Senin, 07 Agustus 2017

Jangan Remehkan Bid'ah Kecil




Di Antara Faedah Kajian Sabtu Pagi, bersama: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

Dan harus diperhatikan: KETIKA SESEORANG BERBUAT BID’AH; MAKA DIAWALI DENGAN BID’AH YANG KECIL. Imam Al-Barbahari (wafat th. 329 H) -rahimahullaah- berkata dalam “Syarhus Sunnah”:

“JAUHILAH SETIAP PERKARA BID’AH SEKECIL APA PUN, KARENA BID’AH YANG KECIL: LAMBAT LAUN AKAN MENJADI BESAR. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”

Dan contohnya sudah ada di zaman Ibnu Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu- yang mengingkari orang-orang yang berdzikir dengan membuat halaqah dengan dipimpin orang yang memerintah. Dan para Shahabat yang lain menunggu fatwa Ibnu Mas’ud yang lebih berilmu. Maka Ibnu Mas’ud menegur dengan keras, karena tidak ada para Shahabat tidak ada yang melakukan seperti ini. Maka orang-orang yang berdzikir tersebut mengatakan: “Kami tidak menghendaki kecuali kebaikan.” Maka Ibnu Mas’ud berkata:

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيْــبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya.”
Kemudian yang meriwayatkan atsar ini mengatakan bahwa orang-orang ini yang berdzikir dengan tata cara yang tidak dicontohkan Nabi dan para Shahabat: bergabung dengan Khawarij. Awalnya adalah bid’ah berupa dzikir kemudian menjadi besar sampai menjadi Khawarij dan memerangi ‘Ali bin Abi Thalib -radhiyallaahu ‘anhu-. (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi).

MAKA KITA BERHATI-HATI: JANGAN SEKALI-KALI KITA MEREMEHKAN BID’AH.

Agama sudah sempurna dan kewajiban kita untuk ittibaa’ (mengikuti) kepada Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, sebab Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Rasul): Jika kamu mencintai Allah; maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Tugas kita hanyalah ittiba’, dan ini mudah, tidak berat. Dengan adanya bid’ah; maka menyulitkan dan mengahabiskan biaya DAN SESAT.

Setiap kalimat (dalam dalil) yang menyebutkan tentang Surga; maka kita berusaha melaksanakannya, karena kita ingin masuk Surga, dan kalau disebutkan tentang Neraka; maka menjauhkan diri. Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan Bid’ah dengan ancaman Neraka; maka kita jauhkan! Jangan dianggap remeh!!

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِـي النَّارِ

“Setiap Bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” (HR. An-Nasa-i)

Ini ancaman, bukan berarti setiap orang yang berbuat bid’ah kita katakan: tempatnya di Neraka; maka ini tidak boleh. Ini bentuknya ancaman. Akan tetapi kita ingatkan: “Hati-hati, dengan berbuat bid’ah maka kamu (seolah-olah) merasa lebih baik dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, karena agama Islam telah sempurna, dan kamu melakukan suatu amalan yang Nabi tidak mencontohkan, maka nanti lambat-laun akan membawa ke Neraka.” Jadi kita hanya memberikan peringatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar