Minggu, 19 Mei 2019

tanda tanda kiamat : 26-28. Pemutusan Silaturahmi Jeleknya Hubungan Bertetangga. Orang Tua Berlagak Seperti Anak Muda

26-28. Pemutusan Silaturahmi Jeleknya Hubungan Bertetangga. Orang Tua Berlagak Seperti Anak Muda

TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Image result for tanda kiamat
Oleh 
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
26. MERAJALELANYA PERBUATAN KEJI, PEMUTUSAN SILATURAHMI DAN JELEKNYA HUBUNGAN BERTETANGGA 
Al-Imam Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan dari 'Abdullah bin' Amr Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفَحْشُ وَالتَّفَاحُشُ وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ وَسُوءُ الْمُجَاََة
"Tidak akan tiba hari Kiamat karena banyak pertunjukan dan perkataan keji, pemutusan silaturahmi, dan jeleknya hubungan bertetangga." [1]
Ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: اَلْفَحْشُ وَالتَّفَحُّشُ وَقَطِيْعَةُ الرَّحْمِ.
'Di antara tanda-tanda Kiamat adalah perbuatan dan perkataan yang keji (kotor), serta pemutusan silaturahmi. ”[2]
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ… وَقَطْعُ اْلأَرْحَامِ.
“Sesungguhnya membatalkan Kiamat… dan pemutusan silaturahmi.” [3]
Apa-apa yang telah dikabarkan oleh Nabi Shallallahu 'aliahi wa sallam telah terjadi, kekejian menyebar di sebagian besar manusia, mereka tidak peduli terhadap perkuatan yang mengandung dosa yang mereka ucapkan, juga tidak terkait dengan (siksa) yang sangat pedih . Hubungan kekerabatan diputuskan, seseorang tidak menjalin kekerabatan dengan kerabatnya. Sementara di antara mereka terjadi saling memutuskan silaturahmi dan saling memusuhi, hal itu terus-menerus terjadi berbulan-bulan bahkan dibutuhkan-tahun sementara mereka berada di satu daerah. Mereka saling bertukar dan tidak saling menjalin kekerabatan. Tidak diragukan lagi halim ini merupakan kelemahannya.
Beliau Shallallahu 'aliahi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ ، حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ ، قَامَتِ الرَّحِمُ ، فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الِعَب Versi: نَعَمْ ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قْالَتْ: بَلَى. قَالَ فَذَاكِ لَكِ. ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اقرءوا إن شئتم فهل عسيتم إن توليتم أن تفسدوا في الأرض وتقطعوا أرحامكمأولئك الذين لعنهم الله فأصمهم وأعمى أبصارهم أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها
“Sesungguhnya Allah menciptakan penciptaan, sampai selesai selesai (menciptakan) mereka, rahim (kekerabatan) berdiri seraya bertanya, 'Apakah ini tempat orang yang berlindung bagi-Mu dari memutus-kan (hubungan silaturahmi)?' Allah menjawab, 'Betul, senangkah lagi jika Aku berbuat yang baik kepada orang yang menghubungkanmu dan jika Aku yang berbuat tidak baik kepada orang yang memutuskanmu?' Rahim berkata, 'Tentu saja.' Allah berkata, 'itulah bagianmu.' "Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda," Jika kalian mau bacalah (firman Allah):' Lalu apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan membuatkan perubahan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka diterima orang-orang yang dikutuk Allah, lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya. Maka tidakkah mereka menghayati al-Qur-an ataukah hati mereka sudah menerima? ' [Muhammad: 22-24] ”[4]
Dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ.
“Tidak akan masuk Surga orang yang memutuskan silaturahmi.” [5]
Tentang hubungan buruknya bertetangga (maka sangat penting untuk kita bicarakan). Betapa banyak orang yang tidak mengenal tetangganya sendiri, tidak pernah memperhatikan kebutuhannya untuk memberikan bantuan yang dibutuhkannya! Sebaliknya dia selalu mengganggunya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengeluarkan terluka tetangga. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya." [6]
Dia Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima agar dapat melakukan baik untuk tetangga. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka lakukanlah yang baik bagi tetangganya.” [7]
Dan Nabi Shallallahu 'aliahi wa sallam bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُANS
"Senantiasa Jibril memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga sehingga aku mengira dia membawa perintah (dari) Allah untuk menjadikannya sebagai ahli waris." [8]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] 
_______ 
Catatan Kaki 
[1] . Musnad Ahmad (X / 26-31, Syarah Ahmad Syakir), beliau berkata, "Isnadnya shahih," dan beliau menuturkan kalimat al-Hakim dan menjelaskannya dengan gamblang.
Lihat Mustadrak al-Hakim (I / 75-76), beliau telah meriwayatkannya dengan tiga sanad. Beliau ber-kata, "Ini hadits shahih, dan asy-Syaikhani telah bersepakat untuk mewujudkan semua perawi-nya sebagai hujjah, selain Abu Sabrah al-Hadzali, ia adalah tokoh Tabi'in, dan ia menambahkannya di dalam kitab-kitab Musnad juga Tarikh itu dia tidak tercela. ”Dan dia mengungkapkan syahid (penguat) dipanggil. Adz-Dzahabi menyetujui dia dalam menshahihkannya. 
[2]. Maj'mauz Zawaa-id (VII / 284), al-Haitsami mengatakan, "Perawinya adalah tsiqah," dan sebagian besar diperdebatkan, sementara hadits-hadits-hadits yang dapat berubah menjadi penguat yang diinginkan. 
[3]. Musnad Ahmad (V / 333, Syarah Ahmad Syakir), beliau berkata, "Sanadnya shahih."
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Birr mencuci Shilah wal Aadaab, bab Shilaturrahim wa Tahriimi Qath'ihaa (XVI / 112, Syarh an-Nawawi). 
[5]. Shahiih Muslim (XVI / 114, Syarh an-Nawawi). 
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab al-Hatstsu 'alaa Ikraamil Jaar wadh Dha'iif (II / 20, Syarh an-Nawawi). 
[7]. Ibid. 
[8]. Shahiih Muslim, kitab al-Birr mencuci Shilah wal Aadaab, bab ash-Shilatu bil Jaar wal Ihsaan ilaihi (XVI / 176, Syarh an-Nawawi).
27. ORANG TUA BERLAGAK SEPERTI ANAK MUDA 
Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu' alaihi wa allam bersabda:
يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ ، لاَ يََََََََِِِّّّّ
'Akan ada di akhir zaman satu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam bagaikan dada burung merpati, mereka tidak akan pernah mencium harumnya Surga.' ”[1]
Apa yang berubah dalam hadits di atas telah terjadi pada zaman sekarang ini. Sudah tersebar di kalangan pria, mereka menyemir jenggot juga rambut mereka dengan warna hitam.
Yang nampak bagi kami -wallaahu a'lam- memang sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ (seperti dada burung merpati) seperti halnya dengan baju muslim khusus saat ini. Anda bisa mendapati mereka, memperlakukan mereka seperti keadaan dada burung dara. Mereka mencukur sisinya dan membiarkan yang ada di bawah dagunya, kemudian menyemirnya dengan warna hitam sehingga jadilah ia seperti dada-dada burung dara.
Ibnul Jauzi [2] rahimahullah berkata, “Bisa jadi artinya tidak mencium wanginya Surga karena mereka yang melakukan, atau karena percaya dan bukan karena hanya-mata memakai semir rambut. Bisa jadi semir rambut itu menjadi ciri khas mereka Khawarij adalah membotaki rambut, meski pada dasarnya membotaki rambut jadi sesuatu yang diharamkan. ”[3]
Kami katakan: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang menyemir rambut dan jenggot dengan warna hitam. Dijelaskan dalam ash-Shahiih dari Jabir bin 'Abdillah Radhiyallahu anhuma, dia berkata:
