melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Makassar.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di OSVIA pada tahun 1913, Sultan Daeng Radja yang saat itu, masih berusia 20 tahun diangkat menjadi juru tulis kantor pemerintahan Onder Afdeeling Makassar. Bebeberapa bulan kemudian, dia diangkat menjadi calon jaksa dan diperbantukan di Inl of Justitie Makassar. Tanggal 7 Januari 1915 diangkat menjadi Eurp Klerk pada Kantor Asisten Residen Bone di Pompanua.
Selanjutnya, dia dipindahkan lagi ke Kantor Controleur Sinjai sebagai Klerk. Dari Sinjai ditugaskan ke Takalar dan mendapat jabatan wakil kepala pajak. Selanjutnya ditugaskan ke Enrekang dengan jabatan kepala pajak. Tahun 1918, dia ditugaskan sebagai Inlandsche Besteur Asistant di Campalagian, Mandar.
Tanggal 2 April 1921, pemerintah mengeluarkan surat keputusan mengangkat Sultan Daeng Radja menjadi pejabat sementara Distrik Hadat Gantarang menggantikan Andi Mappamadeng Daeng Malette yang mengundurkan diri karena tidak bisa bekerjasama lagi dengan pemerintah kolonial Belanda. Pengunduran diri Andi Mappamadeng tersebut hingga kini masih menjadi kontroversi, sebab Andi Mappamadeng Daeng Malette merupakan sepupu satu kali dari Sultan Daeng Radja. Pada waktu itu pula, Sultan Daeng Radja mendapat kepercayaan menjadi pegawai pada kantor Pengadilan Negeri (Landraad) Bulukumba.
Kembalinya Andi Sultan Daeng Radja ke Bulukumba, mendorong Dewan Hadat Gantarang (Adat Duapulua) mengadakan rapat memilih calon kepala adat. Rapat tersebut kemudian memutuskan Andi Sultan Daeng Radja menjadi Regen (Kepala Adat) Gantarang. Jabatan ini diembannya hingga pemerintahan Belanda menyatakan pengakuannya atas kedaulatan Republik Indonesia.
Tahun 1930, Andi Sultan Daeng Radja mendapat kehormatan menjadi Jaksa pada Landraad Bulukumba. Setelah proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, pemerintah NICA menuduh Andi Sultan Daeng Radja terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI sehingga ia tidak lagi digunakan sebagai pemerintah.
NICA kemudian menahan dan mengasingkan Sultan Daeng Radja ke Menado, Sulawesi Utara. Tanggal 8 Januari 1950, setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pengakuan kedaulatan RI oleh Pemeritah Belanda, Sultan Daeng Radja kemudian dibebaskan oleh Belanda dan kembali ke Bulukumba. Pada 1 Juli 1950 Andi Sultan Daeng Radja mundur dari jabatannya sebagai Kepala Adat Gantarang dan digantikan oleh putranya Andi Sappewali Andi Sultan.
Setelah mundur dari jabatannya selaku Kepala Adat Gantarang, Menteri Dalam Negeri berdasarkan Surat Keputusan tertanggal 11 Juni 1951 mengangkatnya menjadi bupati pada kantor Gubernur Sulsel. Tanggal 4 April 1955, dia ditugaskan sebagai Bupati Daerah Bantaeng dan diangkat menjadi pegawai negeri tetap.
Tahun 1956, Sultan Daeng Radja diangkat menjadi residen diperbantukan pada Gubernur Sulsel sesuai keputusan presiden. Setahun kemudian dia diangkat menjadi Anggota Konstituante.
Andi Sultan Daeng Radja wafat pada 17 Mei 1963 di Rumah Sakit Pelamonia Makassar dalam usia 70 tahun. Semasa hidupnya, Andi Sultan Daeng Radja memiliki empat istri dan 13 anak.
Besar Mertokusumo
Besar Mertokusumo atau dikenal juga dengan Mas Besar Martokoesoemo adalah seorang pengacara atau advokat pertama Indonesia dan wali kota Tegal yang lahir di Brebes, 8 Juli 1894. Ia menikah dengan Raden Ajoe Marjatoen dan dikaruniai empat orang anak yaitu Mas Roro Marjatni, Mas Roro Indraningsih, Mas Soeksmono dan Mas Wisnoentoro merupakan wali kota bangsa Indonesia Pertama serta tercatat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Mantan Sekjen Departemen Kehakiman itu mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Rendah Belanda (Europeesche Lagere School-ELS) di Pekalongan dan lulus pada 1909. Enam tahun kemudian, lulus dari Rechtschool di Jakarta, kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden, Belanda dan lulus pada 1922.
Boes Boestami
Boes Boestami (Ejaan Yang Disempurnakan: Bus Bustami; 30 Desember 1922 – 11 September 1970) adalah seornag jurnalis dan pemeran film Indonesia. Ia sebagian besar dikenal karena peran-peran lawaknya.
Danurejo IX (VIII)
Kangjeng Pangeran Haryo Hadipati Danurejo yang kemudian dikenal dengan Danurejo VIII dilahirkan tanggal 3 September 1882 di Yogyakarta dengan nama RM Subari. Ayahnya adalah Pangeran Haryo Buminoto putera Sultan Hamengkubuwono VI. Pendidikan formal yang diperoleh adalah ELS (Europeesche Lagere School). Pada usia 12 tahun (1894) dia sudah diangkat menjadi abdidalem (Pegawai Kerajaan) dengan pangkat Jajar Panakawan Bedaya. Setelah 14 tahun (1904) pangkatnya dinaikkan menjadi Bekel Punakawan Bedaya dengan gelar Raden Bekel Mangkunadi.
Pada 1909 dia diangkat menjadi Panewu Palang Negari (Sekretaris) di Kabupaten Kalasan dan bergelar Raden Panewu Mangundimejo. Selang lima tahun kemudian, pada 1914, dia dinaikkan pangkatnya menjadi Panji (Kepala Distrik) di Semanu Kabupaten Gunung Kidul dan bergelar Raden Panji Harjodipuro yang kemudian diubah menjadi Harjokusumo. Tahun 1919 Sultan mengangkatnya menjadi Bupati Pangreh Praja Kalasan dan bergelar Raden Tumenggung Harjokusumo. Pada 1927 dia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Kota Yogyakarta yang merupakan gabungan Kabupaten Sleman, Kalasan, dan Kota Yogyakarta.
Pada 30 November 1933 dia dilantik menjadi Pepatih Dalem Danurejo VIII. Permaisuri dia adalah GKR Candrakirono, putri Sultan Hamengkubuwono VII. Pada 11 September 1942 oleh Jepang dia dilantik menjadi Yogyakarta Kooti Somu Tyookan. Setelah menjabat Pepatih Dalem selama lebih dari sebelas tahun, pada 14 Juli 1945 dia diberhentikan dengan hormat atas permohonannya sendiri dan diberikan pensiun. Seluruh tugas-tugasnya diambil alih oleh Sultan Hamengku Buwono IX mulai 1 Agustus 1945. Dengan demikian dia merupakan Pepatih Dalem terakhir yang dimiliki oleh Kesultanan Yogyakarta. Setelah pensiun dia bergelar KPHH Harjokusumo.
Hogereburgerschool
Hoogere Burgerschool dalam ejaan bahasa Belanda lebih baru Hogere Burgerschool disingkat HBS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam lima tahun atau setara dengan MULO + AMS (SMP + SMA).
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
Loa Sek Hie
Loa Sek Hie Sia (1898-1965) adalah seorang tokoh politik, anggota Volksraad dan tuan tanah di saat akhir era Hindia Belanda. Ia adalah salah-satu pendiri dan kepala barisan keamanan Pao An Tui menjelang Revolusi Nasional Indonesia(1945-1949).
Margono Djojohadikoesoemo
Raden Mas Margono Djojohadikusumo (lahir 16 Mei 1894 – meninggal 25 Juli 1978 pada umur 84 tahun) adalah pendiri Bank Negara Indonesia. Ia adalah orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, dan juga ayah dari dua pemuda yang gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong: Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo. Nama mereka diabadikan dalam nama cucunya, politikus dan mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad, Prabowo Subianto, serta pengusaha Hashim Sujono.
