Sabtu, 09 Maret 2019

Sekolah Jawa Di Zaman Belanda

Hollandsch Javaansche School

Hollandsche Javansche School atau Sekolah Jawa sebangsa dengan Tweede Inlandsche School yang ada di Pulau Jawa (Tengah dan Timur, termasuk DIY) dan dengan pengantar Bahasa Jawa.

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasitransmigrasi [2]pendidikan.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.

Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren, dlsb.

Hollandsch-Inlandsche School

Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (sekolah Belanda untuk bumiputera) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.

Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.

Hollandsche Chineesche School

HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.

Kweekschool

Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

SD Di Zaman Belanda bag 2

Hollandsch-Inlandsche School

Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (sekolah Belanda untuk bumiputera) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914[1] seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.
Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.
COLLECTIE TROPENMUSEUM Groepsportret schoolkinderen van een Hollands-Inlandse School (HIS) samen met een aantal voor onderwijzer studerende leerlingen van de Hogere Kweekschool (HKS) in Bandoeng TMnr 60041650
Sekelompok siswa HIS sedang mengunjungi Cisarua di bawah pengawasan mahasiswa Hogere Kweekschool (sekolah pendidikan guru) Bandung pada tahun 1925-1926
COLLECTIE TROPENMUSEUM Groepsportret voor het gebouw van de openbare H.I.S. Soemenep Madura TMnr 60024369
Siswa HIS Sumenep pada tahun 1934

