Dalam masalah agama, tidak sepantasnya kita menilai dari keadaan kebanyakan orang saja, tetapi nilailah dengan dalil agar keadaan selalu selaras dengan dalil, bukan dalil yang sering dipaksa selaras dengan keadaan.
Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:
“Siapapun yang mengetahui syariat sebagaimana mestinya, dan dia tahu keadaan Rasul _shallallahu'alaihi wasallam_ , para sahabat, dan para ulama besar; tentu dia tahu bahwa sebagian besar manusia tidak dalam keadaan yang lurus (dalam agamanya).
Namun mereka itu berjalan seiring dengan *adat kebiasaan* . Mereka biasa saling mengunjungi, tapi kemudian saling menggibah.
Ada dari mereka yang mencari aib saudaranya, dia hasad bila saudaranya dalam kenikmatan, dia mencela bila saudaranya dalam musibah.
Dia bersikap takabur bila dinasehati, menipunya untuk mendapatkan sesuatu dari hartanya, dan memanfaatkan kesalahannya bila mungkin untuk dia lakukan.”
*[Kitab: Shoidul Khothir, karya Ibnul Jauzi, hal:301]*
Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang.
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
_*“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”*_ _(QS. Al A’raf: 187)_
Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda,
فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
*_“Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.”_* _(HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220)._
Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
*_“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing”_* _(HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah)._
🖊 Oleh : Ustadz Musyaffa' ad Dariny, Lc., M.A.
💎 Mutiara Risalah Islam
________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar