Jumat, 11 Agustus 2017

SANDARAN HATI


السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان
Ma'āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh.
Banyak diantara kita yang tidak memahami tingginya kedudukan bersandar kepada Allāh dalam segala sesuatu yang kita inginkan. Baik dalam kebaikan-kebaikan urusan dunia apalagi dalam urusan agama.
Tidak sedikit diantara kita yang menganggap (misalnya) bertawakkal, berdo'a kepada Allāh, bergantung kepada-Nya itu adalah perkara yang dilakukan nomor dua, nomor tiga atau nomor empat. Pertama kita usaha dulu, lakukan dulu dengan anggota badan kita.
Biasanya orang-orang mengatakan ikhtiyār dulu baru tawakkal setelah itu.
⇒ Apakah ini benar? 
Tentu ini bukan hal yang dibenarkan dalam agama.
Bertawakkal itu dilakukan dari awal, pertengahan dan sampai akhir, tidak dijadikan urusan kedua atau ketiga.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan dalam Al Qurān, hidayah tergantung dari i'tisham penyandaran diri kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
_"Barang siapa yang selalu bersandar kepada Allāh, berpegang teguh dengan Allāh, maka dialah yang mendapatkan bimbingan, petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus."_
(QS Ali 'Imrān: 101)
Mengenai tawakkal, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam Al Qur'ān:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
_"Barangsiapa yang bertawakkal (berserah diri) menyandarkan hatinya dengan benar kepada Allāh maka Allāh akan mencukupi segala urusan dan kebutuhannya."_
(QS Ath Thalāq: 3)
Coba lihat!
Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan tentang tawakkal itu yang harusnya diutamakan (didahulukan).
Memang kita diperintahkan untuk melakukan sebab.
Tapi siapa yang mengatakan sebab itu hanya usaha-usaha zhahir yang dilakukan manusia?
Hanya berdasarkan apa yang dipikirkan, strategi yang dirancang manusia atau kekuatan fisiknya, keterampilan badannya, siapa yang mengatakan demikian?
⇒ Do'a adalah sebaik-baik usaha, penyandaran hati adalah usaha yang paling utama.
Imām Ibnu Qayyim rahimahullāh mengatakan:
إن الدعاء من أقىوى الأسباب لجلبل مصاله ودفع المكرة
_"Sesungguhnya do'a termasuk usaha yang paling kuat, sebab yang paling besar untuk bisa mendatangkan kebaikan-kebaikan dan menolak keburukan-keburukan (kejelekan-kejelekan)."_
Jadi penyandaran hati, tawakkal, takut dan berharap kepada Allāh, yakin dengan pilihan-Nya, ridhā dengan ketentuan-Nya, selalu bersangka baik kepada Allāh, ini justru yang menentukan keberhasilan dan kebaikan. Ini justru yang menjadikan tenang hati hamba ketika bersandar kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Oleh karenanya, dalam hadīts qudsi Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
أَنَا عِندَظَنِّ عَبْدِى بِى
_"Aku ini sesuai dengan persangkaan, sesuai dengan pengharapan hambaku kepadaku."_
(Muttafaqun 'alaih)
Lihatlah, dalam hal pengampunan dosa, sebanyak apapun hamba berbuat dosa, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam sebuah hadīts qudsi yang shahīh riwayat Tirmidzi dan yang lainnya:
يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ
_"Wahai manusia, selama engkau masih berharap kepada Allāh, berdo'a kepada Allāh maka aku akan ampuni semua dosa-dosamu, tidak perduli sebanyak apapun dosa tersebut."_
(Hadīts shahīh riwayat Tirmidzi nomor 3540)
Salah seorang shahābat Nabi  shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika (sedang sakit) pernah dijengguk oleh Nabi  shallallāhu 'alayhi wa sallam. Ditanya oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
كَيْفَ تَجِدُك 
_"Apa yang kamu rasakan saat ini?"_
Shahābat radhiyallāhu Ta'āla 'anhum itu mengatakan:
إِنِّى أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِي.
_"Wallāhi Yā Rasūlullāh, aku benar-benar mengharapkan rahmat Allāh dan mengkhawatirkan dosa-dosaku (takut dosa-dosaku)."_
Ketika itu Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda:
لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ
_"Demi Allāh yang jiwaku ditangan-Nya, tidaklah terkumpul dua perasaan (yaitu) takut dan berharap dalam hati seorang hamba dalam kondisi sakit seperti ini, kecuali Allāh akan berikan apa yang diharapkannya dan Allāh akan selamatkan dia dari apa yang dilakukannya."_
(Hadīts ini derajatnya hasan diriwayatkan oleh Tirmidzi nomor 983)
Luar biasa, pengaruh dari penyandaran hati.
Makanya a'āsyiral muslimīn rahimakumullāh, janganlah kita mempersempit yang luas, apalagi mengatakan:
"Kita dahulukan dulu usaha, menyusun strategi, perbuatan ketrampilan anggota badan, baru kita bertawakkal, baru kita berdo'a dan bersandar kepada Allāh."
Subhānallāh.
√ Apakah pantas kita mengatakan pertolongan Allāh itu belakangan kita harapkan? Bukan dari awal?
√ Siapa yang akan memberikan bimbingan kepada kita dari awal untuk memulainya dengan tepat?
√ Untuk merencanakannya sesuai dengan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan, kalau bukan karena pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla?
⇒ Kenapa kita menjadikan, memohon pertolongannya itu nomor dua? Apalagi dalam urusan-urusan kebaikan yang berhubungan dengan agama?
Oleh karena itulah ma'āsyiral muslimīn rahimakumullāh, perkara tentang tawakkal, bersandar kepada Allāh tidak boleh kita remehkan. Sehingga sebelum berusaha, berbuat apa saja kita harus  berpikir:
→ Usaha ini bisa kita rancang strategi untuk menghasilkan yang baik.
→ Usaha ini mungkin dengan ketrampilan kita, hasil kursus kita, hasil bertanya kita, pengalaman kita, kita bisa memikirkan bagaimana caranya sebab-sebab untuk menghasilkan yang baik.
Tapi pertanyaannya, apakah kita tahu akibat kebaikan dari segala sesuatu ?
Apakah kita pastikan usaha yang kita anggap baik ini nanti juga akibatnya akan baik, dampaknya akan baik?
Utamanya bagi agama kita?
Pertanyaan yang lebih tinggi dari pada itu, apakah kamu yang lebih tahu dibandingkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla?
Siapa yang sempurna pengetahuannya, yang mengetahui segala sesuatu dengan akibat-akibatnya?
Siapa yang bisa memastikan kebaikan yang kita perkirakan ini benar-benar baik untuk agama kita?
⇒ Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang Maha mengetahui semuanya.
Makanya, perencanaan yang ada di dalam pikiran manusia bisa jadi dianggapnya baik, tapi bisa jadi setelah itu menimbulkan yang buruk.
Apa-apa yang tidak disukainya dianggap buruk, tapi ternyata bisa menghasilkan kebaikan. Karena manusia tidak tahu.
Bukankah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam Al Qur'ān:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُون
_"Wahai manusia, bisa jadi kamu menyukai sesuatu (kamu membenci sesuatu) padahal itu mendatangkan kebaikan bagimu, atau kamu menyukai sesuatu padahal justru memberikan keburukan bagimu, dan Allāh Maha mengetahui sedangkan kalian (manusia) tidak mengetahui."_
(QS Al Baqarah: 216)
Maka tahu dirilah untuk kita kemudian mengatakan, "Setinggi apapun pengetahuan saya, saya tetap tidak mengetahui akibat dari segala sesuatu."
Tahu dirilah untuk kita bersandar kepada sebaik-baik Dzat tempat kita pantas bersandar kepada-Nya, karena Dia sempurna ilmu-Nya, sempurna kebaikan-Nya, sempurna rahmat dan karunia-Nya.
Wallāhi, tentu pilihan-Nya lebih baik dari pada apa yang dipilih, dirancang dan direncanakan manusia itu untuk dirinya sendiri. Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang Maha mengetahui dan Maha kuasa atas segala sesuatu.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan nasehat ini bermanfaat dan memahami bahwa penyandaran diri kita kepada Allāh dari awal sampai akhir justru yang merupakan penentu terbesar dari kebaikan, hasil yang baik, dan kesudahan yang baik dari segala urusan kita.
Demikianlah mohon maaf atas segala yang salah dan kurang.
Shallallāhu wa sallam wabārak 'alā nabiyyinā Muhammad wa 'alā alihi wa ashabihi waman tabi'ahum bi ihsanin ila yaumidīn, walhamdulillāhi rabbil'alamīn.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
------------------------------------------
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/
*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*
www.cintasedekah.org
 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------
 BimbinganIslam.com
Sabtu, 19 Shafar 1438 H / 19 November 2016 M
 Ustadz 'Abdullāh Taslim, MA
 Materi Tematik | Sandaran Hati
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AT-SandaranHati
 Sumber: https://yufid.tv/14480-ceramah-singkat-sandaran-hati-ustadz-abdullah-taslim-ma.html
-----------------------------------