Margono Djojohadikusomo yang lahir pada tanggal 16 Mei 1894 di Purwokerto, adalah cucu buyut dari Raden Tumenggung Banyakwide atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Banyakwide, pengikut setia dari Pangeran Diponegoro, dan anak dari asisten Wedana Banyumas. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas, adalah sebuah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Belanda di Banyumas, dari tahun 1900-1907.
Mohammad Nazir
Laksamana Muda TNI (Purn.) Mohammad Nazir Isa gelar Datuk Basa Nan Balimo (lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 10 Juli 1910 – meninggal di Jakarta, 30 Agustus 1982 pada umur 72 tahun) adalah seorang tokoh militer, menteri, dan diplomat Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (1946-1948), Menteri Pelayaran Republik Indonesia (1957-1959), dan juga pernah dipercaya sebagai Duta Besar RI di Swiss dan VatikanKini Namanya diabadikan menjadi nama jalan di depan mako Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V
SMP Negeri 2 Bandung
SMP Negeri 2 Bandung adalah sekolah menengah pertama yang berada di kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, dan berlokasi di Jalan Sumatera no. 42, Kecamatan Sumurbandung, Kota Bandung.
SMP Negeri 2 Yogyakarta
SMPN 2 Yogyakarta adalah sekolah menengah pertama di Yogyakarta yang didirikan pada zaman Jepang tanggal 12 September 1942,dengan menempati gedung pada saat itu di Jalan Ungaran yang sekarang ditempati SD Ungaran. Sekolah ini terletak di Jalan Panembahan Senopati 28-30 Yogyakarta.
Pada bulan Juli 1981, gedung yang semula hanya 2.585,41 m2, diperluas menjadi 3500 m2 karena diserahkannya gedung di sebelah barat yaitu bekas kantor Metrologi untuk tambahan ruang kelas.
Setiap tanggal 12 September ditetapkan sebagai hari ulang tahun SMP Negeri 2 Yogyakarta dan dalam kurun waktu 74 tahun (1942-2016) telah terjadi dua puluh satu kali penggantian Kepala Sekolah.
Sekolah induk di Jalan Ungaran ini mempunyai filial di Jalan Pakem yang sekarang digunakan oleh SMA Negeri 6 Yogyakarta (SMU 6). Sekolah induk dan filial ini tetap terpisah karena sarana yang belum memungkinkan pada waktu itu. Pada tahun 1944 Sekolah induk dan filialnya dapat dipersatukan dan menempati gedung HBS (Hoogere Burgar School) di Jetis, yang sekarang gedung itu ditempati oleh STM Negeri 1 Yogyakarta (SMK 2 Yogyakarta).
Tahun 1945 datang perintah agar SMP Negeri 2 Yogyakarta segera pindah menempati gedung baru yaitu gedung Susteran yang terletak di Jalan Setjodiningratan sampai dengan tahun 1948. Tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerbu Yogyakarta, sehingga SMP Negeri 2 Yogyakarta tidak luput dari sasaran keganasan tentara Belanda, sekolah terhenti untuk sementara karena mereka justru bermarkas di sekolah ini, peralatan dan mebeler habis dirusak oleh Belanda untuk keperluan dapur umum.
Sesudah suasana aman kembali, maka mulailah dibenahi dan SMP Negeri 2 Yogyakarta pindah lagi menempati Gedung Eerste Europeesche Lagere School B yang terletak di Jalan Setjodiningratan (Jalan Panembahan Senopati 28) sampai sekarang sedang SMP Negeri 3 Yogyakarta dipindahkan ke Jalan Pajeksan hingga sekarang.
1942 sampai dengan 12 September 2003 telah terjadi dua puluh kali penggantian Kepala Sekolah.
Dalam perkembangan selanjutnya, suatu hal yang sangat menggembirakan ialah berhasilnya gedung bekas Kantor Metrologi yang terletak di Jalan P. Senopati 26 diserahkan penggunaannya untuk tambahan ruang kelas SMP Negeri 2 Yogyakarta, berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta nomor : 183/KPTS/1981 tertanggal 24 Juli 1981. Jadi luas tanah SMP 2 menjadi 3.200 m2 luas bangunan 2.585,41 m2
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1981, dan keberhasilan ini semua tidak lepas dari kegigihan serta perjuangan tokoh-tokoh /pimpinan baik dari unsur BP-3 yang saat itu diketuai oleh Bapak dr. R.Sutarjo Tjokromiharjo, Kepala Sekolah yang saat itu dipegang oleh Bapak Drs. Nyoman Radjeg, Kepala Kanwil Depdikbud Prop. DIY yang saat itu dipegang oleh Bapak Drs. GBPH. Poeger maupun Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan keberadaan SMP Negeri 2 Yogyakarta ini telah dikuatkan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor : 2106/B.II tanggal 23 Juli 1951. Demikian riwayat singkat SMP Negeri 2 Yogyakarta tercinta, semoga jaya sepanjang masa.
Adapun sebagai tonggak sejarah pendiri SMP Negeri 2 Yogyakarta ialah
Bapak Khasan Basar ( 1942 - 1948 )
Bapak Mariyatmo ( 1948 - 1948 ) ± 6 bl.
Bapak Yudjamal ( 1949 - 1950 )
Bapak Sadiman Muliosumarto ( 1950 - 1954 )
Bapak Soeitoe ( 1954 - 1956 )
Bapak Saridi ( 1956 - 1958 )
Bapak Gondodiprojo ( 1958 - 1958 ) ±11 bl.
Bapak Brotoatmodjo ( 1958 - 1961 )
Bapak St. Soemadi ( 1961 - 1964 )
Bapak R. Soewarso ( 1964 - 1967 )
Bapak Bariyoen Hadimartono ( 1967 - 1969 )
Bapak Gunadi Martosusiswo ( 1969 - 1972 )
Bapak Masdhuki, BA ( 1972 - 1974 )
Bapak Rd. E. Suprapto ( 1974 - 1977 )
Bapak Drs. Nyoman Radjeg ( 1977 - 1984 )
Bapak Drs. Sriyono ( 1984 - 1992 )
Bapak Y. Tarmono ( 1992 - 1996 )
Bapak Army Kasiran, BA ( 1996 - 2002 )
Bapak Drs. Paijan ( 2002 - 2008 )
Bapak Drs. Emed Heryana ( 2008 - 2015)
Bapak Widayat Umar,S.Pd.,M.Pd.Si ( 2016 – sekarang)
Sekolah dasar
Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School atau Primary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTP.
Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 6-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 6-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.
Slamet Iman Santoso
Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso (lahir di Wonosobo, 7 September 1907 – meninggal di Jakarta, 9 November 2004 pada umur 97 tahun) adalah seorang pakar psikologi Indonesia. Ia memelopori berdirinya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan menjabat sebagai dekan pertama fakultas tersebut.
Ia menempuh pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) dan Hollandsch Inlandsche School antara tahun 1912 dan 1920; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Magelang pada tahun 1920 hingga 1923; MAS-B di Yogyakarta pada 1923 hingga 1926; Indische Arts STOVIA pada tahun 1926 hingga 1932; dan Geneeskunde School of Arts Batavia Sentrum pada 1932 hingga 1934.Slamet Iman Santoso menduduki posisi Pembantu Rektor I ketika Sjarif Thajeb (1962–1964) dan Sumantri Brodjonegoro (1964–1973) menjabat sebagai Rektor UI. Menyusul kematian Sumantri Brodjonegoro pada tahun 1973 ketika tengah menjabat sebagai rektor, Slamet Iman Santoso ditunjuk menjadi Pejabat Rektor UI. Ia mengakhiri jabatannya pada tahun 1974, ketika jabatan itu beralih ke Mahar Mardjono.
Atas jasa-jasanya di bidang psikologi, Slamet Iman Santoso dikenal sebagai Bapak Psikologi Indonesia.
Soeprijadi
Soeprijadi atau dikenal dengan nama Sodancoh Soeprijadi (lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 adalah pahlawan nasional Indonesia dan pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Presidensial, tetapi digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo pada 20 Oktober 1945 karena Supriyadi tidak pernah muncul. Bagaimana dan di mana Supriyadi wafat, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Tan Sin Hok
Dr.Ir.Tan Sin Hok adalah Ahli Paleontologi asal Indonesia.Pantanellium squinaboli, Eucyrtis hanni, Hemicryptocapsa capita dan Cyrtocapsa grutterinki adalah beberapa nama species radiolaria yang dikenal di daratan Eropa dan Jepang. Aslinya, spesies itu dinamai pertama kali oleh Tan Sin Hok atas fosil renik radiolaria dari sampel batuan yang berasal dari Pulau Rote (Rotti), Nusa Tenggara Timur. Pada 1927 Tan Sin Hok mempublikasikan desertasinya yang berisi deskripsi disertai sketsa terhadap 143 species radiolaria dari Pulau Rote. Hasil karya Tan Sin Hok ini ikut memperkaya pengetahuan di bidang mikropaleontologi radiolaria. Walaupun namanya sudah dikenal dunia, namun siapa jatidirinya, tak banyak yang mengetahuinya. Cuplikan kisah hidupnya di bawah ini sebagian disarikan dari situs http://brieven-tan-schepers.nl.
Tan Sin Hok lahir di desa Cipadang, Cianjur, Jawa Barat pada 28 Maret 1902, sebagai anak bungsu dari pasangan Tan Kiat Tjay (1870-1910) dan Thio Hian Nio (1875-1948) yang menjalankan usaha penggilingan padi. Dua kakaknya adalah Tan Sin Ho (1898-1964) dan Tan Sin Houw (1900-1994). Sehari-hari di rumahnya, Tan Sin Hok berbicara bahasa Melayu yang sekarang menjadi Bahasa Indonesia dan bahasa Sunda seperti bahasa ibunya. Pada tahun 1907, pada usia 5 tahun, Tan Sin Hok masuk Sekolah Dasar (Europeesche Lagere School) di Cianjur. Sejak ayahnya meninggal dunia, ia beserta keluarganya diangkat oleh keluarga Tan Kiat Hon (1875-1924) kakak dari ayah Tan Sin Hok yang juga menjalankan usaha penggilingan padi di Cijoho, Cianjur. Selanjutnya, Tan Sin Hok mengikuti sekolah tata bahasa Koning Willem III di Batavia, sampai lulus pada 1919.
Pada akhir 1919, Tan Sin Hok dan Tan Sin Houw berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan, sedangkan Tan Sin Ho tetap di Cipadang untuk menjaga bisnis keluarga. Tan Sin Hok belajar pada Jurursan Teknik Pertambangan di Delft. Ia meraih gelar Doktor pada 5 Oktober 1927 berdasarkan disertasinya ”Over de samenstelling en het ontstaan van krijt-en mergelgesteenten van de Molukken” dengan promotor Profesor Dr. H. A. Brouwer (1886 – 1973). Setelah lulus dari Delft pada 1927, Tan Sin Hok sempat melakukan penelitian tentang foraminifera di Bonn. Sebelumnya pada tahun yang sama, yaitu pada 5 Juli 1927, R.W. Van Bemmelen, penulis buku “The Geology of Indonesia”, lulus dari Sekolah Delft juga dengan promotor yang sama. Bisa jadi Tan Sin Hok dan Van Bemmelen adalah teman kuliah di Delft.
Setelah 10 tahun belajar di Eropa, Tan Sin Hok kembali ke Pulau Jawa pada 8 Juni 1929 bersama isterinya, Eida Schepers (1908-1983), warganegara Belanda yang dinikahinya pada 16 April 1929. Pasangan ini dikaruniai tiga anak, yaitu Axel Tan Siang Tjoen (1932), Lisa Tan Hsi Chun (1935) dan Gijsbert Tan Bing Tjoen (1942). Tan Sin Hok tinggal di Bandung dan bekerja sebagai ahli geologi pada Jawatan Pertambangan milik Pemerintahan Kolonial Belanda (sekarang Badan Geologi) yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Bandung.