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu.[2] Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasitransmigrasipendidikan.[3]
Pada zaman Hindia Belanda, anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (speel groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool. Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa. Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhammadiyah, Pondok Pesantren, dlsb.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Mission Schools in Batakland (Indonesia) 1861-1940, Jan S. Aritonang, Penerbit E.J.Brill, 1994
  2. ^ http://pakguruonline.pendidikan.net/sjh_pdd_sumbar_bab3a.html
  3. ^ http://id.buck1.com/lingkungan-hidup/ramalan-raffles-dan-du-bus-472
Aminah Sjoekoer
Aminah Sjoekoer (lahir di Palembang, 20 Februari 1901 – meninggal di Jakarta, 3 Maret 1968 pada umur 67 tahun) adalah tokoh wanita keturunan indo-Belanda, yang memperjuangkan pentingnya setaraan pendidikan untuk kaum wanita di zaman penjajahan kolonial Belanda, yang bernama asli Atje Voorstad, pendiri Neisjes School, sekolah untuk kaum wanita di Samarinda Kalimantan Timur sekitar tahun 1928.
Tak dibesarkan di Samarinda, Atje datang ke Samarinda bersama Raden Rawan, suami pertamanya. Raden Rawan merupakan seorang laki-laki yang mempunyai darah Banjar dari pihak ibunya dan besar di Jakarta. Dari pernikahannya bersama dengan Raden Rawan ini, Atje dikaruniai seorang anak perempuan. Pada saat pindah ke Samarinda, Atje menjadi seorang mualaf dan mengganti namanya menjadi Aminah. Namun, pernikahannya bersama dengan Raden Rawan tak berlangsung langgeng dan memutuskan untuk berpisah.
Atje kemudian menikah dengan seorang pria bernama M. Yacob. Yacob merupakan seorang pegawai kantor. Bersama dengan suaminya ini, Aminah mendirikan Meisje School yang kemudian menjadi Sekolah Kepandaian Putri (SKP) yang berada di Yacob Steg (sekarang bernama Jalan Mutiara). Sekolah yang dirintisnya ini menjadi counter kepada intervensi Kolonial Belanda (1928) yang mengambil alih Hollandsch Inlandsche School (Sekolah Ningrat Pribumi). Dari pernikahannya ini, Aminah melahirkan dua orang anak. Namun, lagi-lagi Aminah berpisah dengan suaminya.
Mengarungi bahtera keluarga untuk ketiga kalinya, Aminah dinikahi oleh seorang pria bernama Sjoekoer dan mendapatkan penambahan nama suaminya di belakang namanya. Bersama dengan Sjoekoer ini, Aminah semakin giat mengajar. Aminah Sjoekoer meninggal di Jakarta pada tanggal 3 Maret 1968 dan dikebumikan di sana. Namun, pada saat Kadrie Oening menjabat sebagai Wali kota Samarinda, jasad Aminah Sjoekoer dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan yang berada di Jalan Pahlawan Samarinda.
Europeesche Lagere School
ELS (singkatan dari bahasa Belanda: Europeesche Lagere School) adalah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. ELS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajarnya.
ELS atau Sekolah Rendah Eropa tersebut diperuntukkan bagi keturunan peranakan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. ELS yang pertama didirikan pada tahun 1817 dengan masa sekolah 7 tahun.
Awalnya hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda, sejak tahun 1903 kesempatan belajar juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu (dari golongan tertentu) dan warga Tionghoa. Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan HCS, sehingga ELS kembali dikhususkan bagi warga Belanda dan Eropa saja.
Sekolah khusus bagi warga pribumi kemudian dibuka pada tahun 1907 (yang pada tahun 1914 berganti nama menjadi (Hollandsch-Inlandsche School (HIS)) dengan lama belajar 7 tahun, diperuntukan bagi keturunan Indonesia asli yang umumnya anak bangsawan, tokoh terkemuka, atau pegawai negeri.
Sementara sekolah bagi warga Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS) dibuka pada tahun 1908 dengan lama belajar 7 tahun. HCS dan HIS tersebut digolongkan dalam Eerste Klasse School atau Sekolah kelas Satu yang diperuntukan bagi penduduk non Eropa.
Kesetaraan jenjang pendidikan sekolah rendah (sekarang Sekolah Dasar): ELS - HIS - HCS
Gatot Soebroto
Jenderal TNI (Purn.) Gatot Soebroto (lahir di Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah, 10 Oktober 1907 – meninggal di Jakarta, 11 Juni 1962 pada umur 54 tahun) adalah tokoh perjuangan militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan juga pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Ungaran, kabupaten Semarang.
HIS Partikelir (PHIS) Sumekar Pangabru
PHIS (Partikelir Hollandsch-Inlandsche School ) Sumekar Pangabru adalah sekolah swasta pertama di Sumenep yang berdiri tanggal 31 Agustus 1931. PHIS Sumekar Pangabru didirikan oleh Muhammad Saleh Werdisastro putra dari R. Musaid Werdisastro penulis "babad Songenep". PHIS berlokasi di daerah Karembangan atau sekarang lokasinya sekitar Jalan Urip Sumoharjo.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
IAIN Curup
IAIN Curup adalah perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia yang berada di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Ilmu keguruan adalah program prioritas di STAIN Curup, dan setiap lulusannya diklasifikasi sebagai guru berdasarkan klasifikasi program studi yang ditekuni dalam perkuliahan.
Kaharudin Datuk Rangkayo Basa
Kombes. Pol. (Purn.) Kaharudin Datuk Rangkayo Basa (lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 17 Januari 1906 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 1 April 1981 pada umur 75 tahun) merupakan seorang anggota polisi Republik Indonesia dengan jabatan terakhir Kepala Kepolisian Sumatera Tengah dan kemudian menjadi Gubernur Sumatera Barat yang pertama (1958-1965), setelah provinsi Sumatera Tengah kemudian dimekarkan berdasarkan Undang-undang Darurat Republik Indonesia nomor 19 tahun 1957.
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
Oto Iskandar di Nata
Raden Otto Iskandardinata (Sunda: ᮛ᮪ᮓ᮪. ᮇᮒ᮪ᮒᮧ ᮄᮞ᮪ᮊᮔ᮪ᮓᮁᮓᮤᮔᮒ, Latin: Rd. Otto Iskandardinata; lahir di Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 1897 – meninggal di Mauk, Tangerang, Banten, 20 Desember 1945 pada umur 48 tahun) adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia mendapat nama julukan si Jalak Harupat.
Praptoyuwono
Kolonel (CHB) Praptoyuwono (Purwokerto, 26 Oktober 1926–1980) adalah seorang tokoh militer dan pencipta lagu kemiliteran asal Indonesia. Lahir sebagai putra bungsu R. Soedarmo dan RR. Siti Hupinah, Praptoyuwono adalah lulusan HIS-Hollandsch-Inlandsche School. Karier kemiliteran berawal dari kiprahnya di Tentara Pelajar (Mastepe - TP Be17 - Brigade XVII -kompie Encung -) saat perang gerilya di Banyumas. Selanjutnya ia berkarier di TNI-AD pada Jawatan Perhubungan Angkatan Darat.
Ia adalah pencipta lagu Mars Perhubungan Angkatan Darat yang dikumandangkan pada setiap Hari Ulang Tahun Perhubungan Angkatan Darat sesuai aransemen/gubahan dari R.A.Y. Soejasmin.
Praptoyuwono menikah dengan Hartini putri dari Rd. Hagnyosandjojo dan RR. Wuriyah asal Wonosobo, dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu Nani Retno Indrati, Andi Dwijuwono Tjahya Utama, Binawan Yudistira, Wisnu Pramarta dan Novi Andayani Permanasari, ke 5 anak tsb. saat ini bertempat tinggal di Jakarta
Rachmatullah Ading Affandie
Haji Rachmatullah Ading Affandie, lahir di Ciamis, 12 Oktober 1929 – meninggal di Bandung, 6 Februari 2008 pada umur 78 tahun adalah pengarang cerita pendek, wartawan, penulis lakon dan sutradara pementasan, pembina olahraga sepak bola, dan pemimipin grup kesenian.
Rajawali Pusadan
H. Rajawali Muhammad Pusadan (lahir di Buol, Sulawesi Tengah, 5 Februari 1909 – meninggal di Palu, Sulawesi Tengah, 20 Februari 1986 pada umur 77 tahun), adalah seorang politikus yang pernah menjadi Kepala Daerah Otonom Sulawesi Tengah, dan menjabat sejak 1949 hingga 1952. Dia juga pernah menjadi Bupati Buol Tolitoli yang menjabat pada tahun 1960 hingga 1965.
Dia adalah salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah Sulawesi Tengah, dengan menjadi pemrakarsa dan Ketua Dewan Raja-raja untuk pendirian provinsi Sulawesi Tengah yang terpisah dari Sulawesi Utara.
S. Kabo
Sudara Kabo (lahir di Watutau, Poso, Sulawesi Tengah, 7 Oktober 1910 – meninggal di Wanga, Poso, Sulawesi Tengah, 26 Juni 1982 pada umur 71 tahun), adalah seorang politikus yang pernah menjabat sebagai Bupati Poso ke-4, dan menjabat dari tahun 1957 hingga 1959. Ia adalah Bupati Poso ke-2 yang tidak berasal dari kalangan militer, setelah Djafar Lapasere.Kabo lulus dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Poso dan OSVIA di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada bulan September 1945, ia ditunjuk sebagai Kepala Pemerintahan Kabupaten Poso. Kabo meninggal dunia pada tanggal 26 Juni 1982 di Wanga, Lore Utara.
S. Sudjojono
Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara Mei 1913 – 25 Maret, Jakarta, 1985) merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia. Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah senimaan pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia memperkenalkan jiwa ketok atau "jiwa tampak" sebagai identitas seni Indonesia. Ia biasa menulis namanya dengan “S. Sudjojono”.
SMP Negeri 1 Blitar
SMP Negeri 1 Blitar adalah sebuah sekolah menengah pertama di Kota Blitar, Jawa Timur. Sekolah ini terletak di Jalan A. Yani 8, menempati gedung bekas Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
SMP Negeri 1 Wonogiri
SMP Negeri 1 Wonogiri, merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri yang ada di Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia. Sama dengan SMP pada umumnya di Indonesia, masa pendidikan sekolah di SMP Negeri 1 Wonogiri ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas VII sampai Kelas IX
Saridjah Niung
Saridjah Niung (lahir di Sukabumi, 26 Maret 1908 – meninggal di Jakarta, 12 Desember 1993 pada umur 85 tahun) adalah seorang pemusik, guru musik, pencipta lagu anak-anak, penyiar radio, dramawan dan seniman batik Indonesia. Lagu-lagu yang diciptakan Ibu Soed sangat terkenal di kalangan pendidikan Taman Kanak-kanak Indonesia.
Slamet Iman Santoso
Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso (lahir di Wonosobo, 7 September 1907 – meninggal di Jakarta, 9 November 2004 pada umur 97 tahun) adalah seorang pakar psikologi Indonesia. Ia memelopori berdirinya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan menjabat sebagai dekan pertama fakultas tersebut.
Ia menempuh pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) dan Hollandsch Inlandsche School antara tahun 1912 dan 1920; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Magelang pada tahun 1920 hingga 1923; MAS-B di Yogyakarta pada 1923 hingga 1926; Indische Arts STOVIA pada tahun 1926 hingga 1932; dan Geneeskunde School of Arts Batavia Sentrum pada 1932 hingga 1934.Slamet Iman Santoso menduduki posisi Pembantu Rektor I ketika Sjarif Thajeb (1962–1964) dan Sumantri Brodjonegoro (1964–1973) menjabat sebagai Rektor UI. Menyusul kematian Sumantri Brodjonegoro pada tahun 1973 ketika tengah menjabat sebagai rektor, Slamet Iman Santoso ditunjuk menjadi Pejabat Rektor UI. Ia mengakhiri jabatannya pada tahun 1974, ketika jabatan itu beralih ke Mahar Mardjono.
Atas jasa-jasanya di bidang psikologi, Slamet Iman Santoso dikenal sebagai Bapak Psikologi Indonesia.
Teuku Muhammad Hasan
Teuku Muhammad Hasan (lahir di Pidie, Aceh, 4 April 1906 – meninggal di Jakarta, 21 September 1997 pada umur 91 tahun) adalah Gubernur Wilayah Sumatera pertama setelah Indonesia merdeka
, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 hingga tahun 1949 dalam Kabinet Darurat. Selain itu ia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

Sekolah Guru Bantu Di Zaman Belanda

Hollandsche Indische Kweekschool

Pada tahun 1848 dikeluarkan peraturan pendidikan dasar untuk Bumiputra, di mana akan didirikan Sekolah Dasar di seluruh pelosok Hindia Belanda. Untuk memenuhi keperluan guru, maka didirikan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) atau Sekolah Guru Bantu (SGB).

Sejarah Kweekschool di Hindia Belanda

Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun (1864) dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah serupa diselenggarakan oleh zending di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu. Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertamama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang. Setelah pendirian Sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukitinngi (Fort de Kock) pada 1856, Tanah Baru, tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874, Tondano pada 1873, Ambon pada 1874, Probolinggo pada 1875, Banjarmasin pada 1875, Makassar pada 1876, dan Padang Sidempuan pada 1879. jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895). Penutupan sekolah ini akibat dari malaise. Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 1885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar. Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik didirikan kursus-kursus di Batavia, Semarang, dan Surabaya (1890).

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasitransmigrasi [2]pendidikan.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollandsch Chineesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah: Pondok Pesantren tersebar di seluruh Indonesia, Muallimin di Yogyakarta, dlsb

Jenis jenjang pendidikan guru

Kweekschool adalah salah satu sistem pendidikan pada zaman Hindia Belanda, terdiri atas HIK (Holandsche Indische Kweekschool), atau sekolah guru bantu yang ada di semua Kabupaten dan HKS (Hoogere Kweek School), atau sekolah guru atasyang ada di JakartaMedanBandung, dan Semarang, salah satu lulusan HKS Bandung adalah Ibu Sud [1]Europeesche Kweek School (EKS, sebangsa sekolah guru atas dengan bahasa pengantar Belanda, yang berbeda dengan HIK) yang hanya diperuntukan bagi orang Belanda atau pribumi ataupun orang Arab/Tionghoa yang mahir sekali berbahasa Belanda, dan hanya ada di Surabaya. Pada waktu itu misalnya satu kelas ada 28 orang, maka terdiri 20 orang Belanda, 6 orang Arab/Tionghoa, dan 2 orang pribumi. Selain itu juga dikenal Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK) khusus untuk yang keturunan Tionghoa, salah satu lulusan HCK adalah P.K. Oyong [2]. Di Muntilan ada Katholieke Kweek School [3] atau sebangsa seminari khusus untuk guru beragama Katholiek yang didirikan pada tahun 1911 dengan nama Kolese Xaverius Muntilan, lulusannya (yang pandai main musik) adalah antara lain Cornel Simanjuntak (meninggal pada waktu revolusi sekitar 1946 akibat penyakit kronis TBC), R.A.J. Sudjasmin (di mana pada tahun 1946-1948 Gedung Kolese ini dipakai sebagai pendidikan Kepolisian RI sehingga dia berminat masuk jajaran Kepolisian RI), Binsar Sitompul, Liberty Manik, Suwandi, dlsb. Setelah K.H.A. Dahlan mengujungi Muntilan, maka dia juga terinspirasi mendirikan bagi orang Islam, yaitu Muallimin di Yogyakarta pada tahun 1918 [4].

Lihat pula

Referensi

  1. ^ http://www.tokohnasional.com/ensiklopedi/i/ibu-soed/index.php
  2. ^ http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/p/pk-ojong/index.shtml
  3. ^ http://web.archive.org/web/20021107180352/http://www.geocities.com/bayu_asmara/sejarah.htm
  4. ^ http://muallimin.org/
Albertus Christiaan Kruyt
Albertus Christiaan Kruyt atau A. C. Kruyt (lahir 10 Oktober 1869 – meninggal 19 Januari 1949 pada umur 79 tahun), adalah seorang misionaris, etnografer, dan teolog Calvinis Belanda. Ia adalah orang pertama yang merintis pekabaran Injil di Sulawesi Tengah, terutama di Poso.Dilahirkan di Mojowarno, Jawa Timur pada tahun 1869, ia dibesarkan di tengah keluarga penginjil. Pada tahun 1977, Kruyt dikirim ke Belanda untuk mendalami ilmu misionaris. Ia kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1890, dan ditempatkan di Gorontalo. Lembaga Misionaris Belanda (Nederlandsch Zendeling Genootschap) mengirim dan menugaskannya untuk membuka pos pekabaran Injil yang baru di Poso, yang terletak di pantai selatan Teluk Tomini. Kruyt memulai pekerjaannya pada tahun 1892. Meski tahun-tahun pertama pekerjaannya dinilai gagal, pembaptisan pertama terjadi pada tahun 1909 dan terus bertambah pada tahun-tahun setelahnya. Wilayah pekabaran Injil yang dirintisnya hingga tahun 1920-an, terus meluas menembus dataran tinggi dan pegunungan hingga ke Teluk Bone di selatan. Kruyt meninggalkan Hindia Belanda untuk selamanya dan kembali ke Belanda pada tahun 1932. Pada bulan Januari 1949, ia meninggal dunia di Den Haag.
Kruyt dikenal dengan metode pendekatan etnososiologi-nya. Dalam tugasnya sebagai seorang misionaris, ia memilih untuk berbaur dan mempelajari keadaan dan peradaban masyarakat terlebih dahulu. Ia mengembangkan konsep etno-misiologi serta memperkenalkan istilah zielestof pada teorinya tentang animisme dan dinamisme.
Kruyt dianggap sebagai salah satu teoretikus, misionaris dan etnografer terkemuka pada periode awal abad ke-20. Misi yang dirintisnya di Poso dan Sulawesi Tengah diakui sebagai salah satu kesuksesan terbesar pekabaran Injil di Hindia Belanda. Karya-karyanya tentang etnografi dan pekabaran Injil —khususnya di Sulawesi Tengah— dianggap sebagai sumber informasi yang "luar biasa". Buku yang ditulisnya bersama dengan Nicolaas Adriani, bertajuk De Bare'e-sprekende Toradja's van Midden-Celebes dianggap sebagai salah satu publikasi terbaik pada bidang etnologi, dan dijadikan sumber utama dalam penelitian oleh para ilmuwan dan peneliti.
Europeesche Kweekschool
Europeesche Kweekschool adalah Sekolah Guru Atas pada zaman Hindia Belanda, satu-satunya ada di Surabaya, dengan bahasa pengantar Belanda dan berhak mengajar di sekolah Belanda.
Hollandsch-Inlandsche School
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (sekolah Belanda untuk bumiputera) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.
Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
Ignatius Harsono
Mgr. Ignatius Harsono (lahir di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, 15 Desember 1922 – meninggal 1 Maret 2000 pada umur 77 tahun) adalah Uskup Gereja Katolik Roma untuk Keuskupan Bogor periode 30 Januari 1975 hingga 17 Juli 1993.
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
Saadoe'ddin Djambek
Saadoe'ddin Djambek gelar Datuak Sampono Radjo (lahir di Bukittinggi, Hindia Belanda, 24 Maret 1911 – meninggal di Jakarta, 22 November 1977 pada umur 66 tahun) adalah seorang ulama, pengajar, dan tokoh ilmu falak (astronomi) Indonesia. Ia dikenal sebagai ahli di bidang hisab dan rukyat. Saadoe'ddin banyak menghasilkan buku-buku buah pemikirannya yang sering dipakai sebagai rujukan bagi lembaga dan umat Muslim Indonesia.
Zainal Abidin Pagaralam
H. Zainal Abidin Pagaralam (lahir di Tanjung Karang, Lampung, 29 Februari 1916 – meninggal di Tanjung Karang, Lampung, 6 September 1989 pada umur 73 tahun) merupakan salah satu tokoh Provinsi Lampung yang telah menorehkan catatan perjalanan hidup dari masa kolonial hingga awal Orde Baru. Ia juga menjadi salah satu peletak dasar - dasar pemerintahan dan pembangunan bagi Provinsi Lampung, dan ia juga adalah salah seorang yang menggagas berdirinya Provinsi Lampung pada tahun 1964. Dan akhirnya ia diangkat menjadi Gubernur Lampung periode 1966-1973 menggantikan Kusno Danupoyo sebelum digantikan oleh R. Sutiyoso.
Sebelum menjabat sebagai gubernur Lampung, Zainal Abidin Pagaralam pernah memegang berbagai jabatan di pemerintahan antara lain sebagai Bupati Lampung Utara (1950), Bupati Lampung Selatan (1954), Bupati Belitung (1955--1957), Wali kota Tanjung Karang / Teluk Betung (sekarang Bandar Lampung) dan juga sebagai Residen Keresidenan daerah Lampung (Residentie der Lapongohe Districten) yang pada waktu itu masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.
Ia juga adalah salah seorang yang memprakarsai berdirinya Universitas Lampung, kemudian juga pada masa pemerintahannya pula lah dibangun Bandar Udara Radin Inten II dan ia juga merupakan orang yang menggagas terbangunnya pelabuhan Bakauheni.
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.

Sekolah Guru Agama Di Zaman Belanda

Katholieke Kweekschool


Katholieke Kweekschool adalah Sekolah Guru yang didirikan oleh Gereja Katholiek, dengan maksud untuk memenuhi guru agama Katholiek. Pada tahun 1911 sebagai jawaban terhadap Politik Etis Hindia Belanda (1901), maka didirikan sekolah calon imam di Muntilan untuk memenuhi kebutuhan bagi kegiatan agama Katolik di Indonesia.

1. Zaman Belanda (1911-1941)

a. Kursus pendidikan calon imam di Kolese Xaverius Muntilan (1911-1926)
(1) Seminari Menengah Mertoyudan telah menempuh perjalanan sejarah cukup panjang. Awal berdirinya tidak dapat dilepaskan dari dua pemuda pribumi lulusan Kweekschool di Muntilan yang berkeinginan menjadi imam. Nama pemuda itu adalah Petrus Darmaseputra dan Fransiskus Xaverius Satiman. Pada bulan November 1911 mereka menghadap Romo F. van Lith SJ dan Romo Y. Mertens SJ, dan mohon agar diperkenankan belajar untuk menyiapkan diri menjadi imam. Niat kedua pemuda itu dan kebutuhan imam di Indonesia mendorong munculnya gagasan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi para calon imam. Untuk itu, proses perizinan dari Roma segera diurus. Pada tanggal 30 Mei 1912, keluarlah izin resmi dari Roma untuk memulai lembaga pendidikan calon imam di Indonesia. Kemudian, kursus pendidikan calon imam diselenggarakan di Kolese Xaverius Muntilan.
(2) Antara tahun 1916-1920, sudah ada sepuluh siswa Muntilan yang dikirim ke sekolah Latin yang diselenggarakan oleh para pater Ordo Salib Suci di Uden, Eropa. Karena dua siswa meninggal di sana dan seorang lagi terganggu kesehatannya, diambil kebijaksanaan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut di Indonesia. Kursus di Muntilan disempurnakan.
(3) Pada tanggal 7 September 1922, dua seminaris menjadi novis pertama pada novisiat Serikat Yesus yang baru dibuka di Yogyakarta dengan Rektor dan sekaligus pimpinan novisiatnya yaitu Romo Strater SJ.
b. Seminari Kecil Santo Petrus Canisius Yogyakarta (1925-1941)
(1) Pada bulan Mei 1925, dimulailah Seminari Kecil (Klein Seminarie). Gedungnya dibangun di sebelah barat Kolese Santo Ignasius, Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1927, dan diberkati oleh Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen SJ. Kursus diadakan bagi mereka yang baru tamat dari Sekolah Dasar Hollands Inlandse School (HIS) dan Europese Lagere School (ELS).
(2) Sementara itu, kursus di Muntilan bagi mereka yang telah memperoleh ijazah guru tetap berlangsung, dan baru pada tahun 1927 digabungkan dengan Seminari Kecil di Yogyakarta.
(3) Pada tahun 1941, karena jumlah siswa Seminari Kecil di Yogyakarta meningkat sampai lebih dari seratus siswa, Seminari dipindahkan ke Mertoyudan. Pelajaran pertama dimulai pada tanggal 13 Januari 1941.
(4) Dua peristiwa lain yang kiranya pantas dicatat di sini adalah:
(a) Pada tanggal 15 Agustus 1936, Seminari Tinggi Santo Paulus didirikan di Muntilan oleh Vikaris Apostolik Batavia, Mgr. Petrus Johannes Willekens SJ, dengan lima mahasiswa pertama sebagai calon imam. Enam tahun kemudian, yaitu pada tanggal 28 Juli 1942, empat dari lima mahasiswa itu ditahbiskan menjadi imam praja pertama.
(b) Pada tanggal 1 Agustus 1940, didirikan Vikariat Apostolik Semarang dengan vikaris Apostolik Romo Albertus Soegijapranata SJ, uskup asli Indonesia pertama yang diangkat oleh Paus Pius XII.

2. Zaman Jepang - Seminari "in diaspora" (1942-1945)

a. Pada tanggal 8 Maret 1942 tentara Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Asia Raya berada di bawah kekuasaan Jepang. Semua sekolah yang menggunakan bahasa Belanda ditutup. Gedung Seminari Mertoyudan diduduki Jepang, dan digunakan untuk Sekolah Pertanian Nogako.
b. Pada tanggal 5 April 1942, para seminaris terpaksa pulang ke rumah masing-masing. Namun, pendidikan calon imam tetap dilangsungkan di berbagai pastoran: Boro, Yogyakarta, Ganjuran, Muntilan, Girisonta, Ungaran, Semarang, dan Solo. Di tempat-tempat ini, pelajaran diberikan secara sembunyi-sembunyi. Selama masa sulit ini, Seminari lazim disebut Seminari "in diaspora". Situasi ini berlangsung sampai tahun 1945.

3. Zaman Indonesia Merdeka (1945 - sekarang...)

a. Masa perjuangan (1945 - 1949)
(1) Pada tahun 1945, Jepang mengalami kekalahan dalam melawan Sekutu. Bangsa Indonesia mengambil kesempatan itu untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Pada tahun itu, gedung Seminari Mertoyudan ditempati oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tahun 1946, 49 seminaris yang tersebar di pelbagai tempat dikumpulkan di kompleks Sekolah Guru Ambarawa. Mereka diasuh oleh Romo C. Soetapanitra SJ (imam yang masuk Seminari Kecil tahun 1927). Pada bulan September 1947, Ambarawa menjadi medan palagan (Clash I); karena itu sebagian seminaris dipindahkan ke Ganjuran. Di sana, mereka diasuh oleh Romo J. Darmojuwono Pr. Sebagian yang lain dipindahkan ke Muntilan pada bulan Oktober 1947, dan diasuh oleh Romo Th. van der Putten SJ. Sejak tgl. 21 Juli 1948, para seminaris yang ada di Ganjuran pun dipindahkan ke Muntilan, dan diasuh oleh Romo Th. van der Putten SJ dan Romo R. Sandjaja Pr. Hadirnya karya misi di Muntilan dan kembalinya Seminari ke Muntilan ini menimbulkan perasaan tidak suka pada tentara Hisbullah terhadap pihak Katolik.
(2) Dari tanggal 17 Juni 1946 sampai 18 Desember 1948, pada waktu revolusi fisik atau perang kemerdekaan, gedung Seminari Mertoyudan digunakan untuk tempat pendidikan Kepolisian RI.
(3) Pada tanggal 19 Desember 1948 Yogyakarta diduduki oleh Belanda (Clash II). Setelah orang-orang pemerintahan mengundurkan diri dari Muntilan, pada tanggal 20 Desember 1948, gedung-gedung Bruderan FIC dibumihanguskan agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Seminari Muntilan pun hendak dibakar oleh pasukan Hisbullah, namun berhasil diselamatkan oleh Romo Th. van der Putten SJ yang pada waktu itu menjadi Rektor. Bahkan, dia berhasil memperoleh surat resmi dari Pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa Seminari tidak boleh dibakar. Namun, di tengah usaha keras Romo van der Putten tersebut, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Romo R. Sandjaja Pr. dan Frater Bouwens SJ dibunuh oleh laskar Hisbullah pada tanggal 20 Desember 1948. Dalam situasi kacau ini, warga Seminari dipaksa mengungsi ke desa Dukun selama dua hari.
(4) Sekembali dari pengungsian di Dukun, warga Seminari mendapati gedung mereka di Muntilan dalam keadaan rusak berat. Perabot dan perlengkapan sudah terampas. Oleh karena itu, dalam waktu singkat, pada awal Januari 1949, Romo van der Putten SJ memindahkan Seminari ke Jalan Code Yogyakarta.
b. Masa pembangunan (1949-1952)
Dalam masa perjuangan, gedung Seminari Mertoyudan sempat dibumihanguskan, sedang sisa-sisa bangunan menjadi jarahan banyak orang. Setelah situasi tenang, Seminari dibangun kembali oleh Vikariat Semarang. Akhirnya, pada bulan Agustus 1952, pembangunan selesai dilaksanakan. Bangunan ini sekarang merupakan bagian dari Domus Patrum dan Medan Madya.
c. Masa perkembangan Seminari Mertoyudan (1952 - sekarang)
(1) Setelah pembangunan selesai, selama liburan, para seminaris pindah ke Mertoyudan. Pada tanggal 3 Desember 1952, gedung Seminari Mertoyudan diberkati oleh Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. Gedung tambahan dibangun lima tahun kemudian; dipergunakan seminaris Medan Utama dan Medan Pratama. Sejak itu, semakin banyak, murid tamatan SD diterima di Seminari Mertoyudan.
(2) Berdasarkan pelbagai pertimbangan, mulai tahun 1968, siswa tamatan SD tidak diterima lagi, dan yang diterima hanya para siswa tamatan SLTP dan SLTA.
(3) Pada tahun 1971, siswa Seminari lulusan SLTA bertempat tinggal di Yogyakarta, dan mengikuti kuliah di IKIP Sanata Dharma sampai menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda. Kemudian, pada tahun 1972, siswa tamatan SLTA ditampung di Seminari Mertoyudan. Karena pelbagai alasan, pada tahun 1974, didirikan cabang Seminari di Yogyakarta yang bertempat di Wisma Realino untuk menampung siswa tamatan SLTA. Sementara itu, di Mertoyudan, dilaksanakan penambahan gedung. Pada tahun 1976, gedung itu diresmikan, dan mulai dihuni oleh seminaris Medan Utama. Pada tahun itu juga, Seminari cabang Yogyakarta digabung lagi dengan Seminari Mertoyudan hingga sekarang.
(4) Mulai 27 April 1987, dibangun satu unit perpustakaan (dua lantai) untuk mendukung pembinaan dan pendidikan di Seminari Mertoyudan.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
Hollandsche Indische Kweekschool
Pada tahun 1848 dikeluarkan peraturan pendidikan dasar untuk Bumiputra, di mana akan didirikan Sekolah Dasar di seluruh pelosok Hindia Belanda. Untuk memenuhi keperluan guru, maka didirikan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) atau Sekolah Guru Bantu (SGB).
Kweekschool
Kweekschool adalah salah satu jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar Bahasa Belanda.
Di Belanda sendiri, lembaga tersebut kini dijuluki Pedagogische academie voor het basisonderwijs ("akademi pedagogis untuk pendidikan dasar").
Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta
Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta (Arab: مدرسة المعلمين المحمدية بيوجياكرتا‎; transliterasi: madrasatul-Mu'allimiinal-Muhammadiyyati bi-Yugyakarta) adalah sekolah kader di bawah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang didirikan langsung oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918 terletak 1 km barat Taman Sari Yogyakarta dan hanya berjarak 2,5 km dari Malioboro menjadikan sekolah ini berada di jantung kota Yogyakarta, tepatnya di sebelah timur simpang perempatan Patangpuluhan. Sekolah ini juga sering disebut secara pendek m3in (baca: Emgain) dan oleh para alumninya, sebelum nama Mu'allimin, namanya masih menggunakan bahasa belanda yaitu Kweekschool Moehammadijah yang artinya "Sekolah Para Guru Muhammadiyah". Lalu namanya ditransliterasi kedalam bahasa Arab menjadi Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah. Mu'allimin merupakan salah satu sekolah yang memiliki sejarah yang cukup panjang khususnya berkaitan dengan pendirian dan perkembangan organisasi Muhammadiyah di Indonesia.
Mu'allimin bukanlah sekolah Muhammadiyah biasa. Ia memiliki predikat sebagai Sekolah Kader Muhammadiyah, di mana banyak alumninya mengabdikan dirinya dalam perjuangan organisasi ini, baik dari tingkat Ranting hingga tingkat Pimpinan Pusat. Dengan tokoh penting antara lain KH Ahmad Dahlan (Pendiri & Direktur Pertama), Mas Mansoer (Mantan Direktur Kehormatan). Dan alumnus seperti Abdul Rozak Fachruddin, Djarnawi Hadikusumo, As'ad Humam, Ahmad Syafii Maarif, serta Nasrullah (politisi)
Sekolah di Indonesia
Masa kolonial Belanda
Masa kolonial Jepang
Masa kemerdekaan
This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.