Senin, 07 Agustus 2017

Jangan Remehkan Bid'ah Kecil




Di Antara Faedah Kajian Sabtu Pagi, bersama: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

Dan harus diperhatikan: KETIKA SESEORANG BERBUAT BID’AH; MAKA DIAWALI DENGAN BID’AH YANG KECIL. Imam Al-Barbahari (wafat th. 329 H) -rahimahullaah- berkata dalam “Syarhus Sunnah”:

“JAUHILAH SETIAP PERKARA BID’AH SEKECIL APA PUN, KARENA BID’AH YANG KECIL: LAMBAT LAUN AKAN MENJADI BESAR. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”

Dan contohnya sudah ada di zaman Ibnu Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu- yang mengingkari orang-orang yang berdzikir dengan membuat halaqah dengan dipimpin orang yang memerintah. Dan para Shahabat yang lain menunggu fatwa Ibnu Mas’ud yang lebih berilmu. Maka Ibnu Mas’ud menegur dengan keras, karena tidak ada para Shahabat tidak ada yang melakukan seperti ini. Maka orang-orang yang berdzikir tersebut mengatakan: “Kami tidak menghendaki kecuali kebaikan.” Maka Ibnu Mas’ud berkata:

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيْــبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya.”
Kemudian yang meriwayatkan atsar ini mengatakan bahwa orang-orang ini yang berdzikir dengan tata cara yang tidak dicontohkan Nabi dan para Shahabat: bergabung dengan Khawarij. Awalnya adalah bid’ah berupa dzikir kemudian menjadi besar sampai menjadi Khawarij dan memerangi ‘Ali bin Abi Thalib -radhiyallaahu ‘anhu-. (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi).

MAKA KITA BERHATI-HATI: JANGAN SEKALI-KALI KITA MEREMEHKAN BID’AH.

Agama sudah sempurna dan kewajiban kita untuk ittibaa’ (mengikuti) kepada Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, sebab Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Rasul): Jika kamu mencintai Allah; maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Tugas kita hanyalah ittiba’, dan ini mudah, tidak berat. Dengan adanya bid’ah; maka menyulitkan dan mengahabiskan biaya DAN SESAT.

Setiap kalimat (dalam dalil) yang menyebutkan tentang Surga; maka kita berusaha melaksanakannya, karena kita ingin masuk Surga, dan kalau disebutkan tentang Neraka; maka menjauhkan diri. Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan Bid’ah dengan ancaman Neraka; maka kita jauhkan! Jangan dianggap remeh!!

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِـي النَّارِ

“Setiap Bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” (HR. An-Nasa-i)

Ini ancaman, bukan berarti setiap orang yang berbuat bid’ah kita katakan: tempatnya di Neraka; maka ini tidak boleh. Ini bentuknya ancaman. Akan tetapi kita ingatkan: “Hati-hati, dengan berbuat bid’ah maka kamu (seolah-olah) merasa lebih baik dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, karena agama Islam telah sempurna, dan kamu melakukan suatu amalan yang Nabi tidak mencontohkan, maka nanti lambat-laun akan membawa ke Neraka.” Jadi kita hanya memberikan peringatan

Minggu, 06 Agustus 2017

Fasilitas Penggunaan Air di Masjidil Haram




Yang mau berangkat / sedang menjalankn haji/Umrah, berikut info sekilas ttg hal2 yg mgkn blm kita ketahui terkait Fasilitas2 di Masjidil Haram ..

Sekilas Info
7 Rahasia Masjidil Haram

Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi adalah masjid terbesar di dunia. Tidak semua tempat dijelajahi jamaah Indonesia, padahal sudut-sudutnya punya rahasia.

Karena faktor lokasi hotel, seluruh jamaah Indonesia baik umrah atau haji, selalu masuk dari pintu King Fahd Gate dan King Abdul Aziz Gate. Padahal itu baru 2 dari 95 pintu masjid yang ada di sana.

Area yang dilewati jamaah menuju Kabah, ya itu-itu saja. Namun jika ada waktu, cobalah menjelajahi masjid suci ini, ada banyak hal menarik bisa ditemukan di sana.

1. Tempat Wudhu dekat Ka'bah.
Ada anggapan keliru bahwa tempat wudhu Masjidil Haram cuma ada di luar dan itu jauuuuh sekali.

Tidak heran, jamaah yang batal wudhu suka cuek berwudhu di keran air minum.

Padahal, ada banyak tempat wudhu di dekat Kabah. Tidak percaya?
Kalau Anda berada di dekat Kabah, perhatikan semua tangga besar dan lebar dari lantai 1 untuk turun ke pelataran Kabah.
Ada 5 di berbagai arah Kabah.

Nah, di bawah semua tangga besar ini tersembunyi tempat wudhu.
Jadi jamaah tidak usah capek-capek pergi ke luar masjid.

2. Tempat Nobar Tutorial Umroh
Enaknya jadi jamaah Indonesia adalah didampingi pembimbing agama saat umrah dan haji.
Tapi bagaimana dengan jamaah negara lain yang minoritas atau warga lokal?

Jangan bingung, Masjidil Haram menyediakan tontonan video tutorial umrah. Jamaah bisa nonton bareng video tutorial ini, supaya tahu bagaimana melakukan Tawaf dan Sai dengan benar. Tempat nobar ini ada di dekat pintu Gate 74.

3. Bagi-bagi buku agama gratis
Dapat buku-buku agama gratis?
Mau dong! Tidak banyak jamaah Indonesia tahu kalau ada tempat bagi-bagi buku agama gratis di Masjidil Haram. Buku ini terdiri dari panduan umrah dan kumpulan doa-doa.

Enaknya jadi negera muslim terbesar, jamaah Indonesia bisa meminta buku-buku berbahasa Indonesia. Tinggal bilang, "Indonesia!" Petugas akan mengambilkan buku edisi bahasa ibu kita. Tempat pembagian buku ini ada di dekat pintu Gate 74.

4. Panduan Streaming Khutbah Jumat Via Ponsel
Salat Jumat di Masjidil Haram adalah pengalaman tiada dua bagi umat Islam di seluruh dunia. Tapi kalau tidak bisa bahasa Arab, bagaimana memahami khutbahnya?

Jangan khawatir, kamu bisa mendengarkan streaming audio terjemahan khutbah.
Modalnya cukup punya ponsel yang aplikasi radio dan tentunya earphone.

Terjemahan khutbah tersedia dalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu dan tentunya bahasa Indonesia dong. Informasi panduan audio ini tersedia di dekat pintu Gate 74.

5. Khutbah Jumat dengan bahasa Isyarat
Untuk tuna rungu dan wicara yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat, ada spot khusus untuk salat Jumat. Tidak besar, tapi bisa menampung sekitar 10 jamaah. Lokasinya ada di dekat pintu Gate 93.

Saat salat di sini, akan ada petugas yang menerjemahkan khutbah Salat Jumat dengan bahasa isyarat. Wah, sangat membantu nih!

6. "SPBU" Zam-Zam
Seluruh air minum di dalam Masjidil Haram adalah air zam-zam yang sumber airnya ada di bawah tanah Masjidil Haram. Jamaah bisa minum dari ratusan galon yang disebar di seluruh masjid. Galon-galon ini diisi secara berkala dan diantar petugas dengan kereta dorong.

Tapi penasaran nggak sih, zam-zam ini dibawa dari mana?
Kalau penasaran, kamu pergi saja ke pintu Gate 93.

Di dekatnya, kamu bisa melihat stasiun pengisian air zam-zam. Petugas mengisi air dengan selang nozel seperti di pom bensin.
Air disalurkan dari mesin pendingin, itu sebabnya air zam-zam rasanya seperti air kulkas.

7. Ekskalator ke atap Masjid
Salat di atap Masjidil Haram, bisa kok! Tapi tidak banyak jamaah yang tahu aksesnya.

Padahal, ada eskalator yang mengantar jamaah langsung ke atap Masjidil Haram.
Lokasinya ada di dekat pintu Gate 91.

Salat di atap Masjidil Haram terkadang jadi pilihan jamaah -yang tahu letak eksalatornya- untuk salat Isya atau Subuh. Sebab pada siang hari, atap Masjidil Haram panas sekali.
Sekedar bekal wawasan utk bpk ibu  yg akan laksanakn ibadah haji, smg jadi haji mabrur, amiin.

Semoga bermanfaat  ..

Kamis, 03 Agustus 2017

Hubungan Manusia dengan Al Qur'an






Penerjemah : _Al ustadz Fahruddin Nu'man, Lc_
 Allah menurunkan kitab Al-Qur'an yang agung kepada Rasulullah dengan hikmah. Makna hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.
 Allah Ta'ala menguatkan para Nabi dengan mukjizat yang besar yang sesuai dengan zamannya sebagai bukti bahwa Beliau adalah utusan Allah Ta'ala.
1⃣ Nabi isya _'alaihis salam_ diutus pada zaman dimana manusia banyak mempelajari ilmu kedokteran. Maka Allah berikan mukjizat kepada nabi isya mampu menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan orang yang sakit yang tidak sanggup disembuhkan penyakitnya oleh para tabib.
2⃣ Nabi Musa _'alaihis salam_ diutus pada zaman dimana manusia banyak mempelajari ilmu sihir. Maka Allah berikan mukjizat kepada nabi Musa tongkat yang mampu melawan sihir-sihir tukang sihirnya Fir'aun. Hingga mereka masuk islam.
3⃣ Nabi Muhammad _shallallahu 'alaihi wassalam_ diutus pada zaman dimana manusia gemar mempelajari syair. Maka Allah turunkan mukjizat kepada nabi Muhammad dengan Al Qur'an yang didalamnya terdapat gaya bahasa sastra yang tinggi.
Mukjizat-mukjizat ini diturunkan agar manusia beriman kepada nabi dan untuk melemahkan keahlian mereka.
 Al Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi dengan perantara jibril. Dengan membacanya saja bernilai ibadah. Dan al Qur'an sampai ke kita dengan mutawatir yang tidak mungkin bisa didustakan.
 Al-Qur'an adalah al mu'ziz yaitu _yang tidak mungkin dapat didatangkan hal serupa dengannya_. Allah tantang makhluknya untuk mendatangkan yang serupa dengan al Qur'an. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ﴿٣٣﴾فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ
Ataukah mereka mengatakan, _“Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman._
_Kalau demikian, hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’ân itu jika mereka orang-orang yang benar._ [ath-Thûr/52: 33-34]
Demikian juga Allâh Azza wa Jalla menetapkan, bahwa mereka tidak akan mampu membuatnya, walaupun seluruh manusia dan jin berkumpul untuk melakukannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah, _“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain._ [ al-Isrâ’/17:88]
▶ Allah tantang untuk membuat 1 surat
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَىٰ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِين ﴿٣٧﴾ أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
_Tidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan *sebuah surat semisalnya* dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.”_ [ Yûnus/10: 37- 38]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين ﴿٢٣﴾فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
_Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), *buatlah satu surat (saja)* yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir._ [ al-Baqarah/2: 23-24]
▶ Allah tantang membuat 10 surat
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴿١٣﴾فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
_Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka *datangkanlah sepuluh surat* yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?_ [Hûd/11: 13-14]
 Allah menjamin Al-Qur'an ini terjaga. Allah berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
_Sungguh Kami yang telah menurunkan al-Quran dan Kamilah yang akan menjaganya._ (QS. al-Hijr: 9)
Dan Allah menjadikan Al Qur'an terjaga didada nabi dan tak pernah lupa
(سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَىٰ)
_Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa,_ [Surat Al-A'la 6]
(إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ)
_Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya._ [Surat Al-Qiyamah 17]
Lalu dari generasi ke generasi muncul para penghafal Al-Qur'an, dan merekalah para penjaga al-Quran. *Maka bagaimana sikap kita dengan al Qur'an?*
 al-Quran adalah nikmat yang besar, didalamnya ada petunjuk hidayah, sebagai pelipur lara, cahaya, jalan keselamatan dan obat. Sudah seharusnya kita bersuka cita dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
_“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”._ [QS. al-Isra: 9]
 Allah kabarkan bahwa jika al Qur'an ini diturunkan kepada gunung maka gunung yang kokoh dan penuh batu-batu yang keras akan pecah. Lantas apakah hati kita lebih keras dibandingkan gunung? Allah berfirman :
(لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ)
_"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir."_ [Surat Al-Hasyr 21]
⛔ Kisah orang musyrikin terhadap al Qur'an
1⃣ Al walid ibn Mughirah
Al-Walid termasuk orang-orang yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengganggu Beliau.
Dia termasuk orang yang divonis masuk Neraka dengan firman Allah
_“Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar.”_ (QS. Al-Muddatstsir: 26)
Namun ketika al walid mendengar al Qur'an yang dibacakan Rasulullah dia berkata,
_"Demi lata dan uzza, jujur al Qur'an ini sangat indah didengar dan di atas al Qur'an ada bahasa yang indah. Menghasilkan buah yang manis dan akar yang kuat."_
2⃣ Kisah 3 orang Quraisy (Al Akhnas bin Syuraiq, abu jahal dan abu Sufyan)
Suatu malam Abu Jahal keluar secara diam-diam ke rumah ponakannya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Dia mencuri dengar bacaan Al Qur’an keponakannya itu, dan tanpa terasa terangnya subuh mulai menggulung gelapnya malam. Merasa kuatir tindakannya diketahui orang lain, Abu Jahal pulang dengan langkah yang hati-hati. Akan tetapi takdir Allah mempertemukan dia di perjalanan dengan dua temannya, yaitu Abu Sufyan dan Al Akhnas bin Syuraiq.
Sungguh mengagetkan sekaligus menggelikan, ternyata mereka baru saja melakukan hal yang sama, mencuri dengar bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Mereka bertiga pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa malu mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan mereka.
Namun nyatanya, malam kedua mereka kembali lagi. Mereka mengingkari janji mereka lagi. Dan Allah pun mempertemukan mereka kembali di jalan, semakin malulah mereka. Lalu mereka membuat janji lagi untuk tidak mengulanginya. Tapi apa yang terjadi?
Di malam ketiga, mereka tetap ingkar janji, mereka datang kembali untuk mencuri dengar bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di rumahnya. Dan, mereka pun berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya. Mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, berjanji lagi, dan lagi. Masing-masing mereka berjanji akan mengakhiri perbuatan mereka itu.
Demikianlah Al Qur'an membuat hati yang mendengarkan tenang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
_“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”_ (Qs. ar-Ra’du: 28)
 Kisah Rasulullah dengan Al Qur'an
1⃣ Rasulullah menangis mendengar bacaan Al-Qur'an
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
قَالَ لِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « اقْرَأْ عَلَىَّ » .قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ « فَإِنِّى أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِى » . فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ
( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا )
قَالَ « أَمْسِكْ » . فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,
“Bacalah Al Qur’an untukku.”
Maka aku menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al Qur’an untukmu, bukankah Al Qur’an diturunkan kepadamu?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku suka mendengarnya dari selainku.”
Lalu aku membacakan untuknya surat An Nisaa’ hingga sampai pada ayat (yang artinya), “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An Nisa’: 41).
Beliau berkata, “Cukup.”
Maka aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau dalam keadaan bercucur air mata.” (HR. Bukhari no. 4582 dan Muslim no. 800).
2⃣ Rasulullah senang mendengar bacaan Al-Qur'an dari para sahabat.
Suatu malam Rasulullah pernah mendengar abu Musa al asyari _radhiallahu 'anhu_ membaca al Qur'an. Lalu di pagi harinya Rasulullah berkata kepada Abu musa al asyari, _“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Abu Musa,_
لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ
_“Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaan Al Qur’anmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud”_ (HR. Muslim no. 793).
 Kisah Sahabat dengan Al Qur'an
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi berkata kepada Ka’ab, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu ‘Orang-orang kafir yakni ahli Kitab… [Quran Al-Bayyinah: 1]”
“Dia (Allah) menyebut namaku, wahai Rasulullah,” tanya Ubay penuh haru. “Iya,” jawab Nabi. Ubay pun menangis. (HR. al-Bukhari 4959)
 Penutup :
Pada hari ini kita sudah mendengarkan bagaimana kisah orang musyrikin mendengar al Qur'an, bagaimana Rasulullah berinteraksi dengan Al Qur'an dan bagaimana para sahabat berinteraksi dengan Al Qur'an. Lalu bagaimana kisah kita dengan Al Qur'an??
Janganlah menjadi seperti kebanyakan orang yang hanya membaca al Qur'an di bulan Ramadhan. Jadikan Al Qur'an sebagai makanan pokok kita. Jika jasad membutuhkan makan 3 kali sehari maka ruh pun membutuhkan makan pokok berupa Al Qur'an.
Semoga catatan yang sedikit ini bermanfaat dan dapat di amalkan.
Diresume oleh : Muhammad Septa Utama






Selasa, 01 Agustus 2017

Menikahi Wanita Hamil Korban Zina

Pertanyaan:

Mau tanya, saya seorang suami dengan usia pernikahan baru 1 tahun lebih. Istri saya pergi meninggalkan saya karena tidak mencintai saya. Dan pergi memilih laki-laki lain. Saya menikahi istri saya untuk menutup aibnya karena sudah hamil 3 bulan dengan pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab.

Apakah saya bisa menikah lagi dan apakah saya yang harus menuntut cerai?

Dari: Ray

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara nikmat besar yang Allah berikan kepada umat manusia adalah Allah halalkan mereka untuk menikah. Allah yang Maha Tahu sangat memahami karakter hamba-Nya yang membutuhkan pasangan dalam hidupnya. Di surat Ar-Rum, Allah menyebutkan sederet kenikmatan yang Dia berikan kepada hamba-Nya, salah satunya,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Diantara tanda kekauasan-Nya, Dia ciptakan untuk kalian pasangan dari diri kalian (jenis manusia), agar kalian merasakan ketenangan dengannya, dan Dia menjadikan rasa cinta dan kasih sayang diantara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21).

Namun tentu saja untuk mewujudkan hal ini ada syaratnya. Ketenangan yang Allah ciptakan pada pasangan suami-istri akan terwujud, jika pernikahan yang dilangsungkan adalah pernikahan yang sah, memenuhi syarat-syarat nikah. Terlebih jika syarat ini dilengkapi dengan pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai suami-istri oleh calon pengantin, surga dunia dalam berkeluarga akan bisa Anda nikmati.

Menyadari hal ini, setiap muslim yang ingin membangun bahtera keluarga, dintuntut untuk memahami aturan syariah terkait pernikahan yang akan dia langsungkan. Jika tidak, bisa jadi keluarga yang akan dia jalani, justru menjadi sumber masalah baru bagi hidupnya.

Terkait pernikahan yang anda sampaikan dalam pertanyaan, ada beberapa catatan yang bisa Anda perhatikan:

Pertama, menikahi wanita hamil

Menikahi wanita hamil, korban perbuatan zina dengan lelaki lain, statusnya pernikahan yang batal. Para lelaki dilarang melakukan hubungan dengan wanita yang hamil dengan mani orang lain. Dari Ruwaifi’ bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسقي ماءه زرع غيره

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah dia menuangkan air maninya pada tanaman orang lain.” (HR. Ahmad 16542)

Yang dimaksud tanaman orang lain adalah janin yang disebabkan air mani orang lain. Ancaman dalam hadis ini menunjukkan larangan.

Karena itu, tidak ada istilah menolong wanita hamil korban hasil zina dengan bentuk menikahinya. Menikahi wanita hamil, justru menjerumuskannya pada perbuatan zina yang dilegalkan dengan pernikahan yang batal.

Kedua, tidak boleh menikahi wanita pezina kecuali dia telah bertaubat

Dalam pernikahan, Islam memperhatikan adanya kesepadanan dalam kehormatan. Orang yang menjaga kehormatan, hanya akan dipasangkan dengan pasangan yang juga juga menjaga kehormatan. Untuk itulah, Islam melarang lelaki yang baik, menikahi wanita pezina, atau sebaliknya, wanita yang baik, menikah dengan lelaki pezina. Allah berfirman,

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Lelaki pezina tidak boleh menikah kecuali dengan wanita pezina atau wanita musyrik. Wanita pezina tidak boleh dinikahi kecuali oleh lelaki pezina atau lelaki musyrik. Dan hal itu diharamkan untuk orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 3)

Seseorang disebut pezina, ketika dia pernah berzina meskipun sekali, sementara dia belum bertaubat. Dan selama belum bertaubat, predikat sebagai pezina akan senantiasa melekat pada dirinya.

Sebagai regulasi yang diberikan dalam Islam terhadap keutuhan sebuah keluarga, Islam melarang lelaki atau wanita yang baik, menikah dengan model pasangan pezina.

Karena dikhawatirkan, orang yang pernah berzina, sementara dia belum bertaubat, kemudian dia menikah, bisa jadi penyakit zinanya akan kambuh, dan terjadilah luka mengerikan, yang kita kenal dengan istilah ‘selingkuh’.

Sebagai nasihat kepada para pemuda, ketika Anda hendak menikah dengan pasangan yang pernah terjebak dalam perbuatan nista berupa zina, pastikan dulu bahwa pasangan Anda telah bertaubat. Pastikan bahwa dia telah menjadi sosok yang berbeda dari pada sebelumnya. Jika dia wanita, pastikan bahwa dirinya telah menutup aurat dengan sempurna dan berusaha menjaga pergaulannya. Jika dia lelaki, pastikan bahwa dirinya telah bergaul dengan komunitas yang baik, dan tidak pergaul dengan wanita yang bukan mahramnya.

Ketiga, pernikahan yang batal

Mengingat pernikahan Anda tidak memenuhi syarat yang berlaku, maka status pernikahan Anda batal. Wanita itu bukan istri Anda, demikian pula si anak yang dia lahirkan, juga bukan anak Anda. Kami sarankan, lepaskan wanita itu bersama anaknya, karena mereka bukan keluarga Anda. Dengan demikian, Anda bisa menikah dengan wanita yang lebih baik agama dan akhlaknya.

Untuk itu, berusahalah untuk menjadi lelaki yang baik, karena Allah memberikan jaminan bahwa lelaki yang baik, yang menjaga kehormatannya akan dipasangkan dengan wanita yang baik, yang menjaga kehormatannya. Sebaliknya, wanita yang buruk, yang tidak menjaga kehormatannya, akan dipasangkan dengan lelaki yang sama karakternya. Allah berfirman:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. An-Nur: 26)

Ketika Anda berharap untuk mendapatkan pasangan yang baik, istri yang sholihah atau suami yang sholih, jadilah manusia yang baik, yang sholih, menjaga kehormatan, menjaga aturan Allah Ta’ala.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Read more https://konsultasisyariah.com/16268-menikahi-wanita-hamil-korban-zina.html







Bersyukur Tidak Menjadi Penganut Syi’ah

Bermusuhan, membenci, dengki dan hasad merupakan sikap para pemeluk Syiah kepada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Empat sikap mereka itu tampak sekali melalui tikaman-tikaman yang mereka lontarkan kepada generasi terbaik umat Islam tersebut, yang memenuhi buku-buku rujukan mereka, baik dari tulisan tokoh agama mereka terdahulu maupun hasil karya panutan mereka sekarang.

Di antara yang mereka yakini adalah Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi kafir dan murtad sepeninggal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kecuali beberapa individu dari mereka saja, sesuai yang termaktub dalam beberapa riwayat dalam referensi-referensi mereka yang paling shahih dan terpercaya menurut mereka.


Al-Kulaini (seorang tokoh agama Syiah masa lalu) meriwayatkan (riwayat dusta) dari Abu Ja’far, bahwa ia mengatakan, “Orang-orang telah menjadi murtad sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kecuali tiga individu saja”. Aku bertanya, “Siapakah mereka bertiga itu?”. Ia menjawab, “Al-Miqdâd bin al-Aswad, Abu Dzarr dan Salmân al-Fârisi”. [ar-Raudhah dari al-Kâfi 8/245-246].
Dalam al-Ikhtishâsh (hlm.6) karya al-Mufîd (seorang tokoh agama Syiah masa lalu) dari Abdul Malik bin A’yun bahwa ia bertanya dan bertanya kepada Abu ‘Abdillah, sampai Abdul Malik bin A’yun mengatakan, “Jadi, manusia sudah binasa?” Abu Ja’far menjawab, “Ya, demi Allâh! wahai Ibna A’yun. Semua manusia binasa seluruhnya, penduduk Timur dan Barat. Kesesatan telah terbuka bagi mereka. Demi Allâh! mereka telah binasa kecuali tiga orang saja (yaitu) Salmân al-Fârisi, Abu Dzarr dan Miqdâd bin Aswad. Lalu ‘Ammar, Abu Sasân al-Anshâri, Hudzaifah dan Abu ‘Amrah bergabung dengan mereka, sehingga berjumlah tujuh orang (yang selamat)”

Para tokoh agama Syiah telah mengutip riwayat-riwayat tentang adanya ijma’ (di kalangan tokoh agama mereka) untuk mengkafirkan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Al-Mufîd mengatakan dalam Awâilul Maqâlât (hlm.45), “Sekte Imamiyyah, Zaidiyyah dan Khawarij sepakat bahwa para nâkitsin (perusak perjanjian) dan qâsithin (pelaku kezhaliman) dari penduduk Basrah dan Syam mereka semua itu kafir, sesat, terlaknat karena memerangi Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) dan dengan sebab itu, mereka berada di Neraka selama-lamanya”.

Nikmatullah Al-Jazâiri (seorang tokoh agama Syiah masa lalu) mengatakan dalam al-Anwaru an-Nu’maaniyyah (2/244), “Syiah Imamiyyah menyatakan keberhakan ‘Ali menjadi khalifah (pengganti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) berdasarkan nash yang tegas, dan mengkafirkan para Sahabat, dan mencela mereka. Lalu mereka memindahkan imamah kepada Ja’far ash-Shâdiq, dan setelah itu kepada putra-putra keturunannya yang makshum ‘alaihimus salam”.

Celaan Syiah terhadap Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya berhenti pada titik ini saja dengan meyakini para Sahabat kafir dan murtad, akan tetapi mereka juga meyakini para Sahabat adalah sejelek-jelek makhluk ciptaan Allâh, dan keimanan yang benar kepada Allâh dan Rasul-Nya tidak tercapai kecuali dengan membenci para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , terutama kepada tiga khalifah pertama: Abu Bakar, Umar dan Utsman serta Ummahatul Mukminin.

Muhammad Baqir al-Majlisi (seorang tokoh agama Syiah masa lalu) mengatakan dalam Haqqul Yaqiin (hlm.19), “Keyakinan kami terkait bara` ialah kami berlepas diri dari empat berhala berikut: Abu Bakar, Umar, Utsman dan  Mu’awiyah, dan dari empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hindun dan Ummul Hakam dan seluruh pembela dan pengikut mereka. Mereka adalah makhluk Allâh di muka bumi ini yang paling buruk  dan sesungguhnya iman kepada Allâh, Rasul-Nya para imam tidak sempurna kecuali dengan benci terhadap musuh-musuh mereka”.

Dengan demikian, orang-orang Syiah meyakini para khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib dan Ummahatul Mukminin sebagai orang-orang yang akan disiksa dengan siksaan paling pedih di hari kiamat kelak bersama manusia-manusia paling buruk dan thaghut-thaghut dari kalangan manusia.
Al-Qummi menafsirkan al-falaq dari Surat al-Falaq, “(Al-Falaq) adalah dasar neraka Jahannam. Para penghuni neraka memohon agar tidak terkena panasnya. Lalu Allâh memintanya untuk bernafas dengan panasnya yang dahsyat. Lalu ia bernafas, sehingga membakar Jahannam. Di dalam dasar neraka ada shunduq dari api. Para penghuni dasar neraka memohon dilindungi dari panasnya shunduq tersebut. Ia berbentuk kotak. Di dalam kotak ini ada enam orang penghuni dari manusia-manusia pertama dan manusia-manusia terakhir. Adapun enam dari manusia-manusia terdahu adalah putra Adam yang membunuh saudaranya, Namrud yang melemparkan Ibrahim ke dalam kobaran api, Fir’aun di zaman Musa, Samiri yang menjadikan anak sapi sebagai tuhan dan menjadikan orang-orang Yahudi pemeluk agama Yahudi dan orang-orang Nashara pemeluk agama Nasrani. Adapun enam orang dari manusia terakhir adalah orang pertama, orang kedua, orang ketiga dan orang keempat, tokoh Khawarij dan Ibnu Muljam. Semoga Allâh melaknati mereka”.

Yang dimaksud dengan orang pertama, kedua dan ketiga ialah para khalifah yang mendahulu Ali, dan yang dimaksud keempat ialah Mu’awiyah. Inilah sandi-sandi yang dipergunakan oleh Syiah dalam buku-buku mereka saat menikam kehormatan para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Nikmatullah al-Jazairi dalam Al-Anwaar an-Nu’maaniyyah (1/81-82) bahkan memandang Umar disiksa pada hari kiamat di dalam neraka dengan siksaan yang lebih pedih dari siksa Iblis, dikarenakan merampas hak khilafah dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu.
Kedengkian dan kebencian orang-orang Syiah kepada para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mencapai tingkat bolehnya melaknati mereka. Bahkan harapan mereka untuk mendapat pahala dari Allâh Azza wa Jalla dengan melaknati para Sahabat terutama Abu Bakar dan Umar sulit untuk dilukiskan dalam kata-kata. Na’udzu billah

Mereka punya riwayat dusta dari Zainal Abidin, “Barangsiapa melaknat al-jibt (Abu Bakar) dan ath-thaghut (Umar bin Khaththab) sekali saja, maka Allâh akan menulis baginya 70 juta kebaikan dan dihapuskan darinya  1 juta dosa, dan ia diangkat setinggi 70 juta tingkatan. Dan barangsiapa di sore hari melaknat mereka berdua satu laknat, maka baginya keutamaan seperti itu…”.
Di antara doa paling masyhur di tengah kalangan Syiah adalah doa yang mereka namai ‘Doa Dua Berhala Quraisy’. Dua berhala yang mereka maksud adalah Abu Bakar dan Umar. Mereka memalsukan doa ini atas nama Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu.

Isi doa itu, “Ya Allâh, curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Dan laknati dua berhala Quraisy, dua jibt dan dua thaghutnya, dan dua putri mereka berdua yang telah menentang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak nikmat-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, dan merubah-rubah agama-Mu serta mengotak-atik Kitab-Mu….”.
Di akhir doa, “Ya Allâh, laknati mereka berdua dengan laknat yang banyak, abadi dan selama-lamanya, tanpa pernah putus masanya dan habis hitungannya. Laknat yang  mengenai mereka, para pengikut mereka, para penolong mereka, para pecinta mereka, para pembela mereka…”.
Kemudian ucapkanlah 4 x , “Ya Allâh, siksalah mereka dengan siksaan yang membuat penghuni Neraka mohon agar selamat dari siksaan itu. Amin Rabbal ‘alamin”.
Doa ini sangat dianjurkan di tengah mereka. Bahkan mereka pun punya riwayat tentang keutamaan membacanya. Orang yang membacanya seperti orang yang memanah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Perang Badr, Uhud, Hunain dengan seribu anak panah. (‘Ilmul Yaqiin fii Ushuliddin, al-Kasyaani 2/101).

Ini pernyataan-pernyataan buruk dari tokoh-tokoh mereka tempo dulu terhadap para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tokoh-tokoh agama Syiah kontemporer pun tidak berbeda dengan pendahulu mereka.

Imam suci mereka, Ayatullah Khomaini mengatakan dalam Kasyful Asraar hlm. 126, “Kami tidak ada urusan dengan Abu Bakr dan Umar, dan pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan terhadap al-Qur`an dan usaha mereka mempermainkan hukum-hukum Allâh, apa yang mereka halalkan dan mereka haramkan sesuai hawa nafsu mereka berdua, serta kezhaliman yang mereka perbuat terhadap Fathimah putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putra-putrinya. Akan tetapi, kami hanya ingin menunjukkan kebodohan mereka terhadap hukum Allâh dan hukum agama”.

Inilah sebagian kecil dari keyakinan orang-orang Syiah terhadap para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di buku-buku tokoh-tokoh agama mereka, yang sarat dengan cacian, celaan kotor, dan ungkapan-ungkapan amoral yang orang-orang baik-baik dan beragama akan enggan melontarkannya kepada orang-orang paling kafir sekalipun. Sementara hati orang-orang Syiah merasa nyaman  dengannya, lisan-lisan mereka cepat mengungkapkannya terhadap para Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , khalifah-khalifah pengganti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pendukung-pendukug dakwah Beliau dan mertua serta menantu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan orang-orang Syiah menganggap itu sebagai bagian dari agama mereka yang mereka  berharap memperoleh pahala dan ganjaran dari Tuhan mereka.

Sebenarnya, seorang Muslim akan mengambil dua pelajaran penting dari mencermati orang-orang Syiah dan kesesatan yang meliputi mereka.
[1]. Seorang Muslim akan merasakan betapa besar karunia Allâh, kelembutan-Nya kepada dirinya, serta limpahan kebaikan-Nya padanya dengan menyelamatkan dirinya dari kesesatan tersebut. Hal ini menuntut dirinya untuk bersyukur kepada Allâh atas karunia hidayah.
[2]. Seorang Muslim mengambil pelajaran dan ibrah dari kesesatan dan penyimpangan yang telah mereka lakukan yang sebenarnya dapat diketahui oleh orang yang tidak cerdas sekalipun, saat mereka bertaqarubb kepada Tuhan mereka dengan melaknati Abu Bakar z dan Umar Radhiyallahu anhu di pagi dan sore hari dan anggapan mereka bahwa satu laknat kepada mereka mendatangkan keutamaan besar bagi orang yang mengucapkannya.

Orang-orang cerdas dari umat Islam, bahkan dari seluruh penganut agama samawi, mereka paham dengan pasti, bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak pernah memerintahkan umat manusia untuk beribadah kepada-Nya dengan melaknati seorang kafir manapun, meskipun itu sekafir-kafirnya manusia. Bahkan Allâh Azza wa Jalla pun tidak pernah memerintahkan umat manusia untuk beribadah kepada-Nya dalam dzikir khusus dengan melaknat Iblis yang terlaknat dan jauh dari rahmat Allâh di pagi dan sore hari, sebagaimana yang ada dalam buku-buku rujukan orang-orang Syiah yang memerintahkan untuk beribadah dengan melaknat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma.
Lebih jauh, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Meskipun sudah banyak buku-buku Syiah yang saya tela’ah, saya belum lihat dalam buku-buku Syiah asli yang saya baca yang memuat doa khusus atau umum untuk melaknat Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, atau Abul Walid bin Mughirah yang merupakan orang-orang yang paling besar kekufurannya kepada Allâh dan pengingkarannya terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan doa khusus untuk melaknat Iblis pun tidak ada, sementara buku-buku mereka penuh dengan riwayat-riwayat yang berisi laknat kepada Abu Bakar dan Umar, sebagaimana tertuang dalam ‘Doa Dua Berhala Quraisy’.
Di sini, ada ibrah (pelajaran penting) bagi siapa saja yang mau memetik pelajaran dari kesesatan yang telah dialami oleh seorang manusia, bila ia berpaling dari syariat Allâh Subhanahu wa Ta’ala  dan mengikuti hawa nafsu dan bid’ah. Lihatlah bagaimana perbuatan buruknya ia pandang indah dan baik, sehingga ia tidak bisa mengenali mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, dan tidak dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Ia berjalan tanpa arah dalam gulungan kegelapan, hidup dalam jerat syahwat.

Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan keadaan demikian dan orang-orang yang mengalaminya dalam firman-Nya:
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekarjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekarjaan itu baik (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaithan)?. Maka sesungguhnya Allâh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah  dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. [Fâthir/35:8].

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman:
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupaan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al-Kahfi/18:104]

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلَالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَٰنُ مَدًّا ۚ حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ إِمَّا الْعَذَابَ وَإِمَّا السَّاعَةَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضْعَفُ جُنْدًا
Katakanlah, “Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya, sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya”. [Maryam/19:75].

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa meluruskan hati kita dan menjaganya dari kecondongan kepada kesesatan.

(Diadaptasi dari al-Intishâru li ash-Shahbi wal Âli min Iftirâ`ati as-Samâwiyyi adh-Dhâlli, DR. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili, Maktabah al-Uluumi wal Hikam Cet. III, Th.1423H, hlm. 56-63 dengan bahasa bebas).
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta]

Senin, 31 Juli 2017

APAKAH PADA SHALAT JUMAT ADA SUNAH QOBLIYYAH ?

🎓 Fadhilatus syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah:

📝 PERTANYAAN:
〈 Apakah sunnah jumat, sunnah yang sebelum jumat dan antara adzan pertama dan adzan kedua adalah bid'ah atau bukan? 〉

✍ JAWABAN:
《 Segala puji hanya bagi Allah Rabb alam semesta; dan aku panjatkan shalawat dan salam bagi Nabi kita Muhammad dan atas keluarganya serta para sahabatnya semua..

🔖 ❝ Shalat jumat tidak ada padanya sunnah rawatib sebelumnya (qobliyyah) ❞,

bahkan apabila seorang insan hadir ke masjid dia menunaikan shalat apa yang dia mampu lakukan tanpa adanya pembatasan..

▪️ dia boleh mendirikan shalat dua raka'at, shalat empat raka'at, shalat enam raka'at, shalat sesuka dia, dan melakukan salam setiap dua raka'atnya..

⛔️ Adapun apa yang dilakukan sebagian orang dari berdiri melakukan shalat diantara adzan pertama dan kedua maka ini tidak ada dalilnya dan tidak disyariatkan..

✋ Adapun setelah shalat jumat maka jumat memiliki sunnah, (dimana) kebiasaan Nabi ﷺ melakukan shalat dua raka'at setelah jumat di rumahnya, dan beliau ﷺ bersabda:

إذا صلى أحدكم الجمعة فليصلّ بعدها أربعا

"Apabila salahsatu kalian shalat jumat maka hendaknya dia shalat setelahnya empat (raka'at)."

👉 Maka di sini empat raka'at yang DIPERINTAHKAN Rasulullah ﷺ, dan di sini dua raka'at yang DILAKUKAN Rasulullah ﷺ ..

☝️ Diantara ulama ada yang berpendapat:
▪️ kita hanya mengambil perbuatannya sehingga yang sunnah setelah jumat ialah dua raka'at.
▪️ diantara mereka ada yang mengatakan: kita mengambil ucapannya sehingga yang sunnah setelah jumat adalah empat raka'at.
▪️ diantara mereka ada yang menyatakan: kita gabungkan antara keduanya sehingga kita shalat enam raka'at.
▪️ dan diantara mereka ada yang merinci dan mengatakan:
"Jika shalat di rumahnya maka shalat dua raka'at, dan jika shalat di masjid maka shalat empat raka'at."
▪️ dan diantara mereka ada yang mengatakan: bahwa ini termasuk bentuk ibadah yang beragam, maka terkadang shalat empat raka'at dan terkadang shalat dua raka'at.

☑️ Dan yang lebih dekat untuk dikatakan tentang hal itu ialah:
*_"Jika dia melakukan shalat di rumahnya, jika dia shalat rawatib setelah jumat di rumah maka dua raka'at saja sebagai bentuk mencontoh Rasulullah ﷺ, dan jika melakukan shalatnya di masjid maka empat raka'at sebagai bentuk memenuhi perintah beliau ﷺ._* 》

          ••┈┈┈••✦✿✦••┈┈┈••

📚 Silsilah Fatawa Nur 'Ala Ad-Darb > kaset no. [184].

🔊 Audio:
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/Lw_184_01.mp3

هل لصلاة الجمعة سنة قبلية

📝 السؤال:

هل سنة الجمعة، السنة التي قبل صلاة الجمعة وبين الأذان الأول والثاني بدعة أم لا؟

الجواب:

الشيخ: الحمد لله رب العالمين. وأصلي وأسلم على نبينا محمدٍ وعلى آله وأصحابه أجمعين. صلاة الجمعة ليس لها سنةٌ راتبة قبلها، بل إذا حضر الإنسان إلى المسجد صلى ما تيسر له من غير تعيين، يصلي ركعتين يصلي أربعاً يصلي ستاً يصلي ما شاء، ويسلم من كل ركعتين، وأما ما يفعله بعد الناس من القيام للصلاة بين الأذانين الأول والثاني فإن هذا لا أصل له وليس بمشروع، أما بعد صلاة الجمعة فإن الجمعة لها سنة، كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي ركعتين بعد الجمعة في بيته، وقال عليه الصلاة والسلام إذا صلى أحدكم الجمعة فليصلِّ بعدها أربعاً، فهنا أربع ركعات أمر بها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهنا ركعتان فعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومن العلماء من يقول: إنما نأخذ بفعله فتكون السنة بعد الجمعة ركعتين، ومنهم من قال: نأخذ بقوله فتكون السنة بعد الجمعة أربعاً، ومنهم من يقول: نجمع بينهما فنصلي ستاً، ومنهم من فصل فقال: إن صلى في بيته صلى ركعتين، وإن صلى في المسجد صلى أربعاً، ومنهم من قال إن هذا من العبادات المتنوعة، فتارةً يصلي أربعاً وتارةً يصلي ركعتين، وأقرب ما يقال في ذلك أن يقال: إن صلاهما في بيته، إن صلى الراتبة بعد الجمعة في البيت فهي ركعتان فقط اقتداءً بالرسول صلى الله عليه وسلم، وإن صلاها في المسجد فأربعاً امتثالاً لأمره صلى الله عليه وسلم. نعم.

📚 المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [184]

الصلاة > صلاة الجمعة

🔊 رابط المقطع الصوتي
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/Lw_184_01.mp3
----------------------
Broadcast by :
📜 Channel MutiaraASK





KUMPULAN 20 DALIL PENTING UNTUK PARA PEMULA

0⃣1⃣ *Perintah mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik*
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ
_“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”_
[Surat An-Nisa’ 36]
0⃣2⃣ *Perintah mengikuti sunnah (bimbingan) Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam*
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳﻦَ المَهْدِيِّيْن
_“Wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku, dan sunnah para khalifah yang terbimbing.”_
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dari Irbadh bin Sariyah)
0⃣3⃣ *Larangan berbuat bid’ah*
ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
_“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama ini yang bukan darinya maka ia tertolak.”_
(HR. Bukhori dan Muslim, dari ‘Aisyah)
0⃣4⃣ *Perintah menuntut ilmu*
ﻃَﻠَﺐُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻓَﺮِﻳﻀَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺴْﻠِﻢ
_“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”_
(HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik)
0⃣5⃣ *Perintah menegakkan shalat lima waktu*
ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻭَﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ تَرْكُ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ
_“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah shalat”_
(HR. Muslim, dari Jabir bin Abdillah)
0⃣6⃣ *Perintah sholat berjama’ah di masjid*
ﻭَﺃَﻗِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﺁﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﺍﺭْﻛَﻌُﻮﺍ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺮَّﺍﻛِﻌِﻴﻦَ
_“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (sholat berjama’ah)”_
(Al-Baqarah:43)
0⃣7⃣ *Perintah memelihara jenggot*
ﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻭَﻓِّﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ ﻭَﺃَﺣْﻔُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏ
_“Selisihilah orang-orang musyrik: Peliharalah jenggot dan potonglah kumis.”_
(HR. Bukhori, dari Ibnu Umar)
0⃣8⃣ *Perintah berhijab bagi wanita*
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ
_“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”_
[Surat Al-Ahzab 59]
0⃣9⃣ *Larangan wanita keluar rumah dengan berhias:*
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ
_“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.”_
[Surat Al-Ahzab 33]
1⃣0⃣ *Larangan berkhalwat (berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya)*
ﺃَﻟَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﻠُﻮَﻥَّ ﺭَﺟُﻞٌ ﺑِﺎﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻟَﺎ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺛَﺎﻟِﺜَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ
_“Ketahuilah. Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya, sebab yang ketiganya adalah syaithan.”_
(HR. Ahmad dan Tirmidzi, dari Amir  bin Rabi’ah)
1⃣1⃣ *Larangan bersalaman dengan wanita selain mahram*
ﻷَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻦَ ﻓِﻲ ﺭَﺃْﺱِ ﺭَﺟُﻞٍ ﺑِﻤِﺨْﻴَﻂٍ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳْﺪٍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ أَنْ يَمسَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻻَ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ
_“Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”_
(HR. Thabrani, dari Ma’qil bin Yasar)
1⃣2⃣ *Perintah memakai sutroh (pembatas) ketika shalat*
ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ، ﻓَﻠْﻴُﺼَﻞِّ ﺇِﻟَﻰ ﺳُﺘْﺮَﺓٍ ﻭَﻟْﻴَﺪْﻥُ ﻣِﻨْﻬَﺎ
_“Apabila salah seorang dari kalian hendak shalat maka hendaklah dia menghadap pembatas dan mendekat dengannya.”_
(Shahih Sunan Abu Dawud, dari Abu Said al-Khudri)
1⃣3⃣ *Larangan nyanyian dan musik*
ﻟَﻴَﻜُﻮْﻧَﻦَّ ﻓِﻲ ﺃُﻣَّﺘِـﻲ ﺃَﻗْﻮﺍﻡٌ ﻳَﺴْﺘَـﺤِﻠُّﻮﻥَ ﺍﻟﺤُﺮَّ  ﻭﺍﻟﺤَﺮِﻳْﺮَ ﻭﺍﻟـﺨَﻤْﺮَ ﻭﺍﻟـْﻤَﻌَﺎﺯِﻑ
_“Sungguh pada umatku nanti akan ada kaum yang mencoba menghalalkan zina, sutera, khamr, dan musik.”_
(HR. Bukhori, dan Abu Malik al-Asy’ari)
1⃣4⃣ *Larangan isbal (celana & kain dibawah mata kaki)*
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِيْ النَّارِ
_“Apa-apa yang melampaui dua mata kaki dari pakaian, maka tempatnya di neraka.”_
(HR. Bukhori, dari Abu Hurairah)
1⃣5⃣ *Larangan gambar makhluk bernyawa*
إنَّ أشدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ
_“Sesungguhnya seberat-berat adzab di sisi Allah pada hari kiamat adalah adzab bagi tukang gambar.”_
(HR. Bukhori dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud)
1⃣6⃣ *Tidak mengeraskan bacaan basmalah ketika shalat jahriyah (bagi Imam dalam shalat Shubuh, Maghrib, dan Isya)*
ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﺧَﻠْﻒَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻ
ﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭَﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻓَﻜَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﺴْﺘَﻔْﺘِﺤُﻮﻥَ ﺑـِ ‏
( ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ)
_“Dahulu aku shalat di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka senantiasa mengawali bacaan (Al-Fatihah) dengan: ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ_
(HR. Muslim, dan Anas bin Malik)
1⃣7⃣ *Larangan merokok, narkoba dan lain-lain*
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ
_“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan “._ (QS. Al Baqarah: 195).
1⃣8⃣ *Allah akan memberi pertolongan kepada orang yang bertakwa:*
(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا)
_“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar atas segala urusannya.”_
[Surat At-Talaq: 2]
1⃣9⃣ *Allah akan mengganti apa-apa yang kita tinggalkan -karena Allah- dengan sesuatu yang lebih baik :*
ُمَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ ، عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْه
_“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”_
(HR. Ahmad dari Abu Qatadah)
2⃣0⃣ *Hadits perpecahan umat*
ﻭَﺗَﻔْﺘَﺮِﻕُ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻠَﺎﺙٍ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﻣِﻠَّﺔً ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻠَّﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻭَﻣَﻦْ ﻫِﻲَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ
_“Dan akan terpecah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apa yang seperti aku dan sahabatku ada di dalamnya.”_
(HR. Tirmidzi dan yang selainnya, dari Muawiyah bin Abi Sufyan dan yang selainnya)
*Catatan Alpasimiy*
 Sumber https://wp.me/p8ciw5-ZC
 TIC
**************
*Tambahan :*
 *_perintah menjalankan sesuatu atau meninggalkan sesuatu berdasarkan dalil / dasar yang berasal dari Qur’an dan hadits shahih secara ilmiah (bukan berdasarkan logika / akal)_*
 *_contoh : 1 + 1 = 2 (ilmiah), 1 + 1 = 11 (logika)_*
 *_ingatlah slogan kaum muslimin : sami'na wa atho'na (kami dengar dan kami taat), bukan kami dengar dan kami pikir² dulu_*

IKUTI SUNNAH NABI HINDARI CARA TIDUR SEPERTI INI

 Faedah indah dari Asy Syaikh al-Allamah bin Baz
rahimahullah
 Pertanyaan :
Ada yang pernah bertanya kepadaku bahwa tidur TENGKURAP diharamkan, apakah ini benar❓ Jika benar lantas apa yang harus saya lakukan karena saya tidak merasa nyaman kecuali bila saya tidur tengkurap. Tidur dengan cara seperti itu sangat nyaman bagiku❓
⏰  Jawaban :
☝ Sungguh telah datang sebuah riwayat dari Nabi 'alaihissholatu wassalam bahwa beliau melihat seorang sahabatnya tidur dengan posisi tengkurap, maka beliau pun menggerakkan kaki sahabat tersebut seraya mengatakan kepadanya,
 "Ini adalah cara tidur yang dimurkai Allah."❗️
 Dan dalam suatu riwayat beliau bersabda,
 "Ini adalah posisi tidurnya ahli neraka."❗️
 Dengan demikian ini merupakan cara tidur yang MAKRUH dan sudah semestinya ditinggalkan kecuali dalam kondisi darurat seperti sakit yang butuh untuk tidur dengan cara seperti ini.
 Namun jika tidak ada kebutuhan mendesak, maka semestinya ditinggalkan karena minimalnya makruh berdasarkan sabda beliau,
[••"Sesungguhnya
itu adalah cara tidur yang dimurkai Allah."••]
 Sudah sepantasnya ditinggalkan karena minimalnya makruh meskipun secara dhohir hadis ini menunjukkan hukumnya adalah HARAM.❗️
 Oleh karena itu hendaknya seorang mukmin baik laki-laki maupun perempuan menjauhi posisi tidur seperti ini kecuali dalam keadaan darurat yang tidak bisa dihindari.
•••┈••••○❁❁○••••┈•••
 سئل الشَّـيخ العلّامــة عبد العزيز  بنُ عَبدُ الله بنُ باز  -رحمَهُ الله-:
❪❫ السُّـــــــؤَالُ:
• لقد قيل لي إن النوم على البطن محرم فهل هذا صحيح؟
وإذا كان صحيحاً فماذا أفعل لأني لا أرتاح إلا إذا نمت على هذا الموضع، وأن النوم على البطن مريح بالنسبة لي؟
❪⏰❫ الجَــــــوَابُ:
” قد جاء عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه رأى بعض أصحابه قد نام على بطنه فحركه في رجله وقال له: ( إن هذه ضجعة يبغضها الله) وفي رواية: ( *إنها ضجعة أهل النار*) فهي ضجعة مكروهة ينبغي تركها إلا من ضرورة كالوجع الذي يحتاج معه صاحبه إلى هذه الضجعة وإلا فينبغي تركها وأقل أحوالها الكراهة لقول النبي - صلى الله عليه وسلم - إنها ضجعة يبغضها الله فينبغي تركها وعلى الأقل الكراهة في ذلك مع أن ظاهر الحديث التحريم فينبغي للمؤمن والمؤمنة ترك هذه الضجعة إلا من ضرورة لا
حيلة فيها. بارك الله فيكم“.
•••┈••••○❁❁○••••┈•••
✍WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶⓈⒶⓉⓊ
Sumber : www.bin baz. org