أتي بأبي قحافة يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا, فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد.
“Abu Quhafah didatangkan pada hari penaklukan Makkah dengan rambut dan jenggot yang berwarna putih seperti pohon ats-tsaghamah [4], yang lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,' Ubahlah (uban) ini dengan menggunakan dan ganti warna warni! '” [5] ]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] 
_______ 
Catatan Kaki 
[1] . Musnad Imam Ahmad (IV / 156, no. 247), tahqiq dan syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, "Shahih." 
Sunan Abi Dawud, kitab at-Tarajjul, bab Ma Jaa-a fii Khudhaabis Sawaad ​​(XI / 266, 'Aunul Ma'buud). 
Ibnu Hajar mengatakan, "Isnadnya kuat, hanya saja ada perbedaan, apakah hadits ini mauquf atau marfu, lalu Bagaimana kita mengatakan bahwa hadits ini mauquf, maka hadits seperti ini tidak dapat dilampirkan dengan alasan dapat membantu memastikannya adalah marfu '(Fat-hul Baari VI / 499).
Al-Albani mengatakan, "Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-NASA, Ahmad, adh-Dhiya 'dalam kitab al-Mukhtaarah juga yang lainnya yang tidak dapat diterjemahkan ... dengan sanad yang shahih me-nurut persyaratan asy-Syaikhani." 
Lihat kitab Ghaayatul Maraam fi Takhriiji Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (hal. 84), cet. al-Maktab al-Islami, cet. pertama (1400). 
Hadits ini diumumkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab al-Maudhu'aat (III / 55), beliau meng-ungkapkan bahwa yang muttaham adalah 'Abdul Karim bin Abil Mukhariq, dia adalah matruk (di-minta haditsnya). 
Ibnu Hajar membantah, beliau berkata, “Dia salah dalam masalah itu, karena menentang hadits yang berasal dari perbincangan 'Abdul Karim al-Jazari at-Tsiqah dibuat perawi di dalam kitab ash-Shahiih.
Kemudian beliau menuturkan para perawi hadits tersebut, lihat kitab al-Qaulul Musaddad (hal. 48-49) karya Ibnu Hajar. 
Ibnu Jauzi mengikuti pendapatnya oleh asy-Syaukani dalam masalah itu, beliau berkata dalam kitab al-Fawaa-idul Majmuu'ah, “Al-Quzwaini berkata, 'Hadits maudhu'. ' Al-Fawaa-idul Majmuu'ah fil Ahaadiitsil Maudhuu'ah (hal. 510 no. 1420) dengan tahqiq 'Abdurrahman bin Yahya al-Mu'allimi, cet. II th. 1392 H, Beirut. 
[2]. Beliau adalah al-Allamah Abul Faraj 'Abdurrahman bin' Ali al-Jauzi al-Qurasy al-Baghdadi al-Hanbali, pengarang karya-karya besar yang mengumpulkan tiga ratus karya tulis dalam bidang hadits, penasihat, tafsir, sejarah dan yang lainnya. Wafat pada tahun 597 H.
Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (XIII / 28-30), dan Muqaddimah kitab al-Maudhuu'aat (I / 21-226) karya 'Abdurrahman Muhammad' Utsman, disebar luaskan oleh Muhammad 'Abdul Muhsin, cet. Saya th. 1386 H. 
[3]. Al-Maudhuu'aat (III / 55), karya Ibnul Jauzi. 
Ibnul Jauzi berkata, “Ketahuilah yang sebenarnya kumpulan Sahabat dan Tabi'in pernah menyemir rambut mereka. Di antara mereka adalah: al-Hasan, al-Husain, Sa'd bin Abi Waqqas, demikian pula banyak dari kalangan Tabi'in yang membotaki rambut mereka. Sebagian memakruhkannya hanya karena di dalamnya ada yang tidak penyamaran. Seharusnya mencapai derajat haram kompilasi tidak ada penyamaran, maka pendapat ini perlu mendapat percakapan. Tidak ada seorang pun yang setuju demikian. ”(Al-Maudhu'aat III / 55).
An-Nawawi mengatakan, "Diharamkan pakai semir, rambut hitam, sesuai dengan yang paling benar, ada juga yang mengatakan hukumnya makruh tanzih, dan berpendapat yang paling tepat adalah haram, menurut sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: 
وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ. 
'Dan jauhilah warna hitam!' ” 
(Syarh Muslim XIV / 80). 
Ketika yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab al-Khidhaab dari az-Zuhri, beliau berkata, “Dahulu kami menyemir rambut dengan warna hitam kompilasi wajah masih (muda) meninggalkannya. ”Fat-hul Baari (X / 354-355).
Al-Albani berkata, "Yang jelaskan az-Zuhri tidak tahu sama sekali hadits yang mengharamkannya, dia setuju hanya dengan perasaannya saja, bagaimana pun juga, bagaimana memperbaikinya, perkerjaan atau tindakan yang dilepaskan dengan hujjah setelah melihat sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi, hadits yang dikeluarkan merupakan hujjah yang dibatalkan pendapat az-Zuhri juga yang lainnya. ”Ghaayatul Maraam (hal. 84). 
[4] (اَلثُّغَامَةُ) dengan tsa yang didhammahkan dan ghin yang berharakat: pohon yang sangat putih bunga dan buahnya, ada juga yang mengatakan pohon yang sangat putih bagaikan salju. 
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (I / 214), dan Fat-hul Baari (X / 355).
[5]. Shahiih Muslim, kitab al-Libaas waz Ziinah bab Istihbaabu Khidhaabis Syaib bi Shufratin au Humratin wa Tahriimuhu bis Sawaad ​​(XIV / 79, Syarh an-Nawawi).
28. TERSEBARNYA KEBAKHILAN DAN KEKIKIRAN 
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الشُّحُّ.
'Di antara tanda-tanda Kiamat adalah tersebarnya kekikiran.' ”[1]
Diriwayatkan dari Beliau pula, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّو
“Zaman saling bertentangan, amal berkurang dan kekikiran dilemparkan (ke dalam hati).” [2]
Diriwayatkan dari Mu'awiyah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَزْدَادُ اْلأَمْرُ إِلاَّ شِدَّةً ، وَلاَ يَزْدَادُ النَّـاسُ إِلاَّ شُحًّا.
"Segala sesuatu tidak akan bertambah kecuali semakin sulit, dan manusia tidak akan bertambah kecuali semakin berpikir." [3]
Kikir adalah akhlak tercela yang dikeluarkan oleh Islam. Islam menjelaskan siapa saja yang dijaga dari kekuatiran jiwanya, maka sungguh ia telah berhasil dan beruntung, dipertanyakankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"... Dan siapa yang dipelihara dari pikirannya, mereka adalah orang yang beruntung." [Al-Hasyr: 9 dan ath-Thaghaabun: 16]
Diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:
اتقوا الظلم, فإن الظلم ظلمات يوم القيامة, واتقوا الشح, فإن الشح أهلك من كان قبلكم, حملهم على أن سفكوا دماءهم, واستحلوا محارمهم.
"Jagalah diri kalian dari kezhaliman, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat, dan jagalah diri kalian dari kekikiran, karena kekikiran telah menumbuhkan orang-orang sebelum kalian, kekalahan itu telah mendukung mereka untuk saling menumpahkan darah dan mengasah apa-apa yang diharamkan bagi mereka. ”[4]
Al-Qadhi 'Iyadh rahimahullah berkata, "Mungkin saja kehancuran di sini adalah kehancuran yang dikabarkan tentang mereka di dunia, karena mereka saling menumpahkan darah, mungkin juga berkaitan dengan kehancuran di akhirat, yang tentu saja bisa, juga bisa maknanya adalah untuk digunakan di dunia dan akhirat. ”[5]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] 
_______ 
Catatan Kaki 
[1] . SDM. Ath-Thabrani dalam al-Ausath, lihat Fat-hul Baari (XIII / 15). 
Al-Haitsami berkata, "Perawinya adalah perawi ash-Shahiih, selain Muhammad bin al-Harits bin Sufyan, ia adalah tsiqah." Majma'uz Zawaa-id (VII / 327). 
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Zhuhuurul Fitan (XIII / 13, al-Fat-h). 
[3]. SDM. Ath-Thabrani. Perawi beliau adalah perawi ash-Shahiih (Majma'uz Zawaa-id VIII / 14). 
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Birr mencuci Shilah wal Aadaab, bab Tahriimuz Zhulmi (XVI / 134, Syarh an-Nawawi).
[5]. Syarah an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVI / 134).


Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3179-26-28-pemutusan-silaturahmi-jeleknya-hubungan-bertetangga-orang-tua-berlagak-seperti-anak-muda.html

Sabtu, 18 Mei 2019

tanda tanda kiamat : 29-31. Banyaknya Perdagangan. Terjadinya Gempa Bumi. Banyaknya Orang Ditenggelamkan ke Dalam Bumi

29-31. Banyaknya Perdagangan. Terjadinya Gempa Bumi. Banyaknya Orang Ditenggelamkan ke Dalam Bumi

TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Image result for tanda kiamat
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
29. BANYAKNYA PERDAGANGAN
Di antara tanda-tanda Kiamat adalah banyaknya perdagangan, dan penyebarannya ditengah-tengah manusia, sehingga kaum wanita ikut bergabung di dalamnya bersama kaum pria.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Hakim dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:
بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، حَتَّى تُشَارِكَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ.
“Menjelang tibanya hari Kiamat, salam hanya diucapkan kepada orang-orang tertentu, dan banyaknya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang.”[1]
An-Nasa-i meriwayatkan dari ‘Amr bin Taghlib Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَفْشُوَ الْمَالُ وَيَكْثُرَ وَتَفْشُوَ التِّجَارَةُ.
‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah melimpah ruahnya harta dan banyaknya perdagangan.”[2]
Hal ini telah terjadi, perdagangan menjadi banyak dan wanita ikut serta di dalamnya, sehingga banyak manusia yang terfitnah untuk mengumpulkan harta, bahkan berlomba-lomba mendapatkannya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa beliau tidak takut terhadap kefakiran yang menimpa umat ini, akan tetapi beliau takut ketika dunia dibentangkan kepada mereka hingga terjadi perlombaan di antara mereka (untuk mendapatkannya). Dijelaskan dalam hadits bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَـى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ.
“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang lebih aku takutkan menimpa kalian, akan tetapi yang aku takutkan atas kalian jika dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan (dunia) menghancurkan kalian sebagaimana (dunia) telah menghancurkan mereka.” [3] [Muttafaq ‘alaihi]
Dalam riwayat Muslim:
وَتُلْهِيْكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ.
“Dan (dunia) melalaikan kalian sebagaimana telah melalaikan mereka.” [4]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ، أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ؟ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ: نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَـا اللهُ. قَالَ رَسُـولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ: تَتَنَافَسُونَ، ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ، ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ، ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ.
“Jika Persia dan Romawi ditaklukkan untuk kalian, kaum apakah kalian?” ‘Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami akan mengucapkan (pujian) sebagaimana Allah memerintahkan kepada kami.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Atau selainnya: kalian akan berlomba-lomba, kemudian saling iri, kemudian saling memutuskan hubungan, kemudian saling membenci atau yang serupa dengannya.”[5]
Berlomba-lomba meraup dunia dapat melemahkan agama seseorang, menghancurkan umat, dan dapat mencabik-cabik persatuan mereka, sebagaimana terjadi pada masa-masa yang telah lalu, juga terjadi pada masa-masa sekarang ini.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Ahmad (V/333, Syarah Ahmad Syakir), beliau berkata, “Sanadnya shahih” dan Mustadrak al-Hakim (IV/45-446).
[2]. Sunan an-Nasa-i (VII/244, Syarh as-Suyuthi).
Hadits ini dari riwayat oleh al-Hasan dari ‘Amr bin Taghlib, sementara al-Hasan seorang mudallis, dan beliau meriwayatkannya secara ‘An’anah dalam hadits ini, akan tetapi beliau meriwayatkan dengan jelas dari ‘Amr bin Taghlib pada riwayat Imam Ahmad.
Lihat Musnad Ahmad (V/69, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz), dan lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, karya Syaikh al-Albani (II/251-252).
[3]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal Muwaada’ah bab al-Jizyah wal Muwaada’ah ma’a Ahlidz Dzimmah wal Harb (VI/257-258, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab az-Zuhd (XVIII/95, Syarh an-Nawawi).
[4]. Shahiih Muslim, kitab az-Zuhd (XVIII/96, Syarh an-Nawawi).
[5]. Shahiih Muslim, kitab az-Zuhd (XVIII/96, Syarh an-Nawawi).
30. BANYAK TERJADI GEMPA BUMI
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ.
‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi.’” [1]
Diriwayatkan dari Salamah bin Nufail as-Sakuni Radhiyallahu anhu, beliau berkata:
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (وَذَكَرَ الْحَدِيْثَ وَفِيْهِ) وَبَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مُوتَانٌ شَدِيدٌ وَبَعْدَهُ سَنَوَاتُ الزَّلاَزِلِ.
“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam… (lalu beliau menuturkan haditsnya) dan sebelum Kiamat ada dua kematian yang sangat dahsyat, dan setelahnya terjadi tahun-tahun yang dipenuhi dengan gempa bumi.” [2]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Telah terjadi banyak gempa di negeri-negeri bagian utara, timur, dan barat. Namun yang jelas bahwa yang dimaksud dengan banyaknya gempa adalah cakupannya yang menyeluruh dan terjadi secara terus-menerus.” [3]
Hal ini diperkuat dengan riwayat dari ‘Abdullah bin Hawalah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:
وَضَعَ رَسُـوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْ عَلَى رَأْسِي -أَوْ عَلىَ هَامَتِي- فَقَالَ: يَا ابْـنَ حَوَالَةَ! إِذَا رَأَيْتَ الْخِلاَفَةَ قَدْ نَزَلَتِ الأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ، فَقَدْ دَنَتِ الزَّلاَزِلُ وَالْبَلاَيَـا وَاْلأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku, lalu beliau berkata, ‘Wahai Ibnu Hawalah! Jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di atas bumi-bumi yang disucikan, maka telah dekatlah gempa, bencana dan masalah-masalah besar, dan hari Kiamat saat itu lebih dekat kepada manusia daripada dekatnya kedua tanganku ini dari kepalamu.’” [4]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan (XIII/81-82, al-Fat-h).
[2]. Musnad Imam Ahmad (IV/104, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani, al-Bazzar dan Abu Ya’la, perawi-nya tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/306).
[3]. Fat-hul Baari (XIII/ 87).
[4]. Musnad Ahmad (V/255, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz), Sunan Abi Dawud, kitab al-Jihaad bab Fir Rajul Yaghzuu wa Yaltamisul Ajri wal Ghaniimah (VII/209-210, dengan ‘Aunul Ma’buud) dan Mustadrakul Hakim (XXXXV/ 425), beliau berkata, “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih, akan tetapi mereka berdua tidak meriwayatkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/263, no. 7715).
31. BANYAKNYA ORANG-ORANG YANG DITENGGELAMKAN KE DALAM BUMI, DIRUBAH RAUT WAJAHNYA DAN DILEMPARI BATU
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
يَكُونُ فِي آخِرِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ قَالَتْ: قُلْتُ، يَا رَسُولَ اللهِ! أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا ظَهَرَ الْخُبْثُ.
“Akan ada pada akhir umatku (orang-orang) yang ditenggelamkan ke dalam bumi, dirubah raut wajahnya dan dilempari (batu).” ‘Aisyah berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan sementara masih ada orang-orang shalih di tengah-tengah kami?’ Beliau menjawab, ‘Betul, ketika kemaksiatan telah merajalela.’”[1]
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مَسْخٌ وَخَسْفٌ وَقَذْفٌ.
“Menjelang tibanya hari Kiamat akan ada (orang-orang) yang dirubah bentuknya, ditenggelamkan ke dalam bumi, dan dilempari batu.” [2]
Dan telah datang sebuah berita bahwasanya orang-orang Zindiq dan Qadariyyah pernah dirubah bentuk mereka juga pernah dilempari batu.
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ سَيَكُونُ فِـي أُمَّتِي مَسْخٌ وَقَذْفٌ، وَهُوَ فِـي الزِّنْدِقِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ.
‘Sesungguhnya akan ada pada umatku (orang-orang) yang dirubah bentuknya dan dilempari batu, hal itu terjadi pada orang-orang zindiq dan Qadariyah.’”[3]
Sementara dalam riwayat at-Tirmidzi:
فِـي هَذِهِ اْلأمَّةِ -أَوْ فِـي أُمَّتِي- خَسْفٌ أَوْ مَسْخٌ أَوْ قَذْفٌ فِـي أَهْلِ الْقَدَرِ.
“Akan ada pada umat ini -atau umatku- (orang-orang) yang ditenggelamkan, dirubah atau dilempari (batu), yaitu pada orang-orang yang mengingkari qadar.”[4]
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Shuhar al-‘Abdi dari bapaknya, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى يُخْسَفَ بِقَبَائِلَ فَيُقَـالُ مَنْ بَقِيَ مِنْ بَنِـي فُلاَنٍ؟ قَالَ: فَعَرَفْتُ حِينَ قَالَ: قَبَائِلَ أَنَّهَا الْعَرَبُ، ِلأَنَّ الْعَجَمَ تُنْسَبُ إِلَى قُرَاهَا.
‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga kabilah-kabilah ditenggelamkan ke dalam bumi.’ Lalu dikatakan, ‘Siapakah yang tersisa dari Bani Fulan?’ Dia berkata, “Aku mengetahui ketika beliau mengatakan ‘Kabilah-kabilah’ bahwa mereka adalah orang Arab, karena orang ‘ajam (selain Arab) dinisbatkan kepada nama kampungnya.” [5]
Diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, beliau berkata, Aku mendengar Buqairah, isteri al-Qa’qaa’ bin Abi Hadrad, berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِجَيْشٍ قَدْ خُسِفَ بِهِ قَرِيْبًا فَقَدْ أَظَلَّتِ السَّاعَةُ.
‘Jika kalian mendengar ada satu pasukan ditenggelamkan di tempat yang dekat, maka telah dekatlah hari Kiamat.’”[6]
Adanya orang-orang yang ditenggelamkan ke dalam bumi telah ditemukan di berbagai tempat di timur dan barat [7] sebelum masa kita sekarang ini. Demikian pula pada zaman kita sekarang ini telah banyak terjadi di berbagai belahan bumi, hal ini sebagai peringatan sebelum datangnya siksa yang sangat pedih, dan ancaman dari Allah kepada para hamba-Nya, juga sebagai siksa bagi orang-orang yang selalu melakukan bid’ah dan kemaksiatan, agar manusia mengambil pelajaran darinya, dan kembali kepada Rabb mereka, juga agar mereka tahu bahwasanya Kiamat sudah dekat. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dari siksa Allah kecuali dengan kembali kepada-Nya.
Telah ada ancaman bagi orang-orang yang selalu melakukan kemaksiatan, dari para pemusik, peminum khamr (minuman keras) dengan ditenggelamkan, dirubah bentuk mereka, dan dilempari batu.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فِي هَذِهِ اْلأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ: يَا رَسُولَ اللهِ! وَمَتَى ذَاكَ؟ قَالَ: إِذَا ظَهَرَتِ الْقَيَانِ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الْخُمُورُ.
“Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan dirubah rupanya,” lalu seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin bertanya, “Kapankah hal itu terjadi.” Beliau menjawab, “Ketika para penyanyi dan alat-alat musik telah bermunculan dan telah diminum minuman-minuman keras.” [8]
Dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’arه Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِـي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْـرِ اسْمِهَا، يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ، يَخْسِفُ اللهُ بِهِمُ اْلأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ.
‘Sungguh sekelompok manusia dari umatku akan meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya, alat musik dimainkan di atas kepala-kepala mereka, Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi.’”[9]
Al-maskh (perubahan bentuk) bisa terjadi secara hakiki atau secara maknawi.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ungkapan al-maskh di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’” [Al-Baqarah: 65]
Maknanya adalah al-maskh secara hakiki, bukan hanya secara maknawi. Inilah pendapat yang kuat, dipegang oleh Ibnu ‘Abbas juga yang lainnya dari kalangan imam ahli tafsir.
Sementara Mujahid, Abul ‘Aliyah, dan Qatadah berpendapat bahwa al-maskh di dalam ayat tersebut maknawi, artinya hati-hati mereka yang dirubah, tidak dijadikan kera secara hakiki.[10]
Ibnu Hajar menukil dua pendapat tersebut dari Ibnul ‘Arabi dan beliau berpendapat bahwa pendapat yang pertamalah yang lebih kuat.[11]
Adapun Rasyid Ridha dalam Tafsiirnya [12] memperkuat pendapat kedua, maknanya adalah perubahan bentuk di dalam akhlak mereka.
Ibnu Katsir rahimahullah menganggap mustahil pendapat yang diriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata, “Ini adalah pendapat yang aneh, bertentangan dengan zhahir dari redaksi dalam ayat ini juga yang lainnya.” [13]
Kemudian beliau berkata -setelah mengungkapkan pendapat sekelompok ulama-, “Maksud dari penuturan pendapat para ulama ini adalah penjelasan sesuatu yang bertentangan dengan pendapat Mujahid rahimahullah, yaitu bahwa al-maskhu adalah sesuatu yang maknawi bukan hakiki. Pendapat yang benar bahwa ia adalah sesuatu yang maknawi dan hakiki, wallaahu a’lam.” [14]
Seandainya kata al-maskh memiliki kemungkinan secara maknawi, maka kebanyakan orang yang menghalalkan kemaksiatan telah diubah hati-hati mereka. Sehingga, mereka tidak bisa membedakan antara yang halal dan yang haram, tidak juga antara yang ma’ruf dan yang munkar. Perumpamaan mereka dalam hal ini seperti kera dan babi, -hanya kepada Allah kita memohon keselamatan-. Akan terjadi apa-apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perubahan raut muka, baik yang maknawi maupun yang hakiki.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Fitan, bab Maa Jaa-a fil Khasaf (VI/418).
Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/358, no. 8012.
[2]. Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan, bab al-Khusuuf (II/1349).
Hadits ini shahih.
Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (III/13, no. 2853).
[3]. Musnad Ahmad (IX/73-74, no. 6208), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
[4]. At-Tirmidzi, bab-bab al-Qadar (VI/367-368).
Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (IV/103, no. 4150).
[5]. Musnad Ahmad (IV/483, Muntakhab Kanz).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan pe-rawinya tsiqat.” (Majma’uz Zawaa-id, VIII/9).
[6]. Musnad Ahmad (VI/378-379, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz).
Sanad hadits ini hasan, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shagiir (I/228, no. 631), dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (III/340, no. 1355).
[7]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 654), Fat-hul Baari (XIII/84), al-Isyaa’ah (hal. 49-52), dan ‘Aunul Ma’buud (XI/429).
[8]. Jaami’ at-Tirmidzi, bab-bab al-Fitan (VI/458, no. 458).
Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (IV/103, no. 4119).
[9]. Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan bab al-‘Uquubaat (II/1333, no. 4020).
Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (V/105, no. 5330).
[10]. Lihat Tafsiir Ibni Katsir (I/150-153).
[11]. Lihat Fat-hul Baari (X/56).
[12]. Tafsiir al-Manaar (I/343-344).
[13]. Tafsiir Ibni Katsir (I/151).
[14]. Tafsiir Ibni Katsir (I/-153).


Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3174-29-31-banyaknya-perdagangan-terjadinya-gempa-bumi-banyaknya-orang-ditenggelamkan-ke-dalam-bumi.html

Jumat, 17 Mei 2019

tanda tanda kiamat : 32-34. Lenyapnya Orang-Orang Shalih. Orang-Orang Hina Diangkat Sebagai Pemimpin

32-34. Lenyapnya Orang-Orang Shalih. Orang-Orang Hina Diangkat Sebagai Pemimpin

TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Image result for tanda kiamat
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
32. LENYAPNYA ORANG-ORANG SHALIH
Di antara tanda-tanda Kiamat adalah lenyapnya orang-orang shalih, sedikitnya orang-orang pilihan, dan banyaknya kejahatan sehingga yang ada hanyalah seburuk-buruknya manusia, kepada merekalah Kiamat akan datang.
Dijelaskan dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَأْخُذَ اللهُ شَرِيطَتَهُ مِنْ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَيَبْقَى فِيهَا عَجَاجَةٌ لاَ يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا.
‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga Allah mengambil orang-orang baik dari penduduk bumi, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang jelek, mereka tidak mengetahui yang baik dan tidak mengingkari yang munkar.’”[1]
Maknanya bahwa Allah akan mewafatkan orang-orang baik dan para ulama, lalu yang tersisa hanyalah orang-orang jelek yang tidak ada kebaikan di dalam diri mereka. Hal ini terjadi ketika ilmu diambil sementara manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin yang memberikan fatwa tanpa ilmu.
Dan diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya Radhiyallahu anhum, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُغَرْبَلُونَ فِيهِ غَرْبَلَةً يَبْقَى مِنْهُمْ حُثَالَةٌ قَدْ مَرِجَتْ عُهُودُهُمْ وَأَمَانَاتُهُمْ وَاخْتَلَفُوا فَكَانُوا هَكَذَا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.
“Akan datang pada manusia suatu zaman di mana mereka akan dipilih,
hingga yang tersisa dari mereka hanyalah orang-orang yang hina, perjanjian-perjanjian dan amanah mereka telah bercampur (tidak menentu), dan mereka berselisih, maka mereka seperti ini.” Beliau merenggangkan jari-jemarinya (menunjukkan keadaan mereka yang saling bermusuhan-ed.).”[2]
Lenyapnya orang-orang shalih terjadi ketika banyaknya kemaksiatan, dan ketika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan. Karena, jika orang-orang shalih melihat kemunkaran, lalu mereka tidak merubahnya dan kerusakan semakin banyak, maka siksaan akan turun kepada mereka semua, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.
“Apakah kami akan binasa sementara orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Betul, ketika kemaksiatan merajalela.” [HR, Al-Bukhari][3]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Ahmad (XI/181-182), syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
Dan Mustadrak al-Hakim (IV/435), al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits shahih dengan syarat asy-Syaikhani, jika al-Hasan mendengarkannya dari ‘Abdullah bin ‘Amr.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[2]. Musnad Ahmad (XII/12), syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
Dan Mustadrak al-Hakim (IV/435), al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih akan tetapi kedua-nya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[3]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Qaulin Nabiyyi J Wailun lil ‘Arab min Syarrin Qadiqtaraba (XIII/11, al-Fat-h).
33.ORANG-ORANG HINA DIANGKAT SEBAGAI PEMIMPIN
Di antara tanda-tandanya adalah orang-orang hina diangkat sebagai pemimpin dan lebih mempercayakan mereka melebihi orang-orang terbaik mereka. Sehingga segala urusan masyarakat berada di tangan orang-orang bodoh dan hina yang tidak ada kebaikan di dalam diri mereka. Ini adalah keterbalikan fakta dan berubahnya keadaan. Dan ini yang terjadi dan dapat kita saksikan di zaman ini. Anda bisa melihat bahwa kebanyakan pemimpin masyarakat juga dewan pertimbangan mereka adalah orang yang sangat rendah keshalihan dan keilmuannya. Padahal, semestinya orang-orang yang beragama dan bertakwalah yang lebih diutamakan dari selain mereka dalam menang-gung urusan masyarakat. Karena manusia yang paling mulia adalah orang-orang yang memiliki agama dan ketakwaan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” [Al-Hujuraat: 13]
Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempercayakan berbagai wilayah dan urusan manusia hanya kepada orang yang paling shalih dan paling berilmu. Demikian pula yang dilakukan para khalifah sepeninggal beliau. Contoh-contoh dalam masalah ini sangat banyak, di antaranya apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penduduk Najran:
َلأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلاً أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ، فَاسْتَشْـرَفَ لَهُ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ.
“Sungguh aku akan mengutus kepada kalian seorang yang benar-benar terpercaya,” lalu para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikannya, lalu beliau mengutus Abu ‘Ubaidah.[1]
Berikut ini sebagian hadits yang menunjukkan diangkatnya orang-orang hina sebagai pemimpin, dan hal itu merupakan tanda-tanda Kiamat.
Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا اْلأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَـا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.
“Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan, seorang pembohong dibenarkan dan seorang yang jujur dianggap berbohong, seorang pengkhianat dipercaya dan seseorang yang dipercaya dianggap khianat, dan saat itu Ruwaibidhah [2] akan berbicara.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” [3]
Dan di dalam hadits Jibril yang panjang diungkapkan:
وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْـرَاطِهَا… وَإِذَا كَانَتِ الْعُرُاةُ الْحُفَاةُ رُؤُوْسَ النَّاسِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا.
“Akan tetapi akan aku kabarkan kepadamu tanda-tandanya… yaitu jika orang yang telanjang tanpa alas kaki menjadi pemimpin manusia, maka itulah di antara tanda-tandanya.” [4]
Diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ فَخَيْرُ النَّاسِ يَوْمَئِذٍ مُؤْمِنٌ بَيْنَ كَرِيْمَيْنِ.
‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah orang-orang bodoh menguasai dunia, maka manusia yang paling baik ketika itu adalah seorang mukmin di antara dua orang mulia.’”[5]
Dijelaskan dalam sebuah hadits shahih:
إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat.” [6]
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ… أَنْ يَعْلُوَ التُّحُوْتُ الْوَعُوْلَ، أَكَذَلِكَ يَا عَبْدَ اللهِ بْـنِ مَسْعُوْدٍ سَمِعْتَهُ مِنْ نَبِيٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَرَبِّ الْكَعْبَةِ. قُلْنَـا: وَمَا التُّحُوْتُ؟ قَالَ: فُسُـوْلُ الرِّجَالِ، وَأَهْلُ الْبَيْتِ الْغَامِضَةِ يُرْفَعُوْنَ فَوْقَ صَالِحِيْهِمْ. وَالْوَعُوْلُ: أَهْلُ الْبَيْتِ الصَّالِحَة.ُ
“Di antara tanda-tanda Kiamat… at-Tuhuut ada di atas al-Wa-’uul”, apakah demikian kamu mendengarnya diri Nabi wahai ‘Abdullah bin Mas’ud?” Beliau menjawab, “Betul, demi Rabb Ka’bah,” kami bertanya, “Apakah at-Tuhuut itu?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang hina, dan orang dusun yang diangkat di atas orang-orang shalih, sementara al-Wa’uul adalah penghuni rumah yang shalih.” [7]
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى تَصِيرَ لِلُكَعِ ابْنِ لُكَعٍ.
“Tidak akan lenyap dunia sehingga orang-orang pandir menguasainya.” [8]
Maknanya adalah sehingga kenikmatan, kelezatan, dan kehormatan mengarah kepadanya.[9]
Dan dalam riwayat Imam Ahmad dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ.
“Tidak akan datang hari Kiamat hingga manusia yang paling berbahagia dengan dunia adalah orang-orang pandir.” [10]
Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu yang beliau riwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hilangnya amanah:
حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ: مَا أَجْلَدَهُ! مَا أَظْرَفَهُ! مَا أَعْقَلَهُ! وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ.
“Sehingga dikatakan kepada seseorang, ‘Sungguh kuat! Sungguh cerdas! Dan sungguh cerdik!’ Sementara tidak ada keimanan seberat biji sawi pun.” [11]
Inilah kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin pada zaman sekarang ini. Mereka berkata kepada seseorang, “Sungguh cerdas! Sungguh baik akhlaknya!” mereka mensifati dengan sifat-sifat yang paling indah, padahal mereka adalah manusia paling fasik, paling sedikit agama juga amanahnya. Bisa jadi sebenarnya dia musuh bagi kaum muslimin dan selalu berusaha untuk menghancurkan Islam. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab Akhbaarul Aahaad, bab Maa Jaa-a fii Ijaazati Khabaril Waahidish Shadiq (XIII/232, dalam al-Fat-h).
[2]. الرُّوَيْبِضَةُ diungkapkan tafsirannya di dalam matan hadits, yaitu orang bodoh. Dan الرُّوَيْبِضَةُ bentuk tashgiir dari kata (اَلرَّابِضَةُ), ia adalah orang-orang lemah yang diam tidak bisa melakukan hal-hal mulia, duduk tidak mencarinya dan orang yang hina tidak ada artinya.
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/185).
[3]. Musnad Imam Ahmad (XV/37-38), syarh dan ta’liq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya hasan, dan matannya shahih.”
Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah sanad yang jayyid, dan mereka tidak meriwayatkannya dari jalan ini.” (An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181). Tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Bayaanul Iimaan wal Islaam wal Ihsaan (I/163, Syarh an-Nawawi).
[5]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan dua sanad, dan para perawi salah satu dari keduanya tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/325).
[6]. Shahiihul Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Raf’ul Amaanah (XI/332, al-Fat-h).
[7]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan dua sanad, dan perawi salah satunya adalah tsiqah.” (Majma’uz Zawaa-id VII/325)
[8]. Musnad Imam Ahmad (XVI/284, syarah dan tahqiq Ahmad Syakir), beliau berkata, “Diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam al-Jaami’ush Shaghiir dan beliau memberikan lambang bahwa hadits tersebut hasan.” Al-Jaami’ush Shaghiir (II/200, dengan catatan pinggir Kunuuzul Haqaa-iq, karya al-Manawi).
Al-Haitsami berkata, “Perawi Ahmad adalah perawi ash-Shahiih, selain Kamil bin al-‘Ala, dia adalah tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/220).
Ibnu Katsir berkata, “Sanadnya jayyid dan kuat.” An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/142) (no. 7149).
[9]. Lihat kitab Faidhul Qadiir Syarh al-Jaami’ish Shagiir (V/394), karya ‘Abdurrauf al-Manawi.
[10]. Musnad Imam Ahmad (V/389, Muntakhab Kanzul ‘Ummal), as-Suyuthi memberikan tanda dalam kitab al-Jaami’ush Shaghiir bahwa hadits tersebut shahih (II/202, Kunuuzul Haqaa-iq, karya al-Manawi).
Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/177) (no. 7308).
[11]. Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Raf’ul Amaanah (XI/333, al-Fat-h), Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Raf’ul Amaanah wal Iimaan min ba’dil Quluub (II/167-170, Syarh an-Nawawi).
34. UCAPAN SALAM HANYA DITUJUKAN KEPADA ORANG YANG DIKENAL
Dan di antara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang hanya mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya. Dijelaskan di dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُلُ عَلَى الرَّجُلِ لاَ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ لِلْمَعْرِفَةِ.
‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang mengucap-kan salam kepada yang lainnya, dia mengucapkan salam kepadanya hanya dengan sebab kenal.” [HR. Ahmad][1]
Dalam riwayat beliau pula:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ.
“Sesungguhnya menjelang hari Kiamat akan ada pengucapan salam kepada orang-orang tertentu.”[2]
Hal ini dapat kita saksikan sekarang. Banyak orang yang mengucapkan salam hanya kepada orang yang mereka kenal. Tentu saja hal ini bertentangan dengan Sunnah, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk mengucapkan salam kepada orang yang Anda kenal atau tidak Anda kenal. Sesungguhnya hal itu merupakan sebab tersebarnya kecintaan di antara kaum muslimin yang pada akhirnya sebagai sebab keimanan yang dapat mengantarkannya ke Surga. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
‘Kalian tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.’” [HR. Muslim][3]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Ahmad (V/326), Ahmad Syakir berkata, “Isnadnya shahih.”
[2]. Musnad Ahmad (V/333), Ahmad Syakir berkata, “Isnadnya shahih.”
Al-Albani berkata, “Sanad ini shahih dengan syarat Muslim.” Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (II/251) (no. 647).
[3]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Bayaan Annahu la Yadkhulul Jannata Illal Mukminun (II/35, Syarh Muslim).


Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3171-32-34-lenyapnya-orang-orang-shalih-orang-orang-hina-diangkat-sebagai-pemimpin.html

Kamis, 16 Mei 2019

tanda tanda kiamat :38-41. Banyaknya Karya Tulis. Lalai Melaksanakan Ibadah Sunnah. Banyaknya Kedustaan

38-41. Banyaknya Karya Tulis. Lalai Melaksanakan Ibadah Sunnah. Banyaknya Kedustaan

TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Image result for tanda kiamat
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
38. BANYAKNYA KARYA TULIS DAN PENYEBARANNYA
Dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ… ظُهُورَ الْقَلَمِ.
“Sesungguhnya menjelang datangnya Kiamat… bermunculannya pena (qalam).” [1]
Yang dimaksud dengan bermunculannya qalam -wallaahu a’lam- adalah bermunculannya karya tulis [2] dan penyebarannya.
Dijelaskan dalam riwayat ath-Thayalisi dan an-Nasa-i dari ‘Amr bin Taghlib, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ… أَنْ يَكْثُرَ التُّجَّارُ وَيَظْهَرَ الْعِلْمُ.
‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat… ‘ banyaknya para peda-gang dan merebaknya ilmu.” [3]
Maknanya -wallaahu a’lam- munculnya berbagai media ilmu, yaitu buku.
Di zaman sekarang ini, hal itu telah berkembang dengan sangat pesat, dan menyebar di berbagai belahan bumi karena banyaknya alat-alat percetakan dan foto copy yang memudahkan penyebarannya. Walaupun demikian, ke-bodohan tetap saja menyebar di kalangan manusia, sedikitnya ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang bersumber dari al-Qur-an dan as-Sunnah dan pengamalan keduanya. Jadi, banyaknya buku sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka.” [4]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Ahmad (V/333-334) (no. 3870), syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[2]. Lihat Syarh Musnad Ahmad (V/334), karya Ahmad Syakir.
[3]. Minhatul Ma’buud fi Tartiibi Musnad ath-Thayalisi (II/112), tartib as-Sa’ati, dan Sunan an-Nasa-i, kitab al-Buyuu’, bab at-Tijaarah (VII/244).
At-Tuwaijiri berkata mengomentari riwayat an-Nasa-i, “Isnadnya shahih dengan syarat asy-Syaikhani.” Ithaaful Jamaa’ah (I/428).
[4]. Lihat Ithaaful Jamaa’ah (I/428).
39. LALAI DALAM MELAKSANAKAN IBADAH-IBADAH SUNNAH YANG SANGAT DIANJURKAN OLEH ISLAM
Di antaranya adalah lalai dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ، لاَ يُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ.
‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang melintas di dalam masjid, dia tidak melakukan shalat dua raka’at di dalamnya.’” [1]
Dan dalam satu riwayat:
أَنْ يَجْتَازَ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ، فَلاَ يُصَلِّي فِيْهِ.
“Seseorang melintas di dalam masjid, lalu dia tidak melakukan shalat di dalamnya.” [2]
Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدُ طُرُقًا.
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah masjid-masjid dijadikan sebagai jalan-jalan.” [3]
Dan diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata:
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدُ طُرُقًا.
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah masjid-masjid dijadikan sebagai jalan-jalan.” [4]
Perkara ini tidak boleh dilakukan, karena mengagungkan masjid termasuk mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah [5] (شَعَائِرُ الله) dan termasuk tanda keimanan juga ketakwaan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“… Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ.
“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk hingga melakukan shalat dua raka’at.” [6]
Di antara bencana paling besar adalah dijadikannya masjid sebagai tempat wisata bagi kaum kuffar, padahal sebelumnya ia adalah tempat untuk berdzikir dan beribadah, dan hal ini terjadi pada masa sekarang ini, sebagaimana terjadi di sebagian negeri Islam, juga negeri yang berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhim.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih Ibni Khuzaimah, bab Karaahiyatul Muruur fil Masaajid min Ghairi an Tushalla fiihaa, wal Bayaan annahu min Asyraatis Saa’ah (II/283-284) tahqiq Dr. Muhammad Mushthafa al-A’zhami, cet. al-Maktab al-Islaami, cet. I, th. 1391 H.
Al-Albani mengomentarinya, beliau berkata, “Isnadnya dha’if, akan tetapi baginya atau kebanyakannya memiliki jalan-jalan yang lain.”
Dan diungkapkan dalam kitab as-Silsilah ash-Shahiihah bahwa hadits tersebut memiliki jalan lain dari riwayat Ibnu Mas’ud yang memperkuatnya, lihat (II/253, no. 649).
[2]. HR. Al-Bazzar, dan al-Haitsami menshahihkan riwayat ini dalam Majma’uz Zawaa-id (VII/329).
[3]. Minhatul Ma’buud fi Tartiibi Musnad ath-Thayalisi (II/112), bab Ma Jaa-a fil Fitanillati Takuunu Baini Yadayis Saa’ah (II/212), tartib as-Sa’ati, dan Mustadrak al-Hakim (IV/ 446), beliau berkata, “Hadits ini shahih sanadnya.” Adz-Dzahabi berkata, “Mauquf.”
[4]. Ibid.
[5]. (شَعَائِرُ الله) adalah bentuk jamak dari kata (شَعِيْرَةٌ) maknanya adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai tanda dari tanda-tanda ketaatan kepada Allah. Lihat Tafsiir Ghariibil Qur-aan (hal. 32), karya Ibnu Qutaibah, dengan tahqiq as-Sayyid Ahmad Shaqr, cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut th. 1398 H.
[6]. Shahiih Muslim, kitab Shalaatul Musaafiriin wa Qashruha, bab Istihbaabu Tahiyyatil Masjiid bi Rak’ataini, wa Karaahiyatil Juluus Qabla Shalaatihima, wa Annaha Masyruu’atun fi Jamii’il Auqaat (V/225-226, Syarh an-Nawawi).
40. MEMBESARNYA BULAN SABIT
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ انْتِفَاخُ اْلأَهِلَّةِ.
‘Di antara tanda telah dekatnya Kiamat adalah membesarnya bulan sabit.’”[1]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ انْتِفَاخُ اْلأَهِلَّةِ، وَأَنْ يُـرَى الْهِلاَلُ لِلَّيْلَةِ، فَيُقَالُ: لِلَّيْلَتَيْنِ.
‘Di antara tanda telah dekatnya Kiamat adalah membesarnya bulan sabit. Bulan sabit[2] (yang sebelumnya) dilihat untuk satu malam, lalu dikatakan ‘untuk dua malam.’” [3]
Dan diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu secara marfu’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ أَنْ يُرَى الْهِلاَلُ لِلَّيْلَةِ، فَيُقَالُ: لِلَّيْلَتَيْنِ.
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah bulan sabit yang (sebelumnya) terlihat untuk satu malam, lalu dikatakan ‘untuk dua malam.’” [4]
Dalam dua riwayat ini disebutkan penafsiran membesarnya bulan sabit, hal tersebut sebagai ungkapan membesarnya bulan ketika muncul seperti biasanya pada awal bulan, bulan sabit yang muncul pada tanggal satu seperti bulan sabit yang muncul untuk tanggal dua, wallaahu a’lam.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabiir.
Al-Haitsami berkata, “Di dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Yusuf, beliau menyebutkannya dalam al-Mizaan untuk hadits ini, dan berkata, ‘Dia adalah majhul” (Majma’uz Zawaa-id III/146).
Lihat Miizaanul I’tidaal (II/600), karya adz-Dzahabi.
Al-Albani berkata, “Shahih.”
Kemudian beliau menyebutkan para imam yang meriwayatkannya, mereka adalah, “al-‘Uqaili dalam ad-Dhu’afaa’, Ibnu ‘Adi dalam al-Kaamil, dan ath-Thabrani dalam al-Ausath dan ash-Shaghiir.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dan ad-Dhiya al-Maqdisi.
Diriwayatkan dari Anas oleh al-Bukhari dalam at-Taariikh.
Diriwayatkan dari Thalhah bin Abi Hadrad dan Abu ‘Amr ad-Dani asy-Sya’bi dan al-Hasan secara Mursal.
Lihat Shahiih al-Jaami’ish-Shaghiir (V/213-214) (no. 5774).
[2]. Dalam riwayat Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (V/214) berbunyi: “وَأَنْ يُرَى الْهِلاَلُ قِبَلاً لِلَّيْلَةِ (Bulan sabit bisa dilihat dengan jelas untuk satu malam),” artinya, dilihat di saat munculnya. Kata qibalan artinya, dengan jelas. Lihat juga kitab at-Tadzkirah, halaman 648, karya Imam Qurthubi.
[3]. HR. Ath-Thabrani dalam ash-Shagiir.
Al-Haitsami berkata, “Di dalamnya ada ‘Abdurrahman bin al-Arzaq al-Anthali, dan saya tidak mendapatkan orang yang mengungkapkan biografi beliau.” Majma’uz Zawaa-id (III/146).
[4]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam ash-Shagiir, dan al-Ausath dari guru beliau al-Haitsam bin Khalid al-Mashishi, dan beliau dha’if.” Majma’uz Zawaa-id (VII/325).
Al-Albani berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan Dhiya’ al-Maqdisi, hadits tersebut hasan.” Lihat kitab Shahiihul Jaami’ (V/214) (no. 5775).
41. BANYAKNYA KEDUSTAAN DAN TIDAK ADANYA TATSABBUT (MENCARI KEPASTIAN) DALAM MENUKIL BERITA
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:
سَيَكُونُ فِـي آخِرِ أُمَّتِـي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ.
“Akan ada sekelompok manusia di akhir umatku yang akan berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya tidak pula oleh bapak-bapak kalian, maka berhati-hatilah kalian dan hindarilah mereka (agar tidak menimpakan fitnah kepada kalian).” [1]
Dalam satu riwayat:
يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنَ اْلأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لاَ يُضِلُّونَكُمْ وَلاَ يَفْتِنُونَكُمْ.
“Pada akhir zaman akan ada para pembohong yang membawa berita kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar, tidak juga pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka hati-hatilah kalian dan hindarilah mereka agar tidak menyesatkan kalian juga tidak mendatangkan fitnah kepada kalian.” [2]
Muslim rahimahullah meriwayatkan dari ‘Amir bin ‘Abdah, dia berkata, “‘Abdullah [3] berkata:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لِيَتَمَثَّلُ فِي صُورَةِ الرَّجُلِ فَيَأْتِي الْقَوْمَ فَيُحَدِّثُهُمْ بِالْحَدِيثِ مِنَ الْكَذِبِ فَيَتَفَرَّقُونَ فَيَقُولُ الرَّجُلُ مِنْهُمْ سَمِعْتُ رَجُلاً أَعْرِفُ وَجْهَهُ وَلاَ أَدْرِي مَا اسْمُهُ يُحَدِّثُ.
‘Sesungguhnya syaitan menjelma dalam rupa seseorang, lalu dia mendatangi suatu kaum dan menceritakan sebuah berita bohong, akhirnya mereka berselisih. Lalu seseorang dari mereka berkata, ‘Aku mendengar seseorang bercerita, ‘Aku mengetahui wajahnya akan tetapi tidak mengetahui namanya.’” [4]
Dan diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
إِنَّ فِـي الْبَحْرِ شَيَاطِينَ مَسْجُونَةً أَوْثَقَهَا سُلَيْمَانُ يُوشِكُ أَنْ تَخْرُجَ فَتَقْرَأَ عَلَى النَّاسِ قُرْآنًا.
“Sesungguhnya di dalam lautan ada syaitan-syaitan terpenjara yang diikat oleh Sulaiman, hampir saja mereka keluar, lalu membacakan al-Qur-an kepada manusia.” [5]
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Maknanya adalah membacakan sesuatu yang bukan al-Qur-an, akan tetapi mengatakan bahwa hal itu merupakan al-Qur-an untuk menipu orang awam dari kalangan manusia, maka hendaklah mereka tidak tertipu.” [6]
Betapa banyak pembicaraan aneh di zaman sekarang ini. Sebagian manusia tidak hati-hati lagi dengan banyak berbicara bohong dan menukil berita tanpa memastikan terlebih dahulu tentang kebenarannya, hal itu jelas menyesatkan manusia dan memfitnah mereka. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan agar tidak membenarkan mereka. Para ulama hadits telah menjadikan hadits-hadits ini sebagai landasan tatsabbut (melakukan klarifikasi) dalam menukil sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memeriksa para perawi agar diketahui yang terpercaya dari yang lainnya.
Dengan sebab banyaknya kebohongan manusia pada zaman sekarang ini, maka manusia tidak bisa membedakan berbagai berita, akhirnya dia tidak mengetahui antara berita yang benar dan tidak.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih Muslim, al-Muqaddimah, bab an-Nahyu ‘anir Riwaayah ‘anidh Dhu’afaa’ (I/78, Syarh an-Nawawi).
[2]. Ibid (I/78-79, Syarh Shahiih Muslim lin Nawawi).
[3]. Beliau adalah ‘Abdullah bin Mas’ud z, orang yang meriwayatkan darinya adalah ‘Amir bin ‘Abduh al-Bajali al-Kufi, Abu ‘Iyas, seorang Tabi’in, tsiqah. Ibnu Hajar telah memberikan isyarat kepada riwayat ini dalam Tahdziibut Tahdziib (V/78-79), dan beliau menuturkan bahwa riwayat tersebut dari ‘Amir bin ‘Abduh bin ‘Abdillah bin Mas’ud.
[4]. Shahiih Muslim, al-Muqaddimah, (I/78, Syarh an-Nawawi).
[5]. Shahiih Muslim, al-Muqaddimah, bab an-Nahyu ‘anir Riwaayah ‘anidh Dhu’afaa’ (I/79, Syarh an-Nawawi).
[6]. Syarah an-Nawawi untuk Shahiih Muslim (I/80).


Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/980-38-41-banyaknya-karya-tulis-lalai-melaksanakan-ibadah-sunnah-banyaknya-kedustaan.html

Rabu, 15 Mei 2019

tanda tanda kiamat : 42-45. Banyaknya Persaksian Palsu. Banyaknya Kaum Wanita. Banyaknya Kematian Mendadak


42-45. Banyaknya Persaksian Palsu. Banyaknya Kaum Wanita. Banyaknya Kematian Mendadak


TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Image result for tanda kiamat
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
42. BANYAKNYA PERSAKSIAN PALSU DAN MENYEMBUNYIKAN PERSAKSIAN YANG BENAR
Dijelaskan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ… شَهَادَةُ الزُّورِ وَكِتْمَانُ شَهَادَةِ الْحَقِّ.
“Sesungguhnya menjelang datangnya Kiamat… (akan banyak) persaksian palsu dan menyembunyikan persaksian yang benar.” [1]
شَهَادَةُ الزُّوْرِ (Persaksian palsu) adalah kebohongan yang disengaja dalam persaksian. Maka, sebagaimana persaksian palsu sebagai sebab pembatalan kebenaran, demikian pula menyembunyikan persaksian sebagai sebab pembatalan kebenaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ
“… Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya…” [Al-Baqarah: 283]
Diriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Dahulu kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَـرِ الْكَبَائِرِ (ثَلاَثًا)؟ اَلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ -أَوْ قَوْلُ الزُّوْرِ-، وَكَـانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ، فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ.
‘Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa besar yang paling besar?’ (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali), ‘Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, persaksian palsu -ucapan bohong-.’” Ketika itu beliau bersandar, lalu duduk, senantiasa beliau mengulang-ulangnya hingga kami berkata (dalam hati), “Andaikata beliau diam.” [2]
Persaksian palsu dan menyembunyikan persaksian yang benar banyak terjadi pada zaman ini!
Dengan sebab bahaya hal ini sangat besar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkannya dengan kemusyrikan juga berbuat durhaka kepada kedua orang tua. Karena sesungguhnya memberikan persaksian palsu adalah sebab munculnya kezhaliman, berbuat semena-mena, dan menghilangkan hak orang lain dalam harta juga kehormatan. Munculnya hal ini merupakan dalil lemahnya keiman-an juga tidak adanya rasa takut kepada Allah Yang Maha Pengasih.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Imam Ahmad (V/333), syarah Ahmad Syakir, telah terdahulu takhrijnya, dan hadits ini shahih.
Lihat Tafsiir Ibni Katsir (VI/140), dan Fat-hul Baari (V/262).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kita asy-Syahaadaat, bab Maa Qiila fi Syahaadatiz Zuur (V/261, al-Fat-h), Shahiih Muslim , kitab al-Iimaan, bab al-Kabaa-ir wa Akbaruha (II/81-82, Syarh an-Nawawi).
43. BANYAKNYA KAUM WANITA DAN SEDIKITNYA KAUM PRIA
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Sungguh aku akan memberitakan kepada kalian sebuah hadits yang tidak akan diriwayatkan oleh seorang pun sesudahku, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا، وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ.
‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah sedikitnya ilmu, merajalelanya kebodohan, merajalelanya zina, banyaknya kaum wanita, dan sedikitnya kaum pria, hingga untuk lima puluh orang wanita hanya ada satu orang laki-laki yang mengurusnya.’”[1]
Ada yang berpendapat bahwa hal itu disebabkan banyaknya fitnah (peperangan), sehingga banyak kaum pria yang terbunuh, karena mereka adalah orang-orang yang selalu melakukan peperangan dan bukan kaum wanita.[2]
Ada juga yang berpendapat bahwa hal itu disebabkan banyaknya penaklukan, yang berakibat banyak pula tawanan wanita, sehingga seorang laki-laki banyak mendapatkan para wanita tawanan yang bisa disetubuhi olehnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Pendapat tersebut perlu dipertimbangkan, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas-jelas menyatakan jumlah (laki-laki) yang sedikit dalam hadits Abu Musa… beliau bersabda:
مِنْ قِلَّةِ الرِّجَالِ وَكَثْرَةِ النِّسَاءِ.
“Karena sedikitnya kaum pria dan banyaknya kaum wanita.” [3]
Yang jelas hal itu benar-benar sebagai tanda bukan karena sebab lainnya. Bahkan Allah mentakdirkan pada akhir zaman sedikitnya anak laki-laki yang dilahirkan, dan banyaknya anak wanita yang dilahirkan. Keadaan banyaknya wanita sebagai tanda Kiamat sesuai dengan menyebarnya kebodohan dan diangkatnya ilmu.[4]
Kami katakan: Tidak ada alasan yang menghalangi bahwa hal itu sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar, juga sebab-sebab lain yang menyebabkan sedikitnya kaum pria dan banyaknya kaum wanita, seperti terjadinya berbagai fitnah yang menimbulkan peperangan. Dijelaskan dalam riwayat Imam Muslim hadits yang menunjukkan bahwa banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria disebabkan perginya kaum pria berperang dan kaum wanita yang tinggal (di rumah), dan biasanya yang banyak membinasakan kaum pria adalah banyaknya peperangan. Lafazh Muslim adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
…وَيَذْهَبُ الرِّجَالُ وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّـى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ.
“… dan pergilah kaum pria dan tetap tinggallah kaum wanita, sehingga lima puluh orang wanita berada di bawah (tanggung jawab) satu orang pria.” [5]
Yang dimaksud lima puluh di sini bukanlah jumlah secara hakiki, sebab dijelaskan di dalam hadits Abu Musa Radhiyallahu anhu :
وَيُرَى الرَّجُلُ يَتْبَعُهُ أَرْبَعُونَ امْرَأَةً يَلُذْنَ بِهِ.
“Dan akan disaksikan satu orang laki-laki diikuti oleh 40 wanita, mereka bersenang-senang dengannya.” [6]
Bilangan tersebut sebagai majaz yang berarti banyak, walallaahu a’lam.
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmu bab Raf’ul ‘Ilmi wa Zhuhuurul Jahli (I/178, dalam al-Fat-hul), Shahiih Muslim kitab al-Ilmi bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/221, dalam Syarah an-Nawawi), dan Jaami’ at-Tirmidzi, bab Maa Jaa-a fii Asyraatis Saa’ah (VI/448) (no. 2301).
[2]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 639), Syarh an-Nawawi Shahiih Muslim (VII/96-97), dan Fat-hul Baari (I/ 179).
[3]. Shahiih Muslim, kitab az-Zakaah, bab Kullu Nau-in minal Ma’ruuf Shadaqah (VII/96, Syarh an-Nawawi).
[4]. Fat-hul Baari (I/179).
[5]. Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi, bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan (XVI/ 221, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih Muslim, (VII/96, Syarh an-Nawawi).
44. BANYAKNYA KEMATIAN MENDADAK
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dia memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ… أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَةِ.
“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari Kiamat adalah… banyak terjadi kematian mendadak.” [1]
Ini adalah kejadian yang bisa kita saksikan pada zaman sekarang, di mana banyak orang yang mati secara mendadak. Sebelumnya Anda melihat seseorang berada dalam keadaan sehat dan bugar, kemudian dia mati secara tiba-tiba. Masyarakat zaman sekarang mengistilahkannya dengan “serangan jantung”, maka orang-orang yang berakal hendaklah selalu berhati-hati terhadap dirinya, kembali dan bertaubat kepada Allah Ta’ala sebelum datangnya kematian secara mendadak.
Imam al-Bukhari rahimahullah pernah berkata :
اِغْتَنِمْ فِي الْفَرَاغِ فَضْلَ الرُّكُوْعِ فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ مَوْتُكُ بَغْتَهْ
كَمْ صَحِيْحٍ رَأَيْتُ مِنْ غَيْرِ سُقْمٍ ذَهَبَتْ نَفْسُهُ الصَّحِيْحَةُ فَلْتَهْ
Gunakanlah waktu luang untuk mendapatkan keutamaan shalat,
bisa jadi kematianmu itu terjadi dengan tiba-tiba.
Berapa banyak aku melihat orang dalam keadaan sehat tak berpenyakit,
jiwanya yang sehat lepas pergi.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dan sungguh menakjubkan, tidak lama kemudian kematian mendadak juga menimpa beliau -al-Bukhari rahimahullah-.”[2]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam ash-Shaghiir, dan al-Ausath dari gurunya al-Haitsam bin Khalid al-Mashishi, dan dia dha’if.” Maj’mauz Zawaa-id (VII/325).
Al-Albani berkata, “Hasan,” lalu beliau menyebutkan para ulama yang meriwayatkannya, mereka adalah ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan adh-Dhiya’ al-Maqdisi. Lihat Shahiih al-Jaami’ish-Shaghiir (V/214) (no. 5775).
[2]. Hadyus Saari Muqaddimah Fat-hul Baari (hal. 481) karya Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, ditakhrij dan ditash-hih oleh Muhibbuddin al-Khatib, pencetakannya di bawah pengawasan oleh Qushay Muhibbuddin al-Khatib, disebarluaskan dan dibagikan oleh Lembaga Penelitian Ilmiyah dan Fatwa- Riyadh.
45. MANUSIA TIDAK SALING MENGENAL
Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang tanda-tanda Kiamat, lalu beliau menjawab:
عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي، لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ، وَلَكِنْ أُخْبِرُكُمْ بِمَشَارِيطِهَا، وَمَا يَكُونُ بَيْنَ يَدَيْهَا، إِنَّ بَيْنَ يَدَيْهَا فِتْنَةً وَهَرْجًا، قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ! الْفِتْنَةُ قَدْ عَرَفْنَاهَا، فَالْهَرْجُ مَا هُوَ؟ قَالَ: بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ: الْقَتْلُ. وَيُلْقَى بَيْنَ النَّاسِ التَّنَاكُرُ فَلاَ يَكَادُ أَحَدٌ أَنْ يَعْرِفَ أَحَدًا.
‘Ilmunya ada di sisi Rabb-ku, tidak ada yang bisa menjelaskan tentang waktunya kecuali Dia. Akan tetapi, aku akan mengabarkan kepadamu tentang tanda-tandanya dan apa yang akan terjadi sebelumnya, sesungguhnya sebelum terjadi (Kiamat) akan ada berbagai fitnah dan al-harj.’ Para Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, fitnah telah kami ketahui, lalu apakah makna al-harj itu?’ Beliau menjawab, ‘(Al-harj) dalam bahasa orang Habasyah maknanya adalah pembunuhan, dan akan dilemparkan di antara manusia sikap tidak saling mengenal, sehingga hampir saja se-seorang tidak mengenal yang lainnya.’” [1]
Tidak saling mengenal terjadi ketika muncul banyak fitnah, ujian, banyaknya peperangan di antara manusia dan ketika kekayaan telah menguasai banyak manusia. Masing-masing bekerja hanya untuk kebutuhan dirinya tanpa mau peduli terhadap kemaslahatan orang lain, juga tidak memperhatikan hak-hak mereka. Akhirnya, tersebarlah sikap egois diiringi kebencian, banyak manusia hidup dalam bingkai hawa nafsu dan syahwat. Tidak ada nilai-nilai akhlak yang dengannya manusia bisa mengenal yang lainnya, tidak ada per-saudaraan keimanan yang menjadikan mereka berjumpa dengan landasan cinta karena Allah, dan menjadikan mereka saling membantu di dalam kebaikan dan ketakwaan.
Ath-Thabrani meriwayatkan dari Muhammad bin Sauqah, beliau berkata, “Aku mendatangi Nu’aim bin Abi Hind, lalu beliau mengeluarkan secarik kertas, ternyata di dalamnya tertulis: Dari Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal kepada ‘Umar bin al-Khaththab: Salaamun ‘ailaika… Lalu dia membacakan surat tersebut, di dalamnya terdapat kalimat yang berbunyi, “Kami pernah berbincang-bincang bahwa urusan umat di akhir zaman akan kembali kepada kondisi di mana mereka bersaudara secara lahir akan tetapi bathin mereka bermusuhan.” Kemudian menyebutkan jawaban ‘Umar, kepada keduanya, di antara isinya adalah: “Dan kalian berdua telah menulis surat yang mengingatkan bahwa urusan umat akan kembali kepada kondisi di mana mereka bersaudara secara lahir namun mereka bermusuhan, sedangkan kalian tidak termasuk mereka, dan sekarang bukanlah zamannya, pada zaman itu akan muncul sikap cinta dan benci. Rasa cinta sebagian orang dengan yang lainnya hanya dalam kemaslahatan dunia mereka saja.” [2]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Imam Ahmad (V/389, Muntakhab Kanzul ‘Ummal).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” Majma’uz Zawaa-id (V/309).
[2]. At-Tuwaijiri berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani.” Al-Haitsami berkata, “Para perawi yang meriwayatkan hadits ini terpercaya.” Ithaaful Jamaa’ah (I/504).
Saya telah mencarinya di dalam kitab Majma’uz Zawaa-id akan tetapi saya sama sekali tidak mendapatkan nash ini, dan saya mendapatkan hadits dari Mu’adz bin Jabal, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَكُوْنُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَقْوَامٌ إِخْوَانُ الْعَلاَنِيَةِ أَعْدَاءُ السِّرِّيْرَةِ، قَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ! كَيْفَ يَكُوْنُ ذلِكَ؟ قَالَ: بِرَغْبَةِ بَعْضِهِمْ إِلىَ بَعْضٍ، وَبِرَهْبَةِ بَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ.
‘Di akhir zaman nanti akan ada beberapa kaum yang saling bersaudara secara zhahir, akan tetapi hati mereka saling bermusuhan.’ Dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana hal itu bisa terjadi?’ Beliau menjawab, ‘Disebabkan kecintaan sebagian dari mereka kepada yang lainnya, dan dengan sebab kebencian sebagian dari mereka kepada yang lainnya.”
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan ath-Thabrani dalam al-Ausath, di dalamnya ada Abu Bakar bin Abi Maryam, hadits ini dha’if.” Ma-jma’uz Zawaa-id (VII/286).


Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/833-42-45-banyaknya-persaksian-palsu-banyaknya-kaum-wanita-banyaknya-kematian-mendadak.html