Hasil penelitian Tan Sin hok yang dapat dilihat dalam kartu katalog di Perpustakaan Badan Geologi sebanyak 63 entri (laporan, makalah dan disertasi) yang ditulisnya sampai dengan tahun 1942. Entri tersebut menyangkut substansi tentang paleontologi dan sebagian lagi tentang geologi ekonomi yang merupakan hasil penelitian lapangan selama ia bekerja pada Jawatan Pertambangan di Bandung. Satu karyanya yang menjadikan Tan Sin Hok dikenal dunia adalah buku disertasi tentang mikropaleontologi radiolaria dari Pulau Rote. Buku ini perlu dijaga kelestariannya, misalnya dibuat versi digital dengan memindainya (scan) karena kertasnya mulai rapuh.
Selama tinggal di Bandung, beberapa kali keluarga Tan Sin Hok berpindah rumah. Salah satu alamat tempat tinggal yang didiami pada periode 1938-1943 adalah di Van Hoytemaweg (Jalan Sumur Bandung di Kota Bandung sekarang). Alamat di Jalan Sumur Bandung ini menjadi rumahnya yang terakhir, karena setelah itu mereka tinggal di kamp-kamp selama pendudukan Jepang atas wilayah kolonial Belanda dulu. Tan Sin Hok bahkan sempat ditahan di penjara Sukamiskin dan berpisah dari keluarganya yang tinggal berpindah-pindah dari satu kamp ke kamp yang lain, seperti Kamp Cihapit, Bandung dan Kamp Kramat di Batavia (Jakarta).
Dalam suatu kesempatan di bulan November 1945, Tan Sin Hok tinggal di rumah salah satu koleganya di Carel Fabritiuslaan (Jalan Haji Wasid, dekat Taman Panatayuda, Bandung sekarang). Masa itu adalah masa pascakemerdekaan Republik Indonesia. Dalam catatan sejarah ada disebutkan bahwa sejak berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menyebar ke pelosok Indonesia, suasana revolusi menyapu seluruh negeri. Dalam euforia kemerdekaan saat itu, laskar-laskar pemuda dan laskarlaskar rakyat berdiri sendiri, berakibat pada koordinasi yang kacau. Keadaan ini dikenal sebagai masa “Bersiap” (pada periode Agustus 1945 – 1947). Dalam masa tak menentu inilah bangsa Eropa, India dan Tionghoa paling sering menjadi korban perampokan dan pembunuhan.
Di Bandung, pada 30 November 1945 terjadi gegap gempita dan pekik kemerdekaan oleh laskar-laskar rakyat. Segerombolan pemuda sambil meneriakkan yelyel
kemerdekaan memasuki rumah Tan Sin Hok. Puteri Tan Sin Hok, Lisa Tan yang ketika itu berumur 10 tahun menuliskan pengalamannya. Ayahnya terluka parah oleh serangan tembakan gerombolan itu. Ibunya pun terluka di bagian lengan kanan. Setelah dibawa ke Rumah Sakit Borromeus, Tan Sin Hok dinyatakan meninggal pada 1 Desember 1945. Dari cerita kenangan Lisa Tan, ada kesan bahwa Tan Sin Hok dimakamkan di taman di kompleks Rumah Sakit Borromeus.
Tan Sin Hok hanyalah anak desa yang lahir hingga masa remajanya di Cianjur, Jawa Barat. Tetapi hasil karya Tan Si Hok membuat mata dunia melihat Indonesia melalui fosil renik radiolaria yang digambar olehnya sendiri. Sepatutnya kita memberi penghormatan yang tinggi kepada Tan Sin Hok atas hasil karyanya itu.
Wahidin Soedirohoesodo
dr. Wahidin Soedirohoesodo (lahir di Mlati, Sleman, Yogyakarta, 7 Januari 1852 – meninggal di Yogyakarta, 26 Mei 1917 pada umur 65 tahun, EYD: Wahidin Sudirohusodo) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya selalu dikaitkan dengan Budi Utomo karena walaupun ia bukan pendiri organisasi kebangkitan nasional itu, dialah penggagas berdirinya organisasi yang didirikan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen Jakarta itu.
Wondoamiseno
Warkhadun Wondoamiseno (lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 18 Agustus 1891 – meninggal di Jakarta, 11 Desember 1952 pada umur 61 tahun) adalah seorang mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia pada Kabinet Amir Syarifudin I.
Sekolah di Indonesia
Masa kolonial Belanda
Masa kolonial Jepang
Masa kemerdekaan